Iringan Bregada Meriahkan Hari Jadi Desa Donokerto

Turi – Kamis (19/4) di Desa Donokerto telah dilangsungkan peringatan berdirinya Desa Donokerto yang dulunya terdiri atas 4 kalurahan, yaitu Kembangarun, Kenaruhan, Karanganyar, dan Dukuh.

Peringatan yang dihadiri Kepala Bidang Peninggalan Nilai Budaya dan Tradisi Dinas Kebudayaan Sleman, Sumarjono ini dimeriahkan dengan iringan bregada dan pertujukan seni dari masing-masing padukuhan.

Sumarjono dalam sambutannya mengucapkan apresiasi kepada seluruh warga dan perangkatnya yang masih melestarikan budaya dan kesenian.

“Semoga Desa Donokerto lebih maju serta rakyatnya lebih makmur. Ini akan lebih mempercepat menuju Sleman Smart Regency,” tuturnya.

Acara dilanjutkan dengan pembagian piala dari rangkaian kegiatan HUT Desa Donokerto ke-70, antara lain untuk bidang olahraga tenis meja, bulutangkis, dan catur. Penyerahan hadiah disampaikan oleh Camat Turi, Abdul Haris Sunaryo, Aris Suranto anggota DPRD Kabupaten Sleman, Kades Donokerto Waluyo Jati, dan Danramil Turi.

Acara ditutup dengan pertunjukan kesenian Jatilan. (Suharno)




Angkat Kekayaan Budaya untuk Pengembangan Pariwisata

Kalasan – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melepas ribuan pelari peserta Mandiri Jogja Marathon 2018 di kawasan Candi Prambanan, Sleman, Minggu (15/4).

Mandiri Jogja Marathon sendiri adalah event lari maraton dengan beberapa kategori, seperti  full marathon dengan jarak tempuh 42,195 km serta half marathon dengan jarak 21 km, 10 km, dan 5 km. Ajang Mandiri Jogja Marathon 2018 ini diikuti 8 ribu pelari baik dari dalam maupun luar negeri.

Memilih lokasi start dan finish di kawasan Candi Prambanan, lomba bertaraf internasional ini menempuh rute-rute yang memperlihatkan keindahan alam dan kekayaan budaya lokal dengan melewati puluhan desa dan 3 tujuan wisata utama di Yogyakarta, yakni Candi Prambanan, Candi Plaosan dan Monumen Taruna Plataran.

Mandiri Jogja Marathon diharapkan dapat mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya dan produk lokal sehingga memacu pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. (Damar Aji Seto)




Bangunkerto Gelar Potensi dan Budaya Peringati Hari Jadi

Turi – Pengurus Desa Budaya Bangunkerto bersama Pemerintah Desa Bangunkerto mengadakan acara peringatan hari jadi Desa Bangunkerto yang ke-71, Jumat (6/4) pukul WIB di Komplek Kantor Desa Bangunkerto.

Acara yang dibarengi dengan gelar potensi dan budaya ini resmi dibuka oleh Lurah Desa Bangunkerto Anas Maruf. Gelar potensi dan budaya berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (6/4) hingga Minggu (8/4).

Kegiatan diawali dengan mujahadah yang diikuti oleh seluruh rois, perangkat desa, karang taruna, tokoh masyarakat, RW, BPD, serta semua pengurus desa budaya sebagai panitia. Adapun mujahadah ini bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah mendahului kita dan untuk memohon keselamatan, kedamaian, serta rezeki yang berlimpah bagi semua warga di wilayah Desa Bangunkerto.

Setelah mujahadah selesai dilanjutkan prosesi pengambilan tiga pusaka dari kantor desa untuk dibawa ke kelurahan lama masing-masing baru kemudian diarak keliling Desa Bangunkerto sebelum dikembalikan ke kantor Desa Bangunkerto.

Prosesi ini adalah untuk mengenang kembali sejarah terbentuknya Desa Bangunkerto, yang mana Desa Bangunkerto adalah gabungan dari tiga kalurahan. Kelurahan tersebut terdiri dari Kelurahan Wonosari, Kelurahan Ganggong, dan Kelurahan Selobonggo, yang pada tahun 1947 bergabung jadi satu dan menjadi Desa Bangunkerto,

Peristiwa ini digambarkan dengan penyerahkan pusaka kebesaran masing-masing kelurahan yang berupa tombak ke Desa Bangunkerto sebagai simbol bergabungnya tiga kelurahan tersebut ke Desa Bangunkerto. (Harman)




Ruang Pelaku Seni Budaya Tunjukkan Karyanya

Gamping – Rabu (4/4) pukul WIB, Pemerintah Kecamatan Gamping menggelar rapat panitia Gamping Gegayengan 2018 bertempat di Aula Lantai II Kantor Kecamatan Gamping.

Rapat dipimpin oleh Sekretaris Kecamatan Rasyid Ratnadi dan dihadiri oleh segenap panitia yang berasal dari unsur Forkompim dan ASN kecamatan gamping, UPK, HIMPAUDI, IGTK, Forum PAUD, Puskesmas Gamping I dan II, Polsek, Koramil serta Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kecamatan Gamping.

Event Gamping Gegayengan kali ini mengambil tema “Adeging Kapanewon Gamping” berlangsung dari tanggal 28 April sampai 3 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di seputaran Halaman Kantor Kecamatan Gamping ini, meliputi pameran potensi lokal, pentas seni sanggar Abinaya Basopati dan sanggar Puspitosari Guyangan, pentas kethoprak, pentas jathilan, pentas dolanan anak langen carita, pentas reog, festival hadroh, gebyar PAUD, kirab Bregodo, festival dolanan anak, lari lintas alam anak SD serta jalan sehat.

Puncak acara Gamping Gegayengan akan diisi dengan peresmian Kantor Kecamatan Gamping oleh Bupati Sleman Sri Purnomo disertai tari klasik, karawitan, pentas juara hadroh, penandatanganan prasasti serta pemberian trofi/hadiah bagi pemenang lomba kethoprak, kirab bregodo, hadroh dan wajah padukuhan.

Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antar warga Gamping dan memberikan ruang bagi pelaku seni budaya untuk menunjukkan karyanya kepada masyarakat. (Adnan Nurtjahjo)




Tembang Macapat Mengandung Makna Luhur

Turi – Dalam rangka nguri-uri budaya di Kecamatan Turi pada malam Selasa Kliwon (29/1) pukul WIB Paguyuban Macapat Sekar Turi mengadakan macapatan dan sarasehan.

Kegiatan macapat di Turi rutin dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon di Aula Kecamatan Turi. Sebelum sarasehan para peserta diberi kesempatan nembang macapat satu per satu bergiliran.

Sarasehan diisi oleh Panggih Hadipurwanto, Ketua Paguyuban Macapat Kabupaten Sleman dan Marjuki Ketua Paguyuban Macapat Sekar Turi.

Dalam sarasehan dengan tema “Sekar Macapat Dados Sarana Pendidikan Budi Pakarti Ingkang Luhur”, Panggih menjelaskan antara lain tembang macapat sejak zaman kuno sampai sekarang masih tetap dilestarikan.

Isi dari tembang macapat disampaikan Panggih mengandung pitutur luhur dan utama. Pun melestarikan tembang macapat Jawa berarti melestarikan budaya Jawa, ikut mendukung dan melestarikan Bahasa Jawa, serta berkarya untuk membangun bangsa Indonesia.

Selanjutnya diberi contoh tembang macapat sebagai sarana pendidikan budi pekerti. Misal tembang Mijil, Sinom, Asmorodana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, Pocung, dan Maskumambang. Semua isi dalam tembang macapat tersebut menyampaikan pelajaran yang baik.

Untuk acara sarasehan berikutnya disampaikan oleh Marjuki yang intinya bahwa di dalam kehidupan masyarakat DIY dan Jawa Tengah adat istiadat Jawa masih dilaksanakan misal mitoni, tingkep, tedak siti, merti bumi, lamaran, dan lain-lain. Sebagai contoh secara singkat arti atau makna upacara adat mitoni (tingkep). Pertama ayah dan ibu harus mandi di sungai jernih dan bersih yang mengalir. Bila telah selesai, pakaian yang basah dilepas biar terbawa air. Mengalir. Ini bermakna hilangnya hal-hal buruk dari tubuh.

Kedua, setelah mandi ibu hamil diberi tapih rangkap 7 yang maknanya supaya cita-citanya dikabulkan, dilindungi, dan mendapatkan pertolongan dari Tuhan YME.

Ketiga, dilakukan acara brojolan, agar kelak bayi dapat lahir dengan lancar. Brojolan menggunakan Kelapa Gading yang diukir dengan gambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Ini mempunyai arti bila lahir laki-laki supaya gagah seperti Kamajaya dan menjadi anak yang taat beribadah. Begitu pula, bila lahir perempuan supaya cantik seperti Dewi Ratih.

Sarasehan juga dihadiri perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Agus, Kasi Kesmas Kecamatan Turi dengan total peserta berjumlah 25 orang. Acara diakhiri pukul WIB dengan doa syukur. (Suharno)