Sekolah Desa Bedah Seluk Beluk Desa Wisata

Komunitas Ketjil Bergerak dalam program Sekolah Pemuda Sekolah Desa bekerjasama dengan Karang Taruna Purwobhakti dan Pemerintah Desa Purwomartani menggelar acara Sekolah Desa Bagian III yang bertajuk “Seluk Beluk Desa Wisata”, Minggu (25/3) di Pendopo Soto Bathok Sambisari, Kalasan.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dusun Sambisari dan Kepala Desa Purwomartani sebagai tuan rumah acara tersebut. Dalam sambutannya, Kepala Desa Purwomartani, H. Semiono menyampaikan terimakasih dengan diadakannya acara ini, karena dapat memberikan manfaat yang besar bagi peserta maupun Desa Purwomartani sendiri sebagai tempat diadakannya Sekolah Desa.

Dalam acara ini dihadirkan narasumber yang berperan dalam bidang pengembangan Desa Wisata. Narasumber merupakan pengelola tempat wisata yang cukup ternama di seputar DIY, antara lain Desa Wisata Pancoh dan Nganggring dari Desa Girikerto, Turi, Sleman yang merupakan Desa Wisata berbasis edukasi dan ekologi.

Selain itu, dihadirkan pula pengelola Obyek Wisata Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, yang berupaya mengelola potensinya dengan memberdayakan seluruh SDM yang ada, serta pengelola Kawasan Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul, yang telah berhasil menjadi obyek wisata unggulan di kawasan Yogyakarta dengan memberdayakan seluruh komponen yang ada disana.

Acara dilaksanakan dalam dua sesi yaitu sesi materi dilanjutkan tanya jawab lalu mengelompokan peserta menjadi tiga bagian minat yang dipilih, yaitu kelompok Wisata Budaya, Agrowisata, dan Ekonomi Produktif. Peserta diajak untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki masing-masing daerah, menyusun rencana pendirian suatu desa wisata dengan memperhatikan stakeholder yang terlibat serta sistem pendanaan yang akan digunakan.

Selain itu, juga diberikan pengetahuan mengenai skema pendanaan desa wisata yang disampaikan oleh Pranasik Faihaan dari KT Dipo Ratna Muda Pajangan, Bantul yang berpengalaman dalam pengelolaan Dana Keistimewaan (Danais).

Secara keseluruhan acara Sekolah Desa yang diselenggarakan di Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Yogyakarta ini berjalan lancar dan memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi peserta dalam upaya pengembangan potensi masing- masing daerah menjadi desa wisata yang unggul. (Cangkringan/Uut)




Masyarakat Wonosari Bangun Pendopo untuk Desa Wisata Edukasi

Turi – Dusun Wonosari Bangunkerto Turi mengadakan kegiatan kerja bakti peletakan batu pertama pembangunan pendopo untuk persiapan Desa Wisata Edukasi Wonosari, Minggu (25/2).

Kerja bakti dilakukan oleh semua masyarakat Dusun Wonosari baik bapak-bapak maupun pemuda.

Lokasi pembangunan pendopo ada di selatan kampung yang berdekatan dengan lapangan voli. Ke depannya pendopo akan berhadapan dengan lapangan sehingga mempunyai halaman yang luas.

Adapun tanah yang dipakai untuk pendirian pendopo adalah tanah kas Desa Bangunkerto yang disewa oleh warga Dusun Wonosari.

Peletakan batu pertama ini dilakukan oleh Tarminanto, Kepala Dukuh Wonosari. Peletakan didahului dengan doa yang dipimpin oleh Haji Nur Muhammad dengan harapan pembangunan pendopo bisa berjalan lancar sesuai rencana.

Adapun tujuan dibangunnya pendopo adalah untuk mengawali pembangunan sarana prasarana Desa Wisata Wonosari Bangunkerto Turi.

Dusun Wonosari adalah salah satu dusun yang berada di Kecamatan Turi yang mempunyai lingkungan yang indah dan asri sehingga sangat cocok untuk wisata. Masyarakatnya yang sangat peduli dan mencintai alamlah yang menjadikan Dusun Wonosari asri, indah, dan nyaman bagi masyarakat untuk berwisata. (Harman)




Gali Keunikan Rejodadi untuk Jadi Desa Wisata

Turi – Rabu (9/1) bertempat di Serambi Masjid Dusun Rejodadi, masyarakat Dusun Rejodadi mengadakan pertemuan sosialisasi tentang akan dijadikannya Dusun Rejodadi sebagai desa wisata. Acara yang diprakarsai oleh pemuda setempat ini diketuai oleh Burhan.

Acara dihadiri oleh seluruh masyarakat terutama pemuda dan pemudi Dusun Rejodadi, Kepala Bidang SDM Dinas Pariwisata Sleman, Nyoman Destriyani, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Sleman, Haryanto, dan anggota DPRD Sleman, Danang Sulistyo Haryono.

Dusun rejodadi rencananya akan mendirikan desa wisata yang berbasis susur sungai dan keunikan lokal. Nyoman Destriyani menyampaikan bahwa untuk wisata susur sungai masih banyak yang perlu dipersiapkan oleh Dusun Rejodadi, antara lain ruang pertemuan dan kamar mandi. Selain itu, Dusun Rejodai juga perlu menggali keunikan di wilayahnya. “Dan yang paling penting harus segera membuat kepengurusan dan nanti kalau sudah benar-benar semua siap baru mulai dipromosikan,” tambah Destriyani.

Destriyani juga mengungkapkan bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman akan selalu mendampingi dan memberi pembinaan kepada Dusun Rejodadi hingga menjadi desa wisata yang bagus sehingga bisa popular dan diketahui oleh wisatawan. (Harman)




Desa Wisata Upaya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Turi – Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Turi mengadakan sarasehan antar desa Rabu (13/12) di Rumah Makan Sendang Kumiter, Kembang Arum, Turi.

Hadir dalam sarasehan tersebut Kepala Seksi Ekobang Kecamatan Turi, Kepala Desa Bangunkerto, Wonokerto, Girikerto, dan Donokerto, Ketua PKK, BPD, Karang Taruna dari 4 desa, dan pengurus TPID Kecamatan Turi.

Dalam sambutannya, Camat Turi yang diwakili oleh Sri Lestari berharap dengan adanya TPID ini desa-desa di Kecamatan Turi bisa bertukar pikiran dan bertukar inovasi untuk kemajuan semua desa di Kecamatan Turi. Perlu diketahui bahwa desa di Kecamatan Turi tengah gencar membangun desa wisata dan akan menjadikan desa wisata sebagai ikon Kecamatan Turi atau Turi sebagai pusat desa wisata di Kabupaten Sleman.

Hal ini mengingat Kecamatan Turi masuk zona hijau dan sebagai daerah penyangga yang mana di Kecamatan Turi tidak boleh berdiri perumahan dan juga pabrik-pabrik besar.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kecamatan Turi perlu membuat inovasi yang tidak merusak lingkungan, salah satunya dengan menjual keindahan lingkungan juga inovasi kerajinan-kerajinan di antaranya kerajinan batik, topeng kayu, dan sangkar burung.

Berbagai kerajinan dari limbah ini bisa dijual melalui desa wisata yang selama ini sudah ada di lebih dari 12 dusun. Diharapkan semua desa wisata yang telah ada ini bisa ramai pengunjung sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. (Harman)




Disbudpar Evaluasi Desa Wisata, 8 Desa Wisata Mati Suri

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman melakukan evaluasi keberadaan desa wisata. Evaluasi berlangsung bulan Agustus hingga September 2016 lalu.

“Dari hasil evaluasi desa wisata di Sleman pada tahun 2016 ini tercatat ada 39 desa wisata . Namun 8 desa wisata diantaranya dinyatakan belum layak dilakukan penilaian karena 8 desa wisata tersebut yang dulunya aktif dan banyak kegiatan sekarang ini kegiatan menurun atau mati suri,” kata Dra Endah Sri Widiastuti MPA, Sekretaris Disbudpar Sleman, Kamis (17/11).

Menurut Endah, 8 desa wisata yang mati suri itu antara lain desa wisata Rejosari, Pajangan, Trumpon, Agrowisata salak pondoh, Kembangarum, Kaliurang Timur, Mangunan dan Sendari.

“Desa wisata tersebut mati suri karena membubarkan diri, pengurus atau pengelola tidak aktif dan tidak ada aktifitas,” tutur Endah.

Ditambahkan Endah, dari desa wisata yang dievaluasi itu akan diklasifikasikan untuk desa wisata tumbuh, berkembang dan mandiri. Dan dari 31 desa wisata tersebut tercatat 14 desa wisata tumbuh, 8 desa wisata berkembang dan 9 desa wisata mandiri.

“Diklasifikasinya desa wisata ini dimaksudkan untuk memudahkan kegiatan memotifasi desa wisata. Pada tahun 2015 Bappeda sudah melakukan rencana aksi pengembangan desa wisata untuk dipilih desa wisata unggulan yang sukses dan berhasil,” tutur Endah.

Keberadaan desa wisata dinamikanya dipengaruhi pengelola desa wisata. Ada 8 indikator desa wisata unggulan diantaranya potensi atraksi, kapasitas manajerial, peran serta masyarakat, tersedia sarana dan prasarana, aspek promosi, aksebilitas jalan, kunjungan wisatawan, dan kepemilikan asset.