Dukung PK22, PLKB Ngaglik Gelar Bimtek untuk Kader

Sleman – Dalam rangka menyukseskan Pendataan Keluarga Tahun 2022 (PK22) PLKB Kapanewon Ngaglik menggelar Bimtek bagi para kader yang nantinya akan bertugas di lapangan. Bimtek yang diikuti oleh 22 kader wakil dari masing-masing padukuhan tersebut berlangsung di Aula Kalurahan Donoharjo pada Kamis (22/09/2022).

“Bimtek diikuti oleh 21 dari 34 kader yang nantinya medata langsung ke masyarakat sehingga diperlukan komunikasi,  konsolidasi serta  koordinasi yang baik antar kader agar tugas  berjalan dengan baik’” kata Herlangga Wisnu, Petugas Lapangan Keluarga Berencana Kapanewon Ngaglik.

“Bimtek PK22 ini sangat diperlukan agar pemutakhiran data  berjalan  lancar sehingga data yang diperoleh valid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tambah Herlangga .

Ia menambahkan bahwa kader pendata diambil dari masing-masing RT yang paham akan seluk beluk kondisi wilayah dan warganya, sehingga data yang dikumpulkan dan dimutakhirkan benar-benar menggambarkan potret keluarga sesungguhnya.

Selanjutnya Herlangga menerangkan bahwa Pendataan keluarga tahun 2022 adalah program dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan merupakan kelanjutan dari PK21, Kegiatannya difokuskan untuk memutakhirkan data keluarga Indonesia dengan cara melengkapi, memperbaiki , memperbaharui, mencatat mutasi dan mendata keluarga baru yang belum ada pada basis data keluarga Indonesia melalui kunjungan dari rumah ke rumah dengan cara mewawancarai dan mengobservasi kepala keluarga yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

“PK22 dilaksanakan mulai 1 September sampai dengan 31 Oktober 2022 dengan  kegiatan Pemutakhiran data , dilakukan dengan mengumpulkan data  kemudian diinput ke dalam  aplikasi Pemutakhiran PK22 melalui smartphone,” terang Herlangga.

Masih seperti PK21, pendataan keluarga ini menyasar pada keluarga di Indonesia.

“Keluarga yang masuk prioritas dalam pendataan adalah keluarga terdiri dari suami dan istri, atau suami istri dan anak, atau ayah dan anak,  atau ibu dan anak. Sedangkan keluarga khusus adalah keluarga yang tidak memenuhi definisi keluarga namun memiliki hubungan keluarga sesama anggotanya misalnya kakak dan adik tanpa orang tua, kakek atau nenek dan cucu atau seorang diri,” lanjut Herlangga.

Hasil dari PK22 nantinya akan digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan, penyelenggaraan hingga pemantauan dan evaluasi program pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana (Bangga Kencana) percepatan penurunan stunting , percepatan penghapusan kemiskinan ekstrim dan program pembangunan terkait lainnya.

Dalam kesempatan tersebut Dani Prasetyo selaku Kamituwa Kalurahan Donoharjo menyatakan dukungan kepada pelaksanaan PK22 dan menghimbau kepada masyarakat untuk memberikan keterangan atau data dengan benar, riil, valid, serta terbuka dan apa adanya.

“Agar pemerintah dalam mengambil kebijakan serta membuat program pembangunan bisa tepat sasaran dan manfaatnya bisa wdirasakan oleh masyarakat,” ungkap Dani. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)




Guru PAUD di Sumbersari Terima Insentif Dana Desa

Moyudan – Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan guru Taman Kanak-Kanak (TK) honorer di Kalurahan Sumbersari menerima insentif menggunakan dana desa dari APBN tahun anggaran 2022. Insentif diberikan langsung oleh Kamituwa Sumbersari, Agus Iskandar didampingi staf Sri Windari  kepada 27 guru PAUD dan 3 guru TK, bertempat di Pendapa Kalurahan Sumbersari, Kamis (22/9/2022).

Carik Sumbersari Junaidi menyampaikan apresiasi dan penghargaannya kepada para guru PAUD yang telah mengabdi untuk negeri lewat pendidikan anak usia dini.

“Insentif ini tak seberapa dibandingkan pengabdian dan perjuangan panjenengan dalam mendidik anak-anak usia dini, tetapi ini sebagai wujud perhatian dan sebagai ucapan terima kasih pemerintah kalurahan kepada guru PAUD akan peran sertanya dalam nencerdaskan anak-anak bangsa,” paparnya.

Sementara itu, Kamituwa Agus Iskandar menyampaikan sebuah wacana yang dapat ditindaklanjuti bersama, bahwa untuk menciptakan kegiatan  pendidikan usia dini yang lebih baik, sehat, dan  nyaman, perlu dirintis sebuah lembaga dibawah pemerintah kalurahan untuk menyatukan lembaga-lembaga yang sampai sekarang belum memiliki gedung.

Sementara itu Ketua Himpaudi Moyudan, Dwi Sumarjan berharap dengan adanya insentif ini, para guru PAUD dapat meningkatkan kompetensinya menuju pembelajaran  anak usia dini dengan kurikulum merdeka. (Eny Ms/KIM Sumber Biwara Moyudan).




Kampung KB untuk Sumber Daya Masyarakat yang Berkualitas

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan Sosialisasi Instruksi Presiden (Inpres) No.3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas (KB) dan Gerakan Bersama Perangkat Daerah Organisasi dan Lembaga (Gaspol) dilaksanakan di Ruang Praja Pemkab Sleman pada Kamis (22/09/2022) dengan menghadirkan narasumber dari BKKBN DIY, Didik Sudarmadi. Kegiatan sosialisasi ini mengundang 20 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta Baznas dan PKK.

Inpres No. 3 Tahun 2022 ini sendiri mengamanatkan untuk melaksanakan kegiatan sebagai upaya optimalisasi penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas.

Kampung Keluarga Berkualitas (KB) adalah satuan wilayah setingkat desa yang terdapat integrasi dan konvergensi penyelenggaraan pemberdayaan dan penguatan institusi keluarga dalam seluruh dimensinya guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia, keluarga, dan masyarakat.

Kampung KB terbentuk pada tahun 2016 dan berbasis tingkat dusun dengan nama Kampung Keluarga Berencana. Pada perkembangannya Kampung KB naik ke tingkat Desa/Kalurahan dan berubah nama menjadi Kampung Keluarga Berkualitas.

Dwi Haryanti, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) mengatakan bahwa saat ini Kabupaten Sleman memiliki 34 kampung KB serta pada tahun 2022 ini ada 16 Kampung KB rintisan. “Adapun target di tahun 2024 nanti adalah seluruh desa/kelurahan sudah menjadi Kampung KB,” ujarnya,

Sementara itu, Didik Sudarmadi menyampaikan bahwa seluruh OPD memiliki kewajiban untuk mengintervensi keberadaan Kampung KB. “BKKBN tidak bisa mengintervensi sendiri, tentu saja OPD lain diharapkan untuk membantu dengan porsinya masing-masing,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa membutuhkan sinergi serta dorongan dari berbagai pihak baik di level kabupaten maupun provinsi agar kampung KB dapat berjalan dengan baik.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan Penandatangan Komitmen Bersama Gerakan Bersama Perangkat Daerah Organisasi dan Lembaga (GASPOL) di Kampung Keluarga Berkualitas. (Rep Dian)




Melihat Seluk Beluk Berternak Ayam Bhagia yang Telurnya Dipercaya Dapat Mencegah Stunting

Sleman – Telur dari Ayam Bhagia dinilai memiliki kualitas yang bagus dan menyehatkan, serta dapat dimanfaatkan untuk mencegah stunting karena tinggi kandungan omega tiga dan zinc yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan otak bayi dan balita.

Terkait hal itu, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Sekolah Lapang Budi Daya Ayam Bhagia yang dibuka pada Rabu (21/9/2022) di Penen, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Menurut penelitian, pemeliharaan ayam melalui metode umbar ternyata lebih bagus jika dibandingan menggunakan kandang baterai. Hal tersebut dikarenakan ayam yang dipelihara di kandang baterai merasa tidak bahagia, karena dipaksa untuk bertelur.

Oleh karena itu, pengetahuan tentang metode pemeliharaan ayam penting untuk dimiliki, agar sebagai peternak dan pembudidaya ayam paham bagaimana cara budi daya ayam yang tepat, dan dapat membuahkan hasil yang berkualitas.

Sri Haryatini, Sub Koordinator Kelompok Substansi Bina Produksi Peternakan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan dalam laporannya sebagai penyelenggara menyampaikan bahwa Sekolah Lapang Budi Daya Ayam Bhagia merupakan kegiatan PUPM Kapanewon Ngaglik yang diselenggarakan di Padukuhan Penen.

“Kegiatannya dengan melaksanakan budi daya ayam petelur dan impact yang diharapkan adalah meningkatnya produksi telur, meningkatnya kesejahteraan  serta menurunkan stunting,” ujar Sri Haryanti.

Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan adalah 20 orang, di mana ada 5 kali pertemuan. Para peserta juga mendapat dukungan berupa sarana prasarana budi daya, ayam pullet usia 13 Minggu sebanyak 150 ekor, pakan 10 zak beserta  dengan perlengkapan dan peralatan. “Selain itu akan dikirimkan peralatan budi daya magot serta praktik pembuatan pakan dan kompos,” kata Sri Haryanti.

Sementara itu, Sri Rahayu Saddyahsih Nawang Wulan, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman menuturkan, agar memelihara ayam juga harus memperhatikan pasokan mineral, agar telur yang dihasilkan selain memiliki kualitas yang bagus juga menyehatkan.

“Selain dipelihara dengan cara berbeda juga kita tambahkan mineral sehingga mengandung omega 3 dan 9 lebih tinggi dan juga mengandung zinc. Zinc sangat berperan dalam pertumbuhan otak bayi. Dinas Kesehatan memanfaatkan telur mengandung zinc untuk mencegah stunting,” ujar wanita yang biasa dipanggil Nawang ini.

Untuk itulah, lanjut Nawang, pada pelatihan yang diselenggarakan ini, ayam yang dipilih adalah ayam fungsional Bhagia, di mana ayam tersebut memiliki kualitas telur yang lebih baik. “Secara hitungan ekonomi, hasilnya beda dengan ayam ras dan ayam kampong,” ungkapnya.

Hal lain yang diberikan pada pelatihan adalah materi analisa usaha, di mana hal tersebut penting dilakukan agar setiap peternak memahami bagaimana pembiayaan usaha peternakan ayam.

“Biaya tertinggi pada pakan. Hitungan pahitnya dari 150 ekor, ayam usia 13 Minggu dalam dua minggu produksinya baru stabil. Selama lima bulan produksi  dengan asumsi produksi 70 persen, satu butir dijual dua ribu hasil sudah mencapai 31,5 juta,” jelas Nawang.

Untuk mengantisipasi mahalnya pakan, sekolah ini juga akan menyediakan materi penyusunan ransum dan budidaya magot. “Magot selain menambah pakan  protein, salah satu solusi kebersihan lingkungan dari sisa sampah organik rumah tangga,” tutur Nawang lagi.

Ia berharap, dengan adanya sekolah ini, peternakan ayam bisa menjadi salah satu diversifikasi usaha selain usaha pokok, dapat berlangsung secara rutin, dan berkelanjutan. “Kami berharap ilmu ketrampilan yang diperoleh tidak berhenti pada satu periode,” ungkapnya.

Hasil dari sekolah ini juga nantinya akan menjadi hak penuh kelompok. Namun, Nawang mengimbau agar hasil yang didapatkan untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin, misalnya untuk membeli pullet (ayam usia 13 minggu), pakan, sarana, dan prasarana, sehingga proses yang dilakukan dapat berkelanjutan.

Hasil dari pelatihan ini ataupun pengembangan usaha dari sekolah ini nantinya juga bisa dipasarkan di Kelompok Yandu yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Sleman karena telur dari Ayam Bhagia ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah stunting. Selain itu bisa juga melalui Warung Sembada. Hal tersebut dilakukan,

“Bisa juga bermitra dengan Bengkel Sapi milik Perternakan UGM di Jalan Kali Jeruk Widodo Martani atau dikemas dan diberi judul telur ayam omega 3, omega 9 dan zinc, atau dipasarkan lewat wa. Pasar untuk penurunan stunting masih luas,” jelas Nawang. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Dispar Sleman Adakan Pelatihan Digitalisasi bagi Pelaku Usaha Jasa Pariwisata

Sleman – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyelenggarakan Pelatihan Digitalisasi bagi 40 pelaku usaha pariwisata yaitu pelaku hotel, restoran, biro perjalanan wisata, pengelola destinasi dan pengelola desa wisata selama 4 hari berturut-turut, mulai Senin (19/9/2022) hingga Kamis (22/9/2022) di Hotel Grand Keisha Yogyakarta.

“Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang pariwisata di wilayah Kabupaten Sleman, khususnya terkait dengan kompetensi digital,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid.

Lebih lanjut Ishadi Zayid menambahkan bahwa pelatihan digitalisasi terdiri atas beberapa materi ketrampilan diantaranya strategi branding, pemasaran dan penjualan desa wisata, homestay, kuliner, souvenir dan fotografi. Pelatihan ini menggunakan pembiayaan dari Dana Alokasi Khusus program peningkatan kemampuan SDM pelaku pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

“Harapannya semua peserta dapat menerapkan dan mengimplementasikan keterampilannya dalam rangka mempromosikan destinasi wisata dan usaha jasa yang dikelola masing-masing. Sehingga destinasi dan usaha jasa masing-masing dapat lebih dikenal secara luas dikalangan masyarakat dan wisatawan,” ungkap Ishadi.

Adapun materi yang disampaikan selama pelatihan tersebut meliputi pada hari pertama yaitu ‘Kupas Masalah dan Tantangan Pemasaran Pariwisata Berbasis Teknologi lnformasi dan Komunikasi’ dan ‘Pentingnya Pemasaran Digital dalam Memajukan Pariwisata Sleman melalui Medsos dan Marketing Online’. Keduanya disampaikan oleh Artin Wuriyani.

Selain itu, ada juga materi ‘Pengembangan Pemasaran Wisata Digital Pasca Pandemi’ oleh Rullyana Puspitaningrum Mamengko, ‘Membuat Media Promosi Digital dan Tata Kelola Digital dengan Bahasa Promosi yang Efektif dan Menarik’ oleh Iwa Ikhwanudin, dan ‘Pemanfaatan Google Review’ oleh Reren lndranila.

Untuk materi pada hari kedua adalah ‘Kekuatan Visual Foto dalam Digital Marketing dan Optimalisasi Kamera dalam Peningkatan Kualitas Aset Foto Destinasi Wisata’ oleh Elang Kharisma Dewangga, ‘Praktek Pembuatan Karya Fotografi dalam Mendukung Promosi Digital’ oleh Guntur Aga Tirtana, ‘Pemanfaatan Smarthphone sebagai Media Promosi Wisata Secara Digital’ oleh Iwa lkhwanudin, ‘Dasar Videografi dan Pembuatan Video Pendek’ oleh Dhimas Adi Satria, dan ‘Bagaimana Menulis Skrip, Storyline, dan Storyboard Sederhana dan Praktek Editing Sederhana’ oleh Dhimas Adi Satria.

Pada hari ketiga dilakukan praktik lapangan di objek wisata Tebing Breksi Sambirejo Prambanan dan dilanjutkan pada hari keempat berupa presentasi hasil karya, review dan evaluasi hasil karya para peserta.