Pasar Lelang Cabai Bantu Petani Dapatkan Harga Terbaik

Ngaglik – Gagal panen yang disebabkan oleh cuaca, hama dan penyakit, kondisi tanah yang tidak baik, pemakaian pupuk, bibit, serta cara pemeliharaan yang tidak tepat adalah masalah klasik yang kerap dihadapi para petani. Selain itu, sifat dan ciri khas produk pertanian yang mudah rusak atau busuk juga merupakan masalah yang tidak  bisa diabaikan.

Begitu pun saat panen dengan produksi yang melimpah tapi kurang informasi pasar, tidak sedikit petani harus menjual hasil pertanian dengan harga sangat rendah. Akibatnya petani merugi, dan di lain pihak justru para tengkulaklah yang diuntungkan.

Sebagai produk pertanian, cabai juga tidak luput dari permainan para tengkulak, terlebih sebagai komoditi primadona, cabe seringkali mengalami fluktuasi harga yang tidak menentu.

Untuk menghindari permainan para tengkulak, memotong rantai pemasaran yang terlalu panjang, dan mendapatkan harga terbaik, para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Hortikultura Puncak Merapi bersama tokoh tani di wilayah Sleman mendirikan pasar lelang pada Oktober 2017. Dengan bimbingan dan binaan dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, pengelolaan pasar lelang ini kemudian diserahkan kepada seksi pemasaran Asosiasi Petani Hortikultura Puncak Merapi. Pasar lelang ini memakai tempat di bangsal pascapanen Dusun Bunder.

“Dengan sistem lelang, penentuan harga menjadi lebih transparan dan petani puas karena karena jerih payahnya lebih dihargai,” kata Aji Waluyo, koordinator pasar lelang cabai saat ditemui di bangsal pasca panen Dusun Bunder, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Selasa (29/7/2019).

Pasar lelang di Dusun Bunder ini dibuka setiap hari dari pukul 17.00-21.00 WIB, dan menampung hasil panen cabe petani yang berada di wilayah kecamatan sekitar seperti Pakem, Ngaglik, Turi, Cangkringan, Ngemplak, Kalasan, Sleman, Seyegan dan Mlati.

Di sini, begitu cabai datang langsung ditimbang dan dicatat kemudian diseleksi yaitu dipisahkan antara cabai yang kualitas baik dengan yang busuk atau rusak, kemudian ditimbang kembali. “Setelah itu, cabai yang sudah diseleksi tersebut baru diikutkan lelang. Jadi petani dibayarkan setelah proses lelang selesai,” papar Aji.

Pasar lelang cabai menjamin kualitas barang dengan menerapkan standar cabai yang diterima yaitu untuk cabai rawit adalah yang petikan cabainya tidak terlalu matang, warna kuning semburat tidak terlalu merah, tidak busuk, tidak cacat, dan tidak layu. Sedangkan untuk cabai keriting adalah petikan cabainya berwarna merah merata, tidak busuk, tidak cacat, serta tidak layu.

Untuk mempermudah petani dalam pengumpulan cabai, pasar lelang memiliki cabang yang disebut titik kumpul cabe antara lain di Tempel, Turi, Cawan, Kebon Agung, Sariharjo, Tegal Gentan, Tegal Weru, Kalasan dan Pondok Wonolelo.

Aji mengungkapkan proses lelang dilakukan  setelah cabe yang berada di  semua titik kumpul dibawa di pasar lelang, kemudian jumlah tonase cabai yang akan dipasarkan atau dilelang diinfokan kepada pedagang melalui aplikasi Whatsapp atau pesan pendek (SMS). Semua pedagang selanjutkan akan menginfokan harga tawaran masing masing melalui WA atau SMS, lalu hasilnya akan dibuka bersama-sama untuk selanjutnya tawaran harga tertinggi  diumumkan sebagai pemenang pada pukul 19.30.

Peserta lelang saat ini berjumlah 10 orang yang berasal dari Jogja, Klaten, Magelang, Temanggung dan sekitarnya. Setelah lelang selesai proses selanjutnya adalah pengemasan dengan kardus dan pedagang siap mengirimkan ke daerah tujuan antara lain di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta, Bogor, Palembang, sampai Batam.

Dalam sehari pasar lelang cabai ini mencapai omset rata rata 1-2 ton per hari dan memperkerjakan 12 karyawan yang merupakan warga sekitar dengan upah 500 rupiah per kilogram dari pedagang yang memenangkan lelang. “Untuk bulan Juli ini perputaran uang uang bisa mencapai 100 juta per hari karena harga cabai sekarang mahal,” tukas Aji.

Selain cabai, pasar lelang juga menerima sayuran jenis lain seperti terong, ketimun, tomat, sawi, buncis, kacang panjang, dan gambas.

Aji mengaku keberadaan pasar lelang ini tidak terlepas dari bantuan pemerintah berupa pengadaan alat-alat seperti timbangan, meja, lampu, blower, dan juga sepeda motor roda tiga di setiap titik kumpul. Bangsal pascapanen ini sendiri juga merupakan bantuan dari Bank Indonesia. Pada Desember 2018 lalu Kominfo juga membantu 15 telepon pintar untuk pengelola dan diberikan di tiap titik kumpul untuk memperlancar koordinasi dan komunikasi serta menunjang digitalisasi pertanian. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts