Pembentukan Forkom Bumdes Sleman Periode 2021-2026

Forum Komunikasi (Forkom) Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) se-Kabupaten Sleman periode 2021-2026 berhasil terbentuk dalam Rapat Kerja Bumdes se-Kabupaten Sleman pada Selasa (23/2/2021). Acara yang diadakan di Puri Mataram, Tridadi, Sleman ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (PMK) Sleman, perwakilan Institute for Research and Empowerment (IRE), dan juga 40 Direktur Bumdes yang ada di Kabupaten Sleman.

Secara aklamasi, Ketua Forkom Bumdes Sleman Periode 2021-2026 masih dipercayakan kepada Agus Setyanta.  Ia kemudian menunjuk Ismi dari Sendangagung sebagai Sekretaris, dan Bendahara dijabat oleh Akib dari Bokoharjo.

Sedangkan hal yang baru dalam kepengurusan forkom kali ini adalah adanya komisariat di tingkat kapanewon. Untuk wilayah Sleman, ada 15 komisariat yang sudah terbentuk.

Didik Daru Suryo Suparto, Kepala Seksi Pengembangan Potensi Masyarakat Dinas PMK Sleman dalam pengarahannya menyatakan bahwa proses pembaharuan di Forkom Bumdes sangat penting untuk dilakukan. “Hal ini berkaitan untuk menjaga dinamika organisasi,” jelasnya.

Sementara, Agus Setyanta selaku Ketua Forkom Bumdes Sleman terpilih untuk periode 2021-2026 dalam sambutannya menyampaikan bahwa Forkom Bumdes merupakan wadah pengembangan semua Bumdes yang ada di Kabupaten Sleman.

“Menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika menghadapi banyaknya tantangan di desa yang kemudian menjadikan Bumdes sebagai sumber daya dalam memberi layanan masyarakat yang muaranya pada kesejahteraan,” jelas Agus yang juga merupakan Ketua Forkom Bumdes Sleman pada periode sebelumnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Bumdes memiliki potensi untuk menaikkan PAD. “Dalam artian mampu memberi kontribusi positif, baik secara sosial maupun ekonomi,” tambahnya.

Sedangkan Sukasmanto dari IRE Yogyakarta, yang hadir selaku narasumber dalam rapat menyampaikan bahwa Bumdes mempunyai peluang untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi atau akademisi. Menurutnya, Bumdes dapat memanfaatkan tugas wajib dari perguruan tinggi sebagai sumber daya akademik dalam penelitian maupun pengabdian masyarakat untuk pengembangan Bumdes.

“Paling tidak Perguruan Tinggi dapat menginisiasi terbentuknya market place Bumdes sehingga dapat memasarkan hasil/produk dari masing-masing desa,” jelas Sukasmanto.

Sementara pada kesempatan tersebut, Yulianto, Tenaga Ahli Pendamping Desa menyampaikan bahwa Bumdes di Kabupaten Sleman termasuk dalam kategori Bumdes yang berhasil dan sudah digunakan sebagai rujukan dari Bumdes dari wilayah kain.

“Bahkan dijadikan pendamping di Bumdes pemula di Kabupaten lain,” imbuh Yulianto.

Yulianto berpendapat bahwa kelebihan Bumdes di Sleman adalah variasi usahanya. “Mulai dari desa wisata, pengelolaan sampah, kuliner, budidaya perikanan, sampai pengelolaan internet desa ada di Sleman,” jelasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts