Mitigasi, Bukan Cegah Bencana Tapi Tanggulangi Jatuhnya Korban

Pakem – Minggu (12/01/2020) malam, merupakan hari spesial untuk Kepala Desa Pakembinangun, Suranto. Hari itu Suranto genap berusia 60 tahun. Perayaannya pun boleh dibilang spesial karena menghadirkan doktor ahli gunung, yang dikenal dengan nama Dr. Surono.

Dalam jamuan presentasi yang bertajuk “Mitigasi tanpa Roti dan Dasi” ini, Dr Surono memaparkan bahwa proses mitigasi bukan untuk mencegah terjadinya bencana alam karena bencana alam adalah bencana yang sifatnya di luar kemampuan manusia. Pun, mitigasi bukan hanya untuk meramalkan kedatangan bencana tetapi lebih kepada mengurangi jatuhnya korban pada saat terjadi bencana alam.

“Kita harus mengakui bahwa kita tinggal di ring of fire atau cincin api. Pasti di sana juga banyak subduksi lempeng benua. Pasti banyak gempa dan letusan gunung berapi. Kita kaya gunung berapi sehingga kita subur tanahnya. Kita tidak bisa mencegah bencana, namun kita harus mampu menanggulangi supaya tidak ada korban jiwa. Itulah mitigasi. Harus ada strong leader, one man one power,” jabar Dr Surono di kediaman Kepala Desa Pakembinangun.

Mitigasi dikatakannya juga harus disertai dengan penelitian yang mencakup ke segala bidang, baik pemerintahan, geologi, kearifan lokal, dan teknologi. Para relawan juga harus segera bergerak sebelum bencana terjadi tidak cukup hanya menolong saat bencana terjadi.

“Karena masyarakatlah subjeknya bukan para pejabat atau para ahli. Pejabat atau ahli, apalagi yang baru, belum tentu dikenal oleh masyarakat, dan belum tentu pula bisa bertindak langsung,” tambahnya.

Selain itu, Dr Surono mengatakan dalam hal mitigasi ini diperlukan juga teknologi. Teknologi mempermudah masyarakat untuk mendeteksi tanda-tanda akan datangnya bencana.

“Namun masalah kita, bagaimana bersosialisasi tentang bencana alam kepada masyarakat yang tidak paham teknologi agar mereka selamat dari bencana alam itu,” papar pria yang akrab dipanggil dengan nama ‘Mbah Rono’ ini.

Di akhir pemaparannya, dirinya mengimbau masyarakat untuk mengenali ancaman bencana dan bersiap agar dapat selamat dari bencana.

Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun oleh Suranto selaku Kepala Desa Pakembinangun, ramah tamah, dan sekadar pengenalan kopi karya inovasi dari putra Pakembinangun, yaitu Kopi Ceplik dan Kopi Beras Hitam. (KIM Pakembinangun/Asrori Wardan)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts