Sleman Galakkan Kembali Gerobak Sapi Untuk Transportasi Tradisional

FGS

Sleman, InfoPublik – Pemeritah Kabupaten Sleman menggalakkan kembali gerobak sapi sebagai sarana transportasi tradisional, dalam suatu festival Gerobak Sapi sekaligus sebagi kirab budaya dalam festival kesenian Sleman, yang digelar di kawasan Stadion Maguwoharjo Depok Sleman, Minggu (16/6). Event fenomenal yang telah dirancang sejak akhir tahun 2012 silam tersebut telah menyedot banyak wisatawan baik lokal maupun manca negara. Mengingat lokasi penyelenggaraannya yang sangat strategis, yakni di kawasan Stadion Maguwoharjo Depok Sleman.

Festival tersebut diikuti oleh 170 peserta, dan dihadiri Sri Sultan HB X beserta Kanjeng Ratu Hemas, Kapolda DIY, Bupati Sleman dll. Sultan dijemput dengan gerobak dari depan stadion menuju lokasi start, dan Sultan berkenan mengibarkan bendera star tanda dimulainya festival gerobak dan dimeriahkan oleh Jathilan Gangnam style Kodim 0743 Yogya, krishna Encik & Fantoro serta hiburan lainnya, minggu (16/6)

Allan, seorang Desainer Visualisasi dari Australia, mengaku sangat terkesan dengan penyelenggaraan Festival Gerobak Sapi tersebut. Mengenai spesifik tentang tradisional gerobaknya dinilai sangat detail, sehingga dia mengaku mendapat inspirasi dengan melihat festival gerobak sapi tersebut. Dia mengatakan bahwa detil seni yang terdapat dalam gerobak sapi tersebut memberikan dia inspirasi dan ide-ide yang luar biasa.

Kasie Dokinfo Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Wasita menerangkan, antusiasme wisatawan asing mengikuti acara tersebut terlihat nyata. Di antaranya ada yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir termasuk sehari sebelumnya dan pada malam harinya. Wasita menambahkan, Festival Gerobak Sapi ini merupakan kirab budaya dalam festival kesenian Sleman, yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Malangrejo Wedomartani Ngemplak bekerja sama dengan Pemkab Sleman dan di dukung oleh berbagai sponsor.

Sebagai upaya untuk merevitalisasi keberadaan dan keberfungsian gerobak sapi dalam rangka menggalakkan kembali sebagai tranportasi tradisional kebanggaan kaum tani masa lampau, kini dan mendatang.




Festival Kesenian Sleman Angkat Budaya Lokal

FKS

Sleman, InfoPublik – Festival Kesenian Sleman (FKS) tampak meriah dengan digelarnya display potensi seni dan budaya, yang ditampilkan oleh 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman. FKS digelar selama 2 hari, dibuka Sabtu (15/6) di seputaran Lapangan Denggung oleh Sekda Sleman dr. Sunartono, dan ditutup Minggu (16/6) di Desa Pulesari Wonokerto Turi. Dalam pembukaan tersebut sebelumnya juga disajikan kesenian jathilan dari Sanggar Wijaya Kusuma, Karawitan dari Sanggar Notoraharjan, music calung dan Tari Selamat Datang dari Sanggar Pradnyawidya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Ir. Ayu Laksmi, FKS ini dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan dan pengembangan seni di Kabupaten Sleman, dan mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi adiluhung, yang mengarah pada pembentukan jatidiri bangsa, khususnya generasi muda yang saat ini dirasa semakin luntur.

Sementara itu display dari 17 kecamatan yang ditampilkan, yakni Bergada Kismo Kuncoro Kwagon Sidorejo Godean, Trengganon Al Fatah Minggir, Angguk Kipas Manggala Pakem, Thek-tek Gejog Lesung Moyudan, Bergodo Kuntul Saramba Ketingan Tirtoadi Mlati, Badui Sabilul Muslimin Tempel. Sanggar Puri Prambanan menampilkan kisah Rama Sinta, Kobra Siswa Putra Mudha Turi, Bregodo Wonolelo, Ngemplak, Klana Topeng Ponco Tunggal Kalasan, Reog Singo Barong Gamping, Kobrasiswa Depok, Bregada Tirta Tri Roso Guno Sleman, Reog Mataraman Berbah, Wayang orang Ngesti Madyo Laras Cangkrignan, Sastra Tutur Ngaglik dan terakhir Bregogo Kalijaga Seyegan.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman mengharapkan kepada para seniman di Sleman untuk terus berkarya, berkreasi, dan berinovasi agar seni budaya yang menjadi jati diri masyarakat Sleman, dapat terus eksis di tengah masyarakat. Seni budaya ini juga diharapkan dapat migunani bagi masyarakat, baik sebagai tontonan yang bersifat menghibur ataupun tuntunan yang memberi inspirasi dan pencerahan hidup dan kehidupan masyarakat Sleman.

Setelah FKS dibuka pada malam harinya ditampilkan Langen Carito dari SD Kanisius Kalasan dan pagelaran ketoprak dari Komunitas Kethoprak Sleman. Untuk hari Minggu digelar Extravaganza, aneka tari, Peksimoi dan Dayakan. Sementara di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi digelar kesenian Jathilan, Klentingan, Karawitan dan pergelaran Wayang Kulit dengan Dhalang Ki Edy Suwondo.




Sultan Resmikan Masjid dan Gedung Serbaguna di Huntap Sleman

Sultan

Sleman, InfoPublik – Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X mengucapkan selamat bagi warga di tiga huntap, yakni Huntap Batur, Wukirsari, dan Pagerjurang, Kabupaten Sleman, yang kini memiliki fasilitas umum baru berupa masjid dan gedung serbaguna. Kepedulian dari Dompet Pembaca KR Peduli Merapi memberikan kontribusi dalam membangun masjid Jabal Rahman di Huntap Batur, Masjid Al Hidayah di Huntap Dongkelsari, dan gedung serbaguna di Huntap Pagerjurang. Peresmian dilakukan di Gedung Serbaguna Huntap Pagerjurang, Rabu, (12/6).

Turut hadir dalam acara ini adalah Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, Komisaris Utama Dompet KR Peduli, dan perwakilan dari LSM Rekompak. Komisaris Utama Dompet KR Peduli dalam laporannya menyampaikan bahwa fasilitas umum yang telah dibangun ini merupakan hasil dari kepedulian pembaca KR yang terkumpul sejak  Oktober 2010–25 Mei 2011 dengan hasil total Rp3, 1 miliar. Dari dana tersebut, sejumlah Rp2,2 miliar dipergunakan untuk membangun 3 fasum tersebut,  sedangkan dana yang lain dipergunakan untuk sumbangan berupa logistik untuk pengungsi.

Masjid Jabal Rahman dibangun dua lantai di Dusun Batur seluas 361 m2 dengan konstruksi baja ringan dengan total biaya Rp1,8 miliar, sedangkan Masjid Al Hidayah dibangun dua lantai seluas 241 m2 dengan biaya . Gedung Serbaguna di Huntap Pagerjurang dibangun seluas 244 m2 dengan . Pada kesempatan ini Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu menyampaikan terima kasih atas kepedulian para pembaca KR. Dalam sambutannya Yuni Satia Rahayu menyampaikan bahwa saat ini pembangunan huntap telah berhasil  membangun huntap dari total target huntap.

Huntap yang telah selesai dibangun sebanyak unit dan yang masih dalam proses pembangunan 477 unit. Dari jumlah huntap yang telah selesai dibangun tersebut 1233 unit sudah ditempati. Di dalam masa rehabilitas dan rekonstruksi fasilitas umum yang telah dibangun adalah 15 unit balai warga, 7 unit rumah ibadah, dan 6 unit kandang ternak komunal. Selain itu, saat ini untuk mewujudkan lingkungan huntap yang nyaman dibangun drainase, pembangunan talut, dan juga jalan lingkungan agar akses jalan di sekitar huntap menjadi lebih nyaman.

Gubernur DIY berharap, pembangunan fasilitas umum ini dapat dipergunakan untuk kegiatan kemasyarakatan dengan maksimal. Selain itu,  beliau berpesan agar warga yang masih memiliki tanah di lokasi erupsi dapat bersama-sama menentukan batas lahan yang tertutup lahar guna memudahkan BPN menyusun sertifikat tanah. Gubernur juga berpesan agar masyarakat turut menjaga kebersihan lingkungan, termasuk saluran air di lokasi huntap. Karena bersih atau tidaknya saluran air di daerah utara mempengaruhi kualitas air di Jogja selatan. “Oleh karena itu sangat penting agar warga masyarakat menjaga kebersihan air dengan tidak membuang limbah rumah tangga di saluran air,” katanya.




Sleman Meraih Penghargaan Adipura

Adipura

Sleman, InfoPublik –  Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2013 ini kembali menerima penghargaan tingkat nasional, penghargaan Adipura dalam bidang  kota terbersih dan terteduh untuk kategori kota dengan jumlah penduduk sedang. Indikator penilaian penghargaan Adipura ini meliputi kebersihan, pengelolaan limbah dan pengelolaan sampah yang telah dilakukan di sejumlah tempat, yakni pemukiman, terminal, pasar, rumah sakit, puskesmas, jalan-jalan arteri, dan hutan kota yang berlokasi di lapangan Denggung.

Bupati Sleman Sri Purnomo menerima penghargaan Adipura langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Senin (10/6), bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup. Selain menerima penghargaan Adipura, Sleman juga mendapatkan penghargaan Kabupaten Penyusun Laporan Status Lingkungan Hidup Terbaik, yang diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Prof. Balthasar Kambuaya di Hotel Bidakara.

Penghargaan di bidang lingkungan hidup, yaitu Adiwiyata Mandiri juga diraih SD Kanisius Kadirojo atas upayanya mewujudkan sekolah yang sehat. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi untuk sekolah yang telah berhasil mewujudkan kebersihan di lingkungan sekolahnya. Di samping mewujudkan kebersihan lingkungan, SD Kanisius Kadirojo ini juga telah melakukan pembinaan kepada 10 sekolah dasar lain agar memenuhi indikator Adiwiyata tingkat Kabupaten.

Dua penghargaan lain yang jiuga diterima pada hari yang sama adalah penghargaan Pembina Lingkungan berhasil, yang diraih Yatno Hadi Atmojo atas upayanya melestarikan lingkungan di lereng Merapi dengan menjaga kebersihan di bantaran sungai, membina peternakan, pertanian holtikultura untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Bakti lingkungan juga dilakukan Tutik Sudaryanto dengan melakukan penghijauan dan pelestarian daerah bantaran sungai, mata air serta penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mlati dan Tempel.

Bupati menegaskan, penghargaan ini bukan tujuan utama yang ingin dicapai. Karena pada dasarnya pola hidup bersih harus menjadi gaya hidup yang harus dibangun sejak dini. “Penghargaan Adipura ini hanya salah satu bentuk apresiasi atas wujud keberhasilan Pemkab Sleman bersama warga masyarakat yang telah bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Oleh karena itu, Sri Purnomo mengajak masyarakat untuk bersama-sama mempertahankan kebersihan dan keindahan Sleman dengan membiasakan diri hidup bersih, membuang sampah pada tempatnya dan mengubah pola konsumsi dalam pemanfaatan makanan dan sumber daya alam secara bijak.




Tim Verifikasi Kabupaten Layak Anak Kunjungi Sleman

Sleman, InfoPublik – Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, S.S, , Selasa (11/6) pagi, menerima Tim Verfikasi Kabupaten Layak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Ruang Rapat Sekda B Kabupaten Sleman. Tim Verifikasi terdiri dari dr Ernawati dan Mutia Fadilla. Pada kesempatan tersebut juga hadir beberapa SKPD yang berhubungan dengan Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak, LSM, dan Forum Anak Sleman.

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu dalam kesempatan itu berharap, agar dari verifikasi ini dapat lebih memacu Kabupaten Sleman untuk lebih memperbaiki kinerja dan komitmen untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Sedangkan dr Ernawati menyampaikan bahwa tim verifikasi ingin mengklarifikasi tentang apa yang disampaikan dan melihat fakta-fakta di lapangan berkaitan dengan pemenuhan hak-hak anak. “Kami ingin mengklarifikasi apakah kondisi Kabupaten Sleman sama dengan tahun kemarin (tahun 2011 Kabupaten Sleman mendapatkan penghargaan tingkat pratama), atau telah meningkat, atau menurun,” katanya.

Sebelum acara verifikasi ini tim verifikasi sudah melihat keadaan Kabupaten Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak di lapangan. Pada kesempatan tersebut SKPD-SKPD menyampaikan terkait tentang pemenuhan hak-hak anak, seperti pelayanan akte kelahiran. Di Kabupaten Sleman kesadaran untuk mengurus akte kelahiran sudah meningkat. Selain itu, berjalannya penyelenggaraan program kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tahun 2012/2013 ini APK rata-rata PAUD non formal adalah 41,56% dan APK rata-rata PAUD formal adalah 59,82%.

Dalam pemenuhan hak-hak anak juga menyangkut kawasan tanpa rokok, agar anak-anak tidak sampai terpapar asap rokok.  Pada tahun 2012 sudah ada Perbub tentang Kawasan Tanpa Rokok di tempat-tempat bermain, tempat pelayanan kesehatan, angkutan umum, sekolah dan lain-lain. Di samping itu, di semua Puskesmas telah dilengkapi dengan Psikolog yang memberikan layanan konsultasi kesehatan mental, konsultasi masalah belajar, serta ada ruang laktasi untuk ibu menyusui sebagai upaya meningkatkan implementasi ASI eksklusif.

Disampaikan juga,  di bidang pendidikan di Kabupaten Sleman, semua sekolah sudah ramah anak. Sekolah inklusi  atau sekolah reguler/umum memberikan pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan orang tua anak yang berkebutuhan khusus (anak yang kurang beruntung/anggota badannya kurang sempurna/ kurang kecerdasan) sering keberatan untuk memasukkan anaknya ke SLB.

Dinas Dikpora dan Dinas Kesehatan juga melaksanakan program PMT (Pemberian makanan tambahan) untuk anak-anak balita dan anak-anak sekolah. Tahun ini Kabupaten Sleman sedang mereview RPJM, masalah anak akan dimasukkan dalam RPJM tersebut. Tim Verifikasi mengatakan, Kabupaten Layak Anak bukan merupakan program baru tetapi lebih pada strategi untuk mendorong kinerja SKPD agar lebih terintegrasi dalam mengembangkan anak, dan diharapakan untuk lebih memperkuat implementasi Sleman menuju Kabupaten Layak Anak. Disampaikan pula bahwa hak anak yang utama adalah aspek sertifikat, akte kelahiran dan ASI eksklusif.  Tim Verifikasi merekomendasikan agar diperkuat dengan peraturan daerah atau regulasi untuk mendorong pelaksanaan Kabupaten Layak Anak.