LPMKal Condongcatur Monitoring Drainase di Gandok, Kawal Program Pembangunan Rp40 Juta per RW

Sleman – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) Condongcatur memperketat pengawasan pembangunan infrastruktur melalui peninjauan langsung ke lokasi pekerjaan di RW 56 Padukuhan Gandok, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis (15/10/2026).

Langkah monitoring ini ditempuh guna memastikan realisasi alokasi program pembangunan lingkungan senilai Rp40 juta per RW per tahun berjalan tepat sasaran, sesuai dengan spesifikasi perencanaan, serta memiliki mutu kualitas yang baik. Proyek drainase di Padukuhan Gandok merupakan salah satu dari 16 titik pembangunan saluran air yang diprogramkan Pemerintah Kalurahan Condongcatur pada anggaran tahun 2026.

Peninjauan lapangan dilaksanakan oleh tiga anggota piket LPMKal Condongcatur, yakni Bambang Supriyanto, Murwanto, dan Teguh Purwanto, dengan didampingi langsung oleh Ketua RW 56 Gandok, Purnomo.

Anggota LPMKal Condongcatur, Teguh Purwanto, menjelaskan bahwa pemeriksaan fisik dan kesesuaian anggaran krusial untuk menjaga akuntabilitas pembangunan.

“Tujuan monitoring ini untuk memastikan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan proposal yang diajukan. Kami ingin setiap pekerjaan benar-benar sesuai perencanaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Teguh Purwanto.

Sementara itu, Ketua RW 56 Gandok, Purnomo, menyambut positif pengawasan berkala tersebut. Menurutnya, keberadaan saluran drainase yang memadai sangat vital bagi warga sekitar untuk mencegah potensi luapan air menjelang musim hujan.

“Pembangunan drainase ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Saat musim hujan, air dapat mengalir lebih lancar sehingga mengurangi risiko genangan dan banjir. Jalan juga menjadi lebih awet karena air hujan langsung masuk ke saluran dan tidak menggerus badan jalan. Kami berterima kasih atas monitoring yang dilakukan LPMKal,” kata Purnomo.

Secara terpisah, Ketua LPMKal Condongcatur, Siswantoro, menyampaikan apresiasi atas kesigapan anggotanya di lapangan. Ia menegaskan bahwa partisipasi aktif dan pengawasan yang berkelanjutan akan memperkuat koordinasi antara Pemkal, pengurus RW, serta warga dalam mewujudkan pemerataan infrastruktur yang berkualitas.

“Melalui peran aktif LPMKal yang turun langsung ke masyarakat, kami berharap pembangunan di Condongcatur semakin merata, memiliki mutu yang baik, dan benar-benar memberikan manfaat bagi warga,” tegas Siswantoro. (Wasana/KIM Depok)




Pelatihan Batik di Papringan Berdayakan Perempuan, Dorong Lahirnya Motif Khas Padukuhan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menggelar pelatihan membatik bagi kelompok perempuan Padukuhan Papringan di Gedung Serba Guna Padukuhan Papringan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rabu (14/10/2026).

Kegiatan yang diikuti 20 peserta perwakilan dari tiap RW ini diselenggarakan sebagai langkah nyata pemberdayaan perempuan berbasis ekonomi kreatif sekaligus upaya melestarikan seni budaya batik di tingkat padukuhan.

Dukuh Papringan, Nur Hamidah, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk tindak lanjut dari aspirasi kelompok ibu-ibu PKK dan Posyandu setempat.

“Peserta pelatihan ini merupakan perwakilan dari masing-masing RW dengan jumlah 20 orang. Kegiatan ini berawal dari usulan ibu-ibu PKK dan Posyandu sebagai upaya pemberdayaan perempuan. Melalui pelatihan ini, peserta dibekali keterampilan membatik tulis yang diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut,” ungkap Nur Hamidah.

Lurah Caturtunggal, Andi Suwarno, menyambut baik semangat para peserta dan mendorong agar pelatihan tidak berhenti sebagai ajang seremonial semata, melainkan terus berlanjut hingga mampu melahirkan identitas lokal yang bernilai ekonomis.

“Harapannya, kegiatan ini menjadi awal dari pelatihan-pelatihan berikutnya sehingga ibu-ibu semakin mahir membatik. Kalau bisa, ibu-ibu belajar membuat motif sendiri sehingga nantinya Padukuhan Papringan memiliki motif batik khas yang menjadi ciri tersendiri. Apabila hasil karyanya sudah bagus, ibu-ibu juga dapat berbagi keterampilan kepada masyarakat lainnya,” tutur Andi Suwarno.

Guna mendukung keberlanjutan produksi batik warga, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal turut menyalurkan bantuan sarana dan prasarana berupa 20 set alat membatik, 5 unit kompor listrik, serta 2 buah panci pelorot lilin.

Melalui sinergi pelatihan dan bantuan fasilitas ini, Pemkal Caturtunggal berharap keterampilan membatik kelompok perempuan Papringan semakin terasah, mampu membuka peluang usaha mandiri, serta memperkaya warisan budaya lokal Sleman. (Oktaviana/KIM Depok)




Kesbangpol Sleman Ajak Masyarakat Perkuat Nasionalisme di Tengah Ancaman Deepfake

Sleman – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman menggelar Seminar Bela Negara bertajuk “Perkuat Nasionalisme di Era Digital” di Aula Unit 1 Pemkab Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 75 peserta ini diselenggarakan untuk menyegarkan kembali kesadaran bela negara dan kecakapan digital masyarakat di tengah maraknya informasi manipulatif. Peserta terdiri atas perwakilan kader bela negara, pamong kalurahan, generasi muda, serta Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI).

Kepala Kesbangpol Kabupaten Sleman, Muhammad Aji Wibowo, membuka langsung acara tersebut dan menekankan pentingnya aktualisasi nilai dasar bela negara di era modern.

“Seminar ini bertujuan meningkatkan wawasan kebangsaan dan menguatkan karakter kebangsaan agar peserta mampu mengaktualisasi nilai-nilai dasar bela negara dalam berbagai aspek kehidupan,” ujar Muhammad Aji Wibowo.

Ia menambahkan, nilai dasar bela negara seperti cinta tanah air, kesetiaan pada Pancasila, dan kerelaan berkorban perlu diwujudkan melalui kesiapan mental warga dalam menjaga persatuan serta melestarikan budaya bangsa.

Sesi diskusi memanas saat membahas maraknya ancaman teknologi Artificial Intelligence (AI), khususnya deepfake yang dapat merekayasa wajah, suara, dan video hingga tampak sangat menyerupai aslinya.

Dosen Administrasi Publik Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Oktiva Anggraini, mengingatkan peserta agar meningkatkan literasi digital demi membentengi diri dari potensi polarisasi dan konflik sosial akibat informasi palsu.

“Deepfake adalah video atau suara palsu yang dibuat menggunakan AI, tapi kelihatan dan kedengaran 100 persen asli. Wajahnya asli, suara asli, tapi orang dan pernyataannya palsu,” paparnya.

Seminar ini juga menghadirkan Kepala Pusat Bela Negara UPN Veteran Yogyakarta serta dosen FISIPOL Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang mengupas etika digital dan pengamalan Pancasila di ruang siber. Through pemahaman ini, Kesbangpol Sleman menegaskan bahwa sikap bijak menyaring informasi dan melawan hoaks merupakan wujud nyata bela negara di era digital. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Santri Menguatkan Negeri, Menyiapkan Generasi Emas Indonesia dari Pesantren

Sleman – Pesantren tidak sekadar menjadi tempat menimba ilmu agama, melainkan wadah pembentukan karakter, penanaman nilai kebangsaan, serta penyiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan. Pesan ini mengemuka dalam Talkshow Pasar Bela Negara edisi ke-46 di sisi utara Lapangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (16/10/2026).

Hadir sebagai narasumber, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Wiyato Widodo, menegaskan rekam jejak ulama dan santri yang tak terpisahkan dari sejarah perjuangan merebut hingga mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Peran santri tidak bisa dikesampingkan dalam membela kemerdekaan Indonesia. Bahkan, saat ini banyak pemimpin kita yang dulunya merupakan alumni santri,” ungkap Wiyato Widodo.

Menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen menyemarakkan peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

Puncak peringatan akan diisi dengan Upacara Hari Santri pada Kamis (22/10/2026) pukul WIB di Lapangan Pemda Sleman yang melibatkan 33 pondok pesantren se-Kabupaten Sleman. Sebelum upacara dimulai, seluruh peserta akan melaksanakan salat istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon hujan.

Rangkaian acara juga akan dimeriahkan dengan parade santri, unjuk kreativitas, serta penyaluran bantuan program Santripreneur dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman guna mendorong kemandirian ekonomi para santri.

Melalui kolaborasi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat ini, Pemkab Sleman menegaskan komitmennya dalam menyiapkan generasi penerus yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan siap mengawal perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




P3S Margoluwih Sasar KPM PKH Klaci II untuk Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah

Sleman — Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terus memperluas edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kali ini, sosialisasi menyasar Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Padukuhan Klaci II, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di rumah Boinah, salah satu KPM PKH di RT 01 RW 11 Padukuhan Klaci II, tersebut diikuti sekitar 20 peserta. Mereka mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

Sosialisasi ini memanfaatkan pertemuan rutin KPM PKH sebagai sarana edukasi untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus mendorong kebiasaan memilah, mengurangi, dan mengolah sampah dari rumah.

Dalam kegiatan tersebut, P3S Kalurahan Margoluwih, Suminah, menyampaikan materi mengenai Surat Edaran (SE) Bupati Sleman Nomor 0516 tentang pembentukan satu Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan.

Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan memahami pentingnya keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Keberadaan KPSM diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.

“KPM PKH memiliki potensi untuk turut mendukung gerakan pengelolaan sampah. Pertemuan rutin yang selama ini dilaksanakan dapat dimanfaatkan sebagai ruang berbagi informasi sekaligus membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Suminah.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut disampaikan Pendamping PKH wilayah Margoluwih, Arifin, yang turut hadir dalam pertemuan. Sebagai tindak lanjut, ia telah menjadwalkan pertemuan berikutnya dengan agenda pelatihan pengelolaan sampah organik rumah tangga.

Dalam pelatihan tersebut, peserta akan diperkenalkan dengan tiga metode pengolahan sampah organik, yaitu biopori, biopot, dan losida. Ketiganya dapat menjadi alternatif pengelolaan sisa bahan makanan dan sampah dapur agar tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah yang harus diangkut ke tempat pengolahan akhir.

Biopori dapat dimanfaatkan untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah sekaligus mendukung pengolahan bahan organik. Sementara itu, biopot dan losida akan diperkenalkan sebagai alternatif pengolahan sampah organik skala rumah tangga yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Pertemuan rutin KPM PKH yang dilaksanakan secara bergiliran dari rumah ke rumah juga akan dimanfaatkan sebagai sarana praktik langsung. Pada pertemuan berikutnya, peserta direncanakan mempraktikkan pembuatan satu lubang biopori di rumah yang menjadi lokasi kegiatan.

Sosialisasi kepada KPM PKH di Padukuhan Klaci II menjadi salah satu upaya memperluas edukasi lingkungan melalui kelompok masyarakat yang telah memiliki agenda pertemuan rutin. Kolaborasi antara P3S Kalurahan Margoluwih, Pendamping PKH, KPM PKH, dan Karang Taruna diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)