Pasar Sambilegi Terima Penghargaan BPOM RI Kategori Pasar Aman dari Bahan Berbahaya

Depok – Minggu (10/2/2019) bertempat di Area Parkir Car Free Day-Halaman Pakir Sarinah Jakarta, diselenggarakan kegiatan peringatan ulang tahun Badan POM ke-18 yang mengambil tema Bakti Untuk Negeri. Pada kegiatan ini BPOM mengadakan berbagai kegiatan seperti senam massal, pemeriksaan kesehatan, donor darah, lomba masak, pemberian penghargaan dan lain sebagainya.

Pada kesempatan kali ini, Kabupaten Sleman menjadi satu-satunya penerima penghargaan kategori pemerintah daerah sub kategori Pasar Aman dari Bahan Berbahaya. Pasar Sambilegi Maguwoharjo Sleman adalah pasar yang mendapatkan penilaian dan memperoleh penghargaan dari BPOM RI.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menerima langsung penghargaan tersebut. Penghargaan diserahkan oleh Kepala BPOM RI Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP.

Sri Purnomo menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan awal dari perjuangan Sleman untuk menjadikan pasar di Kabupaten Sleman yang benar-benar aman dari bahan-bahan berbahaya. Sri Purnomo mengibaratkan apa yang telah dilaksanakan ini adalah bentuk tindakan preventif, yang artinya lebih baik mencegah daripada mengobati.

“Jadi menghindarkan konsumen dan juga melindungi konsumen untuk tidak mengkonsumsi bahan-bahan berbahaya. Selain itu dengan komitmen bersama dari lintas sektor peredaran bahan-bahan berbahaya di pasar tradisional kita dapat diminimalisir,” ucap Sri Purnomo.

Kepala Dinas Perindustian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani yang dalam kesempatan tersebut mendampingi Bupati Sleman menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memulai pengawasan penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan dirintis oleh Dinas Pasar sejak tahun 2011 bekerja sama dengan BPOM DIY. Selanjutnya Bupati Sleman menerbitkan SK tentang tim pengawas terpadu penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan sejak tahun 2013 dengan melibatkan lintas Perangkat Daerah (Dinas Kesehatan, Dinas Perindagkop, Dinas Pasar, Satpol PP, Setda Kab dan lain-lain).

“Hal ini menandakan bahwa komitmen kepala daerah terhadap permasalahan bahan berbahaya untuk pangan sangat tinggi,” ujar Endah.

Ditambahkannya, program pasar aman dari bahan berbahaya bekerjasama dengan BPOM telah dimulai pada tahun 2013 dengan intervensi masing-masing 1 pasar di setiap Kabupaten/ Kota. Untuk DIY yang memiliki 5 Kabupaten/Kota, intervensi awal dilakukan terhadap 5 pasar salah satunya adalah di Pasar Sambilegi yang terletak di Kabupaten Sleman.

Pasar Sambilegi sendiri merupakan pasar yang terletak di Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, dengan luas area 4.602 m2 terletak dipinggir jalan penghubung Yogyakarta dan wilayah Jawa tengah seperti Klaten/ Solo. Berdasarkan jenis barang yang dijual, Pasar Sambilegi termasuk pasar kelas B, yaitu menjual aneka kebutuhan masyarakat mulai dari sayur, buah, daging ikan ayam, makanan atau jajanan matang, bumbu serta barang non konsumsi seperti peralatan dapur, pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainya. Jumlah pedagang sebanyak 348 orang yang menempati 44 Kios dan 304 los pasar.

“Pasar ini telah memiliki Paguyuban pedagang pasar. Beberapa anggotanya bertugas membantu BPOM di Yogyakarta untuk melakukan sampling, pengujian  serta pembinaan kepada pedagang yang produk pangannya tidak memenuhi syarat. Petugas pasar juga sudah mendapatkan pelatihan kegiatan yang sama,” terang Endah.

Pasar Sambilegi juga telah dilengkapi dengan bangunan pasar permanen yang terpelihara. Tidak terlihat genangan air dan terdapat lorong yang cukup untuk pengunjung. Pasar memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Setiap los sudah dilengkapi dengan fasilitas yang layak dan tertata dengan baik.

Suplai air berasal dari air sumur kondisi bersih dan layak dipakai. Tempat sampah di bagian luar khusus digunakan untuk tempat pembuangan akhir oleh pedagang pasar. Setiap hari dilakukan pengambilan sampah akhir sehingga tidak bau dan berserakan.

“Peralatan yang digunakan untuk menjual makanan terbuat dari bahan yang kuat, tidak berkarat dan dijaga kebersihannya, tidak ada tempat penjualan unggas hidup. Perilaku pedagang telah menerapkan hidup bersih dan sehat. Tidak ada yang merokok atau meludah di sembarang tempat, serta menjaga kebersihan tubuh secara umum. Kerjasama dengan pihak puskesmas selain untuk deteksi penyakit juga sebagai sarana sosialisasi dalam memelihara kebersihan dan kesehatan tubuh,” tambah Endah. (ivh)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts