Perpusdes Perlu Sentuhan Yang Lebih Menggoda untuk Genjot Minat Baca Warga

Sleman – Perpustakaan Desa (Perpusdes) di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terus berjuang menjaga eksistensi dan meningkatkan angka kunjungan pemustaka. Di tengah perubahan zaman dan masifnya penggunaan gawai, pengelola perpusdes dinilai perlu menghadirkan inovasi serta pendekatan baru yang lebih menarik bagi masyarakat.
Secara regulasi, gerakan perpusdes di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1993 dan diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Di Kabupaten Sleman, sebagian besar dari 86 kalurahan telah memiliki perpustakaan. Beberapa di antaranya bahkan menorehkan prestasi nasional, seperti Perpusdes Widodomartani, Sumberharjo, Merdikorejo, Sukoharjo, hingga Perpusdes “Sumber Ilmu” Balecatur Kapanewon Gamping yang meraih Juara 1 Tingkat Nasional pada tahun 2019.
Meski demikian, aktivitas dan tingkat kunjungan perpusdes di tingkat kalurahan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Carik Balecatur, Nanang Haryanto, mengungkapkan bahwa masa pandemi menjadi salah satu titik balik menurunnya dinamika perpustakaan desa.
“Sejak pandemi COVID-19 itu mulai menurun. Perpustakaan tetap aktif, akan tetapi operasionalnya lebih fokus bila ada kunjungan dari sekolah atau kegiatan tertentu saja,” kata Nanang Haryanto pada Selasa (20/10/2026).
Kondisi serupa dialami oleh Perpusdes Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean. Kaur Tata Laksana Kalurahan Sidoagung, Waris, mengakui bahwa jumlah kunjungan harian masyarakat ke perpustakaan saat ini tergolong sangat minim.
“Kami selalu buka setiap hari, hanya saja jumlah kunjungan memang sangat minim. Rata-rata kondisi perpusdes di berbagai tempat memang sedang sepi seperti ini,” tutur Waris.
Guna menarik perhatian warga, Pemerintah Kalurahan Sidoagung terus berbenah dengan menambah koleksi buku, memperbesar kapasitas koneksi Wi-Fi, hingga membuka ruang bagi berbagai aktivitas literasi. Langkah jemput bola juga ditempuh melalui Pokja 2 TP PKK Sidoagung yang membawa koleksi buku saat turun ke kegiatan kemasyarakatan.
Waris menambahkan, kehadiran program mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sempat menyemarakkan perpustakaan, meski sifatnya belum berkelanjutan karena tergerus daya tarik media digital.
“Mahasiswa KKN pernah memusatkan kegiatannya di sini dan anak-anak banyak yang datang, tetapi ternyata hanya saat ada kegiatan itu saja. Setelahnya sepi lagi, kalah dengan ponsel pintar,” tambahnya.
Mengingat peran strategis perpusdes sebagai pusat belajar, penyedia bahan bacaan, ruang pelatihan keterampilan, hingga penggerak ekonomi lokal, berbagai pihak mendorong agar pengelolaan perpustakaan kalurahan diberikan sentuhan program yang lebih kreatif, adaptif, dan “menggoda” agar minat baca masyarakat kembali meningkat. (Dwi Ony Raharjo/KIM Pararta Guna Gamping)



