Bupati Sleman Resmikan Jalan Krikilan–Serut Kapanewon Berbah

Sleman — Bupati Sleman Harda Kiswaya meresmikan ruas Jalan Krikilan–Serut yang menghubungkan Perempatan Kopral Samyo, Krikilan, hingga Dusun Serut, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah, Selasa (20/10/2026) malam. Peresmian tersebut menjadi momentum bagi masyarakat setempat setelah menantikan perbaikan jalan selama lebih dari 20 tahun.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, anggota DPRD Kabupaten Sleman Wanto, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, jajaran Forkopimkap Berbah, lurah se-Kapanewon Berbah, pamong dan lembaga Kalurahan Tegaltirto, serta tokoh masyarakat.

Ketua Panitia Syukuran dan Peresmian, Wiyono, mewakili masyarakat Kalurahan Tegaltirto menyampaikan terima kasih kepada Bupati Sleman dan Pemerintah Kabupaten Sleman atas terselesaikannya pembangunan ruas Jalan Krikilan–Serut.

Menurutnya, kondisi jalan tersebut telah mengalami kerusakan selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu tersebut, masyarakat telah beberapa kali mengusulkan perbaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kalurahan.

“Namun, baru saat ini pembangunan dan pengaspalan ruas jalan tersebut dapat terlaksana,” ujar Wiyono.

Wiyono menuturkan, keberadaan Jalan Krikilan–Serut sangat penting bagi masyarakat Berbah karena menjadi salah satu akses yang memperpendek perjalanan menuju Jalan Solo, Kalasan, hingga Kota Yogyakarta dan pusat pemerintahan Kabupaten Sleman.

“Semoga pembangunan di wilayah Berbah akan semakin baik lagi,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengaku terharu mendengar aspirasi masyarakat Tegaltirto yang telah menantikan perbaikan jalan selama lebih dari dua dekade. Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan kualitas infrastruktur secara bertahap dan merata.

“Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen memperbaiki ruas jalan secara bertahap, tetapi tetap merata, sebagai realisasi slogan Sleman Dalane Alus, Dalane Padang serta untuk memastikan keterhubungan antarwilayah,” jelas Harda.

Ia berharap kondisi jalan yang semakin baik dan didukung penerangan yang memadai dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas masyarakat, termasuk kelancaran perekonomian.

“Harapannya, dengan dukungan jalan yang baik dan terang, akan membantu kelancaran perekonomian masyarakat,” harapnya.

Harda juga mengajak masyarakat turut mengawasi pelaksanaan pembangunan di berbagai wilayah Kabupaten Sleman. Menurutnya, partisipasi masyarakat diperlukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai ketentuan dan mencegah terjadinya penyimpangan yang dapat merugikan masyarakat.

Ia menjelaskan, anggaran pembangunan bersumber dari uang rakyat yang dihimpun melalui pembayaran pajak, baik pajak pribadi, perusahaan, kendaraan bermotor, tanah, maupun sumber penerimaan lainnya.

“Oleh sebab itu, penggunaan dana tersebut harus tepat sasaran, sesuai skala prioritas, bermanfaat bagi masyarakat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sleman, Wanto, yang juga merupakan warga Kapanewon Berbah, turut menyampaikan apresiasi atas pembangunan ruas jalan tersebut. Ia mengucapkan terima kasih kepada Bupati Sleman dan Pemerintah Kabupaten Sleman yang telah merealisasikan pembangunan infrastruktur di wilayah Berbah.

Dirinya menyatakan akan terus mendukung dan mengawal aspirasi masyarakat agar pembangunan di wilayah Berbah dapat berjalan sesuai kebutuhan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Semua itu untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Berbah,” pungkasnya. (Kusnadi – KIM Berbah)




Merajut Kata, Menjaga Etika: Pelatihan Pranatacara Sleman Tegaskan Keluhuran Bahasa Jawa

Sleman — Menjadi pranatacara tidak sekadar menuntut kelancaran berbicara, tetapi juga ketepatan memilih kata, kesantunan bertutur, serta pemahaman terhadap makna yang disampaikan. Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga etika komunikasi sekaligus melestarikan bahasa dan sastra Jawa di tengah perkembangan zaman.

Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan Basa dan Sastra Adiwicara serta Pranatacara Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman pada 20–21 Oktober 2026 di Ruang Rapat Rukun, kantor dinas setempat. Dalam kegiatan tersebut, narasumber Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia DPD Dewan Pengurus Daerah PPY Paguyuban Panatacara Yogyakarta Kabupaten Sleman, Yuana Agus Dirgantara, menyampaikan pentingnya penguasaan bahasa, kepekaan terhadap situasi, dan ketepatan dalam menyampaikan pesan.

“Seorang pranatacara harus menggunakan bahasa yang komunikatif, memperhatikan unggah-ungguh, tidak mengulang-ulang kata dalam setiap penyampaian, serta memahami benar makna dari apa yang diucapkan,” jelas Yuana.

Menurutnya, seorang pranatacara tidak cukup hanya menghafal naskah. Setiap tuturan harus disampaikan secara jelas, santun, dan sesuai konteks agar mudah dipahami tanpa mengurangi penghormatan kepada hadirin.

Dalam materinya, Yuana menjelaskan beragam bentuk tuturan dalam tradisi Jawa, antara lain atur-atur sebagai pengantar pembicaraan, pocapan sebagai tuturan pengantar tanpa iringan, candra atau janturan untuk menggambarkan suatu keadaan, serta tembang yang menyampaikan narasi melalui lantunan berirama. Setiap bentuk tuturan memiliki fungsi dan penggunaannya masing-masing sehingga perlu disesuaikan dengan tujuan serta situasi acara.

Selain memahami bentuk tuturan, pranatacara perlu menguasai ragam bahasa sesuai konteks. Salah satunya Basa Krama Inggil yang mengedepankan kesantunan dan penghormatan dalam komunikasi formal.

“Bahasa krama inggil merupakan ragam bahasa formal yang mengandung etika dan unggah-ungguh. Karena orang-orang yang hadir memiliki latar belakang dan tingkatan sosial yang beragam, penggunaan bahasa ini diharapkan dapat diterima oleh semua pihak,” ungkap Yuana.

Pelatihan juga membahas Basa Rinengga, yaitu ragam bahasa yang diperkaya unsur kesusastraan, seperti bebasan, wangsalan, pepindhan, dan parikan. Penggunaan ungkapan tersebut dapat memperindah tuturan sekaligus menyampaikan pesan filosofis, khususnya dalam upacara adat.

“Bahasa yang indah bukan sekadar membuat tuturan terdengar menarik. Ungkapan sastra perlu digunakan dengan tepat agar dapat memperkuat suasana, memperjelas pesan, dan menyampaikan nilai yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Sementara itu, Basa Geculan dapat dimanfaatkan untuk menciptakan suasana yang lebih cair dan membangun kedekatan dengan hadirin. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan etika dan kepantasan agar humor tidak mengurangi kekhidmatan acara.

Selain keterampilan bertutur, peserta mempelajari struktur sesorah atau pidato dalam tradisi Jawa yang terdiri atas purwaka sebagai pembukaan, surasa sebagai isi, dan wasana basa sebagai penutup. Struktur tersebut membantu pembicara menyampaikan gagasan secara runtut sehingga pesan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

“Pidato yang baik perlu disusun secara runtut. Pembukaan menjadi pengantar bagi pendengar, bagian isi menyampaikan pokok pikiran, sedangkan penutup mengakhiri penyampaian dengan tepat sehingga keseluruhan pesan dapat diterima secara utuh,” jelas Yuana.

Pembelajaran dilaksanakan melalui diskusi kelompok atau focus group discussion (FGD). Melalui metode tersebut, peserta memperoleh ruang untuk mendalami materi, bertukar pandangan, dan memahami penerapan keterampilan pranatacara dalam berbagai kegiatan.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan adat maupun kemasyarakatan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian bahasa dan sastra Jawa agar tetap digunakan secara tepat dan relevan di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun ruang publik.  (SBD/KIM Tempel)




Menjaga Martabat Tradisi Lewat Seni Panatacara, Merawat Bahasa dan Budaya Nusantara

Sleman — Seni panatacara atau pambiwara tidak sekadar menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga mencerminkan keterampilan komunikasi yang mengedepankan penguasaan bahasa, tata krama, dan ketepatan dalam memandu acara. Di tengah perkembangan komunikasi digital, seni ini tetap relevan sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian bahasa dan budaya Jawa.

Hal tersebut disampaikan praktisi keprotokolan sekaligus Ketua Forum Protokol PTNBH Indonesia, Haryanto dalam Pelatihan Basa lan Sastra, Adiwicara dan Pranatacara Tahun 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman tersebut berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 di Ruang Rapat Rukun, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Dalam kegiatan ini, Haryanto menyampaikan materi bertajuk Sangune Panatacara.

Ia menekankan bahwa seorang panatacara perlu memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan kepekaan dalam membaca situasi agar mampu memandu acara secara profesional.

“Seorang panatacara itu ibarat kusir atau dirigen dalam sebuah orkestra kehidupan. Tugasnya bukan sekadar memanggil pengisi acara, melainkan menyatukan ritme emosi, menjaga kesakralan ritual, dan merawat marwah keluarga yang memiliki hajat,” ujar Haryanto, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, panatacara bertanggung jawab memastikan susunan acara berjalan tertib, menyampaikan informasi secara tepat, serta menjaga penghormatan kepada seluruh pihak yang hadir. Kemampuan tersebut diperlukan dalam berbagai kegiatan, mulai dari upacara perkawinan adat hingga acara resmi pemerintahan.

Salah satu kompetensi utama yang harus dikuasai ialah penggunaan bahasa sesuai konteks dan situasi. Prinsip Jawa ora waton muni, nanging muni nganggo waton lan empan papan mengajarkan bahwa setiap perkataan harus disampaikan dengan memperhatikan aturan, kepantasan, dan kondisi yang dihadapi.

Kekayaan sastra Jawa, seperti tembung rinengga, purwakanthi, parikan, dan wangsalan, dapat digunakan untuk memperindah penyampaian. Namun, penggunaannya harus tetap mengutamakan kejelasan pesan agar mudah dipahami oleh para tamu.

“Jangan sampai kita hanya mengejar keindahan kata-kata, merangkai kalimat berbunga-bunga, tetapi justru membuat para tamu kebingungan dan kehilangan esensi pesannya. Komunikasi yang efektif adalah yang ringkas, cetha (jelas), lugas, namun tetap menyentuh relung hati,” tandas Haryanto.

Selain penguasaan bahasa, seorang panatacara perlu memperhatikan artikulasi, intonasi, susunan acara, serta pemahaman terhadap makna setiap prosesi yang dipandu. Penampilan, termasuk pemilihan busana adat yang sesuai dengan karakter kegiatan, juga perlu didukung sikap disiplin, santun, dan kemampuan mengendalikan diri.

Profesionalisme panatacara turut diuji ketika menghadapi kendala, seperti perubahan jadwal, keterlambatan pengisi acara, atau gangguan teknis. Dalam situasi tersebut, panatacara dituntut tetap tenang, berkoordinasi dengan penyelenggara, dan menyesuaikan jalannya acara tanpa mengurangi kekhidmatan kegiatan.

“Ketenangan di atas panggung adalah kunci. Ketika lampu tiba-tiba padam atau acara bergeser dari jadwal, panatacara harus menjadi sauh yang menenangkan, menyapa tamu dengan bahasa yang edhum (menyejukkan) tanpa menunjukkan kepanikan,” tutur Haryanto.

Kepekaan dalam membaca situasi atau lantip ing panggrahita menjadi bekal penting untuk menentukan respons yang tepat. Panatacara juga perlu menjalin koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat, termasuk penyelenggara, perias, juru kamera, penata dekorasi, dan operator tata suara, agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar.

Bagi generasi muda, seni panatacara memberikan pembelajaran tentang etika komunikasi yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan dan organisasi hingga pemerintahan serta forum publik. Pemanfaatan teknologi digital juga dapat mendukung proses pembelajaran dan dokumentasi tradisi, tanpa mengesampingkan nilai kesantunan dan tata krama.

Haryanto mengingatkan bahwa keterampilan dan keberhasilan tidak dapat diraih secara instan. Hal tersebut tercermin dalam ungkapan Jawa, “Tan ana jangka kang jinangka tanpa jangkah, jroning jumangkah nganggowa wewaton lan wewarah.”

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa pencapaian membutuhkan kerja keras, proses belajar, serta pedoman ilmu dan tuntunan yang tepat. Kompetensi seorang panatacara perlu terus diasah melalui latihan, pengalaman, dan kesediaan untuk memperbaiki diri.

Pelestarian seni panatacara tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan upacara atau penggunaan busana adat, tetapi juga mencakup pewarisan nilai kesantunan, ketepatan berbahasa, dan penghormatan kepada sesama. Melalui pembelajaran yang berkelanjutan, seni panatacara diharapkan tetap berkembang dan relevan di tengah masyarakat modern tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi landasannya. (SBD/KIM Tempel)




Pelatihan Panatacara Sleman Perkuat Etika Berbahasa dan Pelestarian Budaya Jawa

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) terus mendorong pelestarian bahasa dan budaya Jawa melalui Pelatihan Bahasa dan Sastra, Adiwicara, dan Pranatacara Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 di Ruang Rapat Rukun, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, tersebut diikuti 25 peserta.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan berbahasa dan berbicara di depan umum, sekaligus memperkuat pemahaman peserta mengenai tata krama atau unggah-ungguh dalam berkomunikasi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat memandu acara resmi dan adat.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Samino secara resmi membuka kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa, sastra, adiwicara, dan pranatacara merupakan bagian penting dalam menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

“Pelatihan ini bukan sekadar ajang belajar teknik berbicara di muka umum, melainkan upaya strategis untuk merawat marwah budaya luhur kita. Melalui penguasaan ragam bahasa, sastra, adiwicara, dan pranatacara yang baik, kita berharap para peserta mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian identitas budaya bangsa agar tetap bermartabat di tengah perkembangan zaman,” ujar Samino, Selasa (20/10/2026).

Dalam budaya Jawa, unggah-ungguh basa menjadi landasan penting dalam berkomunikasi. Pemilihan kata dan penggunaan ragam bahasa perlu disesuaikan dengan lawan bicara, situasi, serta tujuan komunikasi. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa tidak hanya menuntut ketepatan tutur, tetapi juga sikap hormat dan kesantunan.

Hal tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam peran seorang pranatacara. Selain membacakan susunan acara, pranatacara bertanggung jawab mengatur jalannya kegiatan, menjaga suasana, serta menyampaikan informasi secara jelas dan santun. Peran tersebut membutuhkan penguasaan bahasa, kepercayaan diri, dan kepekaan terhadap situasi.

Ketua DPD Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman, Agus Wiranto, yang turut menjadi narasumber, menekankan pentingnya karakter dan etika bagi seorang pranatacara.

“Seorang pranatacara bukan sekadar penyambung lidah dalam sebuah acara, melainkan penjaga marwah budaya dan estetika berbahasa. Kita ingin mencetak insan-insan pelestari tradisi yang tidak hanya terampil mengolah kata secara lisan, tetapi juga memiliki integritas, karakter, serta kepekaan sosial yang tinggi di tengah masyarakat,” ungkap Agus.

Selain Agus Wiranto, pelatihan menghadirkan Haryanto, yang menyampaikan materi “Sangune Pranatacara”, serta Yuana Agus Dirgantara, dengan materi “Bahasa Panatacara dan Sesorah”. Materi tersebut membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun tuturan, menggunakan bahasa secara tepat, serta menyampaikan pesan sesuai konteks acara.

Keterampilan adiwicara dan pranatacara juga bermanfaat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan forum resmi. Kemampuan bertutur secara terstruktur, jelas, dan santun dapat mendukung penyampaian pesan yang efektif sekaligus menjaga hubungan baik dengan audiens.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik. Latihan berkelanjutan dan kesempatan untuk tampil di berbagai kegiatan menjadi bagian penting dalam mengasah keterampilan serta menjaga keberlanjutan tradisi berbahasa Jawa. (SBD/KIM Tempel)




Siswa SMKI Betah Berlatih Karawitan di Kalurahan Ambarketawang

Sleman — Di tengah sengitnya kompetisi bulu tangkis dalam rangka Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Ambarketawang, alunan gamelan terdengar menggema pada malam itu. Suaranya berpadu dinamis, terkadang cepat dan rampak, kemudian melambat dengan irama yang lembut dan mendayu. Sesekali, suara rebab terdengar menyayat, berpadu dengan tiupan seruling yang menghadirkan nuansa khas karawitan Jawa.

Irama tersebut seolah dimainkan oleh para seniman karawitan berpengalaman. Namun, pemandangan di Ruang Kresna, kompleks Kantor Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026) justru menghadirkan kejutan. Di balik perangkat gamelan, tampak sekitar 18 pemuda duduk berjajar sebagai penabuh gamelan atau wiyaga. Sementara itu, tiga pemudi duduk dengan mikrofon di tangan, bersiap melantunkan tembang sebagai sindhen atau waranggana.

Mereka merupakan siswa SMK Negeri 1 Kasihan yang lebih dikenal dengan sebutan SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Para siswa tersebut tengah menjalani praktik kerja lapangan (PKL) sekaligus berlatih untuk meningkatkan keterampilan dalam memainkan gamelan. Mereka berasal dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalurahan Ambarketawang sendiri.

Meski masih berusia belasan tahun, kemampuan mereka memainkan berbagai instrumen gamelan terlihat mengesankan. Tidak hanya piawai menabuh gamelan, sejumlah siswa juga mampu melantunkan tembang melalui gerongan untuk mengimbangi suara sindhen. Kekompakan mereka menghadirkan sajian karawitan yang harmonis.

Selama empat bulan, para siswa menjalani PKL di lingkungan Keraton. Dalam periode tersebut, mereka mendapat kesempatan tampil di hadapan masyarakat, antara lain melalui paket pertunjukan untuk menyambut tamu dan wisatawan. Setiap penampilan menjadi bagian dari proses penilaian sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyelesaian tugas akhir.

Untuk mempersiapkan penampilan, latihan dilaksanakan rata-rata dua kali dalam seminggu dengan lokasi yang berpindah-pindah. Perpindahan tempat latihan dilakukan karena jadwal penggunaan ruang di sekolah terkadang berbenturan dengan kegiatan lain.

Salah satu siswa yang turut menjadi waranggana, Afrinda, mengaku nyaman berlatih di Ruang Kresna Kalurahan Ambarketawang.

“Tempatnya nyaman sekali,” tuturnya.

Para siswa PKL tersebut terbagi menjadi dua kelompok, masing-masing beranggotakan sekitar 18 orang. Mereka berlatih menggunakan perangkat gamelan berlaras pelog maupun slendro. Adapun gending yang dibawakan antara lain Kembang Gayam, Blimbing Wuluh, serta sejumlah gending khas Kota Yogyakarta dalam sajian uyon-uyon.

Suasana latihan berlangsung akrab dan penuh semangat. Setiap siswa tampak menguasai instrumen yang menjadi tanggung jawabnya. Canda dan gurau khas anak muda sesekali terdengar di sela-sela latihan, tanpa mengurangi keseriusan mereka dalam membangun kekompakan dan menyempurnakan sajian karawitan.

Pemandangan tersebut menjadi potret menarik di tengah kehidupan generasi muda saat ini. Ketika sebagian anak muda menghabiskan waktu dengan permainan daring atau membicarakan modifikasi kendaraan, para siswa SMKI ini justru tekun mendalami gending, uyon-uyon, dan seni karawitan Jawa.

Semangat mereka menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap memiliki tempat di hati generasi muda. Dukungan berupa ruang latihan yang nyaman dan perangkat gamelan yang memadai juga menjadi salah satu faktor yang membantu mereka mengembangkan keterampilan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Jawa. (Dwi Ony Raharjo/KIM Pararta Guna Gamping)