BPBD Sleman Didukung 49 Komunitas Relawan Bencana‬

Sleman – Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, kini mendapat dukungan relawan tergabung dalam 49 komunitas guna melaksanakan tugas penanganan bencana di wilayah Sleman.

‪”Ada sebanyak 49 komunitas relawan bencana, dengan anggota lebih dari orang,” kata Joko Supriyanto, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Minggu (15/1).‬

‪Menurut Joko, anggota relawan tersebut terdata dengan lengkap identitasnya dan masing-masing juga memegang kartu identitas relawan dari BPBD Sleman.

“Mereka ini siap bergerak saat terjadi bencana. Seperti peristiwa bencana angin kencang tiga kali menerjang wilayah Sleman pada pekan lalu, mereka langsung terjun untuk membantu penanganan dan evakuasi pohon-pohon yang tumbang,” kata Joko.‬

‪Joko menambahkan  masing-masing koordinator komunitas relawan akan menghubungi BPBD Sleman dan kemudian mereka akan diarahkan ke lokasi yang terdampak bencana.‬

‪”Jadi nanti tidak ada tumpang tindih, seperti semua komunitas hanya terfokus di satu lokasi saja, sementara lokasi lain tidak ada relawan yang membantu. Tetapi mereka bisa menyebar ke lokasi-lokasi yang membutuhkan penanganan segera,” katanya.‬

‪Joko mengatakan para relawan ini tugas utamanya adalah penyelamatan korban, baik itu korban luka maupun korban jiwa, kemudian setelah itu membuka akses jalan bagi masyarakat.‬

“Seperti kejadian pohon tumbang, relawan hanya mengevakuasi korban dan penyelamatan jiwa serta menyingkirkan batang pohon yang menutup jalan. Setelah itu untuk tindakan selanjutnya seperti pembersihan kayu-kayu menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” tutur Joko.

‪Para relawan lanjut Joko,  juga diberi pelatihan dalam penanganan bencana dan teknik-teknik dasar penanggulangan bencana serta prioritas keselamatan diri.‬

‪”Memang dalam peristiwa kemarin ada dua relawan yang mengalami kecelakaan saat membantu mengevakuasi pohon tumbang. Kami selalu tekankan kepada para relawan untuk memprioritaskan keselamatan diri masing-masing dan berhati-hati,” katanya.‬

‪Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jogja mengingatkan adanya potensi angin kencang dalam satu pekan ke depan di sejumlah wilayah DIY.

‪”Dari sisi meteorologis, wilayah DIY termasuk Kabupaten Sleman beberapa hari ke depan masih ada potensi hujan dengan tingkat sedang sampai lebat, dan disertai dengan petir dan angin kencang,” kata I Nyoman Sukanta, Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Jogja, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.‬

‪Menurut dia dari pengamatan kondisi dinamika atmosfer laut dan pengamatan citra satelit menunjukkan kondisi angin di lapisan 850 mb menandakan adanya angin baratan dan pertemuan angin di atas Pulau Jawa.‬

‪”Masih ada belokan angin di barat daya DIY, belok kanan ini yang menimbulkan angin kencang,” katanya.‬

‪Nyoman mengatakan kondisi ini disebakan karena Januari hingga Februari merupakan datangnya angin Muson Asia, dari Asia ke Indonesia.‬

‪”Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan potensi hujan lebat di wilayah DIY dengan curah hujan di atas 50 mili meter per hari dan disertai petir maupun angin kencang dengan kecepatan di atas 45 kilometer per jam dan dapat menyebabkan banjir dan longsor,” katanya.***




Hadapi Cuaca Ekstrim Bulan Oktober, BPBD Sleman Waspadai 4 Bencana

Sleman – Menghadapi cuaca ekstrim bulan Oktober ini di Kabupaten Sleman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman berupaya mengantisipasi terhadap ancaman 4 bencana yang kemungkinan bisa terjadi. Ancaman bencana tersebut antara lain angin ribut/ putting beliung, petir, banjir dan longsor.

“Berdasarkan surat dari BMKG sudah diinformasikan bahwa terjadi prakiraan maju musim penghujan untuk wilayah Kabupaten Sleman yaitu akhir bulan September 2016 dengan curah hujan sampai dengan 300 ml/bulan dan akan terjadi hujan lebat dengan intensitas 30-40 ml. Mengingat terjadinya pancaroba diperlukan antisipasi bencana angin ribut, petir, banjir dan longsor,” kata Drs Kunto Riyadi MPPM, Plt Kalak BPBD Sleman, Kamis (6/10).

Berkaitan dengan hal tersebut dikatakan Kunto, BPBD Sleman melakukan upaya penanggulangan bencana angin ribut, petir, banjir dan longsor. Menurut Kunto, bencana angin putting beliung kemungkinan terjadi merata diseluruh wilayah Sleman mengingat ancaman bencana angin ribut sampai saat ini belum dapat dipetakan pola tempat kejadiannya.

“Upaya pengurangan risiko bencana adalah dengan menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pemangkasan ranting pohon yang menjulur ke bangunan rumah atau fasilitas umum lainnya,” kata Kunto.

Sementara untuk bencana petir biasanya terjadi hampir bersmaan dengan angin ribut karena pekatnya konsentrasi awan cumulonimbus. Mengurangi dampak bencananya dengan cara menghimbau kepada masyarakat untuk mematikan TV, radio yang memiliki antena luar pada saat terjadi petir.

Sedang curah hujan yang tinggi dalam durasi waktu yang lama dapat berpotensi menjadi banjir baik banjir aliran sungai maupun banjir lahar hujan. Untuk bencana tanah longsor berbeda dengan ancaman bencana lainnya, bencana tanah longsor sudah terpetakan di wilayah Kecamatan Prambanan. Disinggung kondisi Gunung Merapi, dikatakan Kunto berdasarkan surat dari BPPTKG Jogja, saat ini Gunung Merapi dalam  kondisi normal.

“Berdasarkan surat daro BPPTKG Jogja indikator visual dan tehnis Merapi  menunjukkan gejala normal. Karena itu antisipasi dan aktifitas seperti biasa. Kita cukup canggih bisa monitor keadaan Merapi kecuali  diluar dugaan,” tutur Kunto.




BPBD Sleman Sosialisasikan Penerapan Sister School

Sleman – Ancaman bencana letusan gunung Merapi terus diwaspadai dengan menyiapkan berbagai sarana dan prasarana baik bagi para warga, khususnya anak sekolah serta prasarana fisik lainnya. 

Seperti halnya yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dengan melakukan sosialisasi penerapan sister school yang dilaksanakan, Selasa (27/9) di Hotel Prima dengan peserta 50 orang dari SKPD terkait, sekolah, dunia usaha serta pemangku kepentingan.

Dikatakan  Kunto Riyadi, Pj Pelaksana tugas BPBD Sleman kegiatan ini merupakan upaya  menyiapkan personil dalam penerapan Sister School yang akan dilanjutkan dengan fasilitasi sosialisasi di 4 sekolah sebagai sasaran yakni SD Tarakanita Ngembesan Turi dengan sekolah persaudaraannya SMP Alosius Turi, serta SD Pandanpuro II dengan sekolah persaudaraannya SD Muh Pakem.

Selanjutnya juga akan diteruskan dengan gladi lapang di 4 sekolah sasaran. Kegiatan ini dilakukan agar sekolah yang masuk dalam KRB III bila suatu saat terjadi bencana tidak terganggu dalam belajar mengajarnya serta sekolah sasaran siap menerima siswa yang terkena dampak erupsi Merapi.

Hal ini juga diungkapkan  Jazim Sumirat SH yang mewakili Bupati Sleman disela-sela membuka sosialisasi, bahwa Kabupaten Sleman merupakan satu dari 136 kota yang memiliki indeks resiko bencana tinggi. Menyadari hal ini, Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana.

Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar tidak terhambat akibat terjadinya bencana. Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau sekolah penyangga.

Melalui kegiatan ini sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU persaudaraan dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman. Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

“Sosialisasi ini menjadi langkah pertama, sarana menyiapkan kesiapsiagaan komponen sekolah dalam menghadapi kemungkinan kondisi kedaruratan,” kata Jazim.

Melalui sosialisasi lanjutnya, diharapkan akan semakin memantapkan langkah dan upaya dalam melakukan penanganan bencana di wilayah Kabupaten Sleman. Dengan berbekal pengetahuan yang memadai dalam menghadapi bencana maka akan dapat bertindak tepat dan efisien. Sampai saat ini di Sleman telah terbentuk 20 sister school, 8 sekolah siaga bencana dan 39 organisasi relawan dengan jumlah relawan 1512 orang.

Selain itu juga telah memetakan potensi kerawanan bencana, serta pemasangan early warning system. Hingga Februari 2016 BPBD Sleman bekerjasama dengan Dishubkominfo dan warga masyarakat telah mengelola sejumlah 88 EWS banjir lahar dingin, 4 EWS awan panas, 3 EWS tanah longsor dan 1 EWS curah hujan.
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun korban materiil saat terjadinya bencana.




BPBD Sleman Himbau Masyarakat Waspadai Ancaman Banjir‬

Sleman – Memasuki musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menghimbau masyarakat mewaspadai ancaman banjir luapan sungai.‬ Selain sungai yang berhulu di Gunung Merapi, sungai kecil juga perlu diwaspadai potensi bencananya.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan  MT masyarakat perlu mewaspadai potensi terjadinya banjir atau limpahan air dari sungai saat musim hujan ini. Terutama, jika terjadi hujan lebat di wilayah hulu namun terang benderang di wilayah aliran hilir.‬

‪”Kondisi ini bisa memunculkan terjadinya peningkatan debit air di kawasan hilir secara mendadak. Air bisa meluap dan menggenangi sekitar bantaran sungai. Ketika musim hujan seperti ini, masyarakat sebaiknya tidak banyak beraktivitas di sekitar alur sungai,” kata Makwan, Kamis (22/9).‬

‪Hal tersebut lanjut Makwan, rawan terjadi untuk sungai-sungai kecil yang alirannya melewati areal pemukiman warga, semisal Sungai Denggung, karena air hujan tidak terserap ke tanah dan langsung terbuang ke sungai.‬

‪”Jika curah hujan tinggi dan debit air meningkat sementara daya tampung sungai terbatas, air bisa meluap dan berpotensi membanjiri pemukiman,” tuturnya.‬

‪Makwan mengatakan, kondisi serupa juga berpotensi terjadi di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi, seperti Sungai Opak, Kuning, Gendol, Boyong dan Krasak.‬ Namun untuk potensi banjir lahar hujan terbilang kecil mengingat struktur badan sungai saat ini masih banyak palung-palung dalam bekas penambangan pasir.

“Jika hujan deras terjadi di wilayah atas, aliran air yang biasanya juga disertai material akan mengisi palung-palung itu terlebih dulu,” katanya. ‬

‪Dengan kondisi tersebut maka potensi ancaman yang bersifat destruktif ke lingkungan pemukiman masih minim terjadi.‬

“Namun kami tetap menghimbau masyarawakat bersikap waspada. Yang sebelumnya pernah ada luapan, harus waspada. Potensi longsor selama musim hujan ini juga perlu diperhatikan,” kata Makwan. Wilayah yang rawan longsor antara lain di Prambanan dan area Sleman Timur.




BPBD Sleman Pasang EWS di Sendowo‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memasang perangkat “early warning system” atau deteksi dini di talud Sungai Code di Kampung Sendowo, Sinduadi, Mlati yang retak dan rawan longsor akibat pergerakan tanah.‬

‪”Kami telah memasang perangkat EWS guna mengantisipasi terjadi pergerakan. Bila ada aliran besar EWS akan memberi sinyal,” kata Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM, Selasa (12/4).‬

‪Menurut Julisetiono, selain itu pihaknya juga sudah menyiapkan sekitar seribu sak pasir dan 60 bronjong kawat.‬

“Bantuan tersebut digunakan mengantisipasi dan mencegah longsornya talud Sungai Code di wilayah Sendowo Mlati,” kata Julisetiono.‬

‪Sementara itu perbaikan kerusakan talud di wilayah tersebut mulai dikerjakan pada Senin (11/4). Langkah awal yang dilakukan dengan mengalihkan aliran sungai agar tidak mengikis talud dengan menggunakan alat berat backhoe untuk melakukan pengerukan.‬

‪Sementara itu bronjong yang sudah disediakan, mulai diisi batu oleh warga sekitar.‬ Ketua RT 10 Kampung Sendowo, Sarijan mengatakan, pengerjaan talud dilakukan dari Pemkab Sleman, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu (BBWSO) dan warga sekitar.‬

‪”Tahap awal, perbaikan dilakukan pada bagian talud yang paling luar. Yang terpenting talud tidak terkikis oleh aliran. Sebab saat ini intensitas hujan masih cukup tinggi sehingga bila ada aliran deras rawan terkikis,” katanya.‬

‪Sarijan mengatakan, selain backhoe dioperasikan, material perbaikan seperti bronjong, batu-batuan dan pasir sudah disiapkan.‬

‪”Warga bersama relawan dan tim reaksi cepat (TCR) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai bergotong royong melakukan perbaikan,” tutur Sarijan.‬

‪Sarijan menambahkan, selain material dan perlengkapan lainnya, di lokasi kejadian juga dibangun dapur umum.‬

‪”Dapur tersebut melayani konsumsi warga yang mengungsi dan relawan yang bekerja memperbaiki talut. Sebab sampai saat ini, pascakejadian talud ambles sebanyak 26 warga masih mengungsi. Warga tidak ada yang dimintai biaya. Semua dari pemerintah. Bahkan keberadaan dapur umum ini membantu warga yang mengungsi karena tidak perlu repot memasak,” katanya.‬

‪Ia berharap agar perbaikan talut tersebut bisa segera selesai agar aktivitas warga kembali normal. Karena sejak talut tersebut mengalami kerusakan yang berdampak pada jalan kampung, warga harus mencari jalan alternatif lainnya untuk sampai ke atas.‬

‪”Mudah-mudahan bisa secepatnya selesai seperti sebelum rusak agar aktivitas warga normal,” kata Sarijan.