Polisi Peduli Pendidikan SMPN 4 Gamping, Bentuk Generasi Muda Disiplin dan Berprestasi

Sleman – Penanaman kesadaran hukum sejak dini menjadi langkah penting dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin, bertanggung jawab, dan berprestasi. Upaya tersebut dilakukan Kepolisian Sektor Gamping melalui kegiatan Polisi Peduli Pendidikan di SMP Negeri 4 Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026), dengan melibatkan Kepala Kepolisian Sektor Gamping AKP Rusdiyanto bersama Unit Pembinaan Masyarakat (Binmas).

Dalam kegiatan tersebut, AKP Rusdiyanto menekankan bahwa pemahaman terhadap hukum tidak cukup hanya sebatas mengetahui aturan dan larangan. Kesadaran hukum perlu ditanamkan sebagai bagian dari karakter siswa agar mampu membedakan perilaku yang benar dan salah serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.

“lingkungan sekolah memiliki peran strategis dalam membangun budaya disiplin dan kepatuhan terhadap aturan. Kebiasaan menaati tata tertib sekolah, menghormati guru, menghargai sesama teman, serta bertanggung jawab terhadap tugas merupakan bentuk sederhana penerapan kesadaran hukum dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Rusdiyanto juga menyoroti pentingnya mencegah berbagai perilaku negatif di kalangan remaja, seperti perundungan (bullying), perkelahian antarpelajar, kenakalan remaja, hingga keterlibatan dalam kelompok yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui edukasi, pengawasan, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Melalui Unit Binmas, pihaknya berupaya membangun kedekatan antara kepolisian dan lingkungan pendidikan. Pendekatan edukatif tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami pentingnya menjaga keamanan, menghormati hak orang lain, serta menyelesaikan persoalan secara bijak tanpa menggunakan kekerasan.

“Selain perilaku di lingkungan sekolah, kesadaran hukum perlu diterapkan dalam penggunaan teknologi digital dan media sosial. Para pelajar perlu dibekali pemahaman agar bijak dalam berkomunikasi, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak melakukan perundungan di ruang digital, serta memahami bahwa aktivitas di dunia maya tetap memiliki konsekuensi,” terang Rusdiyanto di hadapan 187 siswa kelas VII SMP Negeri 4 Gamping.

Hal serupa dikatakan Kepala Unit Binmas, Iptu Mamik Susanti bersama Panit Binmas I, Aiptu Singgih Sudrajat bahwa penanaman karakter disiplin dan kesadaran hukum membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, kepolisian, dan masyarakat. Orang tua diharapkan memberikan keteladanan di rumah, sedangkan sekolah memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan positif.

“Dukungan kepolisian menjadi bagian dari upaya bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif,” imbuh Mamik Susanti.

Kesadaran hukum yang tumbuh sejak usia sekolah diharapkan mampu mendorong siswa menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Karakter tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi, meraih prestasi akademik maupun nonakademik, sekaligus berkontribusi positif bagi masyarakat.

Melalui program Polisi Peduli Pendidikan ini Kepolisian Sektor Gamping menegaskan pentingnya pendekatan preventif dan edukatif dalam membina generasi muda. Edukasi hukum sejak dini diharapkan tidak hanya mencegah pelanggaran, tetapi juga membentuk pelajar yang taat aturan, berkarakter kuat, berprestasi, serta mampu menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Rakorpim Gamping Soroti Sinergitas Lintas Sektor untuk Perkuat Kamtibmas dan Cegah Kenakalan Remaja

Sleman — Penguatan sinergitas dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus mencegah kenakalan remaja dan potensi gangguan keamanan di wilayah Kapanewon Gamping. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026).

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Gamping, AKP Rusdiyanto, mengatakan pemeliharaan kamtibmas tidak dapat hanya mengandalkan aparat keamanan. Menurutnya, diperlukan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, TNI-Polri, lembaga pendidikan, keluarga, serta masyarakat.

“Selain menjaga stabilitas keamanan wilayah, perhatian terhadap kenakalan remaja juga perlu menjadi agenda bersama,” tegas Rusdiyanto.

Ia menjelaskan, peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gangguan keamanan perlu dilakukan secara bersama-sama. Koordinasi yang baik akan membantu setiap unsur mengetahui perkembangan situasi sejak dini sehingga langkah pencegahan maupun penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan proporsional.

Menurut Rusdiyanto, penanganan kenakalan remaja tidak cukup dilakukan melalui pendekatan penindakan. Upaya tersebut perlu diimbangi dengan edukasi, pembinaan karakter, pengawasan, dan pendampingan agar generasi muda dapat mengembangkan perilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Peran keluarga dan lingkungan pendidikan juga dinilai penting dalam membangun kesadaran remaja mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, serta konsekuensi dari setiap tindakan. Orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintah perlu memperkuat komunikasi dan kepedulian terhadap aktivitas generasi muda, terutama dalam mendeteksi sejak dini perilaku berisiko yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Sementara itu, Panewu Gamping, Suyanto, menekankan pentingnya sinergitas lintas sektor dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan masyarakat. Koordinasi terkait perizinan, pengaturan lalu lintas, pengamanan lokasi, serta antisipasi potensi kerawanan sesuai karakteristik kegiatan diperlukan untuk meminimalkan risiko gangguan keamanan.

“Kolaborasi yang berkelanjutan juga perlu diwujudkan melalui kegiatan nyata, seperti penyuluhan kepada pelajar, pembinaan generasi muda, peningkatan kewaspadaan lingkungan, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Rakorpim Kapanewon Gamping menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi, menyampaikan perkembangan situasi wilayah, serta merumuskan langkah antisipatif terhadap berbagai persoalan sosial dan keamanan. Melalui forum tersebut, seluruh unsur diharapkan dapat memperkuat pertukaran informasi dan membangun pola komunikasi yang efektif dalam merespons berbagai persoalan di tingkat kapanewon maupun kalurahan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




KORSIMU UNISA Yogyakarta Padukan Desain Ergonomis, Pijatan Oksitosin, dan Sensor Kesehatan

Sleman – Tim peneliti Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengembangkan Kursi Oksitosin Ibu Menyusui (KORSIMU), inovasi kursi yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan ibu saat menyusui melalui perpaduan desain ergonomis, pijatan oksitosin elektrik, dan sensor pemantau kondisi kesehatan.

Ketua tim peneliti sekaligus Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Mufdlilah, mengatakan pengembangan KORSIMU dilatarbelakangi kebutuhan ibu menyusui terhadap fasilitas yang nyaman dan didukung teknologi.

“Kami ingin inovasi ini tidak hanya membantu posisi ibu saat menyusui, tetapi juga mendukung relaksasi dan pemantauan kondisi fisiologisnya,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Mufdlilah menjelaskan, pengembangan KORSIMU dilakukan secara bertahap. Proses diawali dengan identifikasi kebutuhan ibu menyusui, dilanjutkan dengan perancangan desain, pemasangan sensor fisiologis, pengujian laboratorium, hingga uji terbatas pada ibu menyusui.

Tim peneliti tersebut terdiri atas Mufdlilah, Yekti Satriyandari, Enny Fitriahadi, dan Agus Jamal.

Hasil uji fungsional awal menunjukkan KORSIMU memberikan kenyamanan yang lebih baik dibandingkan kursi konvensional. Pengguna juga melaporkan lebih sedikit keluhan muskuloskeletal, terutama pada bagian punggung, leher, dan bahu.

Salah satu fitur utama KORSIMU adalah pijatan oksitosin elektrik. Stimulasi tersebut dirancang untuk membantu ibu lebih rileks saat menyusui dan berpotensi mendukung refleks pengeluaran air susu ibu (ASI). Namun, Mufdlilah menegaskan bahwa respons setiap ibu dapat berbeda sehingga efektivitas fitur tersebut terhadap kelancaran ASI masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Selain fitur pijatan, KORSIMU dilengkapi teknologi pemantauan kondisi fisiologis ibu. Sensor pada kursi dapat memantau Heart Rate Variability (HRV), tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh.

Pengujian awal menunjukkan sensor pada purwarupa dapat berfungsi dengan baik dan menghasilkan data yang relatif akurat dibandingkan alat standar. Meski demikian, data sensor masih memerlukan proses validasi sebelum dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan klinis.

“Fitur ini diharapkan kelak membantu tenaga kesehatan mendampingi dan mengonseling ibu menyusui. Namun, data sensor masih perlu divalidasi sebelum dipakai sebagai dasar keputusan klinis,” katanya.

Masukan dari ibu menyusui, bidan, dan tenaga kesehatan menunjukkan KORSIMU memiliki manfaat dalam aspek kenyamanan, kedekatan ibu dan bayi (bonding), serta pendampingan selama proses menyusui.

Mufdlilah menegaskan bahwa KORSIMU saat ini masih berada pada tahap purwarupa. Tim peneliti akan melakukan penyempurnaan desain dan memenuhi berbagai persyaratan teknis sebelum produk dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan.

“Produk ini harus melalui pengujian, pemenuhan standar keselamatan, dan sertifikasi sesuai klasifikasinya,” katanya.

Berdasarkan hasil konsultasi dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) di DIY dan Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK), tim perlu melakukan sejumlah pengujian, antara lain uji kelistrikan dan kebocoran arus, uji kekuatan rangka, serta uji komponen sensor dan pemantau kesehatan.

Tim juga menyiapkan dokumen manajemen mutu, prosedur operasional standar (SOP), dan instruksi kerja untuk memastikan proses produksi dapat berlangsung secara konsisten.

Selanjutnya, tim merencanakan uji klinis terkontrol untuk mengukur efektivitas pijatan oksitosin terhadap pengeluaran ASI, kenyamanan menyusui, dan respons fisiologis ibu. Pemenuhan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI), Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta izin edar sesuai klasifikasi produk juga menjadi bagian dari tahapan pengembangan.

Mufdlilah berharap, setelah seluruh tahapan pengujian dan pemenuhan regulasi selesai, KORSIMU dapat dikembangkan bersama mitra industri sehingga manfaat inovasi tersebut dapat menjangkau lebih banyak ibu menyusui dan tenaga kesehatan. (Athiful/KIM Depok)




Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Perempuan di Bidang STEM

Sleman – Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan e-modul Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berbasis Gender-Responsive STEM untuk mendukung peningkatan kepercayaan diri remaja perempuan dalam mempelajari sains dan teknologi.

Pengembangan e-modul tersebut dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) oleh tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA FMIPA UNY, yakni Elvia Dewi Pebriyanti, Uli Baiturrahman Putri, dan Unisa Aulia. Penelitian ini mengkaji faktor sosial dan budaya yang berpotensi memengaruhi pengalaman belajar serta keberlanjutan pendidikan remaja perempuan di bidang STEM.

Ketua PKM-RSH, Elvia Dewi Pebriyanti, mengatakan pendidikan yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan materi pembelajaran. Lingkungan belajar juga perlu memberikan ruang yang setara bagi remaja perempuan untuk mengembangkan potensi dan membangun kepercayaan diri.

“Melalui penelitian ini, kami ingin mendorong pembelajaran IPA yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara bagi remaja perempuan untuk mengenali potensi dan membangun kepercayaan diri di bidang sains dan teknologi,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, pendekatan Gender-Responsive STEM memadukan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan perspektif responsif gender. Pendekatan tersebut dirancang agar pembelajaran lebih peka terhadap stereotip dan bias gender yang berpotensi membatasi partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknologi.

Elvia menjelaskan, luaran penelitian yang ditargetkan meliputi e-modul IPA berbasis Gender-Responsive STEM, angket untuk mengukur self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri dan bias gender, serta angket untuk mengetahui manfaat modul bagi siswi.

Instrumen tersebut digunakan untuk mengevaluasi kelayakan modul sekaligus mengetahui manfaatnya terhadap pengalaman belajar siswi. Penilaian tidak hanya mencakup materi pembelajaran, tetapi juga aspek kepercayaan diri dan pengalaman siswi selama menggunakan modul.

Dalam proses penelitian, tim juga melakukan wawancara dengan guru untuk memperoleh perspektif mengenai pembelajaran IPA di sekolah. Sebelum siswi menggunakan modul, tim terlebih dahulu meminta persetujuan orang tua. Pelibatan guru, sekolah, dan keluarga dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian.

Data yang diperoleh melalui angket dan wawancara selanjutnya dianalisis untuk menilai kelayakan dan manfaat e-modul, khususnya dalam mendukung peningkatan kepercayaan diri siswi serta mengurangi bias gender dalam pembelajaran IPA.

Elvia dan tim berharap e-modul yang dikembangkan dapat menjadi alternatif bahan ajar untuk mendukung pembelajaran IPA yang lebih inklusif dan responsif gender. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan setara bagi remaja perempuan untuk mengembangkan kemampuan, mengeksplorasi sains, serta mempersiapkan diri berkarier di bidang STEM. (Athiful/KIM Depok)




Karang Jimbaran Setyatrisila, Dalami Ilmu Sejarah UNY melalui Beasiswa Indonesia Maju

Sleman – Ketertarikan pada sejarah mengantarkan mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Karang Jimbaran Setyatrisila, meraih kesempatan menempuh pendidikan tinggi melalui Beasiswa Indonesia Maju (BIM). Mahasiswa kelahiran 1 Maret 2006 tersebut telah menjadi penerima BIM sejak 2023.

Ketertarikan Karang terhadap sejarah tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa mengikuti sang ayah melakukan penelitian sejarah ke berbagai daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada beragam tradisi, kebudayaan, museum, cagar budaya, dan peninggalan sejarah Nusantara.

Lulusan MAN 1 Yogyakarta itu mulai mengenal dunia beasiswa sejak duduk di kelas IX SMP. Saat pandemi Covid-19, ia memanfaatkan waktu dengan mengikuti berbagai webinar beasiswa, mempelajari proses seleksi, serta membangun jejaring dengan para penerima beasiswa. Ia kemudian mengikuti seleksi BIM pada 2022 dan dinyatakan lolos sebagai penerima pada 2023.

Pada tahun yang sama, Karang berkesempatan mengikuti Summer Program di University of Toronto, Kanada, bersama 20 siswa terpilih dari berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut menjadi pengalaman yang memperluas wawasan sekaligus jejaring internasionalnya.

Pilihan Karang untuk melanjutkan pendidikan di UNY juga tidak terlepas dari prestasinya di bidang sejarah. Saat duduk di kelas XII, ia meraih juara III Kompetisi Esai Sejarah tingkat nasional yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kompetisi tersebut, ia bertemu dengan salah satu juri yang merupakan dosen Program Studi Ilmu Sejarah UNY.

“Dari beliau saya terinspirasi memilih UNY sebagai langkah awal mendalami ilmu sejarah,” ungkapnya, Selasa (20/10/2026).

Menurut Karang, beasiswa bukan sekadar bantuan pembiayaan pendidikan, tetapi juga amanah yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Dukungan tersebut memberinya kesempatan untuk lebih fokus belajar, membeli buku, membaca jurnal, serta mengembangkan kemampuan menulis artikel ilmiah dan proposal penelitian.

Selama menempuh pendidikan di UNY, Karang aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti organisasi, seminar, lokakarya, simposium, serta konferensi tingkat nasional dan internasional. Ia juga berupaya menerapkan manajemen waktu secara disiplin.

Aktivitasnya dimulai sekitar pukul dengan beribadah dan membaca, kemudian dilanjutkan dengan perkuliahan, mengerjakan tugas, serta meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Kebiasaan tersebut, menurutnya, terbentuk melalui pendampingan orang tua sejak masih bersekolah.

Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik dan pencapaiannya sebagai penerima beasiswa.

“Hal ini membuat saya semakin paham arti disiplin, menghargai waktu, dan bertanggung jawab dengan apa yang saya jalani,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Karang berencana melanjutkan studi ke jenjang S2 melalui beasiswa. Ia menyadari rencana tersebut membutuhkan persiapan, peningkatan kompetensi, serta rekam jejak akademik yang baik.

“Masih banyak pengalaman dan ilmu yang harus saya pelajari. Salah satu tahapannya adalah, insyaallah, melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan mendapatkan beasiswa. Untuk itulah saya harus memantaskan diri,” ujarnya.

Bagi Karang, menjadi penerima beasiswa bukanlah tujuan akhir. Kesempatan tersebut menjadi awal untuk terus belajar, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan diri agar dapat memberikan kontribusi bagi masa depan. (Athiful/KIM Depok)