Produksi Pakan Ikan Sendiri untuk Siasati Pandemi

Ngaglik – Di bisnis budidaya ikan air tawar, pakan menduduki peringkat pertama dalam biaya operasional. Setalah itu baru pengeluaran yang lain seperti benih ikan, perawatan, obat , vitamin, dan tenaga kerja.

Albertus Budi Setiawan, pemilik Budi Fish Farm menyadari akan hal tersebut dan mencari cara menekan biaya pakan semaksimal mungkin tetapi pertumbuhan ikan tetap baik. Ia pun berusaha membuat pakan dengan bahan baku lokal namun dengan kualitas yang tidak kalah dengan pakan pabrikan.

Pemilik usaha budidaya ikan yang berlokasi di Padukuhan Donolayan, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik Kabupaten Sleman ini mengisahkan pembuatan pakan alternatif tersebut.

Semuanya berawal dari keprihatinan ketika awal pandemi Covid19 muncul dimana beberapa daerah menutup diri (lockdown) membuat usahanya yang bergerak di bidang penyediaan ikan konsumsi dan bibit ikan air tawar seperti nila, lele, gurame, patin, dan koi menjadi terhambat. Pengiriman ke luar pulau dan  antar kota banyak yang dibatalkan akibat pembatasan sosial yang diterapkan beberapa daerah pada waktu itu. Begitu pun pasokan pakan dari pabrik yang berasal luar daerah menjadi terhambat, padahal Budi memiliki jutaan ikan dari bibit/benih , indukan, sampai ikan siap konsumsi yang ditebar di puluhan kolam dan harus diberi pakan setiap harinya.

“Situasi ekonomi yang tidak menentu memaksa saya berpikir bagaimana menciptakan pakan sendiri dengan bahan baku lokal dan murah namun kualitasnya tidak kalah dengan pabrikan,” kata Budi saat ditemui di kediamannya, Selasa (4/11/2020).

Kemudian ia belajar tentang cara menyusun pakan dan mencari bahan baku di Yogyakarta dan sekitarnya, yang kemudian diformulasikan menjadi pakan ikan.

“Kami mengumpulkan bahan-bahan limbah sisa pengolahan seperti ampas tahu, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kacang, tapioka, gaplek, jagung, dan tepung kopra sebagai sumber karbohidrat dan sumber protein nabati. Sedangkan sumber protein hewani berasal dari tepung ikan dan tepung udang. Lemak didapatkan dari minyak ikan,” tambahnya.

Selanjutnya ia mengungkapkan bahwa kini tepung ikan yang diperlukan dalam formulasi pakan ikan  tersebut telah berhasil diproduksi di tempatnya sendiri dengan teknologi stem (pengukusan).

“Bahan baku tepung ikan masih didatangkan dari Semarang, karena di sana banyak limbah ikan yang tidak terpakai kemudian disini diproses dengan teknologi stem, cara sederhana tetapi tidak mengurangi kandungan nutrisinya,” kata bapak dari 2 anak yang memulai usahanya sejak tahun 2010 ini.

Bahan baku berupa  limbah ikan yang telah terkumpul diproses dengan stem, dikeringkan, kemudian diproses lagi menggunakan mesin menjadi tepung.

Tepung ikan dan bahan lain kemudian ditimbang sesuai komposisi, lalu dicampur menggunakan mesin mixer pakan, setelah itu dimasukkan lagi ke dalam mesin pelet sehingga dihasilkan bentuk pelet apung yang mampu dimakan oleh ikan sesuai dengan umurnya.

Setelah proses peleting lalu dikeringkan menggunakan oven agar kadar air tidak lebih dari 12 persen sehingga pelet lebih awet jika disimpan dalam jangka waktu tertentu.

“Keuntungan pakan pelet apung adalah petani ikan lebih mudah memonitor penggunaan pakan karena pakan pelet berada di permukaan air sehingga bisa diketahui apakah pakan yang diberikan telah mencukupi kebutuhan ikan atau belum, dan kehilangan pakan akibat pemberian pakan berlebih dapat diminimalisir, sehingga penggunaannya lebih efisien,” tambah Budi yang kini memiliki omset hingga ratusan juta per bulan.

Budi mengaku pakan buatannya tersebut telah diuji di laboratorium IPB (Institut Pertanian Bogor) selain itu telah diujicoba untuk ikan-ikan di kolamnya sendiri dan di 30 petani ikan binaannya serta dipakai oleh Komunitas Lele Nusantara.

“Dari hasil pengamatan dan penelitian, ternyata pakan yang yang kami formulasikan hasilnya tidak kalah dengan pakan pabrikan, artinya dalam waktu yang sama tonase ikan yang dihasilkan relatif sama padahal biaya pakan yang kita bikin sendiri lebih murah dari pakan pabrikan,”ungkap pria alumni Universitas Sanata Sharma tersebut.

“Ujicoba produk dan perbaikan formulasi pakan terus dilakukan untuk menghasilkan produk yang sempurna sehingga suatu saat nanti bisa dilempar ke pasar yang lebih luas. Harapannya pakan ini bisa diterima oleh petani ikan khusus nya di Sleman dan seluruh nusantara sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani ikan air tawar,” harapnya. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts