Suling Naga Perkuat Akidah, Santun dalam Khilafiyah, dan Rajut Ukhuwah Islamiyah

Sleman – Kegiatan Subuh Keliling Ngaglik Menjaga Akidah (Suling Naga) di Masjid Darussalam Balong, Padukuhan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi momentum memperkokoh akidah, bersikap santun menyikapi perbedaan pendapat (khilafiyah), serta mempererat ukhuwah Islamiyah pada Minggu (18/10/2026).

Pimpinan Pondok Pesantren Zuhriyah 3 Jetis Donolayan, Hasan Ashari, dalam tausiahnya menyampaikan pentingnya memurnikan tauhid dengan menyembah dan mengesakan Allah SWT serta menjauhi segala bentuk kemusyrikan sesuai firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 36.

Mengenai dinamika perbedaan pandangan maupun tata cara ibadah di tengah masyarakat, Hasan Ashari menegaskan bahwa hal tersebut merupakan keniscayaan yang harus disikapi secara bijak.

“Imam empat mazhab sudah ada sejak zaman Khulafaur Rasyidin. Kita ikuti kearifan lokal sehingga masalah khilafiyah tidak perlu diperdebatkan. Yang paling inti, jangan merasa paling benar lalu menyalahkan kelompok yang lain,” tegas Hasan Ashari.

Ia mengimbau umat Islam untuk tetap memelihara persaudaraan tanpa terbelah oleh perbedaan wadah organisasi maupun pandangan keagamaan.

Di samping penguatan spiritual, kegiatan Suling Naga turut mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis tempat ibadah melalui kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah BMT MUU Sejahtera Sleman.

Perwakilan BMT MUU Sejahtera Sleman, Sobariman, menjelaskan bahwa pihaknya aktif memadukan fungsi sosial dan bisnis untuk mendukung program keagamaan warga.

“Selain melayani kebutuhan pembiayaan masyarakat, BMT juga menjalankan kegiatan dakwah dan mendukung program Suling Naga. Kami membina 15 takmir masjid untuk saling berbagi pengalaman dalam memakmurkan masjid, salah satunya melalui peluang pengelolaan zakat dan infak secara produktif,” terang Sobariman.

Ketua Suling Naga, Hajar Dewantara, mengapresiasi sinergi tersebut dan berharap tata kelola dana sosial keagamaan yang diperagakan BMT dapat menginspirasi para pengurus masjid di wilayah Kapanewon Ngaglik. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Wayang Bukan Sekadar Tontonan, melainkan Tuntunan Hidup di Hari Jadi ke-80 Sumberarum

Sleman – Rangkaian pementasan Sengkuyung Fest dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Sumberarum ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Yusuf Anshor di Lapangan Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (17/10/2026) malam.

Puncak perhelatan budaya tersebut dihadiri oleh Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman Esti Listyawati, anggota DPRD DIY Arif Kurniawan dan Yuni Satya Rahayu, anggota DPRD Kabupaten Sleman Untung Basuki Rahmat dan Syukron Arif Muttaqin, jajaran Forkopimkap Moyudan, serta pamong dan warga masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Esti Listyawati, memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kalurahan Sumberarum yang secara konsisten memberikan ruang berekspresi seni bagi masyarakat selama sepekan penuh.

“Kami berharap kegiatan semacam ini dijadikan agenda rutin setiap memperingati hari jadi Sumberarum. Seni budaya tradisional merupakan peninggalan sejarah takbenda yang harus kita jaga bersama di tengah perkembangan teknologi dan era modern,” ujar Esti Listyawati.

Esti menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit di puncak acara Hari Jadi ke-80 Kalurahan Sumberarum memiliki makna mendalam bagi perjalanan bermasyarakat.

“Wayang kulit bukan sekadar seni pertunjukan atau tontonan, melainkan cerminan hidup, perjalanan moralitas, serta spiritualitas. Pertunjukan wayang ini menjadi bukti nyata dari semboyan Saiyeg Saeka Kapti Hanggayuh Mukti,” pungkanya. (Giek/KIM Moyudan)




Festival Bregada Rakyat DIY ke-15, Merawat Warisan Keprajuritan dari Kampung hingga Sekolah

Sleman – Sebanyak 18 kelompok bregada perwakilan dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta unjuk kebolehan dalam Festival Bregada Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke-15 pada Minggu (18/10/2026).

Parade budaya yang dimulai pukul WIB ini mengambil rute start dari Lapangan Getas, Tlogoadi, Kapanewon Mlati, melintasi Jalan Kebon Agung, dan berakhir di panggung garis finis Youth Centre Yogyakarta, Kabupaten Sleman.

Pembina Bregada Rakyat DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan bahwa festival tahunan ini diselenggarakan untuk memperkuat ekosistem seni keprajuritan rakyat yang tumbuh subur di tingkat padukuhan, kalurahan, hingga sekolah menengah atas.

“Keberadaan seni keprajuritan rakyat atau dikenal dengan bregada rakyat ini hanya ada di DIY. Keberadaannya tidak ada di daerah lain, sehingga bregada rakyat menjadi salah satu penanda keistimewaan DIY,” ujar Widihasto Wasana Putra.

Widihasto menambahkan, keterlibatan aktif generasi muda dalam festival tahun ini menjadi sinyal positif keberhasilan regenerasi kebudayaan di Yogyakarta.

“Ini sesuatu yang luar biasa karena ada regenerasi dari para pemuda untuk terus menjaga warisan kebudayaan di Yogyakarta,” tambahnya.

Mengusung tema “Gumregah, Gumregut, Tanpa Surut”, festival ini menekankan pesan kebangkitan kesadaran jati diri, kesungguhan daya juang, serta semangat pantang mundur dalam merawat tradisi di tengah arus modernisasi.

Puncak perhelatan ditandai dengan pengumuman pemenang, di mana kontingen Bregada Adi Sara dari SMK Negeri 4 Yogyakarta sukses meraih predikat Juara Pertama Festival Bregada Rakyat DIY 2026. Kemenangan kelompok pelajar ini membuktikan bahwa institusi pendidikan mampu menjadi benteng pelestarian seni keprajuritan tradisional yang efektif dan inklusif. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Bregada Bokeri, Kisah “Kebo Keri” yang Menyatukan Generasi dalam Lestarikan Budaya Yogyakarta

Sleman – Pasukan rakyat Bregada Bokeri dari Padukuhan Cebongan Kidul, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tampil memukau dalam Festival Bregada Rakyat DIY 2026 yang diselenggarakan di Youth Center, Kapanewon Mlati, Minggu (18/10/2026).

Mewakili Kapanewon Mlati, Bregada Bokeri membawakan seni keprajuritan yang terinspirasi dari cerita tutur rakyat tentang peristiwa hilangnya seekor kerbau yang tertinggal di ladang (kebo keri) milik warga setempat pada masa lalu.

Pemimpin Bregada Bokeri, Hari Yunarko, menjelaskan bahwa nama kelompoknya berakar kuat dari warisan lisan para leluhur di tanah kelahirannya.

“Bregada Bokeri saking atur run tumurun para eyang ing Dusun Cebongan Kidul. Kisah kerbau yang tertinggal ini menjadi pengingat agar generasi sekarang tidak melupakan sejarah kampungnya sendiri,” ujar Hari Yunarko.

Keunikan Bregada Bokeri terlihat dari komposisi 32 personel laki-laki yang melintas batas generasi. Barisan keprajuritan ini memadukan anggota berusia remaja setingkat SMA hingga warga senior berusia 60 tahun.

Mengusung tema “Gumregah, Gumregut, Tanpa Surut”, perhelatan yang digagas Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bersama Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY ini diikuti oleh 18 kontingen bregada dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta.

Bregada Bokeri sendiri memiliki rekam jejak prestasi yang teruji, di antaranya meraih Juara I Festival Rakyat Sembada Tingkat Kabupaten Sleman serta Juara Harapan II pada Festival Bregada Rakyat Tingkat Provinsi DIY Tahun 2024.

Melalui derap langkah 32 prajurit lintas generasi tersebut, Bregada Bokeri terus membuktikan komitmennya dalam merawat tradisi lokal agar tetap hidup dan menginspirasi generasi muda. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Tiga Kandang Sapi di Krasaan Berbah Ludes Terbakar, Warga Berhasil Selamatkan Delapan Ekor Ternak

Sleman – Kebakaran menghanguskan tiga unit kandang sapi milik Kelompok Kandang Lembu Lestari 2 di Padukuhan Krasaan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (18/10/2026) dini hari.

Kebakaran diduga dipicu oleh sisa pembakaran serasah sampah pakan ternak. Kobaran api baru diketahui warga sekitar pukul WIB setelah terlihat membakar kandang milik Rusno. Tumpukan jerami kering serta material kayu dan bambu yang mudah terbakar membuat kobaran api cepat membesar dan merembet ke dua kandang berdempetan lainnya milik Wasijo dan Tri Pomo.

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh dua warga setempat, Sigit dan Harun, yang langsung berupaya mengevakuasi sapi milik Rusno. Suara pukulan kentongan dari Mukiran—warga yang tinggal di sebelah timur lokasi kejadian—seketika memanggil puluhan warga sekitar untuk bergotong royong memberikan pertolongan.

Berkat respons cepat masyarakat yang baham-membahu memadamkan api dengan peralatan seadanya, sebanyak delapan ekor sapi dari ketiga kandang tersebut berhasil diselamatkan tanpa mengalami luka.

Guna memadamkan kobaran api secara total, kejadian tersebut dilaporkan ke Polsek Berbah dan Dinas Pemadam Kebakaran. Sekitar pukul WIB, tiga unit mobil pemadam kebakaran dari Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul tiba di lokasi untuk mengondisikan tumpukan jerami yang masih membara.

Pemilik salah satu kandang yang terbakar, Tri Pomo, merasa bersyukur dan mengapresiasi kebersamaan warga yang sigap menyelematkan dua ekor sapi miliknya.

“Kandang yang terbakar memang disayangkan, namun namanya musibah tidak bisa dielakkan. Alhamdulillah sapi saya bisa diselamatkan,” ucap Tri Pomo di lokasi kejadian.

Kejadian ini turut memantik keprihatinan tokoh masyarakat setempat, Nida Salma Hajaroh. Ia mengingatkan warga agar lebih waspada saat melakukan pembakaran sampah di musim kemarau panjang agar musibah serupa tidak terulang.

Apresiasi juga disampaikan oleh Jagabaya (Joyoboyo) Jogotirto, Ali Rozikin, atas aksi tanggap darurat warga Krasaan.

“Semangat gotong royong dan membantu orang lain yang terkena musibah adalah sifat baik yang tetap berakar kuat di masyarakat,” tutur Ali Rozikin.

Tidak ada korban jiwa maupun ternak dalam insiden kebakaran ini. Kerugian material akibat rusaknya tiga unit bangunan kandang dan pakan ternak diperkirakan mencapai Rp70 juta. (Kusnadi/KIM Berbah)