Polres Sleman Wajibkan Polsek Mampu Tangani Bencana

Sleman – Seluruh jajaran Polres Sleman termasuk 19 Polsek diinstruksikan siaga bencana. Bahkan saat ini seluruh Polsek di Sleman sudah memiliki peralatan untuk menangani bencana.

“Tiap-tiap Polsek sudah memiliki chainsaw atau gergaji mesin dan perlengkapan penanganan bencana lainnya,” kata Wakapolres Sleman Kompol Sri Wibowo usai memimpin apel kesiap-siagaan menghadapi bencana jajaran Polres Sleman di lapangan Denggung Tridadi Sleman, Kamis (11/2).

Wakapolres mengemukakan, jajaran polres juga dituntut untuk memiliki kecepatan dalam menangani bencana. Ia menyebutkan seluruh wilayah di Kabupaten Sleman merupakan akses lintas Provinsi. Dengan kecepatan tinggi dalam menangani bencana paling tidak arus lalu lintas akan dengan cepat bisa dibuka kembali.

Untuk membantu kinerja aparat, di setiap Polsek disiapkan peralatan pendukung agar jika sewaktu-waktu terjadi bencana dapat segera diatasi.

“Alat dan fasilitas sudah dicek. Semua dalam kondisi berfungsi dengan baik,” kata  Sri Wibowo.

Melalui kegiatan apel ini diharapkan aparat siap secara psikis maupun fasilitas dalam menjalankan tugas penanggulangan bencana. Terkait upaya antisipasi dini ini, Polres juga telah membentuk satuan tugas inti yang setiap saat dapat diterjunkan ke lokasi bencana.

Sementara Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Juli Setiono menambahkan di wilayah Kabupaten Sleman memiliki beragam jenis bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, awan panas dan sebagainya. Karena itu diharap seluruh komponen masyarakat harus selalu siap menghadapi bencana. Dengan demikian jatuhnya korban dapat diminimalisasi.




Jelang Puncak Hujan, Bencana Petir Mengintai

Sleman – Menjelang puncak musim hujan, gejala alam petir menjadi ancaman yang dapat menimbulkan bencana. Dilaporkan beberapa minggu lalu, satu ekor sapi milik warga di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, mati akibat tersambar petir. Kendati belum ada pemetaan daerah rawan petir, namun BPBD mengimbau masyarakat khususnya yang tinggal di lereng Merapi agar meningkatkan kewaspadaan.

“Di wilayah Sleman utara seperti Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan sering dijumpai awan cumulonimbus. Pembentukan awan ini berpengaruh terhadap adanya petir,” kata Kepala BPBD Sleman Julisetiono Dwi Wasito, Rabu (27/1).

Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kepada pengelola gedung berukuran tinggi agar melengkapi bangunan dengan fasilitas penangkal petir. Selain itu, masyarakat juga diminta membenahi peralatan elektronik rumah tangga yang beresiko menjadi media penghantar aliran listri dari petir. Peralatan itu seperti antena televisi, dan radio komunikasi.

Terpisah, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Jogja, Tony Agus Wijaya menyarankan warga agar menghindari aktivitas di area terbuka seperti persawahan atau lapangan, saat terjadi hujan disertai petir.

“Selain itu, jangan berlindung di bawah pohon tinggi karena rawan tersambar petir. Saran lain, sebaiknya hentikan sementara pemakaian ponsel saat hujan petir,” kata Tony.

Sementara itu dalam rilisnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap bencana. Dari prediksi BMKG, puncak musim hujan berlangsung pada akhir Januari dan Februari 2016.

“Biasanya Januari merupakan puncak curah hujan, dan sering terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan puting beliung. Tapi tahun ini ada pengaruh El-Nino yang mengakibatkan musim hujan datang terlambat dibanding kondisi normal,” katanya.

Meski saat ini El Nino masih berada dalam intensitas kuat, tapi cenderung terus meluruh. Kondisi diperkirakan memasuki fase netral sekitar bulan Maret atau April mendatang. Karenanya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.




Masyarakat Dihimbau Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman terus menghimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap kondisi cuaca. Apalagi sekarang ini sudah masuk dalam puncak musim hujan.Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Heru Saptono dikantornya, Rabu (11/3). Dikatakan Heru, kejadian angin kencang terakhir melanda Kecamatan Pakem. Tepatnya di Dusun Kumendung Desa Candibinangun. Dapur dan ruang keluarga milik Gunawan (43) rusak akibat tertimpa pohon. Ketika itu di lokasi kejadian memang turun hujan deras disertai angin kencang.

Kejadian serupa juga menimpa rumah milik Pariyem (45) warga Dusun Babadan Desa Sendangagung Kecamatan Minggir. Atap rumahnya rusak karena tertimpa pohon. Rumah Pujiastuti di Dusun Celungan Desa Sumberagung Kecamatan Minggir juga tertimpa pohon.

“Mengingat saat ini terjadi ekskalasi kenaikan frekuensi hujan disertai angin kencang. Untuk itu kami dari BPBD menghimbau kepada semua masyarakat guna melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Mulai dari skala rumah tangga, yakni dengan memotong dahan dan ranting pohon yang menjulur di atap rumah,” ujarnya.

Langkah lain menurut Heru, bisa dengan mengecek batang pohon. Jika didapati sudah ada bagian yang rapuh bisa segera di tebang. Namun jika pohonnya berfungsi sebagai perindang jalan, dihimbau segera menghubungi Badan Lingkungan Hidup (BLH) di Bidang Pertamanan dan Kebersihan. Untuk selanjutnya dilakukan rabas-rabas.

Sedangkan antisipasi banjir lahar hujan dan banjir, BPBD terus berkoordinasi dengan relawan pemantau. Terutama di Sungai Boyong dan Opak untuk bersama-sama penjaga Early Warning System (EWS) banjir lahar hujan. Melalui EWS tersebut dapat dipantau aliran di sungai. Jika ada aliran dapat segera melaporkan ke BPBD.




Tiga Desa Ditunjuk Sebagai Desa Tangguh Bencana

SLEMAN – Sebanyak tiga desa di Kabupaten Sleman, yaitu Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Desa Kepuharjo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, telah ditunjuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sebagai Desa Tangguh Bencana (DTB). Untuk Desa Sindumartani ditunjuk sebagai DTB  khusus untuk banjir lahar hujan Sungai Gendol.

Pengukuhan DTB tersebut telah dilakukan di Desa Sindumartani Ngemplak  oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, bersamaan dengan Desa Kepuharjo dan Wukirsari Kecamatan Cangkringan sebagai DTB. Sebelumnya telah dilakukan pelatihan terhadap masyarakat terkait penanganan bencana.

Pada kesempatan tersebut  Sri Purnomo  mengatakan, melalui DTB diharapkan masyarakat sudah bisa gerak cepat untuk menyelamatkan diri agar terhindar dari bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan dini dibutuhkan oleh semua elemen masyarakat sebagai bentuk peringatan bahwa mereka hidup berdampingan dengan bencana.

“Masyarakat harus memahami jika mereka tinggal di daerah bencana. Melalui DTB, mereka sudah paham dan bisa mengantisipasi sedini mungkin jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Termasuk dimana lokasi pengungsian hingga alat apa saja yang dibutuhkan,” kata Sri Purnomo belum lama ini.

Dalam kesempatan itu juga diberikan bantuan sarana prasarana bagi desa dan masyarakat yang mendukung mitigasi bencana. Seperti tenda desa, alat komunikasi berupa ‘Handy Talky’ (HT), ‘megaphone’ dan tas siaga bencana.




Si Jawah Sabo Aplikasi Mitigasi Bencana Lahar Dingin Merapi

Sleman, – Balai Sabo Yogyakarta, bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengembangkan aplikasi mitigas bencana banjir lahar dingin, bernama Si Jawah Sabo (Sistem Informasi Hujan Yogyakarta dan Jawa Tengah).

Launcing dilakukan di Balai Sabo Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok, Kamis (17/4). Kepala Puslitbang SDA Bambang Haryono HE MEng mengungkapkan, aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi radar dan bisa menampilkan sebaran hujan secara real time.

“Masyarakat juga bisa mengaksesnya melalui internet maupun smarphone. Dengan radar cuaca, maka wilayah yang tidak terjangkau alat penakar hujan konvensional, dapat dipantau secara cepat,” katanya.

Potensi bencana di daerah Yogyakarta dan sekitarnya cukup tinggi. Contoh nyata dari erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, dimana masih menyisakan 80 juta meter kubik material.

“Beberapa sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus terus dipantau. Sebab banyak masyarakat yang tinggalnya di bantaran sungai,” katanya menambahkan.

Sistem informasi terpadu ini, menurut Bambang, memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya mampu memantau curah hujan terkini dalam jangkauan radar dan memantau pergerakan wilayah hujan. Data yang diperoleh lalu diolah melalui komputer dan ditampilkan melalui website.

“Data yang kami informasikan dalam sistem ini, diharapkan bisa menjadi peringatan dini lahar dingin dari Gunung Merapi. Diharapkan, baik penambang maupun warga setempat bisa lebih waspada dan mempersiapkan diri terhadap bencana,” jelasnya.

Bambang juga mengungkapkan, selain mitigasi bencana banjir lahar hujan, Si Jawah Sabo ini juga dapat dimanfaatkan untuk antisipasi tanah longsor, banjir hingga kekeringan di berbagai daerah.

Selanjutnya, aplikasi ini akan menampilkan hasil prakiraan banjir lahar yang merupakan keluaran dari sistem perkiraan banjir berbasis data radar.