Restorasi Mangrove Berdampak Positif Bagi Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Dalam upaya pemulihan dan pelestarian mangrove yang tepat dalam mendukung target pengurangan emisi, sekaligus berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan ketahanan pangan maka Social Investment Indonesia (SII) menyelenggarakan diskusi secara daring menggunakan Aplikasi Zoom Cloud Meeting bertajuk Restorasi Mangrove Guna Mendukung Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia, Jumat (30/4/ 2021) sore.

Narasumber yang hadir yakni Onrizal, Ph.D, Dosen sekaligus peneliti pada Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara yang membahas keberadaan mangrove dalam menyerap karbon sebagai upaya pencegahan perubahan iklim, Yuli Gunawan selaku Senior Manager Corporate Community PT. Badak Natural Gas Liquefaction yang memaparkan tentang konservasi mangrove, serta I Nyoman Suryadiputra selaku Senior Advisor organisasi nirlaba global Wetlands International Indonesia yang mengupas tentang konsep rehabilitasi mangrove untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Diskusi tentang pembangunan rendah karbon yang dipandu oleh Fajar Kurniawan ini diikuti 300 partisipan yang terdiri dari para akademisi, birokrasi, pegiat lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, termasuk kelompok informasi masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai pemantik diskusi, Managing Partner Social Investment Indonesia, Fajar Kurniawan menyampaikan bahwa mangrove merupakan salah satu solusi berbasis alam bagi pembangunan berkelanjutan yang dapat menyimpan dan menyerap karbon jauh lebih banyak dibanding hutan tropis. Di samping itu, pembangunan rendah karbon menempatkan tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) sebagai dasar utama untuk mendukung Sustainable Development Goals.

Hal tersebut dikuatkan oleh peneliti dari fakultas kehutanan Universitas Sumatera Utara, Onrizal bahwa restorasi mangrove harus berbasis ilmiah dengan mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan kelembagaan.

“Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Murdiyarso (2015) mangrove memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang tinggi.  Pemanfaatan hutan untuk keperluan yang bersifat destruktif seperti pengambilan kayu juga tidak bisa dihindari karena kayu juga merupakan kebutuhan dari manusia. Sedangkan disisi lain, pohon hidup dapat menyerap dan menyimpan cadangan karbon yang akan semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan laju pertambahan biomassanya,” ungkap Onrizal.

Senior Advisor Wetlands International Indonesia, I Nyoman Suryadiputra memberikan percontohan model tambak sylvo-fishery dapat dipadukan dengan kegiatan wisata alam dan kegiatan perekonomian lainnya, seperti budi daya kerang, budi daya tanaman hortikultura di pematang tambak, serta lomba mancing di dalam tambak, sehingga kolam yang dihijaukan memiliki nilai tambah ekonomi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts