Petir dan Angin Kencang Mengancam

Sleman – Warga DIY dihimbau waspada potensi petir dan angin kencang. Bencana itu masih mengancam hingga menjelang pancaroba pada bulan April nanti.

Koordinator Pos Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja,  Joko Budiono menjelaskan, petir dan angin kencang berpotensi terjadi terutama saat siang dan sore hari. Sebab dalam kurun itu pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) meningkat.

“Curah hujan paling banyak terjadi pada siang hingga sore. Potensi bencana masih perlu diwaspadai khususnya petir dan angin kencang,” kata Joko kepada wartawan, Selasa (22/3).

Sepanjang Maret ini, curah hujan di wilayah DIY relatif tinggi yakni di kisaran 201-400 milimeter. Bahkan di Gunungkidul bagian tengah mencapai 401-500 milimeter. Namun pengecualian untuk daerah Bantul bagian utara dan tengah, serta Kulonprogo sisi selatan. Di beberapa wilayah itu, curah hujan hanya berkisar 151-200 mm.

Terpisah, Kepala BPBD Sleman, Drs  Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan selama pancaroba ancaman resiko angin kencang dan petir masih cukup tinggi.

Diprediksi peralihan musim akan berlangsung hingga akhir April. Khusus bencana angin kencang, pihaknya mencatat ada peningkatan jumlah kejadian.

Pada 2014 dilaporkan ada 22 kejadian angin ribut, dan meningkat menjadi 40 kasus pada tahun 2015. Sementara pada triwulan pertama 2016 ini tercatat lebih dari 10 peristiwa angin kencang.

“Laporan kejadian tersebar hampir di seluruh wilayah kecamatan. Masyarakat perlu ekstra waspada apalagi bencana ini tidak dapat diprediksi,” kata Julisetiono.

Potensi kejadian petir juga dirasa masih cukup tinggi bahkan beberapa waktu lalu sambarannya sampai memutuskan jaringan listrik. Saat terjadi hujan disertai petir, warga disarankan agar menghindari aktivitas di area terbuka seperti persawahan atau lapangan. Selain itu, sebaiknya tidak berlindung di bawah pohon tinggi karena rawan tersambar petir.
Print Friendly, PDF & Email

Related posts