Edukasi Mitigasi Sejak Dini, Warga Bronggang Kenali Karakter Aktivitas Gunung Merapi

Sleman — Dusun Bronggang, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, merupakan salah satu wilayah yang berada di jalur aliran material vulkanik dan rawan terhadap ancaman lahar dingin Gunung Merapi. Mengingat letaknya yang berada di bantaran Kali Gendol—wilayah terdampak parah pada erupsi 2010 lalu—upaya pengenalan mitigasi bencana secara dini dinilai sangat krusial bagi keselamatan warga.

Kesadaran tersebut mendorong para pemuda Dusun Bronggang menggelar diskusi publik di panggung terbuka tepi Kali Gendol pada Sabtu (24/10/2026). Acara yang mengangkat tema mitigasi bencana ini menghadirkan narasumber dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), serta dihadiri oleh warga, pemuda, karang taruna, dan relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Dalam pemaparannya, Naning dari BPPTKG mengungkapkan bahwa pihaknya terus memantau aktivitas Gunung Merapi sekaligus menggencarkan edukasi kepada masyarakat guna mengenali karakteristik gunung api paling aktif di dunia tersebut. Saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga).

“Kita tidak boleh bosan dengan status siaga yang sudah 6 tahun ini, karena memang data Merapi menunjukkan demikian,” ujar Naning di hadapan warga. Ia menjelaskan bahwa proses magmatisme yang masih terus berlangsung membuat status siaga dipertahankan sejak beberapa tahun terakhir.

BPPTKG secara rutin mengingatkan masyarakat untuk memahami berbagai tanda peringatan dini, mengenali tipe erupsi yang khas dengan pertumbuhan kubah lava dan potensi awan panas guguran (wedhus gembel), serta mematuhi rekomendasi keselamatan seperti menjauhi daerah bahaya.

Melalui pengenalan karakter gunung yang baik dan kesiapsiagaan yang matang, diharapkan kehidupan masyarakat di lereng Merapi tetap terjaga dengan aman, tangguh, dan siap menghadapi segala potensi risiko bencana. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Pamong Naik Panggung Ketoprak, Banyurejo Merawat Tradisi dan Menyiapkan Regenerasi

Sleman — Di tengah derasnya arus hiburan digital, pementasan ketoprak tetap menjadi ruang efektif untuk merawat identitas budaya sekaligus mewariskan nilai-nilai kehidupan. Semangat ini ditunjukkan oleh Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, melalui pementasan lakon Suminten Edan/Warok Suromenggolo dalam rangka Tasyakuran Desa Mandiri Budaya pada Sabtu (24/10/2026).

Halaman Kalurahan Banyurejo disulap menjadi panggung kolaborasi antara aparatur pemerintahan dan seniman lokal. Kelompok Ketoprak Pamong Tirta Budaya yang dipimpin langsung oleh Lurah Banyurejo, Saparjo, tampil menghibur warga. Dalam pertunjukan ini, Saparjo turun langsung memerankan karakter utama Warok Suromenggolo.

Sejumlah unsur pimpinan dan instansi wilayah turut mengambil bagian sebagai pemain, antara lain Panewu Tempel, Kapolsek Tempel, Danramil Tempel, Bhabinkamtibmas Banyurejo, para dukuh, hingga pamong kalurahan. Di atas panggung, tugas dan jabatan pelayanan sehari-hari bertransformasi menjadi peran seni yang membutuhkan keselarasan dialog serta penghayatan karakter.

Pertunjukan semakin semarak dengan kehadiran seniwati ketoprak RRI Yogyakarta, Siphey, sebagai bintang tamu yang memerankan karakter Suminten. Anggota DPRD DIY, Haris Sugiharta, yang turut hadir menyaksikan pementasan memberikan apresiasi atas sinergi lintas profesi tersebut dalam menguatkan kehidupan budaya masyarakat.

Asisten sutradara sekaligus pengeprak pementasan, Abdullah Shodiq, menegaskan bahwa ketoprak menyimpan makna mendalam yang melampaui tontonan hiburan semata.

“Ketoprak memiliki filosofi seni yang tinggi. Di dalamnya bukan hanya ada cerita dan hiburan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan, budaya, serta kearifan lokal yang perlu terus diwariskan. Harapan saya, kesenian ketoprak semakin berkembang di Kapanewon Tempel dan mendapat dukungan dari pemerintah kalurahan lainnya,” ujar Abdullah yang juga menjabat sebagai Pimpinan Grup Ketoprak Satrio Aji Kapanewon Tempel.

Ia juga menyoroti pentingnya langkah konkret dalam menyikapi tantangan regenerasi pelaku seni tradisional di era media sosial.

“Regenerasi menjadi hal yang sangat penting. Jangan sampai ketoprak hanya dikenal sebagai kesenian generasi terdahulu, tetapi tidak ada anak muda yang meneruskannya. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang mau belajar, terlibat, dan mengembangkan ketoprak agar kesenian ini tetap hidup di masa mendatang,” lanjutnya.

Guna menjangkau audiens yang lebih luas, pementasan ini turut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Kalurahan Banyurejo. Pemanfaatan media digital ini diharapkan dapat mengenalkan seni tradisi kepada generasi muda tanpa mengurangi kekhidmatan pementasan langsung di lapangan. (SBD/KIM Tempel)




Senam dan Jalan Sehat Awali Peringatan HUT ke-80 Kalurahan Sinduharjo

Sleman — Pemerintah Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menggelar rangkaian peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Sinduharjo dengan menyelenggarakan kegiatan senam dan jalan sehat di Taman Budaya Lohjinawi pada Minggu (25/10/2026).

Suasana pagi yang sejuk selepas hujan menyambut kedatangan ratusan warga dari berbagai penjuru sejak pukul WIB. Panggung utama tampak megah dengan deretan hadiah menarik yang siap dibagikan kepada peserta yang beruntung, termasuk hadiah utama berupa kulkas.

“Hadiah yang paling besar adalah kulkas,” kata Nanda, salah satu panitia yang sibuk mempersiapkan hadiah di panggung.

Selain jalan sehat dan senam, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai layanan publik gratis, seperti aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), pendaftaran perlindungan sosial, cek kesehatan dan gula darah gratis untuk 100 orang pertama, cek golongan darah gratis untuk 200 orang pertama, layanan Samsat On Call, serta servis kendaraan bermotor.

Acara dipandu oleh Kepala Dukuh Gadingan, Bambung, yang memaparkan seluruh rangkaian kegiatan. Sebelum diberangkatkan, Lurah Sinduharjo, Sudarja, menyampaikan sambutan singkat sekaligus mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat.

“Terima kasih kepada semua pihak. Selamat mengikuti acara ini, mudah-mudahan diberi kelancaran dan mendapatkan doorprize yang disediakan,” ungkap Sudarja.

Rute jalan sehat sejauh kurang lebih 4 kilometer ini mengajak peserta melintasi pemandangan persawahan yang asri. Dimulai dari Taman Budaya Lohjinawi, peserta berjalan ke timur menuju Dusun Palgading, ke utara ke Dusun Dukuh, ke barat menuju SDN Gentan, lalu berbelok ke selatan hingga kembali dan finis di Taman Budaya Lohjinawi.

Menurut catatan panitia, kegiatan ini diikuti oleh tidak kurang dari 700 peserta dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Kehadiran komunitas senam yang menjadikan jalan sehat sebagai pemanasan turut menambah kemeriahan suasana keakraban antarwarga di sepanjang rute. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Kreasi Topeng dari Kardus, Kenangan Bersama Kakek dan Inspirasi Seto Jadi Seniman

Sleman — Suasana Joglo Taman Budaya Lohjinawi, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, tampak berbeda dari biasanya, Sabtu (24/10/2026). Puluhan anak tampak antusias mengikuti Workshop Recycle bertajuk “Kreasi Topeng dari Kardus dan Koran Bekas” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Saraswati Kalurahan Sinduharjo.

Meski tangan mereka dipenuhi lem dan potongan kertas koran, wajah anak-anak tersebut tampak riang menikmati pengalaman baru membuat kerajinan tangan di bawah bimbingan langsung seniman dari Sanggar Wayang Dongeng, Bagong Soebarjo.

“Yah, kami bebaskan berekspresi sesuai keinginannya, minatnya. Kita hanya mengajarkan cara membuatnya,” ujar Bagong di sela-sela memandu peserta.

Dalam pelatihan ini, anak-anak diajarkan teknik dasar pembuatan topeng. Mulai dari merangkak kardus tebal yang direkatkan menggunakan solasi kertas, melapisi dengan koran tipis untuk membentuk kontur wajah, hingga melumurinya dengan lem kayu agar kuat dan siap diwarnai dengan cat air.

Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan lima anak untuk melatih kerja sama tim.

“Biar saling bekerjasama,” ucap Bagong. Para peserta tampak kompak membagi tugas, mulai dari menggaris, memegang kertas, hingga memotong pola bersama-sama.

Di antara riuhnya tawa anak-anak yang saling melihat hasil karya masing-masing, terdapat sebuah topeng berukuran sederhana dengan warna hitam legam dan hidung sedikit miring karya seorang anak bernama Seto. Bocah asal Dusun Ledok Wareng, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, itu malu-malu menunjukkan hasil karyanya.

“Ini topeng Pentul Tembem,” kata Seto.

Ia mengaku memilih karakter tersebut karena terinspirasi dari kenangan bersama kakeknya yang gemar memakai topeng serupa dan menari saat pementasan jathilan di kampungnya. Bahkan, ia sempat ikut mementaskan satu babak tarian tradisional tersebut bersama sang kakek.

Melalui kegiatan ini, Seto tidak hanya menyalurkan kreativitas seninya, tetapi juga merawat kenangan indah dari sang kakek, sekaligus memupuk mimpinya untuk terus belajar membuat karya topeng yang lebih baik di masa depan. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Bedah Buku Antologi Cerkak “Taru” Pasbuja Kawi Merapi: Ruang Estetika dan Kritik Sastra

Sleman — Buku antologi Cerita Cekak (Cerkak) bertema Taru atau tumbuhan karya 23 anggota Paguyuban Budaya dan Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi dibedah dalam acara yang digelar di Rumah Makan Sego Welut Jowah, Sidoagung, Godean, Sleman, pada Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan bedah buku yang bekerja sama dengan Lingkarantarnusa ini menghadirkan para narasumber kompeten, yakni Ratun Untoro, Budi Sarjono, dan Wiyana, serta dipandu oleh moderator Wiwien Widyawati Rahayu. Acara tersebut merupakan rangkaian program pelatihan penulisan sastra budaya “Alamkara” yang difasilitasi oleh Bupati Sleman guna mendukung pemajuan kebudayaan daerah serta mewujudkan visi misi pembangunan Kabupaten Sleman.

Dalam pengantarnya, Wiwien Widyawati Rahayu yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa istilah Alamkara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti hiasan atau keindahan. Dalam tradisi sastra, konsep ini berkaitan dengan estetika pengungkapan bahasa. Ia menekankan bahwa pelatihan menulis ini bertujuan membekali peserta agar mampu mengolah gagasan menjadi karya yang indah dan bernilai.

“Batch ini memang sengaja dipilih untuk mengakomodasi agenda perjalanan aktivitas menulis bersama Pasbuja,” ungkap Wiwien.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratun Untoro, menyoroti posisi seorang pengarang ketika karyanya telah diterbitkan. Menurutnya, setelah naskah selesai, penulis tidak lagi memiliki hak untuk menyanggah atau membela diri atas karya tersebut, karena pembaca yang akan menilai secara mandiri.

“Pembaca mempunyai hak untuk menafsirkan makna tulisan tersebut tergantung pola pemikiran dan kemampuan masing-masing,” jelas Ratun.

Di sisi lain, sastrawan senior Budi Sarjono—yang akrab disapa Budsar—menyampaikan kritik membangun terhadap karya-karya dalam antologi tersebut. Ia menilai para penulis masih bermain di permukaan dan belum mengeksplorasi tema Taru secara mendalam, padahal cakupan tumbuhan sangat luas, mulai dari tanaman keras, tanaman obat, hingga filosofi yang menyertainya.

“Pada akhirnya semua hanya permukaan saja, kurang berani mengupas secara mendalam tentang makna dan filosofinya,” sesal Budsar.

Pembahas terakhir, Wiyana, membagikan pandangannya bahwa sumber inspirasi penulisan cerita dapat ditemukan di mana saja, baik dari pengalaman masa kecil, kisah percintaan, pengamatan sosial, maupun peristiwa di sekitar kehidupan sehari-hari.

“Pada dasarnya ide cerita bisa didapatkan kapan pun atau di mana pun,” pungkasnya. (Kusnadi/KIM Berbah)