Tanggulangi Dampak Bencana Angin Puting Beliung, Kecamatan Turi Dirikan Posko

Turi – Pemerintah Kecamatan Turi bersama relawan dirikan posko bencana dan dapur umum di kompleks Kantor Kecamatan Turi. Camat Turi Abdul Haris Sunarya mengatakan pendirian posko ini adalah untuk mendata semua kerusakan yang ada di seluruh kecamatan Turi, mengingat banyak kerusakan yang terjadi akibat puting beliung yang terjadi Jumat (22/2/2019) sore.

Adapun posko terdiri dari PMI, SAR, Tagana, dan juga relawan dari berbagai komunitas. Menurut koordinator posko Agus Riyanto, semua unsur elemen dalam posko mempunyai tugas sendiri sendiri.

”Untuk SAR bertugas mendata semua kerusakan yang ada seperti kerusakan rumah dan bangunan  genteng, asbes, seng yang rusak terbawa angin maupun pohon yang tumbang baik yang menimpa rumah maupun yang mengganggu akses jalan dan kemudian dilaporkan secara rinci ke BPBD Sleman. Sedangkan dari tim Tagana bertugas mendirikan dapur umum dan di bantu oleh relawan lainnya untuk menyuplai logistik dari ratusan relawan yang bekerja,” terang Agus Riyanto, Sabtu (23/2/2019).

Bupati Sleman Sri Purnomo datang langsung ke Kecamatan Turi didampingi Camat Turi Abdul Haris Sunarya, Kades Bangunkerto Anas Maruf, dan Kades Donokerto Waluyo Jati untuk meninjau posko bencana dan lokasi lokasi yang terdampak bencana angin kencang puting beliung  yang cukup parah. Di lokasi ada banyak pohon tumbang yang merusak atap rumah, melintang jalan dan merobohkan pohon salak yang menjadi komoditas utama masyarakat Turi. Sedangkan untuk data korban manusia cuma satu orang terluka di bagian tangan tertimpa asbes yang jatuh dan sudah bisa tertangani.

Hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Turi hari Jumat (22/2/2019) menyebabkan sejumlah kerusakan di Desa Donokerto, Wonokerto dan Bangunkerto. Dampak paling parah terlihat di Desa Donokerto. Selain hujan deras dan angin kencang, beberapa warga juga mengaku kejadian bencana ini juga disertai hujan es. Secara keseluruhan, tidak ada korban jiwa untuk kejadian bencana angin di Kecamatan Turi ini. (KIM Turi/Harman).




Sleman Bekali Warga Kemampuan Mitigasi Bencana

Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk terus membekali masyarakat dengan kemampuan mitigasi bencana. Kegiatan Lapang penanganan kejadian bencana angin kencang dan pengukuhan Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dinilai bisa melatih peran serta masyarakat dalam menanggulangi dan mengurangi resiko bencana.

Demikian diungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, di sela-sela pengukuhan PRB di Lapangan Desa Margodadi, Seyegan, Minggu (21/7/18).

“Pemkab Sleman terus mendukung pembentukan Desa Tangguh Bencana. Dari tahun 2014 sampai dengan hari ini di Sleman sudah dikukuhkan sebanyak 43 Desa Tangguh Bencana,” jelas Joko.

Menurut Joko, Kabupaten Sleman dianugerahi karakteristik wilayah yang beragam. Setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda-beda. Sleman memiliki ancaman bencana berupa erupsi Gunung Merapi, banjir, angin puting beliung, petir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, maupun gempa bumi.

“Hingga bulan Juni 2018 ini telah terjadi 48 kejadian bencana angin kencang dengan sebanyak 9 titik terjadi di Kecamatan Seyegan, bencana tanah longsor sebanyak 29 kejadian, bencana banjir 5 kejadian, 9 kejadian bencana petir den 66 kejadian bencana kebakaran,” beber Joko.

Joko menjelaskan, dalam setiap mitigasi bencana, pemerintah tidak dapat mewujudkan upaya tersebut tanpa didukung oleh masyarakat dan tim relawan. Sementara itu, kondisi masyarakat terlatih sampai dengan tahun 2017 baru sebanyak jiwa.

“Di pertengahan tahun 2018 ini meningkat menjadi jiwa. Kesiap-siagaan seluruh unsur menjadi poin penting dalam meminimalisir dan mengelola kebencanaan di wilayah kita,” pungkasnya.

 




Selama 3 Hari 73 Rumah Rusak Akibat Angin Puting Beliung

Sleman – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM menyampaikan data akibat adanya hujan deras yang disertai angin puting beliung yang melanda Kabupaten Sleman selama tiga hari berturut – turut sejak tanggal 24, 25 dan 26 Maret 2015 yakni untuk rumah rusak mencapai 73 rumah dengan rincian 60 rusak ringan, 11 rusak sedang dan 2 rusak berat. Pohon yang tumbang baik dipinggir jalan maupun milik warga mencapai 400 lebih pohon.

“Rumah rusak paling banyak terjadi hari Kamis, 26 Maret 2015 dengan 36 rumah rusak sedang 30 rusak ringan dan 6 rusak sedang, di wilayah Kecamatan Sleman, Mlati dan Ngaglik,” kata Julisetiono di Sleman, Jumat (27/30.

Sementara lanjut Julisetiono secara keseluruhan selam 3 hari wilayah yang terkena angin putting beliung yakni Wilayah Kecamatan Sleman, Mlati, Ngaglik, Tempel, Turi, Seyegan, Minggir dan Moyudan.

Prioritas penanganan yang dilakukan pasca terjadi angin yakni melakukan pemotongan pohon tumbang yang menghalangi jalan-jalan dengan melibatkan TRC BPBD, BLH, TNI, POLRI, Relawan dan masyarakat, dan inventarisasi kerusakan untuk pemberian bantuan logistik dan terpal/deklit serta untuk pemberian santunan bagi yang meninggal Rp 2 juta per orang dan untuk rumah rusak berat Rp 2 juta, sedang Rp 1 juta dan ringan Rp 500 ribu.

Ditambahkan Julisetiono untuk bantuan perawatan rawat inap Rp 1 juta dan rawat jalan Rp 500 ribu. Untuk bantuan kerusakan rumah belum ada yang dicairkan karena masih melalui proses pengajuan oleh Kepala Desa dan diketahui Camat, selanjutnya diverifikasi di BPBD untuk tindak lanjut pencairan bantuan.

Untuk itu Julisetiono menghimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan bila terjadi hujan dan angin serta melakukan pemotongan ranting yang terlalu rindang dan dirasa membahayakan serta pohon yang tinggi bisa dipangkas/dipotong asal jangan sampai keseluruhan dipotong.

Julisetiono juga meminta Badan Lingkungan Hidup (BLH) melakukan evaluasi dan inventarisasi pohon-pohon dipinggir jalan yang membahayakan untuk antisipasi pohon roboh.




Rumah Roboh Diterjang Angin Puting Beliung 3 Orang Meninggal 1 Luka-Luka

20150325_172109Sleman – Hujan deras disertai angin puting beliung yang terjadi di Dusun Manggung Desa Tambakrejo Kecamatan Tempel Sleman sekitar pukul WIB mengakibatkan pohon pertumbangan dan rumah roboh. Akibatnya 3 orang tewas karena terkena reruntuhan bangunan rumah dan satu orang luka-luka.

Ketiga korban meninggal adalah Ny Sutanti (55) pemilik rumah dan adiknya Ny Sukilah (50) meninggal di RSU Morangan Sleman. Sedangkan menantu Ny Sukilah yang bernama Theresia Widiastuti (30) meninggal dilokasi kejadian karena tertimpa bangunan rumah. Dan anak Ny Sutanti yang bernama Bintang mengalami luka-luka. Korban meninggal karena sedang memasak di dapur tertimpa reruntuhan dapur.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI begitu mendapat laporan langsung ke lokasi kejadian didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Drs Juli Setiono, Camat Tempel Drs Wildan Solichin dan Kepala Desa Tambakrejo. Bupati mengunjungi rumah korban dan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Selain itu Bupati juga langsung memerintahkan untuk  membersihkan puing-puing bangunan.

Tim dari BPBD Kabupaten Sleman  dan masyarakat langsung kerja bakti membersihkan pohon-pohon yang tumbang melintang di jalan.

“Karena waktu sudah malam bersih-bersih pohon yang tumbang dilanjutkan besok (Kamis, 26/3) sekaligus takziah korban. Bantuan darurat juga langsung diberikan,” kata Sri Purnomo.

Informasi yang diperoleh, hujan deras mulai sekitar pukul WIB dan selanjutnya disertai angin kecang sekitar pukul WIB pohon tumbang menimpa rumah Ny Sutanti dan mengakibatkan 3 meninggal.