Bupati Resmikan Wisata Edukatif Geo Tubing Lava Bantal

Sleman – Alternatif wisata edukatif baru berupa Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto Kecamatan Berbah diresmikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Minggu (18/12) sore.

Wisata alam tersebut diinisiasi oleh Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) bekerjasama dengan Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Desa Kalitirto Kecamatan Berbah Sleman. Selanjutnya Pokdarwis tersebut mengadakan kerjasama dengan kelompok Tirta Wisata. operaror wisata Tubing Lava Bantal di desa tersebut.

Sri Purnomo, menyambut baik keinginan masyarakat dalam menghidupkan wisata baru perairan.

“Saya senang melihat semangat masyarakat dalam menumbuhkan ekonomi masyarakat. Dengan menghidupkan potensi wisata perairan didaerahnya,” kata Sri Purnomo.

Hanya saja untuk wisata Tubing Lava Bantal ini Sri Purnomo mengingatkan beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kebersamaan dalam mengelola  obyek wisata sungai ini.

“Kebersamaan dalam pengelolaan sangat menentukan, dan bila ada 10 kelompok dalam Pokdarwis di Kalitirto ini maka sungai akan dapat dikelola denga baik akan jadi faktor utama dalam kehidupan kita,” katanya.

Dengan pengelolaan sungai yang orang tidak akan buang sampah di sungai sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

“Jika lingkungan sungai terjaga kebersihannya tentu akan menarik wisatawan melakukan wisata tubing,” tambah Sri Purnomo.

Pemandu wisata juga diminta untuk menjaga wisatawan yang dipandunya dengan baik. Termasuk menjaga keamanannya. Sri Purnomo minta keamanan dalam berwisata tubing ini diperhatikan dengan baik. Diupayakan seminimal mungkin atau nol persen kecelakaan.

“Para pemandu yang sudah dilatih oleh Disbudpar dan instansi terkait diharapkan bisa mengimplementasikan ilmunya dan tidak boleh lengah sebab menyangkut keselamatan jiwa manusia yang dipandunya disungai,” kata Sri Purnomo.

Sementara Ketua BPPS, Guntur Eka Prasetya SH MH mengatakan kawasan Lava Bantal di Kali Opak ini sangat ideal untuk segera dipasarkan sebagai tujuan baru wisata edukatif.

Guntur menegaskan dengan objek geowisata edukatif Tubing Lava Bantal tersebut sebelumnya telah dilakukan tubing (wisata air arus menggunakan ban) percobaan (trial) sekitar 25 pioner. Jarak tempuh sementara 2 km memerlukan waktu 60 menit saat arus deras. Dapat lebih lama jika debit arus Kali Opak di bawah standar.

Guntur juga menjelaskan saat ini sudah dipersiapkan  100 set perlengkapan tubing, lengkap dengan standar keamanan untuk wisata arus air. Sedang pelatihan pemandu wisata dan sosialisasi Tubing Lava Bantal dilakukan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Ditargetkan, pada  Desember objek ini dapat menjadi alternatif wisata libur akhir tahun.

Sedang Kades Kalitirto, H Suparwoto mengatakan wisata edukatif Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto Berbah ini dikelola Pokdarwis Amarta Manunggal yang dibentuk 4 November 2016 dengan 20 anggota pemandu yang mengurusi kegiatan wisata edukatif tubing dan siap memandu wisatawan.

Peresmian ditandai dengan penyematan jaket dan topi serta penandatanganan prasasti oleh Bupati Sleman. Bupati Sri Purnomo juga sempat mencoba wisata tubing tersebut.




Bupati Kukuhkan Tim Saber Pungli Sleman

DSC_5738bns (1)Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama Forum Pimpinan Daerah, mengukuhkan Satgas Sapu Bersih Pungutan Liar untuk melaksanakan pemberantasan pungutan liar secara efektif dan efisien dengan mengoptimalkan pemanfaatan personil, sarana-prasarana dan satuan kerja yang ada di wilayah Sleman. 

Pengukuhan Saber Pungli Kabupaten Sleman dilakukan oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Pendopo Parasamya Sleman, Selasa (6/12) yang  dihadiri Forum Pimpinan Daerah Sleman, antara lain  Kapolres, Dandim, Kajari, Pengadilan Negeri serta pejabat Sleman dan unsur Ormas di Kabupaten Sleman.

Satgas Saber Pungli diketuai oleh Wakapolres Sleman, Kompol Widi Saputro SIK, Wakil Ketua I Inspektur Kabupaten Sleman Suyono SH dan Wakil Ketua II Kepala Seksi Intel Kejari Sleman.

Satgas terdiri dari 4 kelompok kerja yakni Intelijen, Unit Pencegahan, Unit Penindakan dan Yustisi serta Sekretariat yang berada di Kantor Inspektorat Kabupaten Sleman. Dan anggotanya terdiri dari unsur Kepolisian, Kejaksaan, Kodim, Satpol PP dan Inspektorat.

Sri Purnomo mengatakan melalui pengukuhan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal penegasan atas pemberantasan pungli di Kabupaten Sleman secara terpadu dan komprehensif. Tim Dibentuk berdasarkan SK Bupati Nomor 70/ tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar Kabupaten Sleman.

Dengan disahkannya SK ini maka anggota tim tersebut telah memiliki kewenangan untuk melaksanakan pemberantasan pungutan liar secara efektif dan efisien dengan mengoptimalkan pemanfaatan personil, sarana-prasarana dan satuan kerja yang ada di wilayah Sleman.

“Saya berharap agar tim dapat bergerak cepat dan tepat bertindak tegas atas praktek pungutan liar di berbagai bidang,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga menyampaikan praktek pungutan liar sudah terlalu lama dibiarkan terjadi sehingga menjadi budaya dalam pelayanan masyarakat di Indonesia.

“Pungli sudah berlangsung lama dan kita menganggap itu sebagai hal normal sehingga kita permissif terhadap pungli. Sesuai arahan Presiden yang meliputi membangun sistem pencegahan, pengumpulan data, operasi tangkap tangan hingga memberikan sangsi kepada pelaku. Hal-hal apapun yang berkaitan dengan pungutan tidak resmi harus kita hilangkan,” papar Sri Purnomo.

Pungli lanjut Sri Purnomo  bukan perkara nominal besar saja namun rupiah sekecil apapun termasuk pungli. Karena itu Sri Purnomo  ingin membangun persepsi yang sama dengan seluruh pemangku kepentingan bahwa semangat pemberantasan pungli bukanlah terletak pada jumlah kerugian yang ditimbulkannya, namun lebih pada akar budayanya yang hendak dihilangkan.

Pungli tidak hanya berdampak pada buruknya kualitas pelayanan masyarakat, tetapi juga dapat berakibat  melemahkan daya saing masyarakat. Upaya pemberantasan pungli ini diungkapkan Sri Purnomo,  tidak akan optimal tanpa dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sendiri.

“Tim saber Pungli Sleman butuh masukan, dukungan dan laporan dari pengguna pelayanan publik jika mendapati pungli di institusi Pemkab Sleman,” tuturnya.
Kepada masyarakat untuk menggunakan kanal-kanal aduan di Sleman dapat melaporkan langsung jika menjadi korban pungli.




Agar Eksis Ditengah Persaingan Bupati Himbau Perajin Genteng Terus Berinovasi

IMG_9312 (2)Sleman – Persaingan produksi bahan atap bangunan semakin ketat. Terutama produk genteng dengan beraneka ragam jenis dari berbagai macam bahan dan model yang saat ini beredar dipasaran.

Mengantisipasi persaingan tersebut Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI berharap sentra genteng di Sleman khususnya Godean untuk terus berinovasi dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses industri dan pemasaran.

“Persaingan semakin ketat, dengan inovasi dan pemanfaat teknologi tentunya akan mempermudah dalam pengembangan dan pemasaran industri genteng di Godean ini,” tutur Sri Purnomo disela-sela pengukuhan Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal di Kwagon Desa Sidorejo Kecamatan Godean, Selasa (4/10).

Sri Purnomo juga menjelaskan bahwa Kecamatan Godean merupakan pusat industri genteng terbesar untuk wilayah Kabupaten Sleman. Bahan baku lokal untuk produksi genteng juga berasal dari wilayah setempat. Menurutnya bahan baku tanah liat dari Godean juga memiliki kualitas yang baik dan dapat bersaing dengan produk genteng dari luar wilayah Sleman.

Sri Purnomo berharap dengan dikukuhkannya Desa Sidorejo sebagai sentra industri genteng Godean dapat memajukan industri dan mengembangkan potensi yang ada di Sidorejo. Untuk itu Sri Purnomo juga mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama menggunakan produk lokal agar menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Sementara Sukiman selaku Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Genteng Sembada Manunggal menjelaskan bahwa jumlah pengrajin genteng di wilayah Sidorejo sebanyak 85 perajin dari total 358 perajin genteng yang ada di Kecamatan Godean. Menurutnya berbagai macam model genteng diproduksi di wilayahnya seperti Genteng Paris, Turbo, Kodok, Magas, Morano, dan Mantili.

“Selain memproduksi genteng kami juga memproduksi wuwung dan bata merah,” jelas Sukiman.

Sukiman berharap dengan dikukuhkannya asosiasi sentra genteng tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dapat melindungi produksi genteng asli Kabupaten Sleman agar pemasaran genteng lokal dapat berkembang sehingga industri rumah tangga pengrajin genteng dapat bertahan ditengah persaingan.

Selain itu Sukiman juga berharap agar Pemkab Sleman melarang produksi genteng dengan bahan baku dari luar wilayah Sleman agar terjaga kualitas dan produksi genteng yang dipasarkan sesuai asal kewilayahan.




Bupati Kukuhkan Pengurus Perwira Sleman

2-4Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengukuhkan pengurus Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira) yang berlangsung di Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (29/9).

Menurut Sri Purnomo, melalui pelantikan Perwira cabang Sleman ini dapat menjadi motor penggerak yang solid bagi kemajuan dan perkembangan Perwira kedepan. Mengingat tantangan kedepan dalam dunia wirausaha juga semakin besar sejalan dengan era ekonomi ASEAN.

“Untuk itu, semoga dengan dilantiknya para pengurus Perwira Cabang Sleman periode 2016 dapat memotivasi semangat seluruh pengurus dan anggota untuk dapat terus berinovasi dalam pengembangan usahanya,” kata Sri Purnomo usai mengukuhkan.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa di era sekarang ini ruang bagi para kaum perempuan untuk mandiri, mengaktualisasikan diri dan berperan diberbagai sektor semakin terbuka lebar, tidak terkecuali dalam dunia wirausaha. Hal tersebut patut disambut baik bagi para kaum perempuan sebagai sebuah kesempatan untuk berkarya dan berkembang secara lebih luas.

“Keberadaan Perwira menjadi wadah yang mampu menjadi daya dukung bagi perkembangan kaum perempuan di bidang wirausaha untuk dapat semakin mengembangkan diri dan usahanya, berkolaborasi/bermitra serta belajar dan berkembang bersama dalam rangka memajukan usahanya serta memajukan perekonomiannya,” tutur Sri Purnomo.

Diharapkan pula keberadaan Perwira Cabang Sleman dapat menjadi inspirasi khususnya bagi para perempuan di Kabupaten Sleman untuk dapat berani melangkah dan memulai usaha dalam upaya turut meningkatkan derajat perekonomian keluarga.

Seperti diketahui, masalah kemiskinan masih menjadi tantangan di Kabupaten Sleman, melalui pemberdayaan perempuan dalam bidang wirausaha diharapkan dapat berkontribusi secara positif dalam pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sleman.

“Untuk itu kedepan saya juga berharap Perwira Cabang Sleman dapat pula mendukung berbagai program dan kegiatan pemerintah dalam permberdayaan perempuan, sesuai peran dan fungsinya untuk bersama-sama dapat memajukan kaum perempuan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi di Kabupaten Sleman,” katanya.

Menyikapi tantangan dalam dunia wirausaha yang sekarang ini semakin besar dan ketat perlu disikapi dengan pengembangan manajemen kepengurus­an yang teratur, tertata rapi, baik tenaga, sarana dan dana yang dilakukan secara transparan dan profesional serta penyusunan program dan kegiatan yang terarah sebagai sarana dalam mencapai tujuan organisasi.

Oleh karena itu Sri Purnomo berharap agar semua pengurus beserta anggota Perwira Cabang Sleman mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggungjawab dan bersungguh-sungguh serta mampu menunjukkan eksistensinya di masyarakat khususnya dalam dunia wirausaha.

Sehingga keberadaan Perwira Cabang Sleman tidak hanya dirasakan secara positif bagi seluruh anggotanya namun secara lebih jauh dapat turut berperan aktif dalam membangun masyarakat secara lebih luas. Pelantikan DPC Perwira Sleman dilakukan oleh Ketua DPD Perwira DIY  Dra Hj Tatik Esti Ujiani dilanjutkan penyerahan Pataka. Sedangkan yang dilantik sebagai ketua DPC Perwira Cabang Sleman  Hj Anna Christiana Maria Ernawati dan dilengkapi beberapa bidang.




Bupati Panen Perdana Cabai di Mlati

1044457_318383841887279_7301434520895394162_nSleman – Kelompok Tani Manggala Jodag Desa Sumberadi Kecamatan Mlati Sleman melakukan panen perdana cabai jenis Kecana dan Gorga, Senin (26/9). Panen perdana dilakukan oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI dan Kepala Dinas Pertanian DIY serta Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman, didampingi Camat Mlati.

Ketua Kelompok Tani Manunggal, Legio Jawab menyampaikan kelompoknya yang beranggotakan 35 orang mengelola sawah seluas 5 ha untuk ditanami cabai sejak 25 Juni 2016, memanfaatkan bantuan APBD Sleman berupa NPK Mutiara 6,25 ton, pupuk organik 32 ton, mulsa 61,5 rol, bibit 100 pak dan sujen 10 pak, plastik sungkup 5 rool pelubang mulsa 15 buah pupuk padat 20 pak, horman tanaman 10 liter, poliback kecil 150 pak, dan multivator.

Sampai saat ini telah dipanen 4 kali dan untuk panen pertama mendapatkan 5 kg per 1000 m2 dengan 1500 pohon, kedua 15 kg, ke tiga 20 kg dan ke empat 25 kg dan perkiraan panen mencapai 20 kali. Perkiraan 1 batang menghasilkan 0,8 ons cabai.

“Untuk pemasaran saat ini bekerjsama dengan Aspartan (Asosiasi Pasar Tani Sleman) dengan harga Rp 20 ribu dari harga pasaran saat ini Rp 10 ribu dan dikirim ke Pangkal Pinang Kalimantan perhari 2 kwintal,” kata Legio.

Sementara Sri Purnomo menyampaikan betapa menjanjikannya prospek pertanian di Sleman.

“inti keberhasilan petani adalah harus selalu berinovasi, membuat kelompok-kelompok, dan selalu berkomunikasi dengan daerah lain. Karena di Indonesia yang wilayahnya luas dengan beribu-ribu pulau, harga komoditas antar wilayah bisa berbeda jauh. Di Sleman bisa saja harganya murah tapi nanti begitu dibawa terbang ke luar pulau bisa sangat mahal,” kata Sri Purnomo.

Mengenai kurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani, lebih jauh Sri Purnomo meyakinkan kepada generasi muda bahwa pertanian bisa dijadikan profesi yang menghasilkan asalkan menjalaninya juga harus total. Apabila hanya dijadikan sambilan maka hasilnya juga tak akan seberapa.

Apalagi lanjut Sri Purnomo  dengan teknologi di era modern sekarang lebih mudah untuk memantau cuaca sehingga petani juga lebih mudah untuk mensiasati jenis tanaman apa yang cocok di musim-musim tertentu.

Sri Purnomo juga berpesan kepada para petani untuk tidak sekedar mengandalkan bantuan dari Pemerintah, tetapi bantuan yang diterima digunakan sebagai stimulan dan modal untuk diteruskan dalam kegiatan pertanian berikutnya. Walaupun nanti sudah tidak mendapat bantuan apabila memang menguntungkan bisa dilanjutkan dalam menanam cabai dengan modal sendiri.

Acara diakhiri dengan dialog antara para petani cabai se kabupaten Sleman dengan Bupati Sleman, Kepala Dinas Pertanian DIY dan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman.***