Donokerto Terapkan Sistem Sedekah Sampah

Turi -Pemerintah Desa Donokerto dan Puskesmas Turi sangat peduli dengan permasalahan sampah rumah tangga karena itu Pemerintah Desa Donokerto sangat gencar mensosialisasikan cara pengelolaan sampah. Sosialisasi tentang pengelolaan sampah hasil kerjasama Puskesmas Turi dengan Pemerintah Desa Donokerto ini berlangsung, Selasa (31/10) di Dusun Turi Lor.

Sebagai narasuumber dalam sosialisasi tersebut, Suharman, penggiat lingkungan dari Wonosari Bangunkerto Turi, dan Kepala Dukuh setempat.

Di Desa Donokerto sendiri, sudah ada dusun yang mengelola sampanya dengan baik dan ada pula yang belum mengelolanya. Selain itu, ada yang mengelola dengan sistem sedekah sampah, yaitu pemuda di dusun tersebut mengambil dan mengelola sampah kemudian hasilnya untuk kegiatan pemuda.

Tak hanya itu, ada pula model bank sampah di mana sampah dipilah sendiri dan diantar sendiri ke pengumpul sampah di dusun setempat lalu hasilnya sebagian untuk pengurus sampah dan sebagian untuk pemilik sampah. Kegiatan ini telah berlangsung di Dusun Gabugan, Turi Lor, dan Perumahan Gamasri, yang semua padukuhan tersebut masuk di dalam Desa Donokerto.

Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu setempat dan kader-kader kesehatan. Adapun kendala yang dihadapi, pemasaran hasil kerajinan dan pembuangan residu (sampah yang tidak terpakai-red).

Dalam program Desa Donokerto ke depannya akan membuatkan Tempat Penampungan Sampah (TPS) di tingkat RW dan akan membuat TPS yang besar untuk menampung sampah se-Desa Donokerto. (Harman)




Bank Sampah Dikembangkan di Pasar Tradisional

Sleman – Dinas Pasar Sleman mulai mengembangkan bank sampah. Sejak dirintis pada 2015, program itu baru ada di Pasar Cebongan dan Sleman. Rencana tahun ini akan dikembangkan di Pasar Gamping dan Condongcatur. Dipilihnya lokasi pasar itu karena para pedagangnya dinilai telah siap, dan didasarkan penilaian Adipura.

“Kami targetkan setiap tahun ada dua pasar yang diberi fasilitas bank sampah. Disini para pedagang sendiri yang menjadi pengurus dibantu petugas kebersihan kami,” kata Kepala Dinas Pasar Sleman, Dra Tri Endah Yitnani MSi, Minggu  (13/3).

Dari data di dinas, saat ini ada 41 pasar tradisional. Total produksi sampah di semua pasar mencapai 20 ton per hari. Melihat tingginya volume limbah tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menilai perlu pengelolaan secara mandiri.

Melalui bank sampah ini, limbah yang ada di pasar tradisional dipilah tiap satu minggu sekali. Barang yang sekiranya masih dapat dimanfaatkan kemudian dijual ke pemulung, dan uangnya dikembalikan ke pedagang. Sementara limbah organik diolah menjadi kompos yang digunakan untuk memupuk tanaman di lingkungan sekitar dinas dan pasar. Namun sejauh ini mesin pencacah sampah baru tersedia di Pasar Cebongan.

“Alatnya memang masih terbatas, namun sebenarnya bermanfaat karena bisa mengurangi sampah hingga 30 persen,” ujarnya.

Dalam kurun satu tahun terakhir, para pedagang yang mengelola sampah di Pasar Cebongan sudah beberapa kali memproduksi pupuk. Per bulan, produksinya rata-rata berkisar 7-8 kilogram.

Menurut Endah, syarat pengadaan bank sampah cukup mudah. Persiapannya hanya lokasi untuk tempat pemilahan sampah, dan wadah untuk menempatkan residu. Pihaknya berharap bank sampah bisa mendapat antusiasme di kalangan pedagang sehingga bisa semakin berkembang.