PHRI Sleman Angkat Kearifan Lokal Melalui Desa Wisata

Anggota BPC PHRI Sleman Menyusuri JalanSleman – ‪Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC-PHRI) Kabupaten Sleman memperingati HUT ke-6. Untuk memperingati HUT tersebut BPC PHRI Sleman mengadakan kegiatan yang dikemas dalam keceriaan dan santai dengan tema mengangkat kearifan lokal. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Desa Wisata Grogol Margodadi Seyegan Sleman, Kamis (27/10).

Ketua BPC PHRI Sleman, Asteria T Hesty mengungkapkan kegiatan peringatan HUT PHRI Sleman ini sengaja dipilih di lokasi desa wisata seperti di Desa Wisata Grogol dimaksudkan untuk mengangkat potensi pariwisata di Sleman khususnya desa wisata.

“Kami berharap dengan kegiatan ini anggota PHRI Sleman akan tergerak untuk membantu mempromosikan pariwisata maupun industri kecil yang banyak berkembang di Sleman,” kata Asteria.

Dikatakan Asteria yang juga Director of Operations (DOP) Grand Tjokro Hotel bahwa PHRI Sleman ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat tidak hanya bagi anggota PHRI namun juga bagi masyarakat, termasuk pengembangan wisata di Sleman seperti di Desa Wisata Grogol ini.

Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah tracking menyusuri jalan dusun dan sawah, ramah tamah diakhiri fun game dengan doorprize lanjut Asteria, anggota PHRI akan mensuport para pelaku industri kecil maupun industri rumah tangga, tidak terkecuali pengembangan potensi wisata di Sleman.

Sementara Ketua Panitia HUT BPC PHRI Sleman ke 6, Joko Supriyono mengatakan kegiatan yang dilaksanakan di Desa Wisata Grogol ini hanya untuk anggota PHRI dan diikuti sebanyak 80 orang. Dipilihnya Desa Wisata Grogol dikatakan Joko, salah satunya adalah untuk membantu mempromosikan desa wisata di Sleman.

“Kita melihat Desa Wisata Grogol ini sudah layak dikunjungi sehingga kami dari PHRI ingin membantu mempromosikan agar wisatawan berkunjung ke desa Wisata Grogol dengan kearifan lokalnya,” kata Joko.

Dan kegiatan semacam ini akan diselenggarakan rutin setiap tahun oleh PHRI Sleman sebagai bentuk komitmen membantu potensi pariwisata di Sleman. Ketika ditanya jumlah anggota PHRI Sleman, Joko mengatakan hingga saat ini ada jumlah anggotanya ada 52 hotel, 38 restoran dan beberapa institusi pendidikan yang memiliki laboratorium untuk praktek hotel dan restoran.




Masyarakat Desa Wisata Harus Kreatif‬

Sleman – Dalam upaya mengembangkan desa wisata di Kabupaten Sleman,  masyarakat dituntut  harus memiliki kreativitas dan bisa menciptakan suasana nyaman bagi wisatawan.‬

‪”Memiliki kreativitas dan bisa menciptakan suasana nyaman bagi wisatawan merupakan dua hal ini sangat penting agar pengembangan desa wisata dapat berhasil dan berkelanjutan,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Sleman, Kamis (10/3).

Menurut Sri Purnomo, kreativitas masyarakat tersebut sangat diperlukan sebagai  upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sleman.‬ Apalagi saat ini di wilayah Sleman banyak dikembangkan wisata minat khusus berupa desa wisata dan arena “outbound” yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan baik dari lokal maupun luar daerah.‬

‪”Masyarakat harus dapat mengembangkan ide-ide kreatif. Ide-ide kreatif di bidang pariwisata harus terus digali dan diciptakan oleh masyarakat agar wisatawan tidak jenuh,” kata Sri Purnomo.‬

‪Sri Purnomo menambahkan pengembangan ide kreatif ini juga diperlukan untuk menarik wisatawan yang lebih banyak lagi.‬

‪”Selain itu masyarakat agar dapat menciptakan kesan yang bagus kepada wisatawan. Salah satu yang perlu mendapatkan perhatian adalah menata dan menjaga kebersihan lingkungannya. Lingkungan yang tertata, bersih atau tidak ada sampah yang dibuang sembarangan akan menciptakan kenyamanan wisatawan,” katanya.‬

‪Sri Purnomo menambahkan bila wisatawan nyaman maka mereka akan tertarik untuk berkunjung kembali dan mengajak wisatawan yang lain.‬

‪”Dengan demikian desa wisata yang dikembangkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.‬

‪Sri Purnomo juga mengingatkan para investor yang ikut mengembangkan kegiatan pariwisata di Sleman agar melibatkan masyarakat setempat.‬

‪”Masyarakat setempat harus diberdayakan dengan adanya kegiatan pariwisata sehingga tidak hanya menjadi penonton saja. Pelibatan dalam kegiatan pengembangan pariwisata ini diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dan pembangunan di wilayah tersebut,” tuturnya.‬




Disbudpar Sleman Berdayakan Desa Wisata‬ Untuk Naikkan PAD

Sleman – Untuk menggenjot pendapatan daerah di sektor pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman berencana akan meningkatkan peranan desa wisata di Kabupaten Sleman.‬ ‪Pasalnya, desa wisata memiliki potensi yang tidak kalah menariknya dengan destinasi wisata lainnya.‬

‪Sekretaris Disbudpar Sleman, Endah Sri Widiastuti mengatakan saat ini setidaknya terdapat 30 desa wisata yang tersebar di Kabupaten Sleman.‬ ‪Dari jumlah tersebut, terdapat tujuh desa wisata mandiri, yaitu Pulesari, Pentingsari, Grogol, Gamplong, Tanjung, Brayut, dan Rumah Domes.‬

Menurut Endah, desa wisata juga memiliki potensi yang menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. ‪Selain itu, guna memaksimalkan keberadaannya, tahun 2016 ini Disbudpar Sleman akan merancang Peraturan Bupati (Perbup) mengenai pembinaan desa wisata.‬

Muatan Perbup tersebut tidak bersifat instruksi atas ke bawah dari Pemkab Sleman ke masyarakat, melainkan mengenai aspek dasar pembinaan dan komunikasi bagi desa wisata‬.

‪”Harapannya Perbup ini mampu mempertahankan dan meningkatkan eksistensi desa wisata di tengah-tengah destinasi wisata lainnya,” kata Endah.




Desa Wisata Nawung Menggelar Seni Tradisional

Sleman – Desa Wisata Nawung Gayamharjo Prambanan dengan unggulan sungai Gedung Nganten, menggelar seni tradisional potensi masyarakat setempat, Senin (26/5).

Seni tradisional yang dipentaskan meliputi kesenian Srandul, kesenian Jathilan, sholawat, dan diakhiri dengan prosesi merti dusun, yakni kenduri dan kirab 5 buah gunungan wulu wetu masyarkat Nawung meliputi pisang, kacang tanah, kacang panjang terong, garut, ketela dan lainnya.

Menurut Wakidi, selaku pengelola desa wisata Nawung, kegiatan ini dilakukan untuk menarik wisatawan dan untuk melestarikan kesenian tradisional khususnya Srandul agar dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Ditambahkan Wakidi, sebagai desa wisata, Desa Nawung secara resmi mulai sejak tahun 2009 dengan salah satu unggulan desa wisata ini yakni menyusuri sungai Kedung Nganten, atau dikenal dengan nama Dewi Kangen sepanjang 1,5 kilometer.

Menurut cerita warga setempat, di zaman dahulu Kedung Nganten merupakan tempat mempertemukan pasangan temanten sebagai suami-istri yang sah yang dilakukan seorang dukun.

Selain Sungai Kedung Nganten, juga terdapat Kedung Dukun, Kedung Pasangan, Kedung Ngaron, Kedung Kendil dan Kedung Dowo dan jembatan gantung yang menarik untuk wista tracking.

Nawung berada di Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan dengan jarak sekitar 25 kilometer dari kota Sleman. Meski Nawung belum berkembang, namun mulai dikenal wisatawan domestik dan mancanegara. “Wisatawan mancanegara yang telah mengunjungi Kedung Nganten di antaranya dari Jerman, Belgia, dan Turki,” katanya.

Wakidi berharap untuk lelbih menarik kedatangan wisatawan agar jalan Kabupaten yang saat ini kondisinya rusak sepanjang 4 km dapat segera diperbaiki untuk kenyamanan mengingat medan jalan yang naik turun dan berkelok-kelok sehingga membahayakan pengguna jalan bila tidak hati-hati dalam berkendara.