Dinkes Sleman Bangun Posbindu Atasi Penyakit Diabetes‬

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman membangun pos pembinaan terpadu (posbindu) penyakit tidak menular dalam upaya mencegah dan melawan penyakit diabetes melitus.‬

‪”Pos pembinaan terpadu  penyakit tidak menular  ini nantinya terdapat di setiap desa, kelompok masyarakat, hingga di perkantoran maupun perusahaan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Minggu (10/4).

‪Menurut Linda, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar dari Kementerian Kesehatan, disebutkan bahwa penyakit tidak menular diabetes militus pada tahun 2013 di wilayah DIY, Kabupaten Sleman berada pada posisi tertinggi dengan prevalensi penderita diabetes melitus mencapai 3,3 persen, sedangkan untuk penyakit hipertensi prevalensi mencapai 10 persen.‬

‪”Angka ini cukup tinggi dan mengkhawatirkan,” kata Linda.‬

Karena itu ‪bertepatan dengan Hari Kesehatan Dunia yang bertemakan “Cegah, Obati, dan Lawan Penyakit Tidak Menular Diabetes Militus”, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mulai merintis posbindu penyakit tidak menular.‬

‪”Pendirian posbindu penyakit tidak menular  ini bertujuan tidak lain untuk mengajak masyarakat lebih sadar akan kondisi badan serta untuk wadah sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya penyakit diabetes militus,” tutur Linda.‬

‪Selanjutnya Linda berharap keberadaan posbindu penyakit tidak menular  akan dapat menekan angka penyakit tidak menular, seperti diabetes militus dan penyakit lainnya.‬

‪”Harapannya masyarakat lebih sadar menjaga kondisi tubuh, dan menghindari perilaku hidup tidak sehat, serta mau memeriksakan kesehatannya sejak dini,” katanya.‬

‪Linda menambahkan bahwa penyakit yang tidak menular adalah penyakit yang tidak bergejala dan selalu menyerang secara tiba-tiba.‬

“Selain diabetes melitus, jenis penyakit tidak menular lain yang harus diswaspadai adalah hipertensi dan jantung,” tutur Linda.‬

‪Pekerja kantoran, lanjutnya, menghabiskan waktu berjam-jam di dalam ruangan dan kurang gerak, akan lebih mudah terjangkit penyakit tidak menular ini.




Dinkes Gelar Berbagai Kegiatan Untuk Peringati HKN, HUT Korpri dan HUT PGRI

senamSleman – Dalam rangka memperingati HKN 2015 Dinas Kesehatan (Dinkes)Sleman, Jumat (27/11)  menggelar berbagai acara yang dipusatkan di gedung serbaguna Sleman dan lingkungan Lapangan Denggung. Kegiatan yang dilakukan diantaranya pemeriksaan kesehatan, donor darah, lab darah dan pemeriksaan kepadatan tulang.

Sebelumnya diadakan senam massal ini dibarengkan dengan kegiatan HUT Korpri ke-44, HKN ke-51 dan HUT PGRI ke 70 tahun 2015, yang diikuti Penjabat Bupati Sleman, pejabat Sleman serta  karyawan/karyawati Pemkab Sleman serta anggota PGRI Sleman. Senam yang dilakukan yakni Senam PGRI, dan senam aerobic. Senam diikuti sekitar 2000 peserta dan dibagikan ratusan door price dan hadiah utama Sepeda motor Honda Revo.

Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi  menyampaikan kegiatan senam massal ini dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan PNS dan guru-guru sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan meningkan pendidikan di Kabupaten Sleman. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk saling bersilaturahmi antar anggota Korpri dan PGRI.

Gatot juga menyampaikan melalui senam ini dapat menumbuhkembangkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan bagi masyarakat Sleman melalui olahraga. Terlebih olahraga senam adalah olahraga yang mudah dan murah, dapat dilakukan dimana saja. Dengan membiasakan dan kemudian membudayakan melakukan olahraga rutin menjadi salah satu alternatif dalam menjaga kesehatan baik jasmani maupun rohani.

Sadar atau tidak, kesehatan merupakan modal utama sebagai manusia bertumbuhkembang selain keahlian-keahlian lainnya yang kita miliki. Apalagi para PNS yang memiliki pekerjaan dengan mobilitas yang tinggi, dituntut untuk memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang baik guna menunjang kelancaran ketugasan.

Beberapa keuntungan dari berolahraga antara lain dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta dapat menghilangkan stres, yang mana keduanya berkorelasi terhadap terserangnya tubuh oleh penyakit.

“Oleh karenanya pada kesempatan yang berbahagia ini, ayo kita bersama mulai perduli terhadap kesehatan kita, melalui penerapan olahraga secara rutin disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi Bapak/Ibu sekalian tentunya,” tutur Gatot.




Dinkes Sleman Temukan 15 Kasus TB

SarasehanSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan berdasarkan data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, saat ini terdapat 15 kasus MDR-TB (Tuberculosis) yang terinci 2 orang meninggal saat diobati, 5 orang meninggal sebelum diobati, 5 orang sedang diobati, 1 orang pindah luar wilayah, 1 orang sembuh dan 1 orang tidak mau berobat atau dalam proses motivasi.

“Berkenaan dengan hal tersebut, saya mengajak semua pihak untuk peduli penanganan TB dengan mengoptimalkan sinergi yang selama ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penyakit TB,” kata Sri Purnomo ketika membuka sarasehan dalam rangka hari TB Sedunia (TB DAY) yang berlangsung di Rumah Dinas Bupati, Selasa (31/3).

Sri Purnomo juga berharap agar petugas kesehatan dan kader kesehatan selalu mendeteksi sedini mungkin sehingga cepat teratasi, karena di situ ada TB dalam tanda kutip TB bisa menular pada orang lain, untuk itu pentingnya memberi kan informasi dan penjelasan terhadap penderita TB agar selalu disiplin dalam berobat sehingga TB benar-benar bisa diatasi semaksimal mungkin di Kabupaten Sleman.

“Karena penderita TB perlu adanya ketelatenan dan kesabaran dalam berobat,” kata Sri Purnomo.

Menurutnya setelah ditemukan TBC paling cepat 6 bulan bisa dikatakan sembuh oleh dokter itu saja imbangi dengan minum obat setiap hari. Maka dari itu perlu ada nya pola hidup yang sehat dalam keseharianya.
Ditambahkan Sri Purnomo bahwa Direktur Jenderal Pengawasan Penyakit dan Pengelolaan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, menyatakan bahwa pada tahun 2014 lalu, Indonesia menduduki peringkat empat terbanyak untuk penderita TB setelah China, India, dan Afrika Selatan. Meskipun peringkat tersebut dikarenakan jumlah penduduknya yang juga banyak, namun harus tetap waspada mengingat TB  dapat dicegah dan diobati.

Hanya saja kemauan untuk mencegah dan mengobati TB sangat tergantung kepada perilaku seseorang. Selama seseorang menjalani hidup bersih dan sehat, penyakit yang bisa dicegah, termasuk TB. Terlebih lagi, target penemuan penderita baru BTA positif (Case Detection Rate) sebesar 64 penderita setiap penduduk.  Target CDR tahun 2015 sebesar 70% dengan capaian program tahun 2014 sebesar 65% atau belum mencapai target. Sedangkan target angka kesembuhan (cure rate) tahun 2015 sebesar 85% dengan capaian program 2014 sebesar % atau sudah melebihi target.

Sri Purnomo juga mengajak peserta sarasehan untuk terus menambah pengetahuan dan wawasannya mengenai TB dan cara-cara penanganan dan pengendaliannya. Dengarkanlah testimoni para penderita TB yang sembuh. Dengan mematuhi prosedur diagnosis dan pengobatan sesuai strategi DOTS (Directly-observed treatment short-course chemotherapy), kekebalan obat ganda (Multi Drugs Resistant Tuberculosis atau MDR-TB) dapat dihindari.




Dinkes Sleman Himbau Masyarakat Pilih Katering Bersertifikat

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat atau perusahaan yang bermaksud menggunakan jasa katering agar memilih yang bersertifikat menyusul kasus keracunan massal yang menimpa karyawan PT Mataram Tunggal Garmen (MTG), Ngaglik pada hari Rabu (21/1) lalu.

“Kami harapkan agar masyarakat atau perusahaan lebih selektif memilih katering. Sudah beberapa kali terjadi dalam sebuah hajatan atau penyediakan makan bagi karyawan yang berbuntut keracunan,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes di Sleman, kemarin.

Menurut Linda panggilan Mafilindati, sebagai jaminan, mereka disarankan agar menggunakan jasa katering yang telah mengantongi sertifikat laik “hygiene”. Dan kejadian ini memang menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Sebaiknya pilih katering yang sudah memiliki sertifikat.

Pasca insiden keracunan yang menimpa lebih dari 100 karyawan tersebut, tim medis Dinkes Sleman dibantu petugas Puskesmas dan mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM, terjun ke lokasi untuk melakukan kajian.

“Sampel sisa makanan juga telah dikirim ke balai laboratorium kesehatan,” katanya.

Dari data yang diperoleh, dua penyedia jasa katering yang bekerja sama dengan PT MTG diketahui tidak mengantongi sertifikat laik “hygiene”.

“Agar kejadian serupa tidak terulang, diharapkan para pengelola katering yang belum melakukan sertifikasi agar segera memproses ke Dinkes Sleman,” tutur Linda.

Linda menambahkan kepada pemohon sertifikat dijamin tidak dipungut biaya. Seperti diketahui para pekerja kontrak PT MTG di Kecamatan Ngaglik Sleman mengalami keracunan setelah menyantap nasi pecel dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem untuk mendapatkan perawatan.




Dinkes Sleman Terus Lakukan Monitoring Jentik Untuk Cegah DBD

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman terus melakukan monitoring  jentik nyamuk dalam rangka mencegah meningkatnya kasus DBD di Kecamatan Gamping, yang menempati rangking tertinggi di Kabupaten Sleman dengan jumlah penderita sampai dengan Mei mencapai 44 penderita.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr Mafilindati Nuraini Mkes, Tim Kelompok Kerja Operasional DBD (Pokjanal BDB) melakukan kegiatan  Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemantauan Jentik Berkala (PJB).

Kelompok II dengan anggota tim dari Dinas Kesehatan, Bagian Kesra, Bagian Pemerintahan Desa serta dari TNI Polri melakukan monitoring di Desa Trihanggo, Padukuhan Kronggahan II, Jumat (23/5),  disaksikan oleh  camat Gamping, Kepala Puskesmas II Gamping, Kepala Desa, serta kader dari masyarakat setempat.

Tim bersama  kader yang melihat langsung jamban, minum burung, tempat cuci, kebun  warga masyarakat,  menemukan 11 titik positif jentik dari 68 rumah  dengan Angka Bebas Jentik (ABJ)  82,54%, masih di bawah angka standar ABJ yaitu minimal 95%.

Namun kesadaran warga dusun Kronggahan II dinilai sudah baik dalam penanggulangan  Angka Bebas Jentik dengan cara 3M, yang dilakukan oleh kader bersama masyarakat, cara yang telah dugunakan yaitu tempat mandi/bak mandi, tempat mencuci  menggunakan  ember sehingga setelah selesai dapat dengan mudah air dibersihkan/dikeringkan.

“Untuk Kelompok I dilaksanakan di Dusun Kliwonan Desa Sidorejo melihat 54 titik/rumah menemukan 9 titik/rumah  positif  jentik, yaitu masih di bawah standar ABJ 83, 3%,” kata Linda.

Evaluasi dan saran dari Tim Pokjanal DBD  kegiatan monitor jentik ini sebaiknya dibentuk dan dilaksanakan atas kesadaran bersama masyarakat, bisa melibatkan anak sekolah dengan bimbingan para ibu-ibu kader Padukuhan.