Hadapi Cuaca Ekstrim Bulan Oktober, BPBD Sleman Waspadai 4 Bencana

Sleman – Menghadapi cuaca ekstrim bulan Oktober ini di Kabupaten Sleman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman berupaya mengantisipasi terhadap ancaman 4 bencana yang kemungkinan bisa terjadi. Ancaman bencana tersebut antara lain angin ribut/ putting beliung, petir, banjir dan longsor.

“Berdasarkan surat dari BMKG sudah diinformasikan bahwa terjadi prakiraan maju musim penghujan untuk wilayah Kabupaten Sleman yaitu akhir bulan September 2016 dengan curah hujan sampai dengan 300 ml/bulan dan akan terjadi hujan lebat dengan intensitas 30-40 ml. Mengingat terjadinya pancaroba diperlukan antisipasi bencana angin ribut, petir, banjir dan longsor,” kata Drs Kunto Riyadi MPPM, Plt Kalak BPBD Sleman, Kamis (6/10).

Berkaitan dengan hal tersebut dikatakan Kunto, BPBD Sleman melakukan upaya penanggulangan bencana angin ribut, petir, banjir dan longsor. Menurut Kunto, bencana angin putting beliung kemungkinan terjadi merata diseluruh wilayah Sleman mengingat ancaman bencana angin ribut sampai saat ini belum dapat dipetakan pola tempat kejadiannya.

“Upaya pengurangan risiko bencana adalah dengan menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pemangkasan ranting pohon yang menjulur ke bangunan rumah atau fasilitas umum lainnya,” kata Kunto.

Sementara untuk bencana petir biasanya terjadi hampir bersmaan dengan angin ribut karena pekatnya konsentrasi awan cumulonimbus. Mengurangi dampak bencananya dengan cara menghimbau kepada masyarakat untuk mematikan TV, radio yang memiliki antena luar pada saat terjadi petir.

Sedang curah hujan yang tinggi dalam durasi waktu yang lama dapat berpotensi menjadi banjir baik banjir aliran sungai maupun banjir lahar hujan. Untuk bencana tanah longsor berbeda dengan ancaman bencana lainnya, bencana tanah longsor sudah terpetakan di wilayah Kecamatan Prambanan. Disinggung kondisi Gunung Merapi, dikatakan Kunto berdasarkan surat dari BPPTKG Jogja, saat ini Gunung Merapi dalam  kondisi normal.

“Berdasarkan surat daro BPPTKG Jogja indikator visual dan tehnis Merapi  menunjukkan gejala normal. Karena itu antisipasi dan aktifitas seperti biasa. Kita cukup canggih bisa monitor keadaan Merapi kecuali  diluar dugaan,” tutur Kunto.




Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrim Masa Pancaroba

IMG-20160921-WA0004Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi angin kencang pada musim pancaroba seperti saat ini.‬ Selama peralihan musim kemarau ke musim hujan  ini, potensi terjadinya angin kencang masih cukup tinggi.

“Masyarakat harus waspada terhadap potensi dampak kejadian akibat cuaca ekstrim masa pancaroba, yaitu banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung yang bisa menimbulkan pohon tumbang, baleho baik yang di pohon perindang jalan maupun yang di permukiman,” kata Makwan  MT, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Rabu (21/9).

Ketika ditanya dampak hujan deras yang terjadi Selasa (20/9) malam, Makwan mengatakan hujan semalam hanya mengakibatkan pohon beringin sempal dan menimpa kabel listrik di makam Dusun Klangkapan Desa Margoluwih Seyegan.

“Pada Rabu pagi tim relawan dari BPBD Sleman dan masyarakat langsung membersihkan rantin pohon beringin yang sempal tersebut. Tidak ada rumah yang rusak,” kata Makwan.

Karena itu ‪menurut Makwa, masyarakat harus tetap waspada terhadap kondisi peralihan cuaca yang ekstrim.‬

‪”Perubahan dari panas ke mendung dapat menyebabkan angin kencang. Karena itu, di masa pancaroba ini masyarakat tetap perlu berhati-hati apalagi kejadiannya mendadak,” katanya.‬

‪Potensi angin kencang. Lanjutnya biasanya ditandai kondisi cerah dan panas pada pagi hari, namun tiba-tiba siangnya berubah menjadi mendung pekat.‬ Perbedaan tekanan udara secara mendadak ini yang berpotensi menimbulkan angin kencang. Bahkan jika suhu udara berubah dingin dapat memunculkan kejadian hujan es.‬

‪Makwan mengatakan, mengingat potensi angin kencang masih relatif tinggi, pihaknya menyarankan warga untuk memangkas pohon di lingkungan sekitar tempat tinggal yang dirasa terlalu rimbun atau rawan roboh.‬

Diingatkan Makwan, bila situasi hujan disertai angin jangan berteduh di bawah pohon atau baleho, cari tempat yang lebih aman dari kekuatan angin.

“Mencegah genangan akibat hujan deras, jangan membuang sampah di saluran air, pastikan sumur resapan dan biofori berfungsi, hujan saatnya panen air,” tutur Makwan.‬

Semua ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar saat terjadi peristiwa angin kencang, tidak ada kerugian materiil maupun korban jiwa akibat pohon tumbang.‬ ‪Ia mengatakan, dalam hal ini butuh kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan.‬ Perlu diingat bahwa bencana tidak mungkin bisa dihindari tapi setidaknya ancaman dapat diminimalisir.‬

‪Selama musim pancaroba ini, wilayah Sleman terutama  Mlati, Depok, Kalasan dan Seyegan sangat rawan terjadi munculnya bencana angin kencang. Meski demikian, kewaspadaan perlu dilakukan seluruh masyarakat Sleman. Karena berdasar kondisi geografis, seluruh Kecamatan di Sleman pada masa pancaroba potensial bagi terjadinya bencana angin kencang.‬ Sedang untuk rawan longsor masih berada diperbukitan Prambanan.




Masyarakat Harus Waspada Cuaca Ekstrim di Siang Hari‬

Sleman – Bencana angin kencang, petir, dan hujan lebat yang dapat mengakibatkan banjir atau longsor terus mengancam wilayah Kabupaten Sleman terutama di siang hari setelah pukul WIB.

Menghadapi situasi seperti ini Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengimbau agar masyarakat terus waspada dan berhati-hati.‬

‪”Untuk masyarakat diminta tetap waspada. Sementara kesiapsiagaan dari relawan, TRC (Tim Reaksi Cepat), dan aparat sudah kita tingkatkan sejak 14 November 2015,” kata Julisetiono, Jumat (1/4).‬

‪Julisetiono menjelaskan bahwa peringatan dini cuaca ekstrim DIY sendiri telah dipublikasikan sejak 30 Maret pukul WIB.‬ Adapun potensi bencana yang bisa terjadi berupa hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. Terutama di wilayah Sleman bagian timur.‬

‪”Ini memang sudah masuk musim pancaroba yang ancaman bencananya sangat kompleks,” kata Julisetiono.

Julisetiono mengemukakan, DIY berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang dan lebat disertai petir pada siang hingga malam hari.‬ ‪Hal ini karena arus angin di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur membentuk pola convergensi atau sebagai daerah pertemuan angin. Maka itu kewaspadaan dan kesiagaan berbagai pihak harus senantiasa ditingkatkan.

‪Adapun kondisi cuaca ekstrim yang terjadi selama pancaroba meliputi suhu panas saat pagi, namun mendung pekat pada siang hari menjelang sore. Kemudian disusul dengan hujan lebat dengan intensitas yang cukup tinggi.‬

‪Sementara Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan menuturkan, selain sambaran petir dan angin kencang, potensi bencana yang terjadi saat cuaca ekstrim adalah luapan sungai. Termasuk banjir lahar di sungai yang berhulu Gunung Merapi. ‬

‪”Kondisi ini diperparah dengan banyaknya pemukiman yang memiliki drainase buruk. Sehingga menimbulkan genangan setiap kali hujan deras,” katanya.‬

‪Selain itu, penumpukan sedimen dan penyempitan alur sungai di sejumlah wilayah berpotensi menyebabkan air sungai meluap ke pemukiman masyarakat. Tidak hanya pemukiman, hujan deras pun tak jarang mengakibatkan sejumlah ruas jalan tergenang, seperti di Jalan Kaliurang.‬

‪Drainase jalan yang tidak bisa menampung air hujan mengakibatkan air meluap ke badan jalan. Maka itu beberapa titik di Jalan Kaliurang sering tergenang dan sulit dilewati kendaran.