Sleman — Keluarga tidak harus selalu harmonis dan bebas dari konflik untuk menjadi keluarga yang kuat. Kemampuan orang tua dalam mengelola persoalan, menjaga rasa aman anak, serta mencari dukungan ketika menghadapi masalah menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga.
Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Penyuluhan Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang digelar di Pendopo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), kader KB pria, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas se-Kapanewon Tempel.
Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Tempel, Edi Santosa, menjelaskan bahwa keluarga merupakan ruang utama untuk membangun nilai, tanggung jawab, serta hubungan antaranggotanya. Menurutnya, ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh kecukupan materi, tetapi juga kemampuan keluarga menghadapi tekanan, menyesuaikan diri, dan memperoleh dukungan dari lingkungan.
Edi menggunakan analogi rumah untuk menjelaskan konsep ketahanan keluarga yang diadaptasi dari kerangka pemikiran Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, . Fondasi rumah menggambarkan nilai, tujuan, dan komitmen keluarga. Sementara tiang mencerminkan kekuatan fisik, ekonomi, sosial, dan psikologis. Adapun pengasuhan, perlindungan, pendidikan, serta dukungan lingkungan menjadi bagian yang menopang kehidupan keluarga.
“Rumah yang kokoh bukan karena tidak pernah diguncang angin. Namun, karena fondasi, tiang, dinding, dan jaring pengamannya bekerja bersama,” ujar Edi.
Ia menegaskan bahwa ketahanan keluarga bukan berarti keluarga tidak pernah mengalami pertengkaran maupun persoalan. Ketahanan justru terlihat dari kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan, menjalankan fungsi, menghadapi tekanan, menyesuaikan diri, dan bangkit setelah menghadapi masalah.
“Ketahanan keluarga itu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, menjalankan fungsi, menghadapi tekanan, menyesuaikan diri, dan bangkit kembali. Bukan berarti keluarga tidak pernah bertengkar, selalu berkecukupan, atau harus menyelesaikan semua masalah sendirian,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Edi juga membahas pengasuhan responsif. Orang tua diajak menerapkan prinsip PEKA–PAHAMI–RESPONS TEPAT, yakni mengenali isyarat yang ditunjukkan anak, memahami kebutuhan di balik perilakunya, kemudian memberikan respons yang sesuai.
“Amati dulu isyaratnya. Lapar, lelah, takut, frustrasi, atau butuh dekat. Baru kemudian kita cari kebutuhan di balik perilaku. Tangisan bukan otomatis nakal,” katanya.
Pengasuhan responsif dapat diterapkan melalui empat langkah sederhana, yaitu berhenti sejenak untuk menenangkan diri, mengamati situasi, menghubungkan perilaku dengan perasaan anak, serta memberikan bimbingan dengan batasan yang jelas.
Menurut Edi, menerima perasaan anak bukan berarti membiarkan seluruh perilakunya. Batasan tetap diperlukan, terutama terhadap perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Perasaan anak diterima, perilaku yang membahayakan tetap dibatasi. Hangat dalam hubungan, jelas dalam aturan,” tegasnya.
Selain penguatan kapasitas orang tua, dukungan lingkungan juga dinilai penting. Keterlibatan Babinsa, Bhabinkamtibmas, PPKBD, dan kader KB pria dapat memperluas jejaring pendampingan keluarga.
Babinsa dapat mendukung solidaritas sosial dan kesiapsiagaan keluarga. Sementara Bhabinkamtibmas dapat berperan dalam pencegahan konflik dan kekerasan serta menghubungkan masyarakat dengan jalur bantuan yang sesuai. Adapun PPKBD dan kader KB berperan dalam penyampaian informasi, edukasi, dan pendampingan kepada keluarga.
Para peserta juga diingatkan untuk menjaga kerahasiaan persoalan keluarga, menghindari sikap menghakimi, serta merujuk kasus kekerasan maupun persoalan yang berkaitan dengan keselamatan kepada layanan yang berwenang.
Dalam diskusi, peserta diberikan ilustrasi mengenai sebuah keluarga dengan dua anak yang mengalami penurunan pendapatan. Kondisi tersebut memicu pertengkaran orang tua, sementara anak mulai sering absen sekolah dan tetangga mendengar bentakan keras. Namun, keluarga tersebut enggan meminta bantuan karena khawatir dianggap gagal.
Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dapat berdampak pada hubungan pasangan dan pola pengasuhan. Rasa malu dan kekhawatiran terhadap penilaian lingkungan juga dapat membuat keluarga menutup diri ketika membutuhkan bantuan.
Karena itu, lingkungan yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi pintu awal bagi keluarga untuk memperoleh dukungan. Sementara itu, apabila terdapat indikasi kekerasan atau risiko keselamatan, penanganan perlu segera diarahkan kepada pihak dan layanan yang berwenang.
Pembangunan keluarga, lanjut Edi, tidak hanya berkaitan dengan perencanaan jumlah anak, tetapi juga mencakup kualitas pengasuhan, komunikasi antaranggota keluarga, ketahanan menghadapi tekanan, serta kemudahan memperoleh dukungan ketika menghadapi persoalan.
Pertemuan Bangga Kencana di Tempel membawa pesan bahwa keluarga tidak harus sempurna untuk menjadi kuat. Keluarga membutuhkan ruang untuk belajar, kesempatan memperbaiki hubungan, dan dukungan ketika menghadapi kesulitan. (SBD/KIM Tempel)