Reaktualisasi Nilai-Nilai Pancasila, Badan Kesbangpol Rintis Kalurahan Berkarakter Pancasila

Guna merevitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di kalurahan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman melaksanakan kegiatan Pembentukan dan Penguatan Kalurahan Berkarakter Pancasila di Aula Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Selasa (15/3/2022).

“Sesuai dengan Peraturan Kepala Kesbangpol Nomor 12/, pembentukan ini juga sebagai upaya terencana, sistematis, dan berkelanjutan untuk kembali memantapkan, menanamkan, dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila di kalurahan,” jelas Hery Sutopo, Kepala Badan Kesbangpol Sleman.

Lebih lanjut, Hery Sutopo menyampaikan bahwa sampai dengan tahun 2021 sudah terbentuk 10 kalurahan dan di tahun 2022 ditargetkan bertambah 6 kalurahan.

“Harapannya nilai-nilai Pancasila dapat diaktualisasikan di dalam Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan, diselaraskan dengan nilai-nilai kearifan lokal, keistimewaan DIY dan nilai khas Sleman,” lanjut Hery Sutopo.

Sementara itu, B. Belariantata dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Sleman, menilai bahwa kerukunan antar umat beragama merupakan bentuk implementasi dari nilai-nilai Pancasila.

“Membangun dan merawat kerukunan antar umat beragama penting untuk memperkuat Kalurahan Berkarakter Pancasila. Hal-hal yang menyebabkan tidak rukun, harus diminimalisir,” kata B. Belarianta.

Hal senada juga disampaikan oleh Sungkawati, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman.

“Sebagai contoh saat pandemi seperti ini, ketika ada tetangga yang terpapar COVID-19 dan harus isolasi mandiri, sebagai tetangga yang berjiwa Pancasila, tentu kita harus membantu dan gotong royong membantu kebutuhan mereka,” tandas Sungkawati.

Butir-butir Pancasila juga harus terakomodir di dalam perencanaan pembangunan di kalurahan. Program kegiatan yang disusun mulai dari musyawarah perencanaan pembangunan di tingkat RT hingga kalurahan juga sebagai bentuk implementasi dari nilai-nilai Pancasila. (KIM Depok/Andri Afriyanto)




Pusparinengga, Kelompok Batik Asal Sleman yang Jadikan Motif Jangkang sebagai Ciri Khas

Sleman – Motif Jangkang merupakan icon dan ciri khas batik karya Kelompok Usaha Bersama (Kube) Pusparinengga Padukuhan Dalem, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak. Hal itu dijelaskan oleh Ny. Kalpikaningsih (71 th) saat menerima Kunjungan Pendamping Desa Budaya Widodomartani, Ratih Dewayani dan Bowo Purwadi, Senin (14/3/2022), di Sanggar Batik Pusparinengga Dalem, Widodomartani.

Dipilihnya Jangkang sebagai ciri khas batik produk Kube Pusparinengga, karena Jangkang adalah pohon yang dulu banyak tumbuh dan dijumpai disekitar tempat KUBE Pusparinengga berada.

“Nama dusun Jangkang sendiri diambil dari nama pohon Jangkang yang tumbuhnya bisa besar dan tinggi, bentuk dan warna daun serta buahnya indah. Tetapi saat ini pohon itu sudah jarang ditemui. Di Padukuhan Dalem sendiri tinggal satu dan itu tumbuh di makam dan oleh sebagian masyarakat dianggap angker,” jelas Kalpikaningsih.

Untuk mengabadikan keindahan pohon Jangkang itu, lanjut Kalpikaningsih, maka KUBE Pusparinengga menjadikan Jangkang sebagai motif batik khas produksinya. “Terutama diambil dari bentuk daun dan bunganya. Kami ibu yang bergabung di KUBE sejak tahun 2019 ini ingin melestarikan kebudayaan dengan cara membatik dan mengambil motif lokal,” ujarnya.

Berdirinya kelompok batik KUBE Pusparinengga sendiri berawal dari adanya Bhakti Masyarakat AMIKOM. Saat itu belum ada gambaran mau berkegiatan apa, lalu muncul gagasan untuk belajar mbatik dengan pelatihnya Nyimas Ngabehi Renggomurti, warga setempat yang juga pembatik di Pura Pakualaman.

“Jumlah anggotanya 20, semuanya perempuan usia antara 50 – 75 tahun. Sedang kelampoknya itu dibina oleh dinas Sosial dan pemerintah Kalurahan Widodomartani,” tambah Kalpikaningsih. Keanggotaan tersebut saat ini ingin dikembangkan sehingga tidak hanya terdiri dari ibu-ibu, namun juga bapak dan generasi muda.

“Produk batik Pusparinengga telah banyak diikutkan diberbagai pameran. Karena batik tulis asli maka harganya memang agak mahal. Nah, kami berharap bisa memiliki cap, sebab kalo kami promosi ke Kalurahan dan kantor kantor, mereka ingin membuat seragam batik cap agar harganya lebih terjangkau. Kula dereng gadhah cap (saya belum punya cap),” kelakar Kalpikaningsih.

Sementara itu disela sela aktifitas membatik, Nyimas Ngabehi Renggamurti menyampaikan rasa senang dan bangga karena ternyata anggota KUBE tekun dan sangat menikmati proses membatik. Saat ini hampir semua sudah mampu menuangkan ide di atas kain, termasuk proses lain seperti njaplok, nglowong, ngiseni hingga dan tahapan lain hingga jadi batik. Dia pun senang bisa menularkan kepada anggota. “Kula eman-eman menawi ilmu Kula mboten Kula tularaken. Menawi ngaten Niki rak ilmu Kula wonten manfaatipun (Sayang sekali kalau ilmu saya tidak saya bagikan. Kalau seperti ini kan ilmu saya ada manfaatnya),” kilahnya.

Menurut Pendamping Kalurahan Budaya Ratih Dewayani, kunjunganya ke Pusparinengga tidak terlepas dari ditetapkanya Widodomartani sebagai Kalurahan Kalurahan Budaya oleh Gubernur DIY. Maka perlu pendataan dan inventarisasi potensi kebudayaan yang telah ada dan tumbuh di masyarakat. Hal demikian untuk dapat dilestarikan, dikembangkan dan dimanfaatkan.

“Mulai tahun 2022 Widodomartani menjadi Kalurahan Budaya, maka ada pendampingan,” tutur Ratih. (Tri Joko S/KIM Kalasan)




Dinas Pertanian Gelar Pelatihan Budi Daya Ikan dan Sayur

Sleman – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman menggelar Pelatihan Budi Daya Ikan dan Sayur yang ditujukan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Kalurahan Jogotirto yang diselenggarakan selama 2 hari dari Senin (14/3/2022) hingga Selasa (15/3/2022) di Sekretariat KPI Ngupyo Mino Sanggrahan, Kapanewon Berbah, Sleman. Program ini merupakan hasil dari Pokok Pikiran (Pokir) usulan Ardi Sehami, Anggotar DPRD Kabupaten Sleman.

Ardi Sehami dalam kesempatan tersebut mengatakan pelatihan yang berasal dari pokir anggota dewan ini bertujuan sebagai program pemberdayaan perempuan. “Harapannya, ibu-ibu bisa membantu menjaga ketahanan ekonomi keluarga,” ujar Ardi.

Para peserta nantinya diharapkan dapat membuka usaha, dan Ardi berpesan untuk jangan pernah menyerah karena dalam berusahan pasti ada pasang surutnya. “Sebagai pengusaha harus bisa menciptakan peluang dan harus terus belajar mengikuti perkembangan,” tukas Ardi.

Selain itu, para peserta nantinya juga dapat bergabung dengan komunitas besar, terutama dari pemerintah seperti Rumah Kreatif Sleman yang berada di bawah Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan PLUT yang berada di bawah Dinas Koperasi.

“Satu hal yang penting diperhatikan bahwa bisnis itu dinamis, selalu pasang surut. Makanya perlu belajar manajemen usaha untuk menghadapi perkembangan situasi,” pungkas Ardi. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Besik Makam Padukuhan Kendal

Sleman – Padukuhan Kendal yang berada di Kalurahan Bangunkerto Kapanewon Turi Kabupaten Sleman menjadi salah satu padukuhan yang kental dengan nilai budaya dan religi. Salah satunya terlihat dari apa yang dilakukan masyarakat Padukuhan Kendal, Pandansaren, Sidoharjo pada Minggu (13/3/2022) yang mengadakan kegiatan Besik Makam Padukuhan Kendal.

Sebagai sebuah budaya yang hidup dan berlangsung di masyarakat, Besik Makam atau membersihkan makam merupakan adat tahunan yang dilakukan saat menyongsong bulan puasa dan rangkaiannya.  Kegiatan ini menjadi manifestasi kecintaan dan perhatian terhadap para leluhur atau keluarga yang sudah meninggal. Tradisi merupakan salah satu bentuk nyata dari kebudayaan dalam masyarakat yang hampir dimiliki setiap daerah.  Masing-masing daerah memiliki tradisi yang telah dilaksanakan secara turun temurun sejak jaman nenek moyang. 

“Tujuannya (besik makam) tak lain untuk membersihkan atau merapikan makam sanak keluarga yang sudah meninggal dunia sekaligus menyambut datangnya bulan suci Ramadan serta menjadi pengingat bahwa suatu saat nanti kita juga akan kembali kepada Sang Pencipta,” ujar Agus Dwi Subekti, Dukuh Kendal.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya sebagai perilaku atau tindakan (upaya) yang bertujuan untuk mempertahankan keadaan dan keberadaan peninggalan generasi masa lampau agar generasi kini tidak tercerabut dari akar budayanya. (Arief Hartanto)




Putri Mataram Sleman Wakili DIY di Piala Pertiwi 2022 Tingkat Nasional

Sleman – Tim sepak bola putri asal Sleman, Putri Mataram, berhasil menjuarai Piala Pertiwi tingkat DIY setelah mengalahkan Protaba Bantul, Senin (14/3/2022), di Stadion Tridadi, Sleman. Dengan begitu, Putri Mataram berhak mewakili DIY melaju ke kompetisi Piala Pertiwi 2022 tingkat nasional yang akan digelar di Kota Bandung pada 18 Maret nanti.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, turut menyaksikan secara langsung pertandingan tersebut, sekaligus menyerahkan piala kepada tim juara. Danang mengucapkan selamat kepada Putri Mataram yang berhasil menjadi juara dalam Piala Pertiwi 2022 tingkat DIY. Ia juga mengapresiasi seluruh panitia pelaksana dan tim official yang telah sukses menggelar turnamen tersebut.

“Karena bagaimanapun mencari tim putri itu tidak mudah. Butuh ketelitian, keteladanan. Selamat bagi pemenang, dan untuk yang kalah jangan patah semangat,” kata Danang.

Sementara Sukoco, dari Asprov PSSI DIY menerangkan bahwa Piala Pertiwi 2022 tingkat DIY kali ini diikuti oleh dua tim, yakni Putri Mataram dari Sleman dan Protaba Bantul dari Bantul. Pertandingan diadakan dengan sistem home away.

“Awalnya lima Askab dan Asprov (kabupaten/kota se-DIY) itu siap. Tapi last minute cuma Sleman dan Bantul,” ujarnya.

Pertandingan pertama diadakan di Kabupaten Bantul dengan hasil 1-3 untuk Putri Mataram. Sedangkan pertandingan kedua diadakan di Kabupaten Sleman dengan hasil 3-0 untuk Putri Mataram. Dengan begitu, Putri Mataram berhak menjadi juara Piala Pertiwi 2022 DIY dengan agregat 6-1. Adapun usia pemain yang ikut dalam pertandingan tersebut juga beragam, yakni mulai dari rentang usia 16 hingga 24 tahun. (Humas Sleman)