Disbudpar Tidak Memperdagangkan DVD Illegal Angguk Sri Panglaras

Sleman – Akhir-akhir ini dipasaran umum telah beredar DVD illegal Angguk Sripanglaras dari Pripih Kulonprogo hasil rekaman dari salah satu pementasan dalam kegiatan Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman 2016 yang dilaksanakan pada tanggal 14-15 Juli 2016.  

Hal tersebut diketahui setelah pengurus Angguk Sripanglaras mengkonfirmasikan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman perihal tersebut. Demikian disampaikan Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Jumat (14/10).

Ayu menyatakan bahwa pihaknya telah mengundang kesenian Angguk Sripanglaras asal Pripih Kulonprogo untuk tampil dihari kedua dalam Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman 2016 yang dilaksanakan pada tanggal 14-15 Juli 2016 untuk menghibur masyarakat saat menunggu sidang dewan juri.

Pada saat itu Disbudpar Kabupaten Sleman hanya melakukan perekaman pentas tersebut sebatas untuk dokumentasi internal dan bukan untuk konsumsi masyarakat umum.

“Selanjutnya Disbudpar Kabupaten Sleman tidak pernah dimintai izin dan tidak mengetahui bahwa ada pihak yang menggandakan dokumentasi video salah satu kegiatan dalam Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman 2016 tersebut,” kata Ayu.

Selain itu lanjut Ayu, Disbudpar  Kabupaten Sleman juga tidak pernah memberikan copy DVD tersebut kepada pihak lain. Dalam DVD tersebut terlihat jelas penampilan Angguk Sripanglaras dengan latar belakang Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman 2016, dengan logo-logo “Sleman Sembada”, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman dan Dinas Kebudayaan DIY.

“Pihak dinas memang melakukan perekaman serupa yang asli untuk keperluan dokumentasi internal, akan tetapi bukan untuk diproduksi dan diperjualbelikan untuk masyarakat umum. Apabila ternyata diberbagai tempat ditemui dan diperjualbelikan DVD dengan ciri-ciri tersebut adalah diluar tanggungjawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman,” kata Ayu.




Disbudpar Sleman Adakan Sosialisasi Danais

Sosialisasi DanaisSleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Dana Keistimewaan (Danais) dengan menggelar focus group discussion di ruang rapat Setda B Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Kamis (21/7).

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Saya Manusia,  Sri Murni Rahayu SH MM menyambut baik di selenggarakannya kegiatan sosialisasi mengenai alur perencanaan program danais. Sri Murni berharap melalui kegiatan sosialisasi dapat memberikan pemahaman tataran perencanaan program danais. Terlebih perencanaan program danais mengharuskan perspektif yang lebih luas mengingat penggunaan danais diperuntukkan untuk 2 tahun ke depan.

”Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk dapat mengelola danais sebagai konsekuensi dari UU No. 13 Tahun 2012 tentang keistimewaan DIY,” kata Sri Murni.

Senada dengan Sri Murni, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi Danais dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kesamaan persepsi tentang pengelolaan Danais.

”Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di 5 Kabupaten dan Kota se DIY, dengan pelaksana masing-masing Disbudpar masing-masing Kabupaten dan Kota yang didanai oleh Dinas Kebudayaan DIY,” tutur Ayu.

Ayu menambahkan bahwa Kabupaten Sleman telah mengelola danais sejak tahun 2014 Pada tahun 2015 lalu realisasi fisik danais mencapai 100% sesuai dengan perencanaan. Sedangkan realisasi keuangan tahun 2015 mencapai 86% dari total dana sebesar Rp 7,9 miliar. Dengan demikian Sleman mampu melakukan efisiensi keuangan sebesar Rp 1,1 miliar.

Menurut Ayu, dana tersebut diperuntukkan untuk berbagai program kegiatan seperti pengembangan nilai budaya, pelestarian cagar budaya, dan aktualisasi kesenian tradisional dan budaya kontemporer diantaranya wayang siswa dan wayang kulit.

“Pada tahun ini, Kabupaten Sleman mengelola danais sebesar Rp 3,7 miliar. Hingga bulan ini realisasi danais di Kabupaten Sleman telah mencapai Rp 2,1 miliar,” kata Ayu.

Tahun 2016, Sleman juga telah melakukan misi kebudayaan dengan pengembangan kerjasama seni budaya ke Provinsi Bali. Selanjutnya Pemkab Sleman akan melakukan misi kebudayaan ke Kota Probolinggo dan Kutai Kartanegara.***




Kamis Besok, Disbudpar Gelar Wayang Spektakuler Lima Dalang

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menggelar pertunjukan wayang spektakuler, Kamis (2/6) mulai pukul WIB di Lapangan Denggung Sleman.

Pertunjukan wayang spektakuler ini akan menghadirkan kolaborasi 5 dalang sekaligus dengan 3  kelir. Bahkan juga akan dipadukan dengan penampilan seniman seniwati wayang wong. Demikian disampaikan  Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Rabu (1/6).

Ayu menambahkan bahwa kelima dalang yang akan tampil dalam event tersebut adalah dalang-dalang lokal dengan dari lintas usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan kasepuhan. Sedangkan pengrawit dan sinden berasal dari seniman lokal yang berusia kurang dari 35 tahun.

“Hal ini dimaksudkan untuk memberikan ruang gerak yang luas kepada dalang-dalang dan seniman muda sebagai upaya regenerasi,” kata Ayu.

Adapun kelima dalang tersebut adalah Nyi Ganeswara Sayekti (dalang anak), Ki Mara Pembayun (dalang remaja), Ki Utoro Wijayanto dan Ki Suparno (dalang dewasa), dan Ki Bayu Sugati (dalang kasepuhan). Kelima dalang tersebut akan mementaskan pagelaran wayang selama 4  jam dengan cerita

“Babat Alas Wanamarta”, yang juga akan dimeriahkan oleh Bambang Rabies.

Secara tehnis konsep pakeliran spektakuler merup[akan inovasi sajian pakeliran dengan tidak meninggalkan konsep garapan pakeliran konvensional, dengan mengacu pakeliran gaya Jogja yang masih mengedepankan keprak, tembang, anta wecana, suluk, karawitan Jawa dan pembagian pathet.

Pertunjukan wayang spektakuler lima dalang ini merupakan wujud komitmen dan kepedulian Pemkab Sleman terhadap kelestarian seni pedalangan. Selain itu juga dimaksudkan untuk menggugah kembali semangat kebersamaan dalam upaya melakukan apresiasi pakeliran bagi para pelaku seni maupun masyarakat umum.

Pertunjukan wayang spektakuler ini juga diharapkan akan menjadi atraksi dan hiburan bagi masyarakat luas, serta menjadi media beraktivitas dan peningkatan kualitas seniman pedalangan. Tujuannya untuk meningkatkan eksistensi jati diri seni pedalangan sebagai salah satu akar budaya seni kerakyatan yang adiluhung.




Disbudpar Sleman Gelar Festival Budaya dan Kuliner‬

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman  akan menggelar Festival Budaya dan Kuliner Sleman 2016 bertempat di Taman Kuliner Condongcatur, Depok Sleman, pada Jumat (27/5) hingga Minggu (29/5).‬

‪”Festival ini berisikan tiga atraksi utama yaitu Festival Kuliner Kangen Sleman, Festival Macapat Nusantara, dan Festival Ragam Budaya yang dipadukan dalam satu kemasan,” kata Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Kamis (26/5).

‪Menurut Ayu, festival itu digelar untuk memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Sleman Ke-100 yang mengangkat tema “Dengan Hari Jadi Ke-100 Kabupaten Sleman Kita Kedepankan Nilai-Nilai Budaya dalam Mewujudkan Masyarakat Sleman Sembada”.‬

‪Kegiatan itu juga untuk memberikan ruang ekspresi bagi seniman dan budayawan untuk tampil menunjukkan kebolehannya. ‬

‪”Dengan kata lain wahana ini dimaksudkan untuk melakukan upaya-upaya pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan terhadap seni dan budaya yang ada di Kabupaten Sleman,” kata Ayu.‬

‪Ayu menambahkan kegiatan ini juga untuk memberikan sarana apresiasi dan hiburan bagi masyarakat secara umum sehingga mereka akan lebih mengenal, memahami, dan memiliki rasa “handarbeni” terhadap budaya lokal yang “adiluhung”.‬

‪”Melalui apresiasi terhadap budaya lokal diharapkan akan menjadi filter terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari budaya asing akibat derasnya arus globalisasi dan kebebasan informasi,” katanya.‬

‪Ayu mengatakan Festival Kuliner Kangen Sleman dilaksanakan Jumat (27/5) dan Sabtu (28/5) di Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman yang menyajikan 40 stan kuliner. ‬

‪”Selain itu juga ditampilkan berbagai kesenian seperti Jathilan, Tari Dayakan Topeng Ireng Simo Merapi, angklung Toi Lurik, Kethoprak Humor dari Dimas Diajeng Sleman 2016, Stand-Up Komedi `nDeso Must Go On` dari Komunitas Anang Batas,” katanya.‬

‪Sedangkan pada Sabtu (28/5) mulai pukul WIB dipentaskan Pertunjukan Seni Anak-Anak oleh Dimas Diajeng Cilik Sleman, Gejog Lesung, Perkusi Angklung, Band dari Fakultas Geografi UGM dan Paksi Raras Alit Band, Keroncong Langen Gita dari Kalasan, dan Sajian Musik Etnis.‬

‪Festival Macapat Nusantara dilaksanakan pada Sabtu (28/5) pukul hingga WIB di Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman dengan peserta yang berasal dari perwakilan Provinsi Bali, Lombok, Kabupaten Mojokerto, Kota Cirebon, Kabupaten Banyumas, dan DIY.‬

‪Sementara Festival Ragam Budaya akan dilangsungkan Minggu (29/5) pukul hingga WIB di dua panggung.‬

‪”Festival Ragam Budaya ini menampilkan potensi ragam budaya dari 17 kecamatan di Kabupaten Sleman, yang terdiri dari seni kerakyatan, seni dolanan anak, seni langen carito, dan seni jathilan serta seni religius,” kata Ayu.




Disbudpar Sleman Siap Gelar Pentas Jathilan 24 Jam

Sleman – Dalam rangka untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menghelat Pentas “Njathil 24 Jam”, pada hari Sabtu-Minggu (21-22/5) di Halaman Parkir Sindu Kusuma Edupark Jl Jambon Sinduadi Mlati Sleman.

“Pentas Njathil 24 jam tersebut semuanya dilakukan oleh kelompok jathilan putri yang dimulai Sabtu 21 Mei 2016 pukul WIB hingga Minggu 22 Mei 2016 pukul WIB,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Selasa (17/5).

Ayu menambahkan bahwa penyelenggaraan pentas jathilan 24 jam tersebut dimaksudkan sebagai ajang eksibisi, ekspresi dan apresiasi seni kerakyatan jathilan. Ajang ini untuk memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok jathilan melakukan pementasan didepan publik secara luas.

“Harapannya mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk dapat tampil dan disaksikan oleh masyarakat luas,” tutur Ayu.

Dalam kesempatan tersebut akan ditampilkan 17 kelompok jathilan secara bergantian dengan peserta masing-masing kurang lebih 35 orang seniman per kelompok.

“Dengan demikian setidaknya 600 an seniman jathilan akan menampilkan kebolehannya dihadapan masyarakat luas,” tambah Ayu.

Selain itu upaya ini juga dimaksudkan untuk melakukan regenerasi seniman dengan persyaratan diikuti oleh seniman yang berusia dibawah 35 tahun. Dengan demikian diharapkan kesenian jathilan yang merupakan asset kesenian rakyat akan dapat diuri-uri dan dilestarikan oleh generasi muda.

Adapun jadwal pementasan Jathilan 24 Jam tersebut adalah  Sabtu, 21 Mei 2016 mulai pukul  WIB akan dipentaskan 8 (delapan) kelompok jathilan, yaitu Kudo Wiromo dari Berbah, Turonggo Budaya Rukun dari Kalasan, Kridha Turonggo Budaya dari Cangkringan, Tirta Manunggal dari Seyegan, Turangga Budaya dan Panca Wisesa dari Godean, dan Laras Giri Seta dan Gamping.

Sedangkan Minggu 22 Mei 2016 mulai pukul WIB akan dipentaskan Turonggo Macho Budaya dari Prambanan, Kuda Taruna dari Ngemplak, Sadar Budaya dari Minggir, Sekar Gadung dari Turi, Beksa Putra Seta dari Moyudan, Ngesti Turangga Budaya dari Godean, Turangga Mudho Budaya dari Kecamatan Sleman, Asmara dari Ngaglik.

Sebagai pentutup rangkaian jathilan 24 jam tersebut akan dipentaskan hingga pukul  WIB dengan Kesenian Angguk.