Saparan Bekakak, Daya Tarik Wisata Gamping

Gamping – Jumat (3/11) pukul WIB bertempat di Lapangan Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping digelar Upacara Adat Saparan Bekakak Gamping.

Prosesi diawali dengan laporan Wiro Manggolo Tri Ongko kepada Wiro Pangarso Ki Demang (Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto) bahwa upacara sesaji bekakak telah siap diberangkatkan. Dilanjutkan pemecahan kendhi tirto dono jati dan pelepasan sepasang burung merpati putih oleh Camat Gamping, Abu Bakar, yang sekaligus melepas peserta kirab menuju petilasan Gunung Gamping tempat penyembelihan bekakak.

Dalam kesempatan ini, hadir Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi, Wadanramil 17/Gamping Kapten Chb. Suwardi, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, H.Y. Aji Wulantara, Sekretaris Camat Gamping, Rasyid Ratnadi, Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, serta ribuan masyarakat yang sangat antusias menyaksikan.

Pengaturan lalu lintas peserta kirab dilakukan jajaran Polsek Gamping dibantu Ormas TRC, Argoseto, dan Linmas.

Rute yang ditempuh yaitu dari Lapangan Ambarketawang – Jalan Wates Ringroad Selatan – Jalan Tegalwangi – berakhir di Petilasan Gunung Gamping Tlogo. Pukul WIB, penyembelihan bekakak I dilakukan oleh Dukuh Gamping Kidul, Bambang Cahyono di Gamping Kidul. Sedangkan penyembelihan bekakak II, dilakukan Camat Gamping dan Sekretaris Camat Gamping pukul WIB di Petilasan Gunung Gamping Tlogo.

Ritual Adat Saparan Bekakak hingga sekarang masih rutin berlangsung. Bagi masyarakat setempat, ritual ini dulu sebagai hipnoterapi atas musibah runtuhnya Gunung Gamping. Saat ini telah terintegrasi pada mitos sejarah dan legenda lokal yang tetap dijaga secara konsisten oleh masyarakat setempat lebih dari sebuah ritual budaya, namun sebagai komoditi daya tarik wisata lokal maupun mancanegara (Adnan Nurtjahjo)




Midodareni Mengawali Prosesi Bekakak Gamping

Gamping – Kamis (2/11) pukul WIB bertempat di Pendopo Bekel (Dukuh) Gamping Kidul, pembuatan boneka pengantin bekakak dimulai.

Bahan dasar dari pembuatan boneka pengantin bekakak ini adalah tepung beras ketan dan beras jawa dicampur dengan air jernih, dibentuk bulat seperti bola kemudian dikukus menggunakan tungku kayu bakar. Setelah adonan jadi, selanjutnya dibentuk menjadi sepasang pengantin menggunakan kerangka yang terbuat dari bambu. Di bagian lehernya diberi cairan gula jawa sebagai darahnya.

Pada pukul WIB, pengantin bekakak dilengkapi sesaji diarak menuju Balai Desa Ambarketawang dengan dikawal prajurit HB I Wirosuto, gendruwo, wewe, tetekan dengan penerangan obor. Sesampai di balai desa, pengantin bekakak beserta semua perlengkapan sesaji saparan disambut oleh Kepala Desa Ambarketawang, Sumaryanto.

Selanjutnya, dibawa masuk ke dalam Gedung Serbaguna untuk disemayamkan. Pemotongan tumpeng penanda dimulainya prosesi upacara adat saparan bekakak dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun.

Acara midodareni juga dihadiri Camat Gamping Abu Bakar, Sekretaris Camat, Rasyid Ratnadi,  Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Gustan Ganda, Wakil Danramil 17/Gamping Kapten Chb Suwardi, Kapolsek Gamping Kompol, Herwinedi, beserta seribu orang masyarakat Gamping. Sebagai penutup acara midodareni yaitu pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Dalang Ki Rekso Sutono Hadi Sugito dari Kulon Progo. (Adnan Nurtjahjo)