Festival Bregada Rakyat DIY 2026: Atraksi Keprajuritan Mataram Hidupkan Tradisi di Tengah Zaman

Sleman – Suasana Minggu (18/10/2026) siang di Lapangan Gentan, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berubah semarak. Sebanyak 18 kontingen Bregada Rakyat dari berbagai wilayah di DIY tampil memukau dalam Festival Bregada Rakyat DIY 2026 dengan membawakan atraksi keprajuritan bergaya Mataram yang sarat nilai sejarah, kedisiplinan, dan semangat pelestarian budaya Jawa.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul WIB dengan titik start di Lapangan Gentan menuju panggung utama di Youth Centre Yogyakarta. Menyusuri rute sepanjang kurang lebih 500 meter, iring-iringan prajurit rakyat tampil anggun dengan busana khas, formasi barisan yang rapi, serta gerakan keprajuritan yang teratur.

Ratusan penonton memadati sepanjang rute untuk menyaksikan jalannya pawai budaya tersebut. Salah satu panitia penyelenggara menyampaikan bahwa perhelatan ini menjadi wujud nyata komitmen masyarakat dalam merawat kebudayaan lokal.

“Festival ini bukan sekadar pergelaran seni dan budaya, tetapi juga menjadi wujud nyata semangat masyarakat dalam menjaga, merawat, dan melestarikan warisan tradisi keprajuritan Mataram agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar salah satu panitia di sela-sela acara.

Antusiasme warga terlihat dari riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang memagari alur kirab. Salah seorang pengunjung asal Bantul, Rina (34), mengaku sengaja datang lebih awal demi menyaksikan langsung aksi para peserta.

“Saya datang jauh-jauh dari Bantul karena ingin melihat langsung formasi prajurit Mataram. Bangga rasanya tradisi ini masih dijaga anak muda,” tutur Rina.

Penyelenggaraan Festival Bregada Rakyat DIY 2026 membuktikan bahwa tradisi keprajuritan Mataram tetap relevan dan dicintai lintas generasi. Melalui perpaduan busana yang megah, alunan alat musik tradisional, serta gerak barisan yang penuh makna, para peserta menegaskan peran penting mereka sebagai benteng pelestari warisan budaya Yogyakarta. (Edy – KIM Moyudan)




22 Tim dari 7 Negara Berpartisipasi dalam Asian Gym for Life Challenge 2026 di GIK UGM

Sleman – Sebanyak 22 tim gimnastik dari tujuh negara berpartisipasi dalam perhelatan internasional 1st Asian Gym for Life Challenge 2026 yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (17/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026).

Ketua Umum Federasi Gimnastik Indonesia (FGI), Ita Yuliati, menyampaikan bahwa keikutsertaan puluhan tim mancanegara dalam edisi perdana ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan komunitas gimnastik internasional sekaligus mempererat tali persahabatan antarbangsa.

“Partisipasi ini menjadi bagian penting dalam mempertemukan komunitas gimnastik lintas negara sekaligus memperkuat semangat kebersamaan melalui olahraga,” ujar Ita Yuliati.

Tujuh negara yang mengirimkan kontingennya dalam perhelatan ini meliputi Indonesia, Sri Lanka, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Denmark. Indonesia tampil sebagai kontingen terbesar dengan mengirimkan 11 tim, disusul Sri Lanka lima tim, Jepang dua tim, serta Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Denmark yang masing-masing diwakili oleh satu tim.

Mengusung konsep Gymnastics for All, ajang ini menempatkan keolahragaan sebagai sarana partisipasi terbuka tanpa membatasi usia maupun tingkat kemampuan fisik. Di samping mendorong budaya hidup sehat dan kebugaran, kegiatan ini menjadi wadah untuk menampilkan kreativitas, kekompakan kelompok, serta keragaman seni gerak dalam suasana rekreasi.

Penyelenggaraan ajang internasional di Yogyakarta ini sekaligus membuka peluang strategis untuk mempromosikan potensi daerah kepada para peserta dan delegasi mancanegara. Sinergi harmonis antara sektor olahraga, budaya, dan pariwisata diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah agenda keolahragaan dunia. (Egi Prayoga/KIM DSN Ngaglik)




Upgrading Tim Instruktur dan Pelatih GP Ansor Sleman, Perkuat Kaderisasi Adaptif di Era Digital

Sleman – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Upgrading Tim Instruktur dan Pelatih di Pondok Pesantren Darussalam, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (18/10/2026).

Kegiatan yang diikuti sebanyak 30 peserta ini dilaksanakan sebagai langkah strategis organisasi dalam memperkuat kapasitas instruktur dan pelatih guna mencetak kader Banser yang berkualitas, berintegritas, serta adaptif terhadap tantangan era digitalisasi.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Sleman, Najib Yuliantoro, dengan didampingi Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Sleman Jalal Machali, serta Ketua Tim Instruktur Cabang GP Ansor Kabupaten Sleman Abu Hasan Al-Asy Ari.

Dalam sambutannya, Najib Yuliantoro menegaskan bahwa penguatan kompetensi ini berpedoman pada Peraturan Organisasi GP Ansor terbaru Nomor: 02/KONBESXXVII/X/2024 guna menjaga mutu pendidikan dan pelatihan kader secara berkelanjutan.

“Penguatan kompetensi ini diharapkan membuat tim instruktur dan pelatih mampu menyesuaikan metode kaderisasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan organisasi di era digitalisasi,” ujar Najib Yuliantoro.

Sementara itu, Ketua Armila Barokah Training Center selaku narasumber, Ariyanto, membekali peserta dengan materi keinstrukturan, pengasahan kepemimpinan, komunikasi tim, Standar Operasional Prosedur (SOP) Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan Pelatihan Dasar (Diklatsar), hingga teknik outdoor training.

“Pemahaman terhadap SOP PKD dan Diklatsar menjadi perhatian penting untuk memastikan tahapan pendidikan berjalan tertib, terukur, dan sesuai standar organisasi. Instruktur dituntut menguasai teknik pelatihan serta mengembangkan pola komunikasi yang lebih adaptif tanpa meninggalkan nilai dasar organisasi,” terang Ariyanto.

Melalui pelatihan ini, PC GP Ansor Kabupaten Sleman berharap kualifikasi penyelenggaraan kaderisasi makin meningkat sehingga mampu mencetak personel Banser yang disiplin, responsif, dan siap mengabdi di tengah dinamika masyarakat modern. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sabo Dam Terakhir di Hilir Sungai Krasak, Pengendali Lahar Dekat Selokan Van der Wijck

Sleman – Di balik alirannya yang tampak tenang, Sungai Krasak yang berhulu di Gunung Merapi menyimpan potensi ancaman banjir lahar dingin yang membawa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu besar. Sebagai upaya menahan laju material vulkanik tersebut, sejumlah bangunan pengendali sedimen (sabo dam) didirikan di sepanjang aliran sungai, termasuk di kawasan Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah seorang warga setempat, Ruswantoro (51), menunjukkan lokasi sabo dam yang menjadi benteng pengendali lahar terakhir di hulu sebelum aliran Sungai Krasak menyatu dan bermuara ke Sungai Progo.

“Lokasi sabo dam terakhir ini berada di hulu hilir Sungai Krasak, tidak jauh dari instalasi turbin pembangkit listrik di kawasan Selokan Van der Wijck,” ujar Ruswantoro saat ditemui pada Minggu (18/10/2026).

Secara teknis, sabo dam di wilayah Banyurejo ini memiliki konstruksi tunggal tidak bertingkat dengan ukuran relatif lebih kecil dibandingkan sabo dam di area hulu Merapi. Di lokasi tersebut, bentang alur Sungai Krasak terlihat lebih menyempit dengan tebing sungai yang relatif curam.

Selain berfungsi menahan laju material vulkanik dan menjaga kestabilan dasar sungai, di sekitar bangunan sabo dam ini juga dilengkapi dengan sarana pintu air yang terhubung langsung untuk mengatur pasokan pasokan aliran menuju jaringan irigasi Selokan Van der Wijck.

Di samping peran teknisnya dalam mitigasi bencana dan pengairan pertanian, kawasan sabo dam terakhir ini juga menawarkan panorama alam yang asri. Dikelilingi pepohonan rindang di sepanjang tebing sungai, lokasi ini kini kerap dimanfaatkan warga sekitar sebagai spot favorit untuk memancing dan bersantai. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Perpusdes Perlu Sentuhan Yang Lebih Menggoda untuk Genjot Minat Baca Warga

Sleman – Perpustakaan Desa (Perpusdes) di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terus berjuang menjaga eksistensi dan meningkatkan angka kunjungan pemustaka. Di tengah perubahan zaman dan masifnya penggunaan gawai, pengelola perpusdes dinilai perlu menghadirkan inovasi serta pendekatan baru yang lebih menarik bagi masyarakat.

Secara regulasi, gerakan perpusdes di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1993 dan diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Di Kabupaten Sleman, sebagian besar dari 86 kalurahan telah memiliki perpustakaan. Beberapa di antaranya bahkan menorehkan prestasi nasional, seperti Perpusdes Widodomartani, Sumberharjo, Merdikorejo, Sukoharjo, hingga Perpusdes “Sumber Ilmu” Balecatur Kapanewon Gamping yang meraih Juara 1 Tingkat Nasional pada tahun 2019.

Meski demikian, aktivitas dan tingkat kunjungan perpusdes di tingkat kalurahan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Carik Balecatur, Nanang Haryanto, mengungkapkan bahwa masa pandemi menjadi salah satu titik balik menurunnya dinamika perpustakaan desa.

“Sejak pandemi COVID-19 itu mulai menurun. Perpustakaan tetap aktif, akan tetapi operasionalnya lebih fokus bila ada kunjungan dari sekolah atau kegiatan tertentu saja,” kata Nanang Haryanto pada Selasa (20/10/2026).

Kondisi serupa dialami oleh Perpusdes Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean. Kaur Tata Laksana Kalurahan Sidoagung, Waris, mengakui bahwa jumlah kunjungan harian masyarakat ke perpustakaan saat ini tergolong sangat minim.

“Kami selalu buka setiap hari, hanya saja jumlah kunjungan memang sangat minim. Rata-rata kondisi perpusdes di berbagai tempat memang sedang sepi seperti ini,” tutur Waris.

Guna menarik perhatian warga, Pemerintah Kalurahan Sidoagung terus berbenah dengan menambah koleksi buku, memperbesar kapasitas koneksi Wi-Fi, hingga membuka ruang bagi berbagai aktivitas literasi. Langkah jemput bola juga ditempuh melalui Pokja 2 TP PKK Sidoagung yang membawa koleksi buku saat turun ke kegiatan kemasyarakatan.

Waris menambahkan, kehadiran program mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sempat menyemarakkan perpustakaan, meski sifatnya belum berkelanjutan karena tergerus daya tarik media digital.

“Mahasiswa KKN pernah memusatkan kegiatannya di sini dan anak-anak banyak yang datang, tetapi ternyata hanya saat ada kegiatan itu saja. Setelahnya sepi lagi, kalah dengan ponsel pintar,” tambahnya.

Mengingat peran strategis perpusdes sebagai pusat belajar, penyedia bahan bacaan, ruang pelatihan keterampilan, hingga penggerak ekonomi lokal, berbagai pihak mendorong agar pengelolaan perpustakaan kalurahan diberikan sentuhan program yang lebih kreatif, adaptif, dan “menggoda” agar minat baca masyarakat kembali meningkat. (Dwi Ony Raharjo/KIM Pararta Guna Gamping)