Sleman – Bertepatan dengan peresmian gardu siaga bencana di Dusun Kadisobo, Desa Tegal Tirto, Kecamatan Berbah pada hari Sabtu (15/3), Bupati Sleman Sri Purnomo juga menetapkan Desa Tegaltirto sebagai salah satu Desa Siaga Bencana di Kabupaten Sleman.
Gardu siaga bencana tersebut merupakan bantuan dari Dinas Sosial Pemerintah Daerah DIY.
Dalam laporannya, Kades Tegaltirto, Susilo Nugroho, menyampaikan bahwa pembangunan gardu siaga bencana ini dilakukan selama 1 bulan secara gotong royong masyarakat dusun Kadisobo, sedangkan untuk tanah disediakan oleh Pemerintah Desa Tegaltirto.
Sebelum diresmikan, gardu siaga bencana ini telah dimanfaatkan oleh warga untuk kegiatan tumbuh kembang anak, kegiatan lansia dan juga untuk kegiatan sosialisasi antisipasi bencana.
Menurut Kepala Dinas Sosial Pemerintah DIY, Untung Sukaryadi, bantuan gedung ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga masyarakat. Ia juga berharap agar gedung ini jangan sampai mangkrak, dan juga setiap hari ada yang piket di gardu tersebut.
Untung juga mengatakan bahwa nantinya kalau gardu sosial ini berhasil nantinya Dinas Sosial akan menambahkan dengan gardu logistik yang nantinya bantuan logistiknya akan disuplai dari Dinas Sosial DIY.
Selain itu, dengan adanya gardu logistik ini nantinya kegiatan pemberdayaan lansia di Desa Tegaltirto ini dapat terus berjalan dengan lebih baik, karena desa Tegaltirto ini merupakan desa percontohan untuk program pemberdayaan lansia.
Ia juga berharap nantinya agar di desa Tegaltirto ini dapat mewujudkan klinik lansia untuk mengantisipasi kejadian darurat, dan nantinya kalau hal ini bisa berjalan, maka Dinas Sosial DIY akan membantu mobil ambulans untuk warga.
Sementara Bupati Sleman, Sri Purnomo, menyatakan bahwa sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah Sleman, kita harus menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan bencana, mulai dari bencana gempa bumi, bencana gunung berapi, bencana angin puting beliung, tanah longsor dan lain-lain.
Untuk menghadapi hal tersebut sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus tanggap terhadap ancaman bencana bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana.
“Paradigma penanggulangan bencana, tidak lagi dititikberatkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan risiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat. Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan local wisdom masyarakat Sleman,” katanya.
Oleh karena itu, pemanfaatan gardu siaga bencana ini harus dioptimalkan bukan hanya pada masa terjadinya bencana namun juga digunakan sebagai sekretariat pusat layanan bagi para petugas sosial dan bencana alam, di antaranya seperti Taruna Siaga Bencana, aparat keamanan, aktivis lingkungan, Pramuka dan masyarakat umum.
Setelah melakukan peresmian gardu siaga bencana, Bupati Sri Purnomo kemudian membuka pelatihan mitigasi bencana bagi komunitas “Jogja Rescue” dan dilanjutkan dengan penyebaran bibit ikan nila merah dan hitam sejumlah 2 kuintal di embung Candirejo Tegaltirto yang luasnya M2.