Pemanfaatan Sampah Organik dengan Beternak Lalat BSF

Bumdes Banyu Gotro Rumpoko Kalurahan Banyuraden bekerjasama dengan komunitas Dharma Laku menggelar kegiatan pelatihan pemanfaatan sampah organik menggunakan metode beternak lalat Black Soldier Fly (BSF) yang dilaksanakan di area Wisata Perahu Dayung Belik Serut Banyuraden Kapanewon Gamping, Sabtu (6/3/2021) sore.

Pelatihan dihadiri oleh Direktur Bumdes Banyu Gotro Rumpoko, Murdiyanto didampingi Pembina Komunitas Dharma Laku, Samastha. Selain itu, pelatihan diikuti oleh pegiat pemberdayaan masyarakat, Kelompok Wanita Tani, dan tokoh masyarakat.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Direktur BUMDes Banyu Gotro Rumpoko, Murdiyanto yang berharap dengan pelatihan ini, dapat membuat lingkungan menjadi bersih dan memperoleh tambahan pendapatan yang sangat menguntungkan bagi warga masyarakat.

“Terinspirasi dari masalah sampah demi menggapai impian untuk menjadikan sampah sebagai produk yang bermanfaat dan bernilai jual maka perlu adanya pelatihan terkait hal tersebut,” tutur Murdiyanto.

Murdiyanto juga mengharapkan komitmen dari Instruktur Budidaya Maggot, Aldera Arif bersama Abdul Karim dari Komunitas Milisi Lalat Hitam untuk bersedia membimbing peserta pelatihan praktik membudidayakan maggot (larva lalat) ini, mulai dari persiapan lokasi, pembuatan infrastruktur yang meliputi kandang lalat, tempat penetasan, tempat pembesaran, tempat pembibitan, serta proses penetasan telor lalat BSF menjadi maggot siap jual hingga pemasarannya.

Sementara itu, dalam paparannya, Aldera Arif menjelaskan mengenai Lalat BSF. Ia menyebutkan, dari 800 jenis lalat yang ada di muka bumi, BSF dengan nama latin Hermetia illucens merupakan jenis lalat paling beda karena BSF adalah lalat yang tidak bersifat patogen atau tidak membawa agen penyakit.

“Dengan melakukan budi daya BSF maka masyarakat akan memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan telur BSF maupun larva atau biasa disebut maggot. BSF tidak sekadar mampu meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga sebagai salah satu solusi untuk menangani sampah. Sebab, pada saat fase larva sebanyak 1 kg larva BSF akan mampu mengurai 1 kg sampah organik,” jelas Arif.

Di sisi lain, Arif mengungkapkan pengembangan maggot sebagai bahan baku alternatif pakan ikan dan ternak lainnya butuh ketekunan dan edukasi kepada masyarakat terkait sampah organik sebagai media utama budi daya maggot. Salah satu yang harus dilakukan adalah sumber sampah organik yang berasal dari sampah rumah tangga harus dipilah terlebih dahulu antara sampah organik dan anorganik.

“Kualitas maggot tergantung dari bahan baku media budi daya yang digunakan. Maggot dapat diproduksi dalam waktu singkat dan tersedia dalam jumlah yang melimpah sepanjang waktu. Yang terpenting maggot aman bagi ikan dan hewan ternak lainnya karena bukan pembawa penyakit, dan mengandung nutrisi utamanya protein tinggi yang dibutuhkan hewan,” terang Arif . (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts