Bersatu Padu Lindungi Anak dan Perempuan

Ngaglik – Desa Sardonoharjo disebut sebagai salah satu desa
di kabupaten Sleman yang memiliki banyak hal yang positif maupun negatif. “Sumber
daya alamnya luar biasa dan sumber daya manusia yang juga luar biasa. Sebaliknya
kenakalan remaja, KDRT, bullying, dan sebagainya pasti juga ada,” ujar Bayu
Kristanto, Kasi Pelayanan Desa Sardonoharjo saat kegiatan Replikasi tentang
Perlindungan Anak Terpadu Berbagi Masyarakat di Desa Sardonoharjo, Kecamatan
Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (4/7/2019).

Karena itu kepedulian masyarakat terhadap keluarga dan
lingkungan sekitar harus dipupuk dari sekarang. Masa depan Sardonoharjo ada di tangan
anak-anak, dan perempuan sebagai penopang keharmonisan keluarga harus diperhatikan
benar.

Agus Riyanto sebagai narasumber dalam kegiatan ini berharap masyarakat
bersama-sama bersatu padu melakukan gerakan untuk perlindungan anak dan
perempuan. “Dengan dukungan dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, ulama, RT,
RW, dan komunitas peduli lainnya diharapkan nantinya dapat mewujudkan
lingkungan yang nyaman dan aman bagi warganya, utamanya anak dan perempuan,”
kata Agus Riyanto.

Menurut Agus, menyelamatkan generasi muda berarti juga menabung
lansia yang berkualitas.(KIM Ngaglik/ESK)




FORANS Salah Satu Implementasi Sleman Ramah Anak

Jumat (19/1) pukul WIB, DPRD Sleman, mengadakan Audiensi Forum Anak dan pengenalan proses kepemerintahan Kabupaten Sleman di Gedung DPRD Sleman. 

Untuk mewujudkan Sleman yang ramah anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (P3AP2KB) Kabupaten Sleman membentuk Forum Anak Sleman (FORANS) pada November 2009.

Dalam kesempatan ini, anggota FORNAS yang telah dilantik pada Desember 2017 lalu, difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman untuk melakukan simulasi dialog seperti layaknya para anggota legislatif DPRD Sleman.

Kepala Dinas P3AP2KB, Mafilindati Nuraini, dalam sambutannya berharap agar FORANS dapat menjadi pelopor dan pelapor perwakilan anak-anak Sleman. Pelapor di sini terkait dengan hal-hal negative yang mungkin terjadi di kalangan anak-anak sehingga dapat ditindaklanjuti oleh instansi yang berwenang atau yang membidangi.

FORANS juga diharapkan menjadi salah satu upaya agar anak Sleman dapat memiliki kecerdasan, iman, dan takwa yang baik untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

“Kami prihatin adanya permasalahan-permasalahan yang terjadi tentang anak, juga pada perempuan kasus yang terdata di Unit Pelayanan Teknis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPT P2TP2A) tercatat 471 kasus,” ungkap Linda.

Dari 471 kasus, 111 kasus kekerasan terhadap laki-laki dan 360 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdiri dari 175 korban anak-anak dan 296 korban dewasa.

“Kasus-kasus ini harus dilakukan upaya preventif agar di kemudian hari tidak terjadi kasus serupa dan kasus yang ada agar tidak berulang. Selain itu, pemerintah Sleman memfasilitasi dan menaungi FORANS, kami juga melakukan sosialisasi pelayanan PUSAGA,” tambah Linda.

 




Forum Anak Turi Lestarikan Dolanan Bocah

Turi – Forari (Forum Anak Turi) mengadakan pertemuan pada Sabtu (23/12) di Ruang Rapat Kecamatan Turi. Pertemuan dihadiri oleh seluruh pengurus dan perwakilan Forum Anak Desa dan Kepala Seksi Kesejahteraan Kecamatan Turi, Supriharjo.

Forari mulai terbentuk sejak tahun 2012 dan diketuai oleh Muhamad Anwar. Adapun sebagai anggotanya adalah perwakilan anak dari seluruh desa di wilayah Kecamatan Turi.

Program kerja Forari adalah membentuk Fornandes (Forum Anak Desa) dan mengadakan sosialisasi tentang hak dan kewajiban anak, serta kegiatan lainnya.

Perlu diketahui bahwa Fornandes di 4 desa di wilayah Kecamatan Turi yaitu Desa Bangunkerto, Donokerto, Girikerto, Wonokerto sudah terbentuk kepengurusannya. Tujuan dibentuknya forum anak dari tingkat desa sampai kecamatan ini adalah dalam rangka mendukung terwujudnya desa dan kecamatan yang ramah dan layak anak menuju Kabupaten Sleman layak anak.

Pertemuan kali ini juga membahas kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Forari untuk mengisi liburan sekolah yang cukup lama supaya dapat bermanfaat untuk anak, yaitu acara POELAH DOREMI (Kumpul Bocah Dolanan Bareng Ramai-Ramai).  POELAH DOREMI merupakan acara bermain bersama anak-anak dengan permainan dolanan bocah agar tidak punah. Acara akan diadakan Rabu (27/12) bertempat di Lapangan Bola Voli Dusun Wonosari, yang akan diikuti 50 anak. (Harman)




Keselamatan Ibu dan Anak Jadi Program Prioritas

Turi – Puskesmas Turi mengadakan pertemuan advokasi kesehatan Kecamatan Turi, Selasa (31/10) di Aula Kecamatan Turi. Adapun tema yang diambil adalah Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Tanggung Jawab Bersama.

Acara ini mengundang dari unsur karang taruna, kader kesehatan, PMI, perangkat desa se-Kecamatan Turi. Turut hadir pula dari Kapolsek Turi, Koramil, Kepala Seksi Kesmas Turi, dan KUA Turi.

Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Turi, dr. Pinky Christina Dewi, mengatakan menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah program prioritas kesehatan ibu dan anak. AKI dan AKB menjadi indikator kuat untuk menilai keberhasilan program kesehatan di suatu wilayah

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Kesehatan Masyarakat Turi di tahun 2016 dan 2017 ini, di wilayah Turi terdapat kematian ibu satu kasus setiap tahunnya. Sedangkan untuk kematian bayi selalu ada dari tahun 2015 hingga 2017.

Hal ini menjadi keprihatinan kita semua sehingga diharapkan muncul kembali kebijakan wawasan kesehatan untuk meningkatkan keselamatan ibu dan bayi disertai dengan implementasinya. Pinky juga meminta agar semua masyarakat selalu peduli pada kesehatannya dan mengoptimalkan Gerakan Masyarakat Peduli Kesehatan (GERMAS). (Harman)

 




Ngaglik Gelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak

Ngaglik – UPT Pendidikan, Forum PAUD, dan Kecamatan Ngaglik membuat langkah yang cerdas dalam upaya mengurangi dan membatasi terjadinya pelanggaran kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Kecamatan Ngaglik dengan menyelenggarakan Sosialisasi Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Senin (30/10).

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Ngaglik mewakili Camat Ngaglik, sangat  menyambut baik dan mengapresiasi diadakannya Sosialisasi Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak bagi para Guru PAUD/KB, TK, dan SD se-Kecamatan Ngaglik.

Diikuti oleh 80 peserta, sosialisasi ini diharapkan bisa mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungannya masing-masing sehingga Kecamatan Ngaglik dapat terhindar berbagai hal terkait kekerasan.

Dalam kesempatan ini hadir pula Sarjimin sebagai Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Ngaglik yang dalam sambutannya menyampaikan apa yang disampaikan Bapak Presiden Jokowi bahwa Indonesia ketinggalan dalam bidang pendidikan.

Ketinggalan di sini maksudnya adalah dalam sistem maka perlu adanya perubahan sistem, yang mana dulu mengarahkan menjadi pekerja, buruh, dan pegawai, ke depan diarahkan untuk menjadi pimpinan, pemilik, dan bos. Ini agar dapat membuka lapangan kerja sehingga sumber daya alam yang melimpah bisa dikelola oleh sumber daya manusia yang tangguh

Sarjimin menambahkan bahwa anak bisa merencanakan masa depan dengan cara membuat pohon cita-cita. Untuk mencapai cita-cita ini juga harus perlu pendampingan yang maksimal dari orang tua dan sekolah dalam memberikan ilmu, keterampilan dan mengarahkan cita-cita.

Dalam sosialisasi ini juga menghadirkan narasumber praktisi psikologi Kecamatan Ngaglik, Tri Novita Herdalena, yang akan membahas tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Menurut Novita memang ada peningkatan kasus kekerasan di Kecamatan Ngaglik. Oleh karena itu, dengan sosialisasi ini diharapkan para guru berbagai tingkatan bisa membantu pencegahan di lingkungannya masing-masing. Sebab, menurut Novita jika sudah terjadi kasus maka akan sulit dan lama penanganannya karena ada 3 hal yang terkena yaitu korban, pelaku, dan saksi mata. Untuk mencari penyelesaian sangat sulit membutuhkan keahlian tersendiri perlu kolaborasi antar instansi lembaga terkait.

Pada akhir sesi diisi pakar psikologi dari UGM, Novi Chandra yang mengkritisi tentang setting pendidikan Indonesia yakni setting manajemen kelas yang terasa tidak adil dan tidak sosial. Dituturkan Novi, setting kelas yang baik adalah melingkar sehingga semua merasa adil dan bisa tatap muka langsung dan aksesnya sama.

Novi menyampaikan pula soal lingkungan sekolah yang kurang diperhatikan misalnya WC kotor, gelap, tersembunyi, ini akan terjadi hal yang tidak kita inginkan bersama. Selain itu, mengenai etika. Di sekolah harus ada kode etik atau tata tertib sekolah dan semua guru, murid, orang tua harus paham tata tertib tersebut agar menimbulkan kepercayaan dan penghargaan terhadap sesama. (Suripto)