PS Condongcatur Tetap Tak Terkalahkan Usai Imbang Lawan PS MKJ

Sleman – PS Condongcatur (PS CC) mempertahankan rekor tak terkalahkan setelah bermain imbang 0-0 melawan PS MKJ dalam lanjutan Liga Seri A Askab PSSI Sleman 2026 di Lapangan Nogotirto, Gamping, Selasa (20/10/2026).

PS CC tampil dominan dan menciptakan sejumlah peluang, terutama pada babak kedua. Namun, rapatnya pertahanan PS MKJ serta kurang maksimalnya penyelesaian akhir membuat kedua tim gagal mencetak gol hingga pertandingan berakhir.

Manajer PS Condongcatur, Daris Wicaksono, mengakui timnya memiliki peluang untuk meraih kemenangan. Menurutnya, efektivitas penyelesaian akhir menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi.

“Latihan berikutnya akan lebih banyak difokuskan pada penyelesaian akhir. Kami juga akan mencoba strategi baru karena tim lawan mulai mempelajari permainan PS CC,” ujar Daris.

Sementara itu, Kepala Pelatih PS Condongcatur, Fajar Subekti, juga akan mengevaluasi ketenangan pemain dalam memanfaatkan peluang, kecepatan sirkulasi bola, serta variasi serangan untuk membongkar pertahanan lawan.

Hasil imbang tersebut membuat PS CC mengoleksi 10 poin dari empat pertandingan, dengan catatan tiga kemenangan dan satu hasil seri. Sebelumnya, PS CC mengalahkan PS Porab 2-1, PS TGP 7-1, dan PS Pemda 2-0. Sepanjang empat pertandingan tersebut, PS CC mencetak 11 gol dan kebobolan dua gol.

Ketua PS Condongcatur, Sahid Fahrudin pun mengapresiasi dukungan suporter dan masyarakat yang hadir langsung di lapangan. Ia berharap dukungan tersebut menjadi motivasi bagi para pemain untuk meraih hasil lebih baik pada pertandingan berikutnya.

PS CC dijadwalkan menghadapi AMS Seyegan pada laga kelima di Lapangan Jangkang, Widodomartani, Ngemplak, Selasa (27/10/2026), pukul WIB. Tim pelatih akan memprioritaskan pembenahan penyelesaian akhir dan variasi serangan guna menjaga konsistensi di kompetisi.

Liga Seri A Askab PSSI Sleman 2026 diikuti delapan kesebelasan dan digelar di Lapangan Jangkang serta Lapangan Nogotirto. Kompetisi ini menjadi wadah pembinaan pemain sekaligus menghidupkan kembali persaingan antarklub sepak bola di Kabupaten Sleman. (Wasana/KIM Depok)




Pamong Condongcatur Perkuat Budaya SATRIYA BerAKHLAK melalui Seloso Kliwonan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, terus memperkuat profesionalisme aparatur dan kualitas pelayanan publik melalui internalisasi Budaya Pemerintahan SATRIYA BerAKHLAK. Penguatan tersebut dilaksanakan dalam rapat dinas rutin Seloso Kliwonan pada Selasa (20/10/2026), di kediaman Kaur Tata Laksana Condongcatur, Andree Setiawan.

Kegiatan menghadirkan Ketua Tim Kerja Kinerja dan Reformasi Birokrasi Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Erma Ekawati Purnama, sebagai narasumber. Hadir pula Plt. Lurah Condongcatur Budi Arto, jajaran pamong, keluarga pamong, serta Kepala Jawatan Praja Kapanewon Depok, Feri Ferdian.

Dalam sambutannya, Budi Arto menyampaikan bahwa Seloso Kliwonan menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan evaluasi kinerja antarpamong.

“Budaya SATRIYA harus kita laksanakan. Yang paling penting, nilai-nilai tersebut menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.

Kepala Jawatan Praja Kapanewon Depok, Feri Ferdian turut menekankan pentingnya pengelolaan kinerja yang terstruktur, mulai dari perencanaan, penetapan target, pelaksanaan kegiatan, hingga pelaporan. Ia juga mengingatkan agar program yang didukung Dana Keistimewaan DIY dilaksanakan sesuai perencanaan dan tertib administrasi.

Sementara dalam paparannya, Ketua Tim Kerja Kinerja dan Reformasi Birokrasi Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Erma Ekawati menjelaskan nilai-nilai Budaya Pemerintahan SATRIYA yang berakar pada filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Tujuh nilai SATRIYA meliputi Selaras, Akal Budi Luhur, Teladan-Keteladanan, Rela Melayani, Inovatif, Yakin dan Percaya Diri, serta Ahli Profesional.

“Nilai-nilai tersebut selaras dengan BerAKHLAK, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif,” tandasnya.

Melalui sosialisasi ini, pamong didorong untuk menerapkan nilai integritas, keteladanan, profesionalisme, dan semangat melayani dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Materi disampaikan secara interaktif melalui pemutaran film pendek dan kuis untuk meningkatkan pemahaman peserta. Erma juga mengapresiasi tradisi Seloso Kliwonan karena memadukan koordinasi kedinasan dengan silaturahmi keluarga sehingga membuka ruang komunikasi yang lebih fleksibel dalam menyelesaikan persoalan pekerjaan.

“Agenda kegiatan rutin ini berkorelasi terhadap kualitas kinerja Kalurahan Condongcatur. Terjalinnya komunikasi informal sering kali mampu menjembatani para pihak dalam menghadapi kendala pelaksanaan tugas. Semoga menjadi inspirasi bagi kalurahan lain agar kinerja semakin berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkap Erma.

Seloso Kliwonan merupakan agenda bulanan Pemerintah Kalurahan Condongcatur yang dilaksanakan setiap Selasa Kliwon secara bergiliran di kediaman lurah, carik, kepala seksi, kepala urusan, hingga 18 dukuh. Selain membahas informasi dan evaluasi pemerintahan, kegiatan ini melibatkan pasangan pamong untuk mempererat hubungan kekeluargaan.

Pada kesempatan tersebut, diumumkan pula hasil pengundian arisan pamong periode Oktober, yakni Dukuh Manukan, Beti Kartiningrum dan staf Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Apri Nugroho.

Melalui tradisi Seloso Kliwonan, Pemerintah Kalurahan Condongcatur berupaya memadukan kearifan lokal dengan budaya kerja yang profesional, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Condongcatur, “Guyub Rukun, Koordinasi Kuat, Nglayani Masyarakat.” (Wasana/KIM Depok)




Keluarga Tak Harus Sempurna untuk Menjadi Kuat, Pengasuhan Anak Perlu Dukungan Bersama

Sleman — Keluarga tidak harus selalu harmonis dan bebas dari konflik untuk menjadi keluarga yang kuat. Kemampuan orang tua dalam mengelola persoalan, menjaga rasa aman anak, serta mencari dukungan ketika menghadapi masalah menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga.

Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Penyuluhan Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang digelar di Pendopo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), kader KB pria, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas se-Kapanewon Tempel.

Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Tempel, Edi Santosa, menjelaskan bahwa keluarga merupakan ruang utama untuk membangun nilai, tanggung jawab, serta hubungan antaranggotanya. Menurutnya, ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh kecukupan materi, tetapi juga kemampuan keluarga menghadapi tekanan, menyesuaikan diri, dan memperoleh dukungan dari lingkungan.

Edi menggunakan analogi rumah untuk menjelaskan konsep ketahanan keluarga yang diadaptasi dari kerangka pemikiran Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, . Fondasi rumah menggambarkan nilai, tujuan, dan komitmen keluarga. Sementara tiang mencerminkan kekuatan fisik, ekonomi, sosial, dan psikologis. Adapun pengasuhan, perlindungan, pendidikan, serta dukungan lingkungan menjadi bagian yang menopang kehidupan keluarga.

“Rumah yang kokoh bukan karena tidak pernah diguncang angin. Namun, karena fondasi, tiang, dinding, dan jaring pengamannya bekerja bersama,” ujar Edi.

Ia menegaskan bahwa ketahanan keluarga bukan berarti keluarga tidak pernah mengalami pertengkaran maupun persoalan. Ketahanan justru terlihat dari kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan, menjalankan fungsi, menghadapi tekanan, menyesuaikan diri, dan bangkit setelah menghadapi masalah.

“Ketahanan keluarga itu kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, menjalankan fungsi, menghadapi tekanan, menyesuaikan diri, dan bangkit kembali. Bukan berarti keluarga tidak pernah bertengkar, selalu berkecukupan, atau harus menyelesaikan semua masalah sendirian,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Edi juga membahas pengasuhan responsif. Orang tua diajak menerapkan prinsip PEKA–PAHAMI–RESPONS TEPAT, yakni mengenali isyarat yang ditunjukkan anak, memahami kebutuhan di balik perilakunya, kemudian memberikan respons yang sesuai.

“Amati dulu isyaratnya. Lapar, lelah, takut, frustrasi, atau butuh dekat. Baru kemudian kita cari kebutuhan di balik perilaku. Tangisan bukan otomatis nakal,” katanya.

Pengasuhan responsif dapat diterapkan melalui empat langkah sederhana, yaitu berhenti sejenak untuk menenangkan diri, mengamati situasi, menghubungkan perilaku dengan perasaan anak, serta memberikan bimbingan dengan batasan yang jelas.

Menurut Edi, menerima perasaan anak bukan berarti membiarkan seluruh perilakunya. Batasan tetap diperlukan, terutama terhadap perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

“Perasaan anak diterima, perilaku yang membahayakan tetap dibatasi. Hangat dalam hubungan, jelas dalam aturan,” tegasnya.

Selain penguatan kapasitas orang tua, dukungan lingkungan juga dinilai penting. Keterlibatan Babinsa, Bhabinkamtibmas, PPKBD, dan kader KB pria dapat memperluas jejaring pendampingan keluarga.

Babinsa dapat mendukung solidaritas sosial dan kesiapsiagaan keluarga. Sementara Bhabinkamtibmas dapat berperan dalam pencegahan konflik dan kekerasan serta menghubungkan masyarakat dengan jalur bantuan yang sesuai. Adapun PPKBD dan kader KB berperan dalam penyampaian informasi, edukasi, dan pendampingan kepada keluarga.

Para peserta juga diingatkan untuk menjaga kerahasiaan persoalan keluarga, menghindari sikap menghakimi, serta merujuk kasus kekerasan maupun persoalan yang berkaitan dengan keselamatan kepada layanan yang berwenang.

Dalam diskusi, peserta diberikan ilustrasi mengenai sebuah keluarga dengan dua anak yang mengalami penurunan pendapatan. Kondisi tersebut memicu pertengkaran orang tua, sementara anak mulai sering absen sekolah dan tetangga mendengar bentakan keras. Namun, keluarga tersebut enggan meminta bantuan karena khawatir dianggap gagal.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dapat berdampak pada hubungan pasangan dan pola pengasuhan. Rasa malu dan kekhawatiran terhadap penilaian lingkungan juga dapat membuat keluarga menutup diri ketika membutuhkan bantuan.

Karena itu, lingkungan yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi pintu awal bagi keluarga untuk memperoleh dukungan. Sementara itu, apabila terdapat indikasi kekerasan atau risiko keselamatan, penanganan perlu segera diarahkan kepada pihak dan layanan yang berwenang.

Pembangunan keluarga, lanjut Edi, tidak hanya berkaitan dengan perencanaan jumlah anak, tetapi juga mencakup kualitas pengasuhan, komunikasi antaranggota keluarga, ketahanan menghadapi tekanan, serta kemudahan memperoleh dukungan ketika menghadapi persoalan.

Pertemuan Bangga Kencana di Tempel membawa pesan bahwa keluarga tidak harus sempurna untuk menjadi kuat. Keluarga membutuhkan ruang untuk belajar, kesempatan memperbaiki hubungan, dan dukungan ketika menghadapi kesulitan. (SBD/KIM Tempel)




Responsive Parenting, Kunci Membangun Anak yang Peduli dan Tangguh Sejak Dini

Sleman – Membangun anak yang peduli, percaya diri, dan tangguh menghadapi tantangan tidak cukup dilakukan dengan memenuhi kebutuhan fisiknya. Anak juga membutuhkan pengasuhan yang responsif melalui perhatian terhadap perasaan, kebutuhan, dan tahap perkembangannya.

Hal tersebut menjadi salah satu materi dalam pertemuan penyuluhan BANGGA KENCANA (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) yang digelar di Pendopo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026).

Materi mengenai responsive parenting atau pengasuhan responsif disampaikan Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Tempel, Chalimah Candra Dewi. Kegiatan tersebut diikuti Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), kader KB pria, serta unsur Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) se-Kapanewon Tempel.

Chalimah menjelaskan, pengasuhan responsif merupakan pendekatan yang mendorong orang tua untuk peka mengenali kebutuhan anak, memahami kondisi emosionalnya, serta memberikan respons yang sesuai. Pengasuhan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk tumbuh dan belajar.

“Responsive parenting bukan berarti orang tua harus selalu menuruti semua keinginan anak. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan anak, mendengarkan perasaannya, dan memberikan respons yang tepat. Anak membutuhkan kasih sayang sekaligus arahan agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, peduli, dan tangguh,” jelas Chalimah.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting diterapkan ketika anak menghadapi berbagai persoalan, seperti kesulitan belajar, konflik dengan teman, maupun kekecewaan karena tidak berhasil mencapai sesuatu. Dalam situasi tersebut, respons orang tua dapat membantu anak memahami persoalan tanpa merasa diabaikan atau kehilangan kepercayaan diri.

Orang tua, lanjut Chalimah, dapat mengajak anak berbicara, mengenali perasaannya, kemudian bersama-sama mencari jalan keluar. Anak tetap perlu memahami batasan perilaku, namun proses mengarahkannya dilakukan melalui komunikasi terbuka dan disesuaikan dengan tahap perkembangannya.

Pengasuhan responsif juga berperan dalam membentuk kepedulian anak terhadap orang lain. Anak belajar memahami perasaan dan kebutuhan orang lain melalui keteladanan serta kebiasaan yang dibangun di lingkungan keluarga.

Kebiasaan sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah, berbagi dengan saudara, dan memperhatikan teman yang mengalami kesulitan, dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Melalui kebiasaan itu, anak belajar memahami bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada kebutuhan dirinya sendiri.

“Anak perlu diberi kesempatan untuk mengenali emosinya, memahami perasaan orang lain, dan belajar bertanggung jawab. Orang tua memiliki peran penting untuk memberikan contoh, mendampingi proses belajar anak, serta membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Pertemuan penyuluhan BANGGA KENCANA tersebut menempatkan pengasuhan sebagai salah satu aspek penting dalam pembangunan keluarga. Kualitas keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan perencanaan keluarga, tetapi juga kemampuan orang tua menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Keterlibatan PPKBD, kader KB pria, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan tersebut diharapkan turut memperluas pemahaman mengenai pengasuhan responsif di tengah masyarakat. Pemahaman tersebut dapat menjadi bekal untuk memperkuat perhatian terhadap kebutuhan keluarga dan perkembangan anak. (SBD/KIM Tempel)




Cegah Kanker Sejak Dini, Sleman Perkuat Edukasi hingga Tingkat Kalurahan

Sleman – Upaya pencegahan kanker perlu dilakukan sejak dini melalui peningkatan pengetahuan, kepedulian, dan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko serta pentingnya pemeriksaan kesehatan. Edukasi menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong masyarakat mengenali tanda-tanda kanker dan menerapkan pola hidup sehat.

Upaya tersebut dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kanker bagi Masyarakat dan Kader yang digelar di Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (20/10/2026). Kegiatan menghadirkan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daerah Istimewa Yogyakarta, dr. Nur Rahma Rizka Putri Aulia.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sleman, Harda Kiswaya dan Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya.

Sosialisasi melibatkan perwakilan masyarakat dari seluruh wilayah Kabupaten Sleman. Setiap kalurahan mengirimkan empat orang perwakilan, sedangkan setiap kapanewon mengirimkan satu orang. Pelibatan masyarakat hingga tingkat kalurahan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai pencegahan kanker melalui jejaring masyarakat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.

Dalam paparannya, dr. Nur Rahma Rizka Putri Aulia menekankan pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan kanker. Menurutnya, pemahaman mengenai faktor risiko dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai dapat mendorong masyarakat untuk mengambil langkah lebih awal.

“Pencegahan kanker perlu dimulai dari peningkatan pengetahuan masyarakat. Dengan memahami faktor risiko, mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai, dan melakukan pemeriksaan sesuai anjuran medis, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah lebih awal untuk menjaga kesehatannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya mengajak kader dan perwakilan masyarakat yang mengikuti kegiatan untuk meneruskan informasi yang diperoleh kepada keluarga dan lingkungan masing-masing.

“Kami berharap kader dan perwakilan masyarakat yang mengikuti sosialisasi ini dapat meneruskan informasi yang diperoleh kepada keluarga dan lingkungan masing-masing. Pencegahan kanker bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh masyarakat,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, edukasi pencegahan kanker diharapkan tidak berhenti pada peserta sosialisasi, tetapi dapat diteruskan secara berjenjang hingga keluarga dan masyarakat di tingkat kalurahan. Dengan demikian, kesadaran untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini dapat semakin kuat di tengah masyarakat. (SBD/KIM Tempel)