Serah Terima Jabatan Camat Turi

Turi – Pada Rabu (7/3) pukul WIB di Pendapa Kecamatan Turi dilaksanakan serah terima jabatan Camat antara Camat lama Siti Anggraeni Susilo Prapti kepada Camat baru Abdul Haris Sunaryo.

Dalam kata perpisahannya, Siti Anggraeni yang menjabat sebagai Camat Turi selama 1 tahun 1 bulan 24 hari ini mengucapkan terimakasih atas kerja sama dalam mengemban tugas pemerintah, juga memohon maaf untuk program-program yang belum dapat terselesaikan.

“Semoga dengan pimpinan Bapak Haris Turi akan lebih maju lagi. Tidak lupa saya mohon doa restu dari semua hadirin dan warga Turi dan untuk semua kesalahan saya mohon maaf yang setulus-tulusnya,” tutur Siti.

Sementara itu, baru Abdul Haris Sunaryo sebagai Camat Turi yang baru menyampaikan kepada semua pihak agar dapat memberinya dorongan, masukan, dan kerjasama dalam melaksanakan tugas sebagai ASN.

Serah jabatan Camat Turi dihadiri oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Purwatno Widodo, yang berpesan agar Camat baru dapat segera membaur di masyarakat.

“Lebih-lebih kita menghadapi tahun 2019 dengan adanya Pemilu,Presiden, DPR, DPD,” ucap Purwanto. Dalam kesempatan tersebut, Purwanto pun menyampaikan pesan Bupati Sleman, Sri Purnomo agar angka kemiskinan di tingkat kecamatan dapat diturunkan kembali dan supaya tiap bulan diadakan rapat forum pimpinan ataupun peningkatan patrol keamanan.

Acara dilanjutkan penandatanganan serah terima jabatan derngan disaksikan oleh perwakilan Polsek Turi, Koramil, tokoh masyarakat, tokoh agama, PKK, perangkat desa di Kecamatan Turi, dan warga Kecamatan Turi. (Suharno)




Perpustakaan Desa Sukoharjo Raih Juara 2 Nasional

Ngaglik – Hadi Subronto selaku Pimpinan Tim Lomba Perpustakaan Desa, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, DIY melaporkan langsung dari Jakarta bahwa Desa Sukoharjo berhasil meraih Juara 2 pada Lomba Perpustakaan Desa, Rabu (13/9).

Hadi mewakili tim lomba dari Desa Sukoharjo merasa bersyukur karena apa yang diperjuangkan dan diusahakan tidak kenal lelah sudah terbayar meski belum bisa meraih juara 1.

Sementara itu, Ketua Perpustakaan Desa Sukoharjo, Dwi Ari, merasa bersyukur dan puas atas jerih payah yang selama ini dilakukan. “Saya merasa puas dan mendapatkan tantangan baru untuk terus dikembangkan dan terus dipupuk dan dilestarikan perpustakaan desa ini,” ujar Dwi.

Tim lomba diungkapkan Dwi, tetap memohon dukungannya untuk dapat melestarikan perpustakaan yang telah dibangun. Tak lupa, menghimbau warga untuk mengajak putra-putrinya agar gemar membaca di perpustakaan.




OIahraga Bantu Jaga Fisik dan Nonfisik

Turi – Turi melaksanakan upacara Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang ke-34 pada Senin (11/09) di Halaman Kecamatan Turi. Dalam sambutannya, Camat Turi, Siti Anggraeni selaku pembina upacara membacakan amanat dari Menteri Pemuda dan Olahraga RI.       

Siti memberi keterangan bahwa peserta upacara ada 500 orang yang terdiri dari siswa SMP, SMA, SMK, Sekretaris Camat dan seluruh pegawai Kecamatan Turi, para lansia, guru, dan lain sebagainya.

Selesai upacara dilanjutkan dengan senam massal aerobik dan Maumere. Menurut Siti, olahraga kini telah menjadi sebuah kebutuhan. Ini diamini oleh salah satu peserta senam massal, Tamsir dari Kendal Bangunkerto bahwa setelah tua olahraga sangat dibutuhkan, baik untuk menjaga fisik maupun nonfisik.

Tamsir hingga kini di usianya yang sudah menginjak 79 tahun bahkan masih aktif gerak jalan setiap pagi.

Acara diakhiri dengan hiburan organ tunggal dan pembagian door prize.




Perpustakaan Desa Sukoharjo Wakili DIY ke Tingkat Nasional

Ngaglik – Waktu yang sudah hampir 2 bulan ditunggu akhirnya tiba. Setelah beberapa kali melakukan seleksi Perpustakaan Desa, Desa Sukoharjo dinyatakan Juara I tingkat DIY dan berhak maju tingkat Nasional di Jakarta.

Lomba sedianya akan berlangsung dari Senin (11/9) hingga Rabu (13/9) di Jakarta. Dengan kesiapan yang mantap, Tim Lomba Perpustakaan Desa Desa Sukoharjo yang sudah masuk 10 besar nasional, tampil menyampaikan abstraksi apa yang dilaksanakan Perpustakaan Desa Sukoharjo secara menyeluruh selama 10 menit.

Disampaikan Ketua Tim Lomba Perpustakaan Desa, Dwi Ari, hal ini sudah disiapkan secara maksimal dan sudah diuji berkali-kali agar bisa menyajikan tepat waktu dan menyeluruh mengenai berbagai kegiatan.

Sementara itu, Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto mengatakan bahwa untuk meraih juara I tingkat DIY, Desa Sukoharjo telah melalui perjuangan yang tidak kenal lelah dan luar biasa sehingga saat sudah masuk tingkat nasional maka perlu berjuang lebih keras lagi.

Hadi rencananya akan mendampingi Tim Desa Sukoharjo untuk memberi dukungan dan semangat agar bisa tampil secara maksimal dalam lomba tingkat nasional.

Camat Ngaglik, H. Anggoro Aji Sunaryono, pun mengungkapkan kebanggaannya kepada putra-putri terbaik Kecamatan Ngaglik karena bisa membawa harum Kecamatan Ngaglik umumnya dan Desa Sukoharjo khususnya. “Karena perpustakaan desanya masuk ke tingkat nasional berarti Ngaglik sangat potensi dan maju dalam perpustakaan desa,” ujar Aji. Untuk itu Aji sangat senang dan mendoakan agar Perpustakaan Desa Sukoharjo menjadi juara nasional.

Tak hanya itu, Bupati Sleman, Sri Purnomo juga menyampaikan ucapan selamat kepada Desa Sukoharjo yang telah meraih Juara I tingkat DIY. “Tinggal selangkah lagi juara ke tingkat nasional, saya selaku Bupati Sleman, ikut mendoakan dan memberikan semangat kepada peserta lomba dan Pak Kepala Desa mendampingi secara langsung lomba di Jakarta. Semoga berhasil sukses dalam acara ini,” tutur Sri.




Camat Dituntut Dorong Eksistensi Kesenian Daerah

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah menetapkan Kecamatan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Dengan adanya kebijakan ini, Kecamatan diposisikan sebagai tempat yang memberikan ruang gerak pertumbuhan budaya lokal.‬

‪“Kecamatan tidak hanya dijadikan pusat pelayanan pemerintahan, namun menjadi pusat kebudayaan dan kesenian. Pengembangannya tetap harus memperhatikan basis nilai budaya masyarakat,” kata Sri Winarti, Kabag Humas  Sleman, Selasa (17/1).‬

‪Seiring kebijakan itu, lanjut Sri Winarti, camat juga dituntut mampu mendorong eksistensi kesenian di wilayahnya, dan bukan hanya bertugas melayani masyarakat saja.

Menurut Sri Winarti, setidaknya ada tujuh aspek kebudayaan yang perlu ditonjolkan yakni bahasa, sistem teknologi, mata pencaharian, sosial, ilmu pengetahuan, religi, dan kesenian.‬

‪Berdasar pendataan terakhir tahun 2015, ada ribuan potensi seni budaya dan pariwisata. Pada kelompok cagar budaya terdapat 33 bangunan perjuangan, 72 candi, 116 situs, 3 goa bersejarah, 4 makam bersejarah, 2 masjid Pathok Negoro, 3 peninggalan pesanggrahan, dan 414 rumah tradisional.‬

‪Sementara, pada kelompok kesenian di Sleman terdapat 850 seni musik, 338 seni tari, 31 wayang, 4 lawak, 65 ketoprak, dan 1 sanggar seni rupa. Selain itu ada 52 kelompok seni sastra berupa teater, macapat, geguritan, dan sastra tutur.

“Potensi drama tari juga berkembang cukup baik. Ada 52 kelompok yang menekuni beragam drama tari seperti antup, srandul, inkling, langen purbo, jeberjues, emprak, dan dadungawuk,” tutur Sri Winarti.‬

‪Di sektor wisata, potensi wilayah Sleman juga cukup besar. Setidaknya ada 4 objek wisata alam, 10 wisata budaya, 4 wisata agro, 38 desa wisata, 5 wisata pendidikan, 13 museum, 2 monumen, 13 candi, dan 11 wisata sejarah.