Sendratari Tirta Kamulyan Jati, Pertunjukan Tari yang Mengangkat Cerita Rakyat Sinduharjo

Sleman – Sendratari Tirtaning Kalmulyan Jati dari Kalurahan Sinduharjo Ngaglik, Sleman menyemarakkan Pentas Seni Desa/Kalurahan Budaya yang diselenggarakan secara daring oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Selasa (22/3/2022) sore di Gedung Bina, Kundha Kabudayan DIY.

Menurut Dwi Murti Ardiyani, Pendamping Kalurahan Budaya Sinduharjo, Sendratari yang berjudul Tirtaning Kamulyan Jati itu diambil dari cerita rakyat tentang keberadaan Sendang Rohani di Jaban Sinduharjo. “Cerita itu sudang berkembang sejak dahulu, kemudian tahun 2020 diangkat ke dalam sebuah Seni Drama Tari oleh Anjani sebagai penata tarinya untuk pentas Selasa Wagen,” jelas Dwi.

Sendang Rohani yang menjadi ide cerita Sendratari Tirtaning Kamulyan sendiri menceritakan Raja Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat mengutus bala prajurit untuk melakukan labuhan di lereng Merapi. Perjalanan panjang ditempuh dengan berjalan kaki, dan hanya dilakukan oleh utusan Kasultanan. Karena bala prajurit lelah, maka beristirahat disuatu tempat pinggir aliran kali Boyong.

Setelah rasa lelahnya hilang bala prajurit bergegas melanjutkan perjalanan menuju lereng Merapi. Tak disangka, salah seorang prajurit tertinggal di kisaran kali Boyong tempat peristirahatan. Namun ketika prajurit yang tertinggal akan melanjutkan perjalanan menyusul rombonganya, naas tertahan karena dihalangi makluk halus. Apa daya, ia tak mampu mengalahkannya, akhirnya meninggal.

Selang  beberapa waktu, ketika bala prajurit yang lain berusaha mencarinya, ditemukanlah prajurit yang tertinggal itu dalam keadaan tergeletak dan meninggal di kisaran kali Boyong. Anehnya, ketika mayat diangkat, dari bawah muncul mata air yang sangat jernih. Maka sejak itu sedang dengan air sangat jernih dinamakan Sendang Rohani

Kisah cerita rakyat yang dalam pentas seni desa/kaluran budaya tahun 2022 ini diangkat kembali tetapi dalam bentuk sendratari, dengan penata tari masih Anjani pemudi asal Jaban, dengan sinopsis ditulis Nurjayanto Prasetyo pendamping Kalurahan Budaya Sinduharjo.

Untuk pementasan berdurasi sepuluh menit itu,digarap lebih apik, dimainkan oleh seniman seniwati muda lokal dengan penuh penghayatan. Kisah Sendang Rohani yang menjadi kebanggaan Kalurahan Sinduharjo itu digali dari narasumber sesepuh Padukuhan Jaban, Sudarmono dan Sugi.

Baik Dian dan Nurjayanto selaku pendamping budaya, mendorong masyarakat untuk menggali potensi kisah kisah cerita rakyat lainya yang sudah ada untuk ditulis didokumentasikan serta diangkat dalam sebuah sendratari. “Tujuanya agar tetap diketahu oleh masyarakat, terutama untuk generasi muda. Cerita-cerita ngaten menika perlu pun serat, pun simpen, syukur dados sendratari supados mboten ical (Cerita-cerita seperti itu perlu ditulis, perlu disimpan. Syukur-syukur jadi sendratari supaya tidak hilang),” pinta kedua pendamping budaya itu. (Tri Joko S/KIM Kalasan)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts