2 EWS Dipasang BPBD di Prambanan

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman telah memasang dua Early Warning System (EWS) di Dusun Gunungharjo Desa Bokoharjo Kecamatan Prambanan. Lokasi tersebut diprioritaskan karena pada awal Desember 2014 lalu, ada sebuah batu besar longsor menimpa rumah penduduk setempat. Selain warga setempat, BPBD Sleman juga didukung tim dari Teknik Fisika UGM.

“Sebenarnya ada enam lokasi yang rawan longsor di Prambanan. Tapi kami masih memetakan titik mana saja yang perlu dipasang EWS,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Heru Saptono, kemarin.

Heru menambahkan, pihaknya telah mensosialisasikan pemasangan EWS kepada warga sekitar pada tiga pekan lalu. Selain memberikan pemahaman soal cara kerja EWS, warga pun diminta untuk menjaga EWS agar tidak dirusak oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Satu paket EWS terdiri dari dua macam komponen, yaitu alat pengendali sistem dan tiga sirine. Rony Wijaya, anggota tim dari Teknik Fisika UGM juga mengatakan, EWS dirancang tahan iklim tropis sehingga alat tersebut tidak akan rusak meski terkena hujan dan sengatan sinar matahari. Pembangkit daya berupa baterai juga mampu bertahan hingga satu tahun. Sebab, ketika dipasang dalam posisi standby, EWS tidak membutuhkan listrik dari pembangkit daya.

Meski demikian, lanjut Rony, idealnya kondisi baterai perlu dicek pada enam bulan setelah pemasangan. “Jika saat dibunyikan ternyata suara sirine masih kencang, berarti masih aman. Tapi setelah satu tahun harus dicek semua dan sebaiknya bateri diisi ulang,” jelas Rony.

Dalam kondisi lingkungan terbuka, sirine EWS sebenarnya bisa terdengar pada radius tiga sampai empat kilometer. Namun, hal itu tidak berlaku di perbukitan Prambanan. Tim bahkan harus berkali-kali memastikan anggota tim yang bersiaga di rumah penduduk yang berjarak sekitar 100 meter dari pemasangan EWS mampu mendengar bunyi sirine dengan jelas.

“Khusus di Prambanan, ternyata banyak peredamnya, terutama berupa pepohonan. Di depan rumah penduduk juga jalan raya sehingga suara sirine kemungkinan kalah dengan suara kendaraan yang melintas. Jadi kami mengarahkan ketiga sirine hanya ke satu sisi agar suaranya lebih nyaring, yaitu ke bawah,” papar Rony.




BPBD Sleman Bangun Geoservis Peta Kebencanaan

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman tahun 2014 ini akan membangun Geoservis Peta Kebencanaan, dan rencananya peta tersebut akan menjadi bagian dari Sistem Informasi Geografis Kebencanaan dan Sistem Informasi Kebencanaan Sleman yang sudah ada.

Kasubag Perencanaan dan Evaluasi Sekretariat BPBD Sleman, B. Setyo Sriharjono, Senin (24/3), mengatakan bahwa pengembangan Sistem Informasi Geografis Kebencanaan ini menggunakan anggaran dari APBD Sleman tahun 2014.

“Namun jumlahnya masih terbatas, sehingga pengembangannya akan dioptimalkan untuk membangun Geoservis Peta Kebencanaan,” katanya.

Geoservis Peta Kebencanaan diharapkan dapat memberikan informasi data spasial dan tabular yang mampu mendukung pengambilan keputusan dalam rangka penanggulangan bencana yang terjadi.

Arah dari pembangunan Geoservis Peta Kebencanaan ini adalah untuk memetakan daerah rawan bencana melengkapi peta kawasan rawan bencana (KRB) yang sudah ada.

Saat ini, Pemkab Sleman baru memiliki peta KRB Merapi, sedangkan bencana yang dihadapi oleh Sleman tidak hanya berasal dari Gunung Merapi. Ada pula kejadian bencana tanah longsor di kawasan Berbah dan Prambanan, angin puting beliung di wilayah Sleman tengah dan kekeringan di wilayah Prambanan.

Selain itu, Geoservis Peta Kebencanaan juga akan dilengkapi informasi tentang titik-titik kejadian bencana, sehingga nantinya dapat diketahui pola kejadian bencana di seluruh wilayah Kabupaten Sleman.




BPBD Kabupaten Sleman Siapkan Klaim Komunikasi Bencana

Sleman – Menjelang pelaksanaan Pemilu legislatif yang akan digelar 9 April 2014 mendatang, Kabupaten Sleman perlu menyiapkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Selain masalah keamanan yang harus diperhatikan, juga potensi bencana alam pun perlu diperhatikan apalagi akan memasuki musim pancaroba. Demikian antara lain disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Drs Julisetiono Dwi Wasito, di Sleman, Senin (17/3).

Dikatakan Julisetiono bahwa selain antisipasi Pemilu, Kabupaten Sleman juga perlu mewaspadai terjadinya bencana alam.

Untuk menghadapi kemungkinan munculnya informasi terkait bencana yang simpang-siur, BPBD Sleman menyiapkan klaim komunikasi.  “Klaim komunikasi yang kami siapkan berupa berupa SMS gateway,” kata Julisetiono.

Seperti pada saat terjadi letusan freatik Merapi beberapa waktu lalu. Saat itu banyak beredar SMS yang tidak jelas sumbernya menyebarkan informasi yang membuat warga panik.

“Karena itu, dengan adanya SMS gateway, nanti ada SMS resmi dari BPBD Sleman yang akan kami kirim ke komunitas, kepala dusun dan lainnya,” tutur Julisetiono.

Julisetiono menjelaskan bahwa ancaman bencana di Kabupaten Sleman saat ini ada 7, yaitu bencana Gunung Merapi, lahar dingin, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan dan kebakaran.

Terjadinya bencana hujan abu yang terjadi akibat letusan Gunung Kelud selama ini perlu diantisipasi kedepan bagaimana cara penanganan yang tepat dan itu perlu pelatihan.

Dalam penanganan bencana komunitas relawan dituntut profesional mekipun kerjaan sosial dan sukarela. Kedepan BPBD Sleman akan selalu menjalin kerjasama dengan berbagai komunitas dan akan dilakukan pendataan agar dalam penanganan bencana bisa lebih terkoordinatif dan lebih baik.

“Berbagai macam ancaman bencana memang patut diwaspadai warga Sleman. Angin kencang patut diwaspadai dalam waktu dekat ini karena sedang musim pancaroba,” ujar Julisetiono.