Seni Mencari Nafkah Halal, Membangun Kesejahteraan Tanpa Mengabaikan Kejujuran

Sleman— Menghadapi dinamika ekonomi dan ketatnya persaingan hidup, mencari nafkah tidak hanya sekadar memperoleh penghasilan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral. Pentingnya menyeimbangkan ikhtiar materi dengan prinsip etika menjadi sorotan utama dalam Kajian Umum Setara bertema “Seni Mencari Nafkah Halal” di Pendopo Sekopi Setara Murangan VII, Triharjo, Sleman, pada Jumat (23/10/2026).

Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menghadirkan dosen sekaligus pakar ekonomi publik, Ihda Arifin, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengupas berbagai persoalan ekonomi yang relevan bagi pekerja, pelaku usaha, serta keluarga.

Menurut Ihda, esensi mencari rezeki yang baik terletak pada proses mendapatkannya yang dilandasi ikhtiar benar, kejujuran, serta tanggung jawab sosial.

“Seni mencari nafkah halal bukan hanya tentang seberapa besar penghasilan yang kita bawa pulang, tetapi juga bagaimana cara kita mendapatkannya. Rezeki yang baik harus diupayakan melalui ikhtiar yang benar, kejujuran dalam bekerja, dan tanggung jawab terhadap keluarga maupun orang lain,” ujar Ihda.

Ia menambahkan, prinsip tersebut harus tercermin dalam keseharian, seperti jujur dalam bertransaksi, memenuhi hak pekerja, dan profesional. Di tengah persaingan ketat, komitmen untuk menghindari jalan pintas yang merugikan pihak lain merupakan bagian penting dari tanggung jawab ekonomi.

“Kita tidak boleh hanya bertanya berapa banyak uang yang bisa diperoleh, tetapi juga perlu bertanya apakah cara memperolehnya sudah benar. Jangan sampai keinginan meningkatkan penghasilan membuat kita mengabaikan kejujuran atau mengambil hak orang lain,” tuturnya.

Selain aspek etika, perkembangan teknologi turut menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru dalam mencari penghasilan. Masyarakat dituntut untuk lebih cermat menilai sumber pendapatan, memahami kesepakatan kerja, dan mengelola risiko. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan dan kemampuan adaptasi menjadi kunci utama.

Ihda menegaskan bahwa prinsip kehalalan tidak bertentangan dengan ambisi untuk meningkatkan taraf hidup. Upaya memperbaiki kondisi ekonomi tetap harus ditempuh melalui kerja keras, profesionalisme, dan pengembangan usaha yang berkelanjutan.

“Kita perlu terus belajar, meningkatkan keterampilan, bekerja lebih profesional, dan mencari peluang yang lebih baik. Kita ingin keluarga hidup lebih sejahtera, tetapi kesejahteraan itu harus dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, dan kebermanfaatan,” tegasnya.

Di ranah domestik, kestabilan ekonomi keluarga sangat bergantung pada kecakapan pengelolaan keuangan. Perencanaan matang terkait kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan alokasi tabungan dinilai efektif menjaga ketahanan rumah tangga dalam menghadapi tantangan masa depan.

Kajian ini diharapkan mampu menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengintegrasikan nilai moral dan keagamaan ke dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.

Pada akhirnya, ikhtiar mencari nafkah halal merupakan rangkaian utuh yang dimulai dari cara memperoleh pendapatan yang benar hingga kecakapan mengelolanya demi kesejahteraan keluarga dan kebermanfaatan bagi sesama. (Sbd/KIM Tempel)




Jumat Religi, SMP Negeri 3 Godean Gelar Salat Istisqa untuk Doakan Turun Hujan dan Tanamkan Toleransi

Sleman – SMP Negeri 3 Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar ibadah salat istisqa di halaman sekolah pada Jumat (23/10/2026) sebagai bagian dari program rutin “Jumat Religi”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau panjang sekaligus menanamkan kepedulian lingkungan dan karakter sosial bagi para peserta didik.

Bertindak sebagai imam dan khatib dalam ibadah tersebut, Rizki Assidiqi, menjelaskan kepada para siswa bahwa kemarau berkepanjangan merupakan ujian yang harus disikapi dengan memperbanyak doa, istigfar, dan instrospeksi diri.

“Sebagai umat Muslim, kita diberi tuntunan untuk melaksanakan salat istisqa sebagai upaya permohonan kepada Allah untuk minta hujan. Mari kita renungkan, musibah ini mungkin berasal dari diri kita yang sudah jauh dari perintah-Nya,” pesan Rizki di hadapan para siswa.

Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Godean, Dwi Utami, menyampaikan bahwa program Jumat Religi secara rutin diisi dengan berbagai kegiatan pembiasaan rohani seperti pengajian dan salat Duha. Khusus pekan ini, sekolah mengarahkannya pada pelaksanaan salat istisqa untuk merespons kondisi kekeringan sekaligus memberikan pembelajaran praktis kepada siswa.

“Karena saat ini terjadi kemarau panjang, maka kami lakukan salat istisqa,” ujar Dwi Utami.

Ia juga mengapresiasi bentuk toleransi yang ditunjukkan oleh para siswa nonmuslim, yang tetap mengikuti kegiatan berdoa di ruang terpisah dengan dibimbing oleh guru agama masing-masing. Menurutnya, hal tersebut menjadi sarana penting untuk menumbuhkan nilai kebinekaan, sikap saling menghargai, gotong royong, dan persatuan yang harmonis di lingkungan sekolah. (Giek/KIM Moyudan)




Jumat Keliling di Masjid Sultan Agung Babadan Baru, Kapolda DIY Dengarkan Aspirasi Warga dari Petasan hingga Keselamatan Jalan

Sleman – Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Kapolda DIY), Irjen Pol Langgeng Purnomo, menyerap langsung berbagai aspirasi masyarakat dalam Program Jumat Keliling bertajuk “Polisi Bersama Masyarakat” di Masjid Sultan Agung Babadan Baru, Kentungan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (23/10/2026).

Kegiatan yang diawali dengan salat Jumat berjamaah ini menjadi ruang dialog terbuka antara kepolisian dan warga setempat. Sejumlah persoalan penting mengemuka dalam diskusi tersebut, mulai dari penggunaan petasan, etika bermedia sosial, ketertiban lingkungan, hingga kebutuhan fasilitas keselamatan lalu lintas di kawasan Pasar Kolombo.

Kapolda DIY didampingi oleh sejumlah pejabat utama Polda DIY, Panewu Depok Rakhmat Harinawan, Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur Budi Arto, serta tokoh agama dan pengurus takmir masjid. Hadir pula dua Bhabinkamtibmas Kalurahan Condongcatur, Aiptu Bastian Sapta Adhi dan Aipda Bagiyo, yang mendapat apresiasi langsung dari Kapolda karena kedekatan mereka dengan masyarakat.

Dalam dialog interaktif yang dipandu secara kekeluargaan, warga menyampaikan berbagai masukan. Wawan, salah seorang warga, menyoroti tradisi penggunaan petasan yang kerap mengganggu ketenangan dan keselamatan warga menjelang hari raya. Sementara itu, Fahmi Arifin menyoroti pentingnya edukasi etika bermedia sosial dan penertiban spanduk provokatif, serta Tetriadi mengusulkan pemasangan lampu peringatan lalu lintas (warning light) di pertigaan Pasar Kolombo demi mencegah kecelakaan.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Kapolda DIY langsung menginstruksikan jajarannya untuk menindaklanjuti, termasuk meminta Direktur Lalu Lintas Polda DIY untuk segera mengecek kebutuhan fasilitas keselamatan jalan di lokasi yang dikeluhkan warga, serta mengedepankan langkah edukasi dan pencegahan bersama Bhabinkamtibmas dan unsur pemerintah setempat.

“Keamanan dan ketertiban tidak dapat diwujudkan oleh kepolisian semata, tetapi membutuhkan dukungan serta partisipasi aktif seluruh unsur masyarakat,” tegas Langgeng Purnomo. (Wasana/KIM Depok)




Dari Sumatera Selatan ke Sleman, TP PKK Kabupaten OKU Belajar Inovasi Kampung Ramah Anak di Condongcatur

Sleman – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan, melaksanakan kunjungan studi kaji ke Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (23/10/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan Kampung Ramah Anak, penguatan peran keluarga, serta pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang tersebut dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten OKU, Zwesty Karenia Teddy, dan disambut oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, beserta jajaran pamong kelurahan di Ruang Wacana Loka Kantor Kalurahan Condongcatur.

Budi Arto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan TP PKK Kabupaten OKU yang memilih Condongcatur sebagai lokasi belajar untuk mengadaptasi praktik baik perlindungan anak di daerah asal.

“Kami berharap kunjungan ini menjadi sarana silaturahmi, bertukar ilmu, dan berbagi inovasi dalam mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, sehat, serta mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Budi Arto.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten OKU, Zwesty Karenia Teddy, mengungkapkan bahwa pengalaman dan inovasi yang dikembangkan oleh masyarakat Condongcatur, khususnya melalui Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) RW 18 Leles, Padukuhan Ngringin, akan dijadikan rujukan penting dalam mendukung terwujudnya Kabupaten OKU sebagai Kabupaten Layak Anak.

“Kami berharap ibu-ibu mendapatkan ilmu di Condongcatur agar dapat menduplikasikannya di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Banyak ilmu dan inovasi yang dapat kita pelajari. Bertanyalah dan galilah informasi positif serta bermanfaat dari para narasumber,” pesan Zwesty.

Dalam sesi pemaparan materi, pembina Satgas PPA Sumarni Suyanto menjelaskan perjalanan gerakan perlindungan anak berbasis swadaya masyarakat yang dirintis sejak 2014, yang kemudian mengantarkan wilayah tersebut dicanangkan sebagai kawasan ramah anak oleh Bupati Sleman pada 2018 berkat prinsip gotong royong dan semangat “Semua anak adalah anak kita.” Rangkaian kunjungan ini diakhiri dengan peninjauan fasilitas Taman Edukasi dan Bermain Ramah Anak serta sesi foto bersama di Pendopo Kalurahan Condongcatur. (Wasana/KIM Depok)




Gladi Lapang Satlinmas Tempel 2026, Mengoptimalkan Peran Linmas dalam Perlindungan Masyarakat

Sleman – Kapanewon Tempel menggelar kegiatan Gladi Lapang Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Tahun 2026 di halaman Kantor Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (23/10/2026). Mengusung tema “Optimalisasi Tugas Pokok dan Fungsi Satlinmas”, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan lapangan, kedisiplinan, serta kesiapsiagaan anggota Linmas dalam menjaga ketenteraman dan ketertiban di lingkungan masyarakat.

Danramil Tempel, Edi Widodo, menekankan bahwa penguatan kapasitas Satlinmas tidak cukup hanya dipahami secara teori, melainkan harus dilatihkan agar anggota memiliki kepekaan, kekompakan, serta kemampuan berkoordinasi secara tepat sesuai kewenangannya.

“Peningkatan kapasitas Linmas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjalankan tugas di lapangan, tetapi juga membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, dan kepekaan terhadap kondisi masyarakat. Anggota Linmas harus memahami apa yang perlu dilakukan, bagaimana berkoordinasi, serta kapan harus bertindak sesuai kewenangannya,” ujar Edi Widodo.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Tempel, Heni Ristiawan, serta menjadi momentum perkenalan Panewu Anom Tempel yang baru, Mahmudah Arviati. Dalam kesempatan tersebut, Mahmudah menekankan pentingnya sinergi dan komunikasi yang kuat antara unsur pemerintahan kapanewon dan Satlinmas demi memberikan pelayanan perlindungan terbaik bagi warga.

“Linmas merupakan bagian penting dalam mendukung ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Saya berharap kita dapat membangun komunikasi yang baik, menjaga kekompakan, dan meningkatkan kerja sama agar setiap tugas dapat dilaksanakan dengan lebih efektif. Yang terpenting, kehadiran kita harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pesan Mahmudah.

Melalui latihan gladi lapang ini, Pemerintah Kapanewon Tempel berharap para anggota Satlinmas semakin tanggap, percaya diri, dan siap siaga menghadapi berbagai situasi darurat maupun kegiatan pengamanan di tingkat kalurahan. (SBD/KIM Tempel)