Forum Anak Upaya Lindungi Hak Anak

Turi – Desa Bangunkerto melaksanakan pembentukan Forum Anak tingkat Desa, Rabu (20/12) bertempat di Agrowisata Bangunkerto. Acara ini diikuti oleh 30 anak perwakilan dari seluruh dusun yang ada di Desa Bangunkerto.

Adapun yang dimaksud anak adalah yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih di dalam kandungan.

Anggota forum anak terdiri dari anak sekolah mulai anak SMP hingga SMA. Hadir dalam pembentukan forum anak tersebut, Kasi Kesejahteraan Kecamatan Turi, Supriharjo, Pengurus Forum Anak Kecamatan, Kasi Pelayanan Masyarakat Desa Bangunkerto, Reni Kusumastuti, Polmas Bangunkerto, Sumarwadi, serta narasumber dari Perlindungn Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) Kabupaten Sleman, Sunyadi.

Tujuan didirikannya Forum Anak Desa Bangunkerto adalah untuk melindungi anak yang ada di Desa Bangunkerto dengan cara memberikan informasi, menggali permasalahan yang ada, dan melaporkan kejadian-kejadian yang menyangkut dengan perlindungan terhadap anak.

Forum anak harus mempunyai data tentang jumlah anak yang ada di Desa Bangunkerto. Datanya pun beragam seperti anak yang belum punya akte kelahiran, anak yang belum sekolah, dan lain sebagainya. Data ini nantinya dilaporkan ke Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Desa dan ke Forum Anak tingkat Kecamatan. Dengan ini, diharapkan semua anak yang ada di Desa Bangunkerto bisa terlindungi semua hak-haknya sebagai anak yaitu hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan partisipasi. (Harman)




Bentuk Unik Infografi Buat Data Mudah Diingat

Gamping – Perkembangan infografis kian pesat di era data saat ini. Infografis telah menjadi kebutuhan mendasar komunikasi data melalui tampilan visual, entah itu untuk proposal bisnis, sosialisasi peraturan pemerintah, laporan bulanan perusahaan, atau presentasi bisnis dan pendidikan. Oleh karena itu, mempelajari dasar-dasar infografis pun menjadi sebuah kebutuhan yang pasti.

Berkenaan hal tersebut, KIM Kecamatan Gamping pada Minggu (15/10) di Ruang 101 Fakultas Fisipol UGM mengikuti Soft Skill Class dengan materi ‘Be Amazing with Infographic’, yang merupakan rangkaian acara Festival Literasi Digital Fisipol UGM 2017 yang didukung oleh Kementrian Komunikasi dan Informarmatika RI. Acara yang dimulai pada pukul WIB tersebut disampaikan oleh Dhony Firmansyah selaku pakar slide dan infografis yang sudah menimba ilmu desain dan slide presentasi di Jepang.

Di dalam materinya, Dhony menyampaikan kepada peserta workshop, untuk menghasilkan slide presentasi yang efektif dan menarik ada 3 persyaratan (magic words) yang harus dipenuhi. Pertama adalah simpel, dengan menyederhanakan data, baik kalimat hingga tampilan grafik maupun diagram. Panduannya sederhana, mudah dicerna, dan mudah dipraktikkan.

Magic word yang kedua adalah harmoni. Dalam hal ini, kita menentukan pola warna infografis hingga menata judul, subjudul dan konten infografis yang lebih optimal sehingga menghasilkan slide infografis yang eye catching.

Selanjutnya menurut pakar yang telah tersertifikasi ST Electronics COMAT Singapore di bidang infografis ini, yaitu unik. Bentuk yang unik dalam infografis membuat visualisasi data yang disampaikan mudah dicerna dan diingat. Jadi, diperlukan eksplorasi imajinasi untuk membuat infografis dengan bentuk yang beraneka ragam. (Adnan Nurtjahjo)




Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Masih Sulit Didata

Sleman – Kasus kekerasan masih menjadi momok bagi kalangan perempuan dan anak di Sleman bahkan kasus kekerasan ini masih sulit didata. Meski demikian sepanjang tahun 2015, Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan (KBPMPP) Sleman sedikitnya telah menerima 539 laporan tindak kekerasan baik terhadap perempuan dan anak-anak.‬

‪Tingginya angka pengaduan itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Kepala Badan KBPMPP Sleman, dr Nurul Hayah MKes. Dia bersama anggotanya terus intens melakukan sosialisasi untuk mendorong kaum perempuan dan anak-anak agar tidak takut melapor.‬

‪“Kami sudah membuat forum penanganan kekerasan di tingkat kecamatan. Disana masyarakat bisa mengadu yang selanjutnya akan diteruskan ke UPT P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak),” kata Nurul Hayah, Kamis (13/10).‬

‪Nurul Hayah memperkirakan, fakta di lapangan, kasus kekerasan anak dan perempuan jumlahnya lebih banyak dari laporan yang masuk. Fenomena  ini dikarenakan banyak korban yang enggan atau takut melapor.‬

‪Alasannya kebanyakan khawatir persoalan rumah tangga yang dihadapi justru akan bertambah pelik. Padahal, kata Nurul Hayah, dalam menangani aduan pihaknya mengedepankan langkah penyelesaian secara sosial.‬

‪Korban akan dipertemukan dengan pihak terlapor untuk bersama-sama mencari solusi. Selama proses mediasi di P2TP2A, korban juga didampingi oleh konselor.‬

‪”Jadi penanganan atau penyelesaiannya tidak selalu berakhir pada upaya hukum. Kami prioritaskan rumah tangga korban bisa tetap utuh jika pelaku kekerasan adalah pasangannya,” kata Nurul Hayah.

Dalam mewujudkan pengarusutamaan gender ini, pihaknya tidak berjalan sendiri. Masing-masing SKPD juga memiliki anggaran khusus yang mendukung kebijakan responsif gender.‬

‪Contohnya Dinas Sosial dengan kegiatan yang berkaitan difabel, dan pengentasan kemiskinan, serta Bappeda yang menyusun rencana aksi daerah terhadap gender.

Mulai tahun ini pihaknya berkomitmen menyukseskan program three ends yakni mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia, dan kesenjangan ekonomi pada kaum perempuan. Kinerja P2TP2A juga semakin ditingkatkan dengan sertifikasi agar layanannya sesuai standar.