Kemah Budaya Dekatkan Generasi Muda Dengan Budaya Lokal

Sleman – Bupati Sleman menyambut baik penyelenggaraan kegiatan kemah budaya yang diselenggarakan di Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi Sleman, disamping untuk lebih mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda, kegiatan tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk menambah wawasan tentang potensi yang dimiliki oleh daerahnya.

Bupati Sleman menyampaikan hal tersebut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes ketika membuka Kemah Budaya di desa Wisata Pulesari Turi, Jumat (2/9). Disampaikan Bupati bahwa  menumbuhkan rasa cinta dan handarbeni terhadap budaya dan potensi lokal yang kita dimiliki merupakan tanggungjawab kita bersama.

Dan kegiatan Kemah Budaya ini merupakan salah satu wujud nyata dari langkah strategis yang ditempuh membentuk generasi muda Sleman yang tau, mengerti, mencintai dan merasa handarbeni atas asset-asset budaya yang adiluhur maupun potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman.

“Yang jelas pada era global saat  ini, kehidupan sebagian warga masyarakat khususnya generasi muda mulai jauh dari nilai-nilai budaya kita sendiri,” kata Sri Muslimatun yang membacakan sambutan Bupati.

Pola hidup gotong royong dan tepo seliro yang dulu merupakan pola hidup nenek moyang, pada saat ini cenderung berpola hidup individualistis. Pola hidup gotong royong tidak hanya diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dalam pembangunan fisik semata. Semangat gotong royong juga dapat diaplikasikan dalam setiap peristiwa sosial kemasyarakatan yang membutuhkan penyelesaian secara bersama-sama.

Dan kearifan lokal tepo seliro tidak hanya diartikan sebagai tenggang rasa saja, tetapi lebih dimaknai sebagai  rasa empati yang mampu membangun konektifitas satu dengan yang lain hingga menumbuhkan rasa kebersamaan yang universal. Dengan demikian dinamisnya sosok jiwa muda akan lebih terarah pada perilaku-perilaku yang positif dan konstruktif.

Pada kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga mengajak peserta kemah budaya untuk memanfaatkan kemah budaya tersebut de­ngan sebaik-baiknya, untuk kembali mengaplikasikan nilai-nilai budaya lokal da­lam kehi­dupan sehari-hari, serta mengenal potensi-potensi yang dimiliki.

Sedangkan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dra  Endah Sri Widiastuti menyampaikan bahwa kemah budaya tersebut bertujuan sebagai ajang silaturahmi generasi muda khususnya siswaa SMA/SMK di Kabupaten Sleman, serta untuk menimbulkan sikap saling asih, asah dan asuh dan semangat persatuan dan kesatuan bagi para siswa, juga saebagaai pemahaaman nilai budaya.




Estetika Budaya Lokal Jadi Unggulan Sleman di Sekaten

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman pada 2015 menonjolkan estetika budaya lokal dalam pameran di Pasar Malam Perayaan Sekaten di Alun-alun Utara Jogja. Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) yang berlangsung selama 20 hari dibuka sejak Jumat tanggal 4 Desember 2015.

“Anjungan Sleman menggunakan material bambu sebagai upaya pemanfaatan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai salah satu unggulan di Kabupaten Sleman,” kata Kepala Bagian Humas  Kabupaten Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Selasa (8/12).

Menurut Sri Winarti, dalam anjungan Sleman ditampilkan beberapa UKM kerajinan dan industri makanan olahan, tak ketinggalan makanan khas jadah tempe Kaliurang serta desa wisata.

Saat peninjauan stand usai pembukaan PMPS, sejumlah tamu yang mengunjungi anjungan Pemkab Sleman juga disuguhi makanan khas Kabupaten Sleman seperti legondo, pisang buntal, jadah bakar, dan juga minuman khas lereng Merapi.

Untuk mengisi anjungan, Pemkab Sleman menggandeng asosiasi yang ada di Sleman, antara lain Ikapim, Aspartan, Asosiasi Batik Mukti Manunggal, dan Aspika.

“Selama mengikuti PMPS asosiasi akan memamerkan produk-produk anggotanya sebagai upaya pengenalan produk-produk UKM yang tergabung dalam asosiasi dan juga sebagai bentuk pemberdayaan kreativitas anggota-anggota asosiasi,” kata Sri Winarti.

Ditambahkan pula upaya untuk memperkenalkan motif batik khas Sleman, Asosiasi Batik Mukti Manunggal juga mengisi anjungan Sleman dengan produk-produk batiknya berupa Parijotho Salak dan Gajah Kombinasi Parang Rusak Barong.

Sementara itu anjungan Pemkab Sleman dihijaukan Kampung Flory dan Anggrek dari Asosiasi Aspartan dengan berbagai tanaman buah, tanaman hias, dan anggrek yang mampu menambah nilai estetika penampilan anjungan.

“Kampung Flory sendiri merupakan kampung di Jugang, Pangukan, Sleman yang kegiatan utama warganya bergerak di bidang pembibitan tanaman hias dan buah unggul,” tutur Sri Winarti.

 Estetika Budaya Lokal Jadi Unggulan Sleman di Sekaten

Sleman, InfoPublik – Pemerintah Kabupaten Sleman pada 2015 menonjolkan estetika budaya lokal dalam pameran di Pasar Malam Perayaan Sekaten di Alun-alun Utara Jogja. Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) yang berlangsung selama 20 hari dibuka sejak Jumat tanggal 4 Desember 2015.

“Anjungan Sleman menggunakan material bambu sebagai upaya pemanfaatan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai salah satu unggulan di Kabupaten Sleman,” kata Kepala Bagian Humas  Kabupaten Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Selasa (8/12).

Menurut Sri Winarti, dalam anjungan Sleman ditampilkan beberapa UKM kerajinan dan industri makanan olahan, tak ketinggalan makanan khas jadah tempe Kaliurang serta desa wisata.

Saat peninjauan stand usai pembukaan PMPS, sejumlah tamu yang mengunjungi anjungan Pemkab Sleman juga disuguhi makanan khas Kabupaten Sleman seperti legondo, pisang buntal, jadah bakar, dan juga minuman khas lereng Merapi.

Untuk mengisi anjungan, Pemkab Sleman menggandeng asosiasi yang ada di Sleman, antara lain Ikapim, Aspartan, Asosiasi Batik Mukti Manunggal, dan Aspika.

“Selama mengikuti PMPS asosiasi akan memamerkan produk-produk anggotanya sebagai upaya pengenalan produk-produk UKM yang tergabung dalam asosiasi dan juga sebagai bentuk pemberdayaan kreativitas anggota-anggota asosiasi,” kata Sri Winarti.

Ditambahkan pula upaya untuk memperkenalkan motif batik khas Sleman, Asosiasi Batik Mukti Manunggal juga mengisi anjungan Sleman dengan produk-produk batiknya berupa Parijotho Salak dan Gajah Kombinasi Parang Rusak Barong.

Sementara itu anjungan Pemkab Sleman dihijaukan Kampung Flory dan Anggrek dari Asosiasi Aspartan dengan berbagai tanaman buah, tanaman hias, dan anggrek yang mampu menambah nilai estetika penampilan anjungan.

“Kampung Flory sendiri merupakan kampung di Jugang, Pangukan, Sleman yang kegiatan utama warganya bergerak di bidang pembibitan tanaman hias dan buah unggul,” tutur Sri Winarti.




Festival Kesenian Sleman Angkat Budaya Lokal

FKS

Sleman, InfoPublik – Festival Kesenian Sleman (FKS) tampak meriah dengan digelarnya display potensi seni dan budaya, yang ditampilkan oleh 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman. FKS digelar selama 2 hari, dibuka Sabtu (15/6) di seputaran Lapangan Denggung oleh Sekda Sleman dr. Sunartono, dan ditutup Minggu (16/6) di Desa Pulesari Wonokerto Turi. Dalam pembukaan tersebut sebelumnya juga disajikan kesenian jathilan dari Sanggar Wijaya Kusuma, Karawitan dari Sanggar Notoraharjan, music calung dan Tari Selamat Datang dari Sanggar Pradnyawidya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Ir. Ayu Laksmi, FKS ini dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan dan pengembangan seni di Kabupaten Sleman, dan mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi adiluhung, yang mengarah pada pembentukan jatidiri bangsa, khususnya generasi muda yang saat ini dirasa semakin luntur.

Sementara itu display dari 17 kecamatan yang ditampilkan, yakni Bergada Kismo Kuncoro Kwagon Sidorejo Godean, Trengganon Al Fatah Minggir, Angguk Kipas Manggala Pakem, Thek-tek Gejog Lesung Moyudan, Bergodo Kuntul Saramba Ketingan Tirtoadi Mlati, Badui Sabilul Muslimin Tempel. Sanggar Puri Prambanan menampilkan kisah Rama Sinta, Kobra Siswa Putra Mudha Turi, Bregodo Wonolelo, Ngemplak, Klana Topeng Ponco Tunggal Kalasan, Reog Singo Barong Gamping, Kobrasiswa Depok, Bregada Tirta Tri Roso Guno Sleman, Reog Mataraman Berbah, Wayang orang Ngesti Madyo Laras Cangkrignan, Sastra Tutur Ngaglik dan terakhir Bregogo Kalijaga Seyegan.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman mengharapkan kepada para seniman di Sleman untuk terus berkarya, berkreasi, dan berinovasi agar seni budaya yang menjadi jati diri masyarakat Sleman, dapat terus eksis di tengah masyarakat. Seni budaya ini juga diharapkan dapat migunani bagi masyarakat, baik sebagai tontonan yang bersifat menghibur ataupun tuntunan yang memberi inspirasi dan pencerahan hidup dan kehidupan masyarakat Sleman.

Setelah FKS dibuka pada malam harinya ditampilkan Langen Carito dari SD Kanisius Kalasan dan pagelaran ketoprak dari Komunitas Kethoprak Sleman. Untuk hari Minggu digelar Extravaganza, aneka tari, Peksimoi dan Dayakan. Sementara di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi digelar kesenian Jathilan, Klentingan, Karawitan dan pergelaran Wayang Kulit dengan Dhalang Ki Edy Suwondo.