Usung Smart Farming Berbasis IoT, KWT Teratai Mekar Dabag Ikuti Penilaian Inovasi Lahan Terbatas DIY

Sleman – Kelompok Wanita Tani (KWT) Teratai Mekar Padukuhan Dabag, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menjalani visitasi dan penilaian lapangan Lomba Inovasi Pemanfaatan Lahan Terbatas Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2026 pada Kamis (17/9/2026). Dalam ajang ini, KWT Teratai Mekar mengusung teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan potensi pekarangan perkotaan.

Proses penilaian berlangsung selama 90 menit di lahan KWT Teratai Mekar dengan melibatkan tim juri gabungan, perwakilan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, jajaran Pemerintah Kalurahan Condongcatur, serta para anggota kelompok tani setempat. Dewan juri meninjau langsung area budidaya tanaman hortikultura, sistem hidroponik, hingga diversifikasi pangan berbasis jamur tiram, ikan lele, dan ayam petelur.

Ketua KWT Teratai Mekar, Ida Halimah, menjelaskan bahwa pengadopsian teknologi fertigasi tetes dan penyemprotan otomatis berbasis IoT menjadi jawaban atas keterbatasan lahan produktif di wilayah perkotaan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk bertani. Melalui penerapan smart farming, fertigasi tetes, hidroponik, dan vertikultur, lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, hemat air, dan tetap produktif. Tujuan utamanya adalah agar anggota mampu menghasilkan sebagian kebutuhan pangan dan gizi keluarga dari lingkungan sendiri,” kata Ida Halimah.

Penggunaan teknologi IoT tersebut memungkinkan pengaturan penyiraman dan pemberian nutrisi tanaman secara presisi, hemat air, serta efisien dari segi waktu dan tenaga. Inovasi ini mendapat sambutan positif dari dewan juri yang diwakili oleh Rukiwiyati Sigit dari Pokja III TP PKK DIY.

“Hal terpenting dari kegiatan ini adalah bagaimana kelompok mampu mengajak masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia. Sekecil apa pun lahannya, apabila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan, dapat memberikan manfaat bagi pangan dan gizi keluarga,” tutur Rukiwiyati Sigit.

Dukungan serupa diutarakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Condongcatur, Budi Arto. Pihaknya mengapresiasi konsistensi KWT Teratai Mekar yang terus berkembang sejak berdiri pada 2022 hingga mampu menghasilkan dampak ekonomi serta ekologis bagi masyarakat Padukuhan Dabag.

“Pemerintah Kalurahan Condongcatur mendukung inovasi KWT Teratai Mekar. Penggunaan teknologi menjadi langkah maju untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga. Keikutsertaan dalam perlombaan bukan hanya tentang meraih juara, melainkan tumbuhnya gerakan bersama menghadirkan lingkungan yang hijau dan produktif,” ujar Budi Arto.

Penilaian lapangan ini merupakan bagian dari rangkaian tahap kedua perlombaan tingkat provinsi. Selanjutnya, KWT Teratai Mekar bersiap mengikuti pameran potensi kelompok yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Oktober 2026 di Jogja Agro Park, Kabupaten Kulon Progo. (Wasana/KIM Depok)




LPMKal Bertransformasi Menjadi Tuwanggana, Pemkab Sleman Sosialisasikan Perbup Nomor 25 Tahun 2026

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (Dinas PMK) mulai mensosialisasi Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 25 Tahun 2026 tentang Tuwanggana. Regulasi ini mendasari transformasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) menjadi Tuwanggana, yang disosialisasikan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (17/9/2026).

Kegiatan sosialisasi diikuti oleh jajaran Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), LPMKal, serta Pendamping Desa dari seluruh wilayah Kabupaten Sleman. Forum ini digelar guna memberikan pemahaman komprehensif mengenai dasar hukum, mekanisme transisi, hingga perluasan fungsi kelembagaan masyarakat di tingkat kalurahan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas PMK Sleman, Ekowati, menjelaskan bahwa aturan baru ini membawa perubahan mendasar dalam struktur dan peran lembaga kemasyarakatan di tingkat lokal.

“Substansi utama dalam Peraturan Bupati Sleman Nomor 25 Tahun 2026 tentang Tuwanggana berfokus pada penguatan kelembagaan masyarakat lokal melalui transformasi struktural dan fungsional LPMKal yang bertransformasi menjadi Tuwanggana,” ujar Ekowati.

Hal senada disampaikan Ketua Pirukunan Tuwanggana Kabupaten Sleman, Dwijo Putro. Ia mengungkapkan bahwa proses perubahan kelembagaan ini telah diperjuangkan sejak 2023 demi melahirkan kepastian hukum serta memperkuat sinergi pembangunan di kalurahan.

“BPKal dan Tuwanggana memiliki tupoksi yang sama dalam hal menjaring aspirasi masyarakat. Harapannya, koordinasi dapat berjalan dengan baik dalam pelaksanaan pembangunan di kalurahan sekaligus memperbaiki struktur kelembagaan yang ada di kalurahan,” kata Dwijo Putro.

Secara teknis, Ketua Tim Kerja Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat Dinas PMK Sleman, Agus Waseso Wibowo, menguraikan bahwa Tuwanggana tidak hanya berfungsi menyerap aspirasi pembangunan dan menggerakkan partisipasi swadaya masyarakat, tetapi juga bertindak sebagai penyokong agenda Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Tuwanggana diharapkan berperan aktif membantu pemerintah kalurahan dalam menyerap aspirasi masyarakat, menggerakkan partisipasi dan gotong royong, serta mendukung pelaksanaan program-program Keistimewaan DIY di tingkat akar rumput,” terang Agus Waseso Wibowo.

Pada masa transisi, pengurus LPMKal yang ada saat ini dipastikan tetap bertugas hingga habis masa jabatannya. Setelahnya, kepengurusan Tuwanggana akan dikukuhkan melalui Keputusan Lurah dengan masa bakti lima tahun. Regulasi baru ini juga menegaskan larangan keterlibatan pengurus Tuwanggana dalam partai politik guna menjaga independensi kelembagaan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Dukung Ketahanan Pangan, Binmas Polsek Gamping Sambangi Kelompok Tani di Kwarasan

Sleman – Unit Pembinaan Masyarakat (Binmas) Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping menggelar kegiatan sambang dan silaturahmi bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Lestari serta Kelompok Tani dan Ternak Waras Barokah di Padukuhan Kwarasan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman pada Kamis (17/9/2026). Langkah ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya kepolisian dalam memperkuat sinergi dan mendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Kegiatan silaturahmi tersebut difungsikan sebagai sarana komunikasi langsung jajaran kepolisian untuk memetakan potensi serta kendala di sektor pertanian dan peternakan lokal, sekaligus mempererat hubungan kemitraan dengan warga di tingkat padukuhan.

Kepala Unit Binmas Polsek Gamping, Mamik Susanti, mengapresiasi peran aktif KWT Mekar Lestari dan Kelompok Tani dan Ternak Waras Barokah yang dinilai konsisten memanfaatkan lahan secara produktif. Menurutnya, ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal yang ada.

“Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, hortikultura maupun komoditas lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis rumah tangga. Kelompok masyarakat di tingkat padukuhan memiliki posisi penting karena bersentuhan langsung dengan lahan, produksi pangan, serta kebutuhan ekonomi keluarga,” ujar Mamik Susanti.

Senada dengan hal tersebut, Bhabinkamtibmas Nogotirto, Eko Yulianto, menekankan bahwa optimalisasi lahan pekarangan dan pengelolaan ternak secara terpadu tidak hanya menciptakan ketahanan pangan mandiri, tetapi juga menopang stabilitas ekonomi dan keamanan wilayah.

“Hubungan yang terbangun melalui sambang dan silaturahmi diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara kepolisian dan warga, termasuk dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi kegiatan produktif,” kata Eko Yulianto.

Melalui komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan ini, Polsek Gamping berharap pemanfaatan potensi lokal di Padukuhan Kwarasan dapat terus berkembang sehingga menciptakan kawasan yang mandiri, produktif, dan tangguh secara ekonomi. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Belajar Sambil Bereksplorasi, Outing Class PAUD-TK Pencarsari Tumbuhkan Kemandirian Anak

Sleman — Sebanyak 36 anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Pencarsari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, mengikuti kegiatan outing class di Suraloka Zoo, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang didampingi sembilan guru tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas dengan mengutamakan pengalaman langsung bagi anak usia dini.

Suraloka Zoo dipilih karena lokasinya relatif dekat, memiliki beragam satwa, termasuk satwa langka, serta menawarkan fasilitas yang dinilai aman dan nyaman dengan harga tiket terjangkau. Selama kegiatan, anak-anak juga mendapatkan pendampingan dari pengelola sehingga proses belajar berlangsung menyenangkan dan terarah.

Kepala PAUD-TK Pencarsari, Suharini mengatakan outing class penting bagi anak usia dini karena mereka berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan pengalaman konkret.

“Outing class itu penting karena saat ini usia emas, jadi mereka harus mengerti secara langsung. Mereka bisa berinteraksi secara nyata, tidak hanya melihat dalam video atau gambar,” ujar Suharini.

Menurutnya, pembelajaran secara langsung memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati, mengenali, dan memahami lingkungan di sekitarnya. Kunjungan ke kebun binatang, misalnya, dapat mengenalkan berbagai jenis satwa sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap alam.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi guru untuk menghubungkan materi pembelajaran di sekolah dengan pengalaman nyata. Anak tidak hanya menerima informasi secara lisan, tetapi dapat melihat dan mengamati langsung objek yang dipelajari sesuai dengan tahap perkembangannya.

Suharini menjelaskan, outing class berbeda dengan kegiatan wisata bersama keluarga. Meskipun sama-sama dilakukan di luar sekolah, outing class merupakan bagian dari proses pembelajaran dengan tujuan yang telah ditentukan.

“Kalau outing class itu termasuk kegiatan belajar mengajar, secara waktu terbatas, dan ada tujuan yang ingin dicapai. Kalau wisata itu bersama orang tuanya,” jelasnya.

Selain memperoleh pengetahuan baru, anak juga dilatih untuk belajar mandiri selama mengikuti kegiatan. Mereka belajar mengikuti arahan guru, menjaga ketertiban, berinteraksi dengan teman, serta beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa selalu bergantung kepada orang tua.

“Manfaat jangka panjangnya mereka menjadi lebih percaya diri, berani di luar, berani tanpa orang tuanya,” tambah Suharini.

Menurut Suharini, pelaksanaan outing class perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Guru perlu menyiapkan tujuan pembelajaran, menentukan lokasi yang aman dan nyaman, memperhatikan jumlah pendamping serta durasi kegiatan, dan memastikan anak memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Dengan perencanaan dan pendampingan yang tepat, pembelajaran di luar kelas tidak hanya menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi anak, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal lingkungan, menumbuhkan rasa ingin tahu, melatih kemandirian, serta membangun kepercayaan diri.

Kegiatan outing class PAUD-TK Pencarsari di Suraloka Zoo menunjukkan bahwa pembelajaran anak usia dini dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung di lingkungan sekitar. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)




Dinas Dukcapil Sleman Perkuat Peran Kader Adminduk Layani Masyarakat

Sleman –  Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Sleman memperkuat peran kader administrasi kependudukan (Adminduk) untuk meningkatkan kualitas pelayanan dokumen kependudukan yang mudah, cepat, tepat, dan tertib bagi masyarakat.

Ketua Tim Kerja Identitas Penduduk Dinas Dukcapil Kabupaten Sleman, Sriyanti Istipurnani  menjelaskan bahwa kader Adminduk memiliki peran strategis sebagai penghubung pelayanan administrasi kependudukan di tengah masyarakat.

“Kader Adminduk diharapkan semakin mampu menjalankan perannya dalam membantu masyarakat mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan yang lebih mudah, cepat, tepat, dan tertib,” jelasnya dalam kegiatan Optimalisasi Kader Administrasi Kependudukan di Pendopo Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, keberadaan kader Adminduk juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumen dan data kependudukan yang lengkap, benar, serta selalu diperbarui.

Ia menjelaskan, optimalisasi kader dilakukan melalui peningkatan pemahaman, kapasitas, koordinasi, dan keterampilan agar kader mampu mendampingi masyarakat dalam memperoleh pelayanan administrasi kependudukan.

“Optimalisasi kader Adminduk merupakan bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan pelayanan publik yang responsif, tertib, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujar Sriyanti.

Melalui penguatan peran kader Adminduk, Dukcapil Sleman berharap masyarakat semakin mudah mengakses layanan administrasi kependudukan sekaligus semakin sadar pentingnya tertib dokumen kependudukan.

“Upaya ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan tertib administrasi kependudukan di Kabupaten Sleman,” pungkas Sriyanti. (Athiful/KIM Depok)