Peringati Hari Jadi Ke – 68, Warga Desa Tegaltirto Gelar Upacara Adat dan Kirab Budaya

baruu (1024 x 683)Sleman – Warga Tegaltirto menggelar upacara adat dan kirab budaya dalam rangka peringatan hari jadi desa ke – 68 di Lapangan Kadisono, Tegaltirto, Berbah Sleman, Minggu (13/12). Upacara adat dan kirab budaya dimeriahkan oleh 14 bergada dari masing masing padukuhan di Tegaltirto. Peringatan HUT Desa Tegaltirto berlangsung dari Minggu, 13 Desember sampai Jumat, 18 Desember.

Dalam kesempatan tersebut Pejabat Bupati Sleman, Ir. Gatot Saptadi menyampaikan upacara adat dalam rangka peringatan HUT Desa Tegaltirto merupakan wujud rasa syukur atas rahmat kenikmatan dan kesejahteraan yang telah diberikan oleh Allah kepada warga desa. Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM beserta jajaran pemerintah Desa Tegaltirto.

Keseluruhan Desa Tegaltirto terdiri dari 14 padukuhan, yaitu Jagalan, Tlogowono, Blendangan, Berbah, Krikilan, Kuncen, Sompilan, Karangwetan, Candirejo, Semoya, Kadisono, Kuton, Tegalsari, dan Pendem. Mayoritas penduduk Desa Tegaltirto bermata pencaharian sebagai petani dan perikanan sesuai dengan potensi air yang melimpah di daerah ini.

Prosesi upacara adat dan kirab budaya dimulai dengan pengambilan air panguripan di kawasan wisata Lava Bantal. Karena Desa Tegaltirto merupakan penggabungan dari 3 kring/kelurahan lama, yaitu Krikilan, Candirejo, dan Tegalsari maka start kirab dimulai dari 3 tempat tersebut.

Pertama, Kring Krikilan dimulai dari perempatan Krikilan, kedua Kring Candirejo dimulai dari perempatan sumber, dan ketiga Kring Tegalsari dari pertigaan Lojisari. Sesampainya di Lapangan Kadisono, air panguripan yang merupakan wujud dari persatuan dan kesatuan warga desa diserahkan kepada Kepala Desa Tegaltirto. Upacara dan kirab budaya diakhiri dengan rebutan gunungan yang dibawa oleh masing – masing bergada dari 3 kring.

Selain upacara adat dan kirab budaya, HUT Desa Tegaltirto juga dimeriahkan dengan kegiatan bakti sosial seperti sunatan masal, pemerikasaan kesehatan, pembagian daging pada hari minggu (13/12), Tasyakuran HUT Desa Tegaltirto ke – 68 pada hari Rabu (16/12), dan puncaknya akan digelar pentas wayang kulit dengan lakon Babat Alas Wonomarto oleh  Dalang Ki Seno Nugroho pada hari Jumat (18/12) pukul WIB sampai selesai.




Sinduadi Dinilai Tim Evaluasi Desa Binaan Keluarga Sakinah 2015

Sleman – Desa Sinduadi menerima Tim Evaluasi Desa Binaan Keluarga Sakinah Tingkat DIY dengan pimpinan Rombongan Drs H Masduri MSi beserta rombongan, Kamis (5/11).  Tim diterima didepan  halaman balai Desa Sinduadi oleh  Kades Sinduadi, Camat Mlati, Kepala Kantor Kementrian Agama, Kabag Kesra serta segenap perangkat desa sinduadi, serta pengurus BAZ Sleman.

Rombongan Tim disambut iringan lagu-lagu qosidah ibu-ibu Dusun Porwosari dan kelompok karawitan ibu-bu Dusun Kutu Wates Kragilan beserta paduan suara PKK Sinduadi. Sambutan Bupati Sleman yang dibacakan Sri Murni Rahayu SH MM, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia bahwa evaluasi DBKS diharapkan dapat memotivasi seluruh warga masyarakat khususnya masyarakat Sinduadi ini untuk lebih aktif berperan serta dalam melaksanakan program DBKS di wilayahnya.

DBKS ini merupakan sarana yang strategis untuk menggerakkan masyarakat agar semakin meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai arti penting pembinaan keluarga. Perhatian dari para orangtua untuk menanamkan ajaran agama secara sungguh-sungguh dalam kehidupan berkeluarga mutlak diperlukan. Dengan senantiasa berpedoman pada ajaran agama, kita dapat menghadapi berbagai persoalan rumah tangga dengan sabar dan arif.

“Keluarga yang sakinah merupakan keluarga yang mampu mewujudkan keluarga harmonis yang sejahtera. Keluarga yang sakinah akan melahirkan generasi yang berkualitas, beriman dan berakhlak mulia. Karena itu keluarga merupakan pilar penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas,” kata Sri Murni yang membacakan sambutan Bupati.

Kepada tim penilai juga disampaikan bahwa di Sleman senantiasa dikembangkan sikap saling hormat, menghormati dan semangat bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan amanat Pancasila Sila Pertama bulir ketiga. Dengan sikap toleransi ini, muncul sikap saling tolong menolong antar umat beragama dan menghindarkan masyarakat dari diskriminasi terhadap pemeluk agama lain.

Pengembangan gotong royong juga dilakukan dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Penerapan prinsip gotong royong dalam upaya pemberdayaan masyarakat telah mendukung aktivitas pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan di Kabupaten Sleman.

Kepada seluruh warga masyarakat Desa Sinduadi sangat diharapkan dukungannya dalam mewujudkan terbentuknya DBKS. Mengingat tanpa adanya dukungan dan peran aktif dari masyarakat, maka program-program DBKS  tidak akan berjalan dengan optimal.

Selanjutnya dari BAZ Sleman memberikan bantuan untuk program kesehatan, pendidikan dan anak yatim secara simbolis Kepada Ny Purwati – Mranggen Tegal, Ninik- Jetis, Mulyadi – Pogung Kidul, Sarilah – Rogoyudan,  Zahra Agustin – Pogong Kidul, Tegar Wahyu – Jombor Kidul, dan Akabar Dwi K – Kragilan.

Sambutan Tim DBKS Drs H Masduri MSi menyampaikan bahwa tujuan Dari Evaluasi DBKS ini untuk menekan angka perceraian 5800 / tahun di DIY, mewujutkan terciptanya Keluarga sakinah yang berarti terjalinnya hubungan timbal balik antara suami  istri  yang selaras, serasi, dan seimbang sesuai dengan Al Qur’an surat Ar Rum ayat 21.

Tim juga melihat beberapa kegiatan diantaranya kegiatan Kelompok Pangrupi Jenazah, Konseling Remaja, Kegiatan Ibu-Ibu Simulasi Problem Keluarga diselesaikan dengan bermusyawarah.




Di Sleman Pengkotaan Desa Harus Diwaspadai

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi menilai pembangunan di wilayah Sleman yang harus diwaspadai berupa kegiatan yang mengarah pada pengkotaan desa-desa.

“Pembangunan yang mengarah kepada mengkotakan desa-desa ini perlu diwaspadai, harus diproteksi,” kata Gatot di Sleman, Sabtu (17/10).

Menurut Gatot, pemerintah daerah harus komitmen soal tata ruang, sehingga komposisi perkotaan dan perdesaan harus seimbang.

“Pembanguna pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan lainnya harus dikendalikan. Sebanyak 12 ribu sekian harus merupakan wilayah perkotaan, dan 10 ribu tetap sebagai wilayah pedesaan,” kata Gatot.

Gatot menambahkan masalah yang muncul adalah alih fungsi lahan dan masalah konservasi air, di mana Kabupaten Sleman selama ini merupakan lumbung pangan bagi DIY.

Selain itu, Kabupaten Sleman daerah tangkapan air bagi wilayah di bawahnya, seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

“Luas lahan pertanian yang 15 ribu hektare harus dipertahankan untuk menjaga swasembada pangan dan ketahanan pangan,” tuturnya.

Gatot mengatakan upaya yang dilakukan dengan memberikan insentif pelaku pertanian di wilayah setempat.

“Insentif dan kemudahan bagi pelaku pertanian ini harus diberikan. Selain itu ektensifikasi pertanian harus ditingkatkan. Ada masyarakat yang tidak goyah dengan iming-iming lahan pertanian dijadikan bangunan-bangunan beton,” katanya.

Selain itu, katanya, dari sisi perizinan harus solid dan tidak mudah memberikan izin-izin yang mengarah kepada alih fungsi lahan dan pembangunan yang mengancam pertanian dan konservasi air.

“Sekarang perizinan di Sleman mengarah satu atap. Ini jadi pintu masuk mengendalikan kawasan Kabupaten Sleman, belum terlambat meski harus ada masa transisi,” kata Gatot.




Tiga Desa Ditunjuk Sebagai Desa Tangguh Bencana

SLEMAN – Sebanyak tiga desa di Kabupaten Sleman, yaitu Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Desa Kepuharjo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, telah ditunjuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sebagai Desa Tangguh Bencana (DTB). Untuk Desa Sindumartani ditunjuk sebagai DTB  khusus untuk banjir lahar hujan Sungai Gendol.

Pengukuhan DTB tersebut telah dilakukan di Desa Sindumartani Ngemplak  oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, bersamaan dengan Desa Kepuharjo dan Wukirsari Kecamatan Cangkringan sebagai DTB. Sebelumnya telah dilakukan pelatihan terhadap masyarakat terkait penanganan bencana.

Pada kesempatan tersebut  Sri Purnomo  mengatakan, melalui DTB diharapkan masyarakat sudah bisa gerak cepat untuk menyelamatkan diri agar terhindar dari bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan dini dibutuhkan oleh semua elemen masyarakat sebagai bentuk peringatan bahwa mereka hidup berdampingan dengan bencana.

“Masyarakat harus memahami jika mereka tinggal di daerah bencana. Melalui DTB, mereka sudah paham dan bisa mengantisipasi sedini mungkin jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Termasuk dimana lokasi pengungsian hingga alat apa saja yang dibutuhkan,” kata Sri Purnomo belum lama ini.

Dalam kesempatan itu juga diberikan bantuan sarana prasarana bagi desa dan masyarakat yang mendukung mitigasi bencana. Seperti tenda desa, alat komunikasi berupa ‘Handy Talky’ (HT), ‘megaphone’ dan tas siaga bencana.