Puskesmas Mlati II, Cagar Budaya Fasilitas Kesehatan Pertama di Sleman

Sleman – Puskesmas Mlati II tercatat sebagai fasilitas kesehatan pertama yang ada di Kabupaten Sleman. Catatan sejarah ini layak untuk dibanggakan dan patut dijaga keberadaannya.

Awalnya Puskesmas Mlati II dahulu adalah rumah sakit pembantu milik Rumah Sakit Petronella (kini RS Bethesda-red) yang dibuka tahun 1929. Lokasi puskesmas berada di dekat Pabrik Gula Cebongan yang dibangun tahun1879 oleh keluarga Enger. Pada masa itu, untuk meluaskan jangkauan pelayanan, banyak rumah sakit swasta biasanya membuka klinik atau rumah sakit pembantu di pelosok yang jauh dari rumah sakit pusat. Klinik atau rumah sakit pembantu tersebut biasanya dibangun di dekat titik pusat keramaian seperti pusat pemerintahan distrik atau emplasemen pabrik gula.

Dari segi bentuk bangunan Puskesmas Mlati II terdiri dari bangunan induk dan bangunan tambahan di kiri dan kanan yang dihubungkan dengan selasar. Arah hadap bangunan menghadap ke timur. Ditambah dengan sedikit keunikan yaitu memiliki ciri bangunan indis (bangunan gaya Belanda-red) yang ditandai dengan langit-langit dan jendela tinggi, beranda depan dan belakang, denah simetris, serta bangunan tambahan di samping kanan kiri bangunan induk.

Rumah sakit pembantu ini sempat ditutup tahun 1932, lalu kembali dibuka tahun 1935. Sesudah kemerdekaan, pengelolaan puskesmas Mlati II diserahkan kepada pemerintah. Jadi kini status kepemilikannya adalah milik Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, menurut Tim Ahli Cagar Budaya Sleman (TACB) yang melakukan observasi dan studi pustaka untuk mengetahui keadaan saat ini dan sejarah terbentuknya rumah sakit pembantu tersebut menjadi Puskesmas Mlati II.

Bangunan Puskesmas Mlati II merupakan bangunan Belanda yang berkaitan dengan fasilitas kesehatan di Sleman yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan pekerja pabrik gula pada masa penjajahan Belanda. Ketika masa penjajahan berakhir dan Belanda ingin meninggalkan Indonesia, seluruh pabrik gula dihancurkan oleh Belanda kecuali Pabrik Gula Madukismo yang terletak di luar Kabupaten Sleman.

Dihancurkannya pabrik-pabrik gula tersebut karena Belanda merasa bahwa pabrik-pabrik gula tersebut adalah miliknya dan akan mengurangi salah satu peluang penyokong roda perekonomian Indonesia karena pada masa itu, gula menjadi salah satu kekayaan Indonesia yang bernilai tinggi. Walau pabrik gula di daerah telah habis dihancurkan, fasilitas kesehatan berupa bangunan Puskesmas Mlati II ini tetap utuh berdiri dan kini merupakan cagar budaya di Sleman.

Sejalan dengan sejarah Puskesmas Mlati II ini, Rislaini, Kepala Seksi Museum dan Purbakala (Kasi Muskala) Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menuturkan bangunan Puskesmas Mlati II ini bisa menunjukkan sejarah perjuangan masyarakat dulu dalam mengelola gula hingga menjadi kualitas dengan standar yang dapat diekspor.

Masih adanya puskesmas yang dahulu merupakan rumah sakit pembantu dari Rumah Sakit Bethesda ini, diharapkan Ruslaini dapat menjadi narasi sejarah yang dapat diketahui dan dijaga oleh generasi yang akan datang.

“Kalau dahulu itu rumah sakit, namun saat ini belum bisa disebut dengan rumah sakit dengan besar bangunan seukuran itu. Namun bisa diakui bahwa kita boleh berbangga diri untuk mengakui kehebatan nenek moyang kita pada zaman itu namun sangat perlu menjaga kelestariannya,” ujar Ruslaini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/4/19).

Begitupun dengan Veronica Evita Setianingrum, Kepala Puskesmas Mlati II ada harapan besar yang dinantinya setelah turun Surat Keputusan Puskesmas Mlati II yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan kategori bangunan.

“Harapannya dapat dimanfaatkan dengan baik dan ada bantuan dari pemerintah untuk pemeliharaan gedungnya karena ini merupakan gedung lama dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena ini juga peninggalan bersejarah tentunya itu menjadi tanggung jawab pemerintah juga menjaga kelestariannya. Selain itu sebenarnya generasi saat ini bisa belajar dari arsitektur lama, bagaimana kita bisa hemat energi dengan bangunan yang tetap terjaga keasriannya,” kata Evita.

Menurutnya, penting melestarikan, menghargai kebudayaan, dan memanfaatkannya seoptimal mungkin, meski bentuk bangunannya sudah kuno dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dikatakan Evita, bangunan Puskesmas Mlati II justru sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang tropis sejak zaman Belanda sehingga menurutnya bangunan ini tidak membutuhkan Air Conditioner (AC) karena bentuknya yang tinggi dan terbilang istimewa. (Rep Rara)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts