Lindungi Batik Lokal Sleman Lewat HKI

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman tengah gencar melakukan perlindungan terhadap produk-produk lokal Sleman, salah satunya adalah batik.

Batik sendiri merupakan produk budaya yang sudah dianggap sebagai salah satu produk local genius. Bahkan, pada tanggal 2 Oktober 2009 UNESCO menyatakan dengan tegas bahwa seni batik telah menjadi warisan budaya dunia tak benda (Intangible Cultural Heritage Humanity).

Di Sleman, Batik Parijotho Salak diakui sebagai motif khas batik Sleman. Motif ini dilansir dari , terinspirasi dari tanaman parijotho, tanaman dedaunan yang banyak tumbuh di kawasan pegunungan.

Untuk melindungi eksistensi batik ini, Sleman memiliki komitmen dan kebijakan yang mengarah kepada pengembangan batik Sleman. Hal ini dibuktikan dengan telah diterbitkannya Peraturan Bupati No. 35 tahun 2015 tentang tata kelola desain batik Sleman.

Kebijakan ini sangat berpengaruh utamanya untuk melindungi batik dalam persaingan di pasaran internasional. Sebab, masalah yang terjadi saat ini adalah banyak negara yangdengan sengaja mengadopsi kerajinan batik, bahkan memakai proses membatik Indo­nesia, sehingga batik dari negara-negara tersebut hampir sama dengan batik In­donesia.

Terlebih faktanya, banyak pelaku usaha kerajinan batik yang belum mengetahui pentingnya pendaftaran paten atau Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai salah satu sarana perlindungan batik.

Padahal menurut Luwi Saluadji, Ketua Pokja Fashion Kadin Indonesia, perlindungan terhadap HKI sangat penting dilakukan.

“Ini adalah merupakan basis kreatifitas, kita bisa berbicara kreatifitas dan lain sebagainya tapi kalau tidak dilindungi dengan HKI yang baik maka yang rugi adalah kita sendiri, industrinya akan rugi, apalagi UMK-UMK,” ungkap Luwi.

Melihat pentingnya setiap pelaku usaha batik untuk mendaftarkan paten atau HKI dari batiknya, Luwi bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Sleman merancang workshop bertajuk “Implementasi Ecolabeling sebagai Merek Kolektif untuk Green Batik” sebagai salah satu rangkaian acara dalam Sleman Fashion Festival 2017.

Workshop ini memaparkan mengenai upaya komunitas asosiasi pembatik Sleman yang sedang mengembangkan brand bersama sehingga dapat dilindungi secara hukum melalui sistem merek kolektif (ecolabeling).

“Melalui organisasi komunitas pembatik ini juga dikembangkan sistem pengawasan terkait dengan pemasaran produk-produk batik Sleman”, tutur Budi Agus Riswandi, Direktur Eksekutif Pusat HKI Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia saat ditemui pada workshop, Senin (7/8).

Tak hanya di situ, Budi menjelaskan bahwa penggunaan merek kolektif pada asosiasi pembatik Sleman juga akan memberikan banyak keuntungan. “Salah satunya, dapat memfasilitasi kerjasama antara produsen lokal dan pedagang dan meningkatkan kontrol kualitas,” ujar Budi.

Karena seperti diketahui, Batik Sleman terkenal dengan kualitasnya yang baik. Ini dilihat dari penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan. Budi pun berharap ke depannya, penggunaan merek kolektif ini bisa dilakukan oleh seluruh pembatik di Sleman sehingga batik Sleman dapat dilestarikan dan dilindungi keberadaannya.

 




Lomba Fashion Show Ajang Promosi Batik Sleman

Sleman – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman dalam rangka menyemarakkan Pasar Lebaran yang sudah dimulai dari hari Senin (12/6) mengadakan Lomba Fashion Show pada Rabu (14/6) pukul WIB di Kantor Disperindag Kabupaten Sleman. Lomba Fashion Show ini diikuti oleh 21 orang PNS dari SKPD di Kabupaten Sleman.

Kustini Sri Purnomo selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman dalam sambutannya mengungkapkan apresiasinya terhadap peserta lomba Fashion Show ini.

“PNS kerjaannya numpuk tapi beliau-beliau ini sudah peduli dan bisa tampil begitu PD (percaya diri-red) dengan adanya fashion show ini,” puji Kustini.

Harapannya dengan Fashion Show yang bertemakan Berlebaran dengan Batik Sleman ini, PNS dapat menjadi corong penggerak di daerahnya masing-masing agar masyarakat mau menggunakan batik Sleman. “Batik Sleman itu tidak kalah dengan penampilan-penampilan batik yang ada di Indonesia khususnya,” tutur Kustini.

Emmy Wulan Arumdati, , M.A, , salah satu peserta Lomba Fashion Show yang berasal dari Dinas Komunikasi dan Informatika Sleman, membeberkan motivasinya terlibat dalam lomba ini. “Biar bisa mempromosikan produk industri UMKM yang ada di Sleman, salah satunya kan batik,” beber Emmy.

Emmy mengakui meski kontribusinya terbilang kecil tapi mempromosikan batik dengan cara memakainya adalah bentuk persuasi nyata yang bisa dilakukannya.

Fashion Show ini mengundang tiga juri, yakni Sugita seorang seniman, Rony Billiardo Tinus seorang model, dan Lany Amborowati selaku designer dan pengamat fashion. Adapun hadiah yang bisa didapatkan oleh pemenang, antara lain trofi, uang tunai, dan bingkisan dari Wardah.




Suara Kicauan Burung Warnai Pembukaan Dan Launching Batik Sleman

Sleman – Pameran potensi daerah dan Gelar ragam budaya Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di kompleks gedung serbaguna dan lapangan Denggung Sleman, dibuka oleh  Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, Jumat (24/4).

Pembukaan ditandai dengan melepaskan anak panah sebagai simbol tekad yang kuat untuk memajukan Kabupaten Sleman, yang disambut oleh para tamu udangan dengan meniup seruling tradisional dari bambu yang mengeluarkan bunyi menyerupai suara kicauan burung.

Secara simbolis, Wakil Bupati Yuni Satia juga meresmikan pembukaan stand pameran dengan pengguntingan buntal (rangkaian bunga melati) di gapura arena pameran.

Dalam acara ini juga dilakukan launching Batik Khas Sleman, yaitu batik “sinom parijoto salak” oleh Sekretaris Daerah dr. Sunartono dan Ketua Dekranasda Kabupaten Sleman, Kustini Sri Purnomo.

Pameran ini diikuti oleh 229 peserta yang menempati 268 stand. Untuk kepesertaan UKM ikut berpartisipasi pula potensi dari BKM/LKM dibawah koordinasi DPUP Sleman mengisi 20 kurang lebih stand.

Di arena pameran juga akan diselenggarakan Gelar ragam budaya Sleman setiap hari pada pukul  WIB.

Sejumlah pelaku seni dari 17 kecamatan di wilayah kabupaten Sleman, akan menyemarakkan panggung budaya di Lapangan Denggung dengan format kesenian semi kolosal yang melibatkan kurang lebih 30 pelaku seni  dari masing-masing penampilan. Gelar budaya ini dikoordinir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman.

Selain itu, di arena pameran juga berlangsung gelar potensi siswa sekolah dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Pertunjukan siswa dalam gelar potensi sisswa berlangsung setiap hari pada pukul WIB sampai pada acara penutupan tanggal  4 Mei 2014 pukul WIB.

Untuk menyemarakkan greget peserta pameran dan ragam budaya, panitia mengadakan lomba stand yang berlaku bagi seluruh peserta dengan kriteria penilaian yang menonjolkan kekhasan dari Sleman dengan 5 stand terbaik dengan total uang pembinaan sejumlah .

Sedangkan untuk penampilan kesenian dari 17 kecamatan akan diambil penampil terbaik dan favorit dengan hadiah uang pembinaan, dengan 5 penampil terbaik dengan total uang pembinaan sejumlah .

Panitia menyediakan doorprize bagi pengunjung yang akan diundi setiap hari di panggung budaya, dengan grand doorprize 1 unit sepeda motor Suzuki  pada acara penutupan 4 Mei 2014.

Bagi pengunjung PPD dan Ragam Budaya, akan disediakan hadiah menarik yang diundi setiap harinya, dan Grand Doorprize 1 unit Sepeda Motor yang diundi pada saat penutupan acara. Hadiah ini persembahan dari Suzuki Indo Jaya Motor.

Penyelenggaraan Pameran potensi daerah dan Gelar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2014 ini, tidak terlepas dari dukungan seluruh masyarakat serta pihak sponsor yaitu BPR Bank Sleman, BPD DIY, PDAM, dan Suzuki Indojaya Motor.




Batik Parijoto Salak Jadi Ikon Batik Sleman

Sleman, – Motif batik parijoto salak hasil lomba desain batik nasional yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2013 lalu, dijadikan batik dan akan menjadi ikon batik untuk Kabupaten Sleman.

“Launching batik parijoto salak ini akan dilaksanakan pada pembukaan pameran pembangunan dan potensi Sleman 2014 dalam rangka hari jadi Kabupaten Sleman di komplek Serbaguna Sleman,” kata Ketua Dekranasda Sleman Ny Kustini Sri Purnomo kepada wartawan di Press Room Pemkab Sleman, Jumat (11/4).

Menurut Kustini, dalam pembukaan pameran potensi Sleman tersebut semua pejabat Kabupaten Sleman akan mengenakan batik motif parijoto salak. Dikatakan Ny Kustini, dalam lomba desain batik yang diikuti 215 peserta itu berhasil memilih 7 motif dan motif parijoto sebagai pemenangnya.

Dari ketujuh motif batik tersebut selanjutnya akan dijadikan motif batik Sleman dan dipilih ikonnya kombinasi parijoto salak. Dipilihnya motif parijoto salak ini karena ada filosofinya.

“Parijoto adalah tanaman asli Sleman yang tumbuh di lereng Gunung Merapi dan banyak ditemukan di Pakem dan Cangkringan. Tanaman yang hanya tumbuh di atas ketinggian meter dari permukaan laut ini juga memiliki banyak manfaat dan memiliki khasiat sehingga bisa melambangkan kemakmuran,” kata Ny Kustini.

Sedang tanaman salak pondoh merupakan tanaman yang asli dari Kabupaten Sleman. Karena itu kedua motif tersebut dimodifikasikan menjadi motif parijoto salak yang memiliki makna kultur di dalamnya.

Selain menjadi ikon batik Sleman, motif parijoto salak ini juga akan dijadikan pakaian bagi PNS Sleman, guru-guru dan pelajar di Sleman. “Untuk PNS, Guru dan sekolah disarankan menggunakan motif batik parijoto salak, namun untuk pemilihan warnanya dibebaskan,” tutur Ny Kustini.

Untuk mengembangkan batik Sleman ini, Dekranasda Sleman bekerjasama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia DIY yang dihadiri Lia Mustofa, Indraswari dan lainnya yang akan membuat desain baju trend 2015 dengan perpaduan motif batik parijoto salak dengan konsep mozaik yang menarik.