92 Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Dalami Hukum Pers dan UU ITE Hadapi Risiko Sengketa Pemberitaan di Era Digital

Sleman – Pemahaman mendalam terhadap Undang-Undang Pers, Undang-Undang Penyiaran, dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menjadi bekal vital bagi calon jurnalis dalam menjaga kebebasan pers yang beretika dan bertanggung jawab di era digital.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Forum Komunitas Informasi Masyarakat (FKIM) Sembada Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo, saat memberikan materi kuliah tamu dosen praktisi pada Webinar Praktisi Hukum dan Etika Media yang diselenggarakan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Jumat (16/10/2026).

Kegiatan yang dipandu oleh moderator Amelia Kusuma Safitri ini diikuti oleh 92 mahasiswa angkatan XXV bersama dosen pengampu mata kuliah Hukum dan Etika Media Dakwah dan Komunikasi, Mochammad Sinung Restendy.

Dalam pemaparannya, Adnan menekankan pentingnya verifikasi dan kepatuhan terhadap regulasi sebagai fondasi kerja jurnalistik profesional.

“Jurnalisme profesional menuntut kemampuan menyampaikan informasi, sekaligus pemahaman terhadap regulasi yang mengatur kerja pers. Seorang jurnalis wajib mengedepankan akurasi, verifikasi, keberimbangan, serta kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Adnan Iman Nurtjahjo.

Adnan memaparkan perbedaan mendasar antara ruang lingkup UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dengan UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan UU ITE. Ia mengingatkan mahasiswa agar cermat membedakan antara produk pers yang dihasilkan melalui proses kerja pers bertingkat dan konten pribadi di media sosial.

Selain itu, ia menyoroti mekanisme penyelesaian sengketa pemberitaan melalui hak jawab, hak koreksi, serta penilaian Dewan Pers agar masalah jurnalistik tidak serta-merta ditarik ke ranah pidana ITE tanpa melihat substansi perkara.

Dosen pengampu mata kuliah, Mochammad Sinung Restendy, mengapresiasi kehadiran dosen praktisi yang memberikan wawasan konkret seputar tantangan hukum media terkini.

“Semoga kolaborasi perguruan tinggi dengan praktisi mampu menghasilkan lulusan yang kritis, profesional, serta mampu menjaga kemerdekaan pers dan kualitas informasi di tengah perkembangan teknologi digital,” pungkas Sinung Restendy. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Deni Ceni, Cara Kepala Satpol PP Sleman Ajak Warga Jaga Keamanan Lingkungan

Sleman – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman, Indra Darmawan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menerapkan metode Deteksi Dini dan Cegah Dini (Deni Ceni) sebagai upaya menjaga ketertiban serta keamanan lingkungan secara mandiri.

Strategi tersebut disampaikan Indra Darmawan dalam acara Pembinaan Keamanan Lingkungan yang berlangsung di Resto Omah Dhahar Mbah Wanto, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (16/10/2026) malam.

Kegiatan yang dihadiri oleh Kapolsek Berbah AKP Fitrianto Heri Nugroho serta para tokoh masyarakat setempat ini bersumber dari program Pokok Pikiran (Pokir) Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sleman, Wanto.

Indra Darmawan menegaskan bahwa penciptaan lingkungan yang kondusif merupakan modal utama penggerak kegiatan ekonomi dan pembangunan. Karena itu, tanggung jawab pengamanan tidak boleh hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum seperti Satpam, Satpol PP, maupun TNI-Polri.

“Deteksi dini dan cegah dini merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan masyarakat dalam menjaga keamanan bersama,” jelas Indra Darmawan.

Secara khusus, Indra menyoroti pentingnya peran ibu rumah tangga dalam rantai pengamanan lingkungan. Menurutnya, aktivitas komunitas perempuan seperti arisan, PKK, Posyandu, hingga kajian keagamaan merupakan wadah strategis untuk mendeteksi potensi ancaman dan perubahan sosial sekecil apa pun di tingkat lingkungan setempat.

“Bentuk ancaman keamanan bukan hanya tentang pencurian, perampokan, ataupun pembunuhan, tetapi bisa lebih berbahaya yaitu peredaran narkoba hingga penipuan online, baik judi online maupun pinjaman online,” beber Indra.

Indra mengimbau agar setiap temuan indikasi gangguan keamanan sosial segera dikoordinasikan dengan pengurus wilayah setempat atau dilaporkan kepada pihak berwajib demi penanganan medis dan hukum yang maksimal.

“Pada lingkungan masyarakat perlu adanya kebersamaan untuk melakukan siskamling, baik secara berkelompok maupun mandiri, sesuai kapasitas warga dan hasil musyawarah bersama agar tidak tumpang tindih,” pungkasnya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Alamkara Menulis Bersama Pasbuja Sleman Perkuat Pelestarian Sastra Budaya Jawa

Sleman – Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman memperingati delapan tahun perjalanannya melalui peluncuran program kepenulisan bertajuk Alamkara Menulis Bersama Pasbuja.

Program yang difasilitasi oleh Bupati Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman tersebut disiapkan untuk memperkuat tradisi menulis serta mendorong pelestarian sastra dan budaya Jawa secara berkelanjutan.

Kepastian rangkaian acara tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Tim Teknis Alamkara di Rumah Makan Ndesso, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (17/10/2026).

Bidang Penelitian dan Pengembangan Pasbuja Kawi Merapi, Wiwien Widyawati Rahayu, menjelaskan bahwa program Alamkara dirancang dalam enam gelombang (batch) pelatihan dengan materi kepenulisan yang variatif.

“Melalui enam materi tersebut, Alamkara Menulis Bersama Pasbuja diharapkan tidak berhenti sebagai forum pembelajaran, melainkan bisa mendorong lahirnya karya yang memperkaya khazanah literasi dan dokumentasi budaya Jawa,” ujar Wiwien Widyawati Rahayu.

Rangkaian pelatihan diawali Batch 1: Menguatkan Penulisan Cerkak pada Sabtu (24/10/2026), dilanjutkan Batch 2: Menulis Dongeng pada Sabtu (31/10/2026), dan Batch 3: Menulis Biografi pada Sabtu (7/11/2026).

Selanjutnya, Batch 4: Menulis Feature akan digelar pada Sabtu (14/11/2026), Batch 5: Riset dan Materi Menulis pada Sabtu (21/11/2026), serta ditutup dengan Batch 6: Aksara dan Makna pada Sabtu (28/11/2026).

Sementara itu, Sekretaris Pasbuja Kawi Merapi, Achyadi, memaparkan bahwa sejak didirikan pada 30 November 2018 dari semula hanya beranggotakan 13 orang, kini Pasbuja telah berkembang pesat hingga memiliki 140 anggota dari berbagai latar belakang profesi seperti guru, dosen, sastrawan, pelukis, novelis, jurnalis, hingga redaktur media.

“Keberagaman tersebut menjadi modal sosial dan intelektual untuk membangun kolaborasi dalam berkarya, mengabdi kepada masyarakat, serta menjaga keberlangsungan sastra dan budaya Jawa,” tutur Achyadi.

Melalui program terstruktur ini, Pasbuja Kawi Merapi—yang telah terdaftar resmi berdasarkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 14.1 Tahun 2018—mampu memperluas jangkauan pelestarian budaya melalui karya literasi yang diwariskan kepada generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Dari Dapur Sanggrahan, 11 Kader DASHAT Condongcatur Tuntaskan Pengabdian 120 Hari Menyiapkan PMT Lokal

Sleman – Tim Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Condongcatur sukses menuntaskan program pengabdian selama 120 hari dalam penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal bagi ibu hamil dan balita di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rabu (14/10/2026).

Berpusat di kediaman Ponirah, Padukuhan Sanggrahan RT 08, sebelah selatan Jalan Ring Road, dapur sederhana tersebut disulap menjadi titik utama pengolahan, pengemasan, hingga distribusi makanan bergizi yang berlangsung sejak 17 Juni hingga 14 Oktober 2026 di bawah naungan Puskesmas Depok II.

Sebanyak 11 kader DASHAT Condongcatur dikerahkan untuk mengolah beragam variasi menu bergizi kaya nutrisi, seperti jasuke nugget ayam, siomay talam, dimsum gurame, hingga nasi lengkap dengan rolade ayam dan buah. Menu makanan ini disusun secara berganti tiap 14 hari dengan pendampingan dua tenaga gizi Puskesmas Depok II, Winariyanti dan Dwi Anisa Purnamasari.

Ketua DASHAT Condongcatur, Tatik Sukarsih, menyampaikan bahwa keberhasilan program PMT lokal selama empat bulan ini terwujud berkat komitmen, kerja keras, dan pembagian peran yang solid dari seluruh anggota tim.

“Selama 120 hari, kami berupaya menjalankan amanah dari Puskesmas Depok II dengan sebaik-baiknya. Tugas kami bukan sekadar memasak, tetapi memastikan makanan diolah sesuai menu yang ditentukan, dikemas, dan didistribusikan kepada penerima manfaat. Semua ini membutuhkan kerja sama dan tanggung jawab seluruh anggota tim,” ujar Tatik Sukarsih.

Proses pengolahan makanan dipimpin oleh tiga kader utama, yakni Ponirah, Tursilowati, dan Sutrini. Sementara untuk kelancaran penyaluran, Tim DASHAT membagi penjangkauan lapangan ke dalam empat daerah binaan (darbin).

Penyaluran Darbin 1 mengikutsertakan Sri Bardani, Musriyati, Tatik Sukarsih, dan Tri Mursilah. Darbin 2 diampu oleh Nur Hidayah dan Musriyati, Darbin 3 dipimpin Dewi dan Nur Hidayah, sedangkan Darbin 4 dijalankan oleh Kristin, Partini, serta Tri Mursilah.

Selama delapan siklus pelaksanaan, program PMT lokal ini menyasar puluhan balita dan ibu hamil secara bergantian untuk membantu pemenuhan gizi, mencegah risiko stunting, serta mendampingi tumbuh kembang anak di wilayah Condongcatur.

“Kami mendapatkan pengalaman berharga dalam mengolah berbagai menu PMT lokal. Bahan pangan yang ada di sekitar kita ternyata dapat diolah menjadi makanan yang beragam. Terima kasih kepada seluruh anggota DASHAT yang telah bekerja sama dan Puskesmas Depok II atas pendampingannya,” tutur Tatik Sukarsih. (Wasana/KIM Depok)




Hari Kebudayaan 2026, BPK Wilayah X Persembahkan Program Saba Kedulan

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan 2026, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X menggelar program aktivasi warisan budaya bertajuk Saba Kedulan di kawasan Candi Kedulan, Padukuhan Kedulan, Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (17/10/2026).

Program ini diselenggarakan untuk mendekatkan masyarakat dengan situs peninggalan sejarah sekaligus mengenalkan nilai-nilai kebudayaan secara langsung di lapangan. Dalam bahasa Jawa, kata “saba” berarti berkunjung atau menyambangi.

Antusiasme masyarakat terhadap program edukasi bebas biaya ini terbilang sangat tinggi. Panitia menyediakan armada transportasi gratis berupa dua unit mobil Elf dan dua unit kendaraan operasional BPK Wilayah X yang terbagi ke dalam dua gelombang perjalanan (trip pagi dan siang).

Dalam rangkaian jelajah sejarah ini, peserta diajak mengunjungi tiga candi yang saling berkaitan, diawali dari Candi Kedulan, menuju Candi Morangan, berlanjut ke Candi Sambisari, dan berakhir kembali di Candi Kedulan.

Di setiap destinasi, peserta mendapat pendampingan langsung dari edukator BPK Wilayah X, Septi dan Jusman, yang memaparkan latar belakang sejarah, teknik arsitektur, makna relief, hingga kronologi runtuhnya candi.

Jusman menjelaskan bahwa pemilihan ketiga candi tersebut didasari oleh kesamaan latar belakang sejarah dan letaknya yang berdekatan.

“Tiga candi itu kan semua tertimbun tanah karena aktivitas Gunung Merapi. Nah, kita urutkan dari yang masih banyak terpendam yaitu Candi Morangan, Candi Kedulan yang sudah tahap pengembangan, dan Candi Sambisari yang sudah utuh dipugar. Ketiganya dibangun dalam rentang waktu yang sama, sekitar abad ke-9 Masehi atau tahun 800-an,” terang Jusman.

Meskipun cuaca terik, para peserta tampak antusias menyimak penjelasan pakar serta aktif berdiskusi mengenai pelestarian cagar budaya. Salah seorang peserta, Hendi, mengapresiasi terobosan edukasi lapangan yang diinisiasi oleh BPK Wilayah X tersebut.

“Bagus banget ini Mas, bisa melihat langsung dan mendengarkan ceritanya,” tutur Hendi.

Melalui program Saba Kedulan, BPK Wilayah X menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pendokumentasian, pelestarian, dan pemugaran situs sejarah demi pemanfaatan ilmu pengetahuan bagi generasi penerus. (Dwi Ony Raharjo/KIM Pararta Guna Gamping)