TPA Mandiri Kurangi Ketergantungan pada TPA Piyungan

Sleman – Selama ini, persoalan sampah di wilayah Yogyakarta salah satunya berkaitan dengan pengelolaan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Kendala operasional di lokasi tersebut berdampak pada sistem pembuangan sampah bagi Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul.
Kondisi tersebut turut dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Sleman. Ketika pembuangan ke fasilitas pengolahan akhir terkendala, volume sampah di tingkat masyarakat berpotensi meningkat dan menumpuk di sejumlah titik permukiman.
Menghadapi kondisi tersebut, sejumlah pihak mulai mengembangkan tempat pengelolaan sampah secara mandiri. Salah satunya terdapat di area persawahan Padukuhan Barak II, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Di lahan seluas kurang lebih meter persegi tersebut, terdapat sebuah bunker pembakaran sampah yang dibangun menggunakan bata merah. Bunker memiliki tinggi sekitar 4 meter dan lebar 3 meter, dilengkapi atap berbentuk kerucut setinggi sekitar 1 meter serta cerobong asap dengan tinggi sekitar 4 meter. Sementara itu, tumpukan sampah yang akan dibakar terlihat berada di bagian depan bunker.
“Rencana akan bangun satu lagi,” kata Ridho, pekerja yang berjaga di lokasi tersebut, Senin (26/10/2026).
Menurut Ridho, kapasitas bunker cukup besar. Dalam kondisi pembakaran berlangsung, bunker dapat menampung sampah setara dengan dua truk engkel atau bahkan lebih dalam sehari. Sisa pembakaran berupa abu halus kemudian ditempatkan di lokasi pembuangan apabila tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pupuk.
TPA mandiri tersebut menerima sampah dari wilayah Seyegan dan sekitarnya. Tarif yang dikenakan kepada pengguna bervariasi berdasarkan berat sampah yang dibuang, mulai dari hingga .
“Tergantung beratnya,” tuturnya.
Menurut Ridho, pembangunan tempat pengelolaan sampah mandiri tersebut dilatarbelakangi kondisi pengelolaan sampah di TPA Piyungan yang belum kunjung menemukan penyelesaian. Urgensi penyediaan bunker pembakaran sampah di tingkat desa pun dinilai semakin kuat.
Dengan adanya bunker pembakaran mandiri, masyarakat diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah dari sumbernya tanpa sepenuhnya bergantung pada fasilitas pengolahan akhir. Langkah tersebut dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke fasilitas pengolahan akhir.
Namun demikian, pembangunan dan pengoperasian bunker pembakaran sampah tetap memerlukan pengawasan yang ketat. Teknologi yang digunakan perlu dipastikan aman dan dilengkapi sistem penyaringan asap yang memadai agar aktivitas pembakaran tidak menimbulkan persoalan baru berupa pencemaran udara bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, pemilihan lokasi dan konstruksi bunker juga perlu diperhatikan untuk memastikan proses pembakaran berlangsung efektif, aman, serta tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)



