Mengulik Industri Kain Tenun Lurik Kembangan

Sleman – Susilowati (39) bersama dengan anggota ibu-ibu Kelompok Maju Mandiri Kalurahan Kembangan, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman membentuk industri kerajian tenun kain lurik sejak tahun 2010. Awalnya, kelompok ini merupakan kelompok penerima bantuan saat tragedi meletusnya Gunung Merapi. Namun seiring berjalannya waktu, terus berkembang sampai saat ini menjadi kelompok industri kain lurik.  

Kain lurik yang diproduksi oleh Susilowati dan kelompoknya adalah kain yang menggunakan bahan dasar benang katun yang diberi kemudian melalui proses pewarnaan menggunakan bahan alam dan bahan sintetis. Bahan alam yang digunakan berasal dari daun Indigo yang menghasilkan warna biru dan untuk warna coklat biasa menggunakan pelepah kayu dari pohon mangga dan nangka. Sedangkan untuk pewarnaan sintetis, Susilowati biasa menggunakan jenis Indantrin yang memiliki kualitas warna yang bagus dan juga jenis Direc.

Proses pembuatannya masih dengan cara manual menggunakan tenaga manusia yang dibantu oleh alat tradisional (ATBM). Alat-alat yang digunakan berasal dari bantuan dari berbagai pihak, salah satunya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), perguruan tinggi tempat Susilowati dan ibu-ibu kelompoknya dibina.

Dalam kurun waktu 1 hari biasanya ibu-ibu penenun menghasilkan 1 lembar kain tenun dengan panjang 3 meter. Namun untuk pembuatan 1 gulungnya dari awal hingga selesai memakan waktu 3 sampai 4 minggu.

Kain tenun lurik yang sudah jadi dapat dijahit untuk keperluan seragam sekolah dan kantor. Saat ini, kain tenun lurik buatan Susilowati banyak digunakan untuk seragam Kamis Pahingan.

“Baru dikenal orang berjalannya waktu berapa tahun buat sample, buat seragam-seragam sekolah, kantor, terus sekarang mulai ada Kamis Pahingan mulai ada buat seragam,” ujar Susilowati di rumah produksinya di Dusun Kembangan, Kabupaten Sleman, Selasa (23/8/2021).

Susilowati mematok harga kain tenun produksinya sebesar Rp. 100.000 per 2 meter, yang merupakan ukuran normal untuk membuat 1 potong baju biasa.

“Kalau untuk ukuran baju itu kan 2 meter nah itu seratus, jadi 2 meter itu satu potongnya, tergantung pesanan kalau satu gulungan itu paling sedikit itu 30 meter,” jelas Susilowati.

Susilowati mengakui, pemasaran kain tenun lurik produksinya mengalami penurunan saat pandemi ini. Pada keadaan normal, kain tenun lurik buatannya dapat dipesan dan dikirim ke luar Jogja, seperti ke Jakarta. Namun setelah pandemi, Susilowati dan kelompoknya hanya memproduksi kain lurik untuk konsumen di daerah Jogja saja. (Rep Nikke)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts