Semua Kecamatan di Sleman Rawan Angin Ribut
Sleman – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan memasuki peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, warga Sleman dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaannya. Sebab pada pergantian musim tersebut biasanya diiiringi bencana musiman seperti angin kencang dan longsor.
“Untuk mengantisipasinya BPBD Sleman sudah melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang rawan terdampak bencana,” kata Julisetiono, Jumat (13/11).
Adapun bencana yang paling sering terjadi saat masa pancaroba antara lain angin kencang, sambaran petir, tanah longsor, dan banjir.
“Yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung. Dan potensinya ada di 17 kecamatan,” kata Julisetiono.
Menurutnya dengan kondisi geografis Kabupaten Sleman yang sebagian besar berupa lembah, sangat memungkinkan menjadi titik pertemuan angin. Kondisi itu membuat bencana angin ribut sulit diprediksi.
“Sleman diapit oleh pegunungan, sehingga sangat memungkinkan terjadi angin kencang karena adanya pertemuan angin dari beberapa titik,” tuturnya.
Meski sulit diprediksi, Julisetiono menambahkan masyarakat dapat mengenali tanda-tanda alam yang berpotensi terjadinya angin ribut. Tanda-tanda awal terjadinya angin ribut antara lain terjadinya gumpalan awan pekat disertai perubahan suhu yang signifikan.
Terlebih jika pagi hingga siang panas menyengat tapi menjelang sore cuaca berubah menjadi mendung dan berpotensi hujan. Jika mengetahui tanda-tanda tersebut, warga harap mengurangi aktifitas di luar ruang lantaran angin puting beliung dapat sewaktu-waktu terjadi.
“Jika sudah terjadi angin kencang, warga diminta berlindung di dalam rumah atau bangunan yang kokoh,” tambah Julisetiono.
Untuk menanggulangi bencana di musim hujan ini BPBD Sleman juga sudah mulai melakukan mitigasi bencana angin kencang. Upaya yang dilakukan adalah dengan memangkas dahan pada pohon perindang di sisi jalan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko saat terjadi angin kencang.