Disbudpar Sleman Amankan Situs Lava Bantal Berbah

1504 SLEMAN LAVA BANTAL (1)Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  (Disbudpar) Kabupaten Sleman belum akan mengembangkan situs Lava Bantal di kawasan Sungai Opak, Kecamatan Berbah menjadi objek wisata.

“Kami dalam waktu dekat ini belum akan mengembangkan Lava Bantal sebagai destinasi wisata, namun terlebih dahulu mengajak kerja sama dengan pihak yang berkompeten untuk meneliti dan mengamankan situsnya,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, kemarin.

Menurut Ayu, antusiasme masyarakat di Kecamatan Berbah sudah tinggi untuk membuka situs tersebut menjadi objek wisata. Untuk itu, perlu langkah cepat untuk menggarap Lava Bantal tersebut.

“Kita tahu, antusiasme sudah tinggi. Bahkan mungkin sudah ada promo-promonya,” kata Ayu.

Ayu mengatakan, komunikasi dengan masyarakat di sekitar Lava Bantal tersebut memang sudah dilakukan. Langkah yang akan ditempuhnya terlebih dahulu mengajak pihak yang mempunyai kewenangan atau lebih berkompeten meneliti situs tersebut.

“Seperti Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja, atau pihak lain. Untuk meneliti situsnya, dari mulai sejarah atau bagaimana nanti konsepnya agar lebih terjaga. Ini baru kita cari, siapa nanti yang kompeten untuk meneliti,” tutur Ayu.

Ayu mengatakan, setelah diteliti, pihaknya mengajak masyarakat setempat membuka objek wisata ataupun menjaga keasriannya.

“Situs Lava Bantal ini tidak selalu ada di tempat lain. Jadi, harus benar-benar dijaga keasriannya. Setelah siap, baru bagaimana memikirkan konsep wisatanya,” tambahnya.

Sementara Sekretaris Disbudpar Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti mengatakan untuk pengembangan aktivitas pariwisata ke depan akan dimulai kajian secara lintas sektor. Sehingga kegiatan pariwisata tidak merusak keberadaannya.

“Selain itu dapat dipilih alternatif pemanfaatan kawasan Lava Bantal untuk kegiatan kepariwisataan yang tepat dan bermanfaat baik untuk edukasi maupun sosial ekonomi masyarakat,” katanya.

Keindahan dan keunikan Lava Bantal Berbah ditetapkan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM sebagai warisan geologi. Bongkahan-bongkahan batu besar berbentuk bulat, sedikit menyerupai bantal, menyembul tidak hanya di pinggir kali, tapi terkadang di tengah riak Sungai Opak ini telah menarik masyarakat untuk menikmati keindahannya, termasuk keasrian lingkungan sekitarnya.




Disbudpar Sleman Sambut Positif Tata Rias Tradisional

Sleman – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbidpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi sangat menyambut positif keberadaan salon maupun sanggar-sanggar rias pengantin tradisional Yogyakarta. Disebutkan keberadaan mereka secara langsung telah menjadi propaganda positif terhadap upaya pelestarian produk budaya luhur Keraton Yogyakarta.

“Meningkatnya minat calon pengantin untuk dirias secara tradisional gaya Jogja terutama Paes Ageng memberikan sisi positif bagi pengembangan dan pelestarian Budaya Jogja, termasuk Sleman di dalamnya,” ungkap Ayu dikantornya, Jumat (6/2).

Menurutnya, ini menunjukkan adanya pemahaman tentang nilai-nilai luhur budaya di balik rangkaian Paes Ageng dengan dukungan teknologi kecantikan sehingga mampu menjanjikan hasil riasan yang indah. Selain itu Ayu juga menyebut riasan Paes Ageng sebagai media kaum muda atau calon pengantin untuk memupuk kebanggaan terhadap Budaya Jogja di tengah tawaran rias pengantin versi lainnya.

“Paes Ageng dapat menjadi media pembelajaran dan memupuk rasa handarbeni terhadap Budaya Jawa di tengah arus globalisasi. Dengan begitu sekaligus akan dapat memperkuat jati diri insan Jogja yang Istimewa,” tambahnya.

Pertumbuhan jumlah perias pengantin tradisional Paes Ageng tercatat cukup menggembirakan di wilayah Sleman. Berjumlah lebih kurang 60 perias yang tergabung dalam DPC Harpi Melati Kabupaten Sleman, di samping ada beberapa perias secara individu. 

Terkait hal itu, Disbudpar Kabupaten Sleman sebagai institusi pembina menghimbau agar dalam menjalankan usahanya para perias melengkapi dirinya dengan Izin Usaha Pariwisata yang dapat diurus dengan mudah di kantor Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

Selain itu Ayu juga menitip pesan agar setiap perias mampu menjaga nilai-nilai tradisional yang tersirat dari tata rias tersebut. Baik dari pakem riasan maupun materi bahan yang digunakannya. Di tengah gempuran tren tata rias pengantin versi modern, keberadaan gaya rias tradisional Jogja terutama Paes Ageng ternyata tetap mampu bertahan, bahkan semakin banyak diminati masyarakat.

Disebutkan, makna filosofi dan aura kecantikan yang terpancar dari tata rias khas Raja Jogja tersebut, menjadi alasan ketertarikan para calon pengantin. Fenomena itulah yang kemudian ditangkap oleh para perias pengantin di Yogyakarta dalam upaya mengembangkan bisnis riasnya.

Salah satu perias profesional yang kini sedang berkembang pesat di Jogja adalah Tri Widarti. Dengan ketekunannya belajar dan mencoba, ibu tiga anak ini telah sukses mengibarkan bendera Wiwied Kembar Salon miliknya menjadi pusat segala kebutuhan pernikahan, one stop wedding, dengan spesifikasi gaya Paes Ageng.

Segala kebutuhan dan perlengkapan pengantin, dari rias, busana, dokumentasi, hingga seluruh pernik perlengkapan hajatan seperti tarup, tersedia lengkap sesuai yang dibutuhkan. “Pelanggan tinggal pesan apa yang dibutuhkan, maka kami akan memenuhinya sesuai waktu yang disepakati,” tambahnya.