Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika Tumbuhkan Toleransi Masyarakat

Dalam rangka menggerakkan dan mewujudkan kehidupan bersama yang rukun dan damai tanpa membedakan Suku, Ras, Agama (SARA) dan Golongan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DIY menggelar kegiatan sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika dengan tema ‘Pemahaman Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika Dalam Bingkai Keistimewaan DIY’ yang dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai II Kantor Kapanewon Gamping, Selasa (15/6/2021).

Sosialisasi Pilar kebangsaan ini dihadiri oleh Kepala Sub Bidang Ketahanan Sosial Budaya Bakesbangpol DIY, Markus Suardiman, Dosen Universitas Kristen Duta Wacana, Retno Dwi Hastuti, serta Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping, Harley Joshua.

Dalam paparannya, Markus Suardiman menjelaskan bahwa DIY merupakan salah satu daerah istimewa di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki masyarakat dengan berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya. Sehingga rasa kebhinnekaan Tunggal Ika dinilai sangat penting untuk terus dipupuk dan aplikasikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

“Tujuan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah mempersatukan bangsa Indonesia, mempertahankan kesatuan bangsa, meminimalisir konflik atas kepentingan pribadi atau kelompok serta mencapai cita-cita negara Indonesia,” lanjut Markus.

Menurut Matkus, seringkali interaksi dari keberagaman tersebut menimbulkan gesekan-gesekan di tengah masyarakat ditambah dengan pesatnya intensitas komunikasi global tidak jarang gesekan-gesekan tersebut berujung pada konflik horisontal yang bersifat SARA dan memunculkan berbagai potensi konflik di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Adapun cara menyikapi keberagaman adalah dengan menerapkan toleransi. Karena toleransi merupakan cara menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perilaku, budaya, agama, dan ras yang ada di dunia ini. Selain itu, toleransi adalah keniscayaan bagi bangsa majemuk dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras seperti Indonesia,” imbuhnya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Retno Dwi Hastuti dalam materinya praktek Bhinneka Tunggal Ika dalam memperkuat persatuan Indonesia bahwa nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain toleransi, gotong royong, kerukunan, dan keadilan. Hal ini perlu dipupuk dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat sebagai kearifan local guna menangkal ancaman ke-Bhinneka Tunggal Ika-an.

“Ancaman yang menimbulkan perpecahan berupa sentimen identitas (SARA), perbedaan pandangan politik, konflik kepentingan, kesenjangan social dan ekonomi, serta penggunaan teknologi komunikasi yang tidak bijak,” tegas Retno. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts