Peringati Milad ke-109, Muhammadiyah Turi Gelar Pengajian dan Donor Darah

Sleman – Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah yang ke 109, keluarga besar Muhammadiyah Kapanewon Turi menggelar pengajian Minggu Kliwon pada Minggu (5/12/2021) di Gedung Dakwah Ngablak, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi. Ini merupakan kegiatan yang kembali digelar setelah sempat terhenti saat pandemi.

Bambang Sumaryoto, salah satu pimpinan PCM mengatakan bahwa acara ini juga digelar sebagai bentuk empati atas musibah erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.

“Digelar juga secara spontan penggalangan dana untuk erupsi Gunung Semeru di Lumajang yang dikoordinir melalui ranting setempat,” ujar Bambang.

Selain pengajian, rangkaian acara juga diisi dengan aksi donor darah dan cek kesehatan, bekerja sama dengan PMI Sleman.

Ketua PCM Turi, Bambang Rahmanto mengatakan bahwa kegiatan donor darah dan cek kesehatan tersebut merupakan salah satu bentuk rasa syukur terhadap nikmat kesehatan yang diberikan.

“(Donor darah) akan memberikan manfaat bagi umat maupun diri sendiri,” imbuh Bambang. (Arief Hartanto)




Pembangunan Gapura Kampung Tambakboyo

Condongcatur – Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, meletakkan batu pertama pembangunan gapura Kampung Tambakboyo Condongcatur pada Senin (6/12/2021). Acara seremonial peletakan batu sendiri ditandai dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng.

Dalam kesempatan tersebut, Reno mengatakan bahwa gapura yang akan dibangun ini adalah penanda pintu masuk kampung, dan merupakan salah satu ciri khas dari kampung tersebut. “Semoga pembangunan gapura ini dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Reno.

Ia juga berpesan agar gapura yang dibangun sesuai dengan aturan yang berlaku, seperti ukuran tinggi di atas 4 Meter, sehingga dapat memudahkan akses mobil besar seperti pemadam kebakaran.

Dalam kesempatan tersebut, Reno juga memberikan bantuan dana sebesar 1 Juta Rupiah, sebagai bentuk apresiasi terhadap pembangunan gapura yang memanfaatkan dana kas RW dan para donatur ini.

Gapura pintu masuk Kampung Tambakboyo sendiri merupakan salah satu akses masuk menuju Embung Tambakboyo, yang merupakan salah satu waduk yang berada di Kabupaten Sleman yang berfungsi sebagai tempat cadangan air untuk wilayah Sleman hingga Bantul. (Wasana/KIM Depok)




Pengurus Pokdarwis Volcano Merapi Dikukuhkan

Cangkringan – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Volcano Merapi jalani pelantikan dan pengukuhan anggota baru di Kalurahan Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, pada Senin (6/12/2021).

Pada periode kali ini, terpilih sabagai ketua adalah Naryono yang menggantikan ketua periode sebelumnya, Tri Sunaryo.

Lurah Umbulharjo, Danang Sulistya Haryana menyampaikan harapannya untuk kepengurusan pokdarwis yang baru mampu menjadikan lebih baik lagi ke depannya dan dapat merangkul seluruh wisata yang ada di Kalurahan Umbulharjo.

“Kepengurusan baru juga harus dapat menjadikan dan memberikan kemajuan untuk Pokdarwis kalurahan,” ujarnya.

Pengukuhan ini juga dihadiri dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. (Nurul Istiqomah/KIM Cangkringan)




Peringatan Hari Jadi Kalurahan Umbulharjo

Cangkringan – Pemerintah Kalurahan Umbulharjo menggelar peringatan HUT Kalurahan Umbulharjo di Balai Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sabtu (4/12/2021). Acara tersebut dihadiri langsung oleh Lurah Umbulharjo dan Panewu Anom Cangkringan.

Danang Sulistya Haryana selaku Lurah baru di Kalurahan Umbulharjo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tahun.

“Acara ini merupakan acara hajatan Kalurahan Umbulharjo, yang setiap tahunnya akan selalu diperingati dan tetap menjaga adat istiadat di Kalurahan Umbulharjo,” ujarnya.

Sementara itu, Misman, selaku Kamituwa Kalurahan Umbulharjo, menyampaikan “kegiatan hari jadi ini di laksanakan lagi setelah 2 tahun tidak di laksanakan karena adanya pandemi covid dan di harap rekan rekan yang hadir tetap menjaga prokes sesuai anjuran pemerintah”.

Peringatan HUT Kalurahan Umbulharjo sendiri berlangsung selama 2 hari pada 4-5 Desember 2021, dengan rincian Sabtu (4/12/2021) kegiatan kenduri dan pada Minggu (5/12/2021) kegiatan jalan sehat yang diikuti oleh 500 peserta, dengan berbagai doorprize menarik. (Nurul Istiqomah/KIM Cangkringan)




Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa

Sleman – Untuk menggali kearifan lokal berbasis budaya Jawa guna mewujudkan kesejahteraan sosial, Dinas Sosial DIY menggelar Sarasehan Restorasi Sosial di Balai Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sabtu (4/12/2021).  Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Penghageng Parentah Hageng Keraton Yogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhahadiningrat.

Pada kesempatan tersebut, KPH Yudhahadiningrat menggarisbawahi mengenai urgensi Kalurahan Mandiri Budaya.

“Ada 4 syarat untuk mendapatkan predikat Desa Mandiri Budaya, yaitu Sudah menjadi desa budaya, desa wisata, desa entrepreneur, dan sudah ditetapkan sebagai desa pemberdayaan perempuan,” jelas pria yang biasa dipanggil Romo Noer ini.

Romo Nur juga mengajak semua audien dalam sarasehan tersebut untuk dapat terus melestarikan budaya dan filosofi Jawa dengan melakukan koreksi terhadap kebiasaan yang kurang tepat, seperti penggunaan jari dalam menunjuk dan penggunaan kata bopo.

“Biasakan menggunakan jempol karena ibu jari simbol rendah hati dan menghargai orang lain, berbeda dengan jari telunjuk yang kerap digunakan secara kasar untuk memerintah.  Penggunaan kata “Bopo” yang sering digunakan untuk menghormati seseorang tidak pas karena makna Bopo adalah pembantu laki-laki, pelayan atau asisten sepadan dengan pembantu perempuan adalah biyung,” terang Romo Noer.

Sadar Narima anggota DPRD DIY dalam kesempatan tersebut mengajak setiap peserta untuk bangga karena Jogja ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

“Jogja adalah city of phylosophy karena DIY merupakan satu-satunya daerah yang membangun daerahnya dengan meletakkan filosofinya terlebih dahulu, yaitu Sangkan Paraning Dumadi. Lung tinulung atau sinergisitas merupakan modal sosial untuk mencukupi kebutuhan bersama adalah kekayaan berharga untuk meraih kemakmuran,” ungkap Sadar

Sementara itu, Irdhon Hidayah, Carik Margokaton mengapresiasi sarasehan restorasi sosial yang diselenggarakan Dinas Sosial DIY ini. Menurutnya kegiatan ini merupakan wadah merekonstruksi pembangunan manusia seutuhnya dengan menggali kearifan lokal, keserasian sosial dan tidak melupakan akar sebagai manusia jawa.

“Usulan Program atau kegiatan harus proaktif dimunculkan dalam musrenbang padukuhan sehingga sebuah kegiatan akan mengakar di masyarakat. Banyak potensi di Margokaton yang bisa dioptimalkan untuk meraih predikat Desa Mandiri Budaya,” ujar Irdhon. (HRH91)